InstagramYouTube

Halo World, He is Here! (6th Hanzo Progress)

Halo World, He is Here! (6th Hanzo Progress) – Bismillah….

Rasanya lama sekali tidak menuliskan progres anak bungsuku, Hanzo. Pertama kali menuliskannya sekitar tahun 2018, setelah aku merasa siap untuk menceritakannya.

Hanzo, anak kami yang unik dan spesial. Namanya seperti orang Jepang, tapi dari fisik jauh dari sipit dan kulit putih. Hanzo justru Indonesia banget. Hehe. Korban ayahnya yang wibu. Tidak hanya dari segi nama, tapi dia juga unik dan spesial dari segi tumbuh kembang (tumbang). Terlahir dari rahim seorang ibu dengan baby blues dan PPD, Hanzo sempat mengalami keterlambatan tumbang.

Tahun pertama hanya diisi dengan kepasifan, malas bergerak, malas mengoceh, malas menatap. Benar-benar seperti orang pasif. Aku pun ikhtiar suplemen zat besi, minyak ikan, konsultasi ke dokter anak, psikolog, ikutkan day care, terapi, semua dijalankan sampai usianya 3 tahun.

Menuju umur 4 tahun pandemi pun datang. Semua kegiatan luar rumah off sama sekali. Full main bersama kakak dan ibunya. Perkembangan pun mulai terasa, dia semakin sering mengajak berinteraksi. Badannya yang kurus dan kecil pun mulai perlahan terisi dan padat. Rambut tipis pirang berganti jadi tebal hitam. Sujud syukur terhambur. Ya Allah, terimakasih banyak.

Masuk usianya yang ke-6, saat pandemi berubah status menjadi endemi, kami mulai memasukkannya ke TK. Berarti dia hanya bisa sekolah taman kanak-kanak hanya setahun. Kurang, harusnya 2 tahun. Tapi apa daya, kemarin pandemi.

Saya termasuk lambat memutuskan dia akan sekolah di mana. Seandainya waktu itu bukan pandemi, TK-TK sudah pada tutup pendaftaran. Tapi karena setelah pandemi ada penurunan jumlah anak yang bersekolah TK (kebanyakan langsung disekolahkan SD) jadi pendaftaran pun menjadi lebih panjang waktunya.

Pokoknya waktu itu bismillah aja. Kalau TK yang diinginkan sudah tutup, berarti Hanzo sekolah ngaji seperti dulu aja. Ternyata setelah saya datangi masih buka pendaftaran. Saya anggap Allah SWT sedang membukakan jalan-Nya. Akhirnya resmi lah Hanzo menjadi anak TK dengan postur anak SD. Gkgkgkgk.

Dedek. Masya Allah.

Masalahnya seragam TK nya ada yang super ketat. Mau dinaikkan 1 nomor serba kedodoran dan harus rombak lagi di penjahit. Andai perutnya tidak buncit, seragam hari Senin akan pas.

Postur Hanzo paling tinggi + gemuk di TK B. Banyak yang mengira dia sudah SD. Mungkin karena sudah khitan kalii ya jadi cepat besar. Mungkin juga faktor keturunan. Bila Hanzo dan ayah berdiri berdua, kalian akan melihat kalau Hanzo anak ayah banget dan “bukan” anak emak. Gkgkgkgk.

Bagaimana soal speech delay nya?

Baca juga: Halo, World! I’m Hanzo

Ini adalah hal yang paling kami syukuri sekali. Entah karena asupan suplemen atau terapi mandiri di rumah, tapi yang pasti karena Allah memudahkan jalannya semua. Hanzo sudah sangat cerewet sekali! Masya Allah… terharu 🙁

Dia punya hobi membaca buku walau belum bisa baca. Calistung baru kami ajarkan beberapa bulan saat melihat perkembangannya yang membaik. Ini juga tidak terlepas dari suplemen yang kami berikan (probiotik dan minyak ikan). Tidak sia-sia karena kami memilih produk yang berkualitas dan “clean”, walau harganya memang lumayan juga. Semua atas izin Allah.

Chef gumush. Masya Allah

Sekarang, November 2022 atau 4 bulan bersekolah, dia mulai belajar membaca. Walau caranya dengan mengeja, tapi tetap kami terharu melihat prosesnya.

Masih ingat awal 2017 saya nangis selama sepekan setelah menguatkan hati untuk datang ke klinik tumbang. Seperti runtuh sudah duniaku. Melihat keadaan Hanzo seperti gak punya masa depan. Tell me lebay. Tapi begitulah perasaan seorang ibu. Air mata tumpah memohon kepada Sang Pemberi Hidup. Kondisi ekonomi yang saat itu belum memungkinkan untuk rutin terapi, jadi sebagian terapi aku paksakan di rumah, mandiri. Tell me pelit. Tapi begitulahh kondisi kami.

Dari yang awal aku kami kira Hanzo punya potensi keterlambatan berpikir, ternyata semakin ke sini Allah semakin memperlihatkan bahwa Hanzo justru sebaliknya. Sebagai ibu aku bisa merasakannya. Sungguh Allah yang punya kuasa, makhluk tidak punya. Mudah saja bagi Allah mengatur yang kita anggap rumit.

Sekarang yang aku alami sebagai ibu yang membersamainya 24 jam, tiada hari tanpa menjawab pertanyaannya yang semakin sering. Mungkin bagi ibu lain itu sudah terjadi 3 tahun lalu, tapi saya mengalami saat ini, saat Hanzo umur 6 tahun. Tidak mengapa, begini saja kami sudah sangat senang dan bersyukur. Terutama ketik melihat ketertarikannya dengan puzzle, buku, dan kertas gambar.

Semoga Allah memberi kesabaran yang lebih padaku untuk menjawab setiap pertanyaannya.

Leave a Comment