Lara Si Laras (A Fiction)

Disclaimer: Fiksi ini dibuat antara demi memenuhi tugas kelas menulis Bang Tere Liye dan Asma Nadia. Sebenarnya mau dikumpulkan di kelas Mba Asma, tapi ternyata harus based on true story. Sedangkan cerita yang sudah terlanjur dibuat ini asli ngarang. Wkwkwk. Salah siapa gak perhatikan brief-nya 😛. Ya udah, aku post di blog aja kali ya biar gak sia-sia. Wkwkwk. Ceritanya pendek aja ya, cuman 1500 kata.

***

Sekolah masih sepi ketika Kartika datang. Dia berdiri di sebelah pagar yang terbuka lebar beberapa menit, merutuki kenapa hari ini terlalu cepat bangun pagi. Bukannya apa. Sekolahnya ini posisinya berada paling belakang dari jalan masuk sebuah perumahan jadul, paling pojok. Mentok. Antara perumahan dan sekolah dibatasi lahan kosong sepanjang dua ratus meter. Kebayang, kan? Sepi.

Sebenarnya sekolah ini muridnya banyak. Gedung utama nya saja setinggi 3 lantai. Riuh rendah suara siswa menggema  jika bel sekolah sudah berbunyi. Tapi, beda halnya jika datangnya terlalu pagi seperti Kartika. Pukul 05.30. Hanya ada suara Mamang Ujang menyapu di halaman depan.

Kartika melangkahkan kaki menuju ruang kelasnya di lantai 2. Semua kelas yang dilewatinya masih kosong. Lorong tangga juga lengang. Hanya suara sapu Mamang Ujang yang masih terdengar. Setidaknya Kartika merasa aman karena ada tanda kehidupan di sekolah itu selain dirinya. Tibalah dia di depan kelasnya yang pintunya sudah terbuka. Deg! Tiba-tiba jantung Kartika berdegup kencang. Matanya menumbuk pada kepala berambut panjang yang menunduk di tengah kelas. Tapi sedetik kemudian, pemilik rambut itu mengangkat kepalanya. Menyibak wajah aslinya.

“Kartika? Ngapain diam di situ?”

Yang ditanya masih mematung, “Eh, oh. Iya. Anu. Aku cuma kaget aja ada yang lebih pagi dari aku.” Sekarang Kartika meringis. Antara lega karena dia gak sendirian di kelas dan masih syok karena rambut panjang Laras di pagi itu entah kenapa terlihat creepy.

Kartika mendekati Laras yang kembali menunduk. Penasaran. Mengamatinya dari jarak dua ubin. “Lagi apa, Ras?”

Laras menengadahkan kepala. Hanya tersenyum. Tidak ada jawaban. Kemudian sibuk kembali dengan lututnya.

“Loh. Kamu habis jatoh? Dimana? Kapan?” Kali ini Kartika duduk di sebelah Laras. Bertanya lebih serius. Jiwa PMR-nya meronta-ronta melihat luka dan lebam di lutut Laras.

“Kemarin,” jawabnya pendek.

Kali ini Kartika tidak hanya melihat luka di lutut Laras. Tapi juga di telapak tangannya.

“Astaga. Telapak tanganmu juga luka, Ras? Aku antar ke ruang UKS yuk. Sekarang. Ini perlu diirigasi, dibersihkan pakai alkohol, betadine, diperban. Gak bisa kamu buka-tutup pakai plester warung begini. Kalau infeksi bahaya. Udah, ayok, ikut aku. Aku punya kunci ruangannya.” Kartika sontak menarik tangan Laras.

Kali ini Laras menurut saja. Dia membuntut dengan langkah terseret. Luka di lututnya yang masih basah membuat dia cacat berjalan. Ingin sekali Kartika bertanya apa yang terjadi. Tapi urung. Apalagi dia dan Laras tidak begitu dekat. Sebatas teman sekelas. Tidak lebih.

Pertanyaan Kartika ternyata terjawab di istirahat kedua.

Ribut-ribut itu dari kelas sebelah. Adalah Rani yang menyebarkan kisah perihal luka dan lebam-nya Laras. Agak masygul mendengarnya. Mengingat Rani adalah satu-satunya teman akrab Laras. Dari cerita Rani, hari Minggu kemarin Laras main ke rumahnya. Belum ada sejam mereka bercengkrama, tanpa diduga, bapaknya Laras datang ke rumah Rani. Membawa parang. Berteriak, menyuruh Laras pulang. Panik. Laras lari tunggang langgang, pulang lewat belakang rumah Rani. Menghindari bapaknya yang seperti banteng mengamuk. Terburu-buru meloncati pagar kawat berduri setinggi lima puluh meter. Tapi sayang, dia jatuh terjerembab. Celananya robek terkait pagar kawat. Lutut dan telapak tangannya menghujam kerikil.

Belum selesai sampai di situ, masih dari cerita Rani, sampainya di rumah Laras bapaknya mengamuk, memarahi Laras. Terdengar suara piring pecah. PRANG!!!!! Suaranya sampai terdengar seratus meter jauhnya.

Rani jelas jadi tidak enak. Ada yang membawa golok ke rumahnya, menyuruh anaknya pulang. Memang apa salahnya???

Kartika juga tidak tahu apa motif Rani menyebarkan cerita itu. Apakah karena dia tidak terima dengan cara bapaknya Laras? Yang pasti sejak kejadian itu Rani dan Laras tidak lagi terlihat seperti teman baik. Laras jadi semakin mengucilkan dirinya sendiri.

***

Setahun kemudian….

Tidak terasa dua bulan lagi Kartika dan teman-temannya akan lulus dari sekolah ini. Tidak terasa juga sudah setahun Kartika jadi teman dekat Laras.

“Habis ini kamu mau lanjut kemana, Laras? Sudah ada rencana daftar di mana?” Kartika melempar sebuah pertanyaan saat istirahat pertama.

Laras menoleh. Tersenyum tipis, “Belum tau. Tapi aku mau pergi jauh dari sini.” Laras kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Menyiratkan sesuatu.

“Kemana? Tapi kan sekarang bapakmu sudah dapat pekerjaan. Gak marah-marah lagi kayak dulu. Kalian juga sudah punya mobil hasil dari kerjaan baru bapakmu. Aku kira keadaan sudah jauh membaik.”

Laras menoleh lagi. Tersenyum tipis, “Kartika mau lanjut kemana? Jadi mau ambil sekolah perpajakan?” Sekarang Laras giliran menanyaiku. Mengalihkan pembicaraan. Aku cuma mengangguk, mengiyakan.

Setelah kejadian di kelas XI itu, perlahan kehidupan Laras berubah. Bapaknya yang lama menganggur akhirnya diterima di sebuah perusahaan. Hanya dalam setahun kariernya maju pesat. Dari karyawan biasa jadi manajer operasional. Laras pun sekarang jadi sering diantar bapaknya ke sekolah dengan mobil. Kebetulan sejalur dengan kantornya.

Tidak hanya itu. Laras juga berubah. Dia sekarang mengganti seragam sekolahnya. Yang dulu lengan dan rok pendek, sekarang panjang dan berkerudung. Tapi pakaiannya itu tidak bisa menutupi fakta bahwa badan Laras sekarang lebih kurus dari sebelumnya.

“Aku mau masuk ke pondok pesantren di pulau seberang. Doakan aku bisa ya, Tik.” Akhirnya Laras menjawab pertanyaan Kartika.

“Oh ya? Jadi itu maksud kamu mau pergi jauh dari sini?” Kartika terbelalak. Setengah lega. Ternyata tidak seburuk yang Kartika bayangkan, “Tapi sudah diizinkan kan sama bapakmu?”

Laras menggeleng. Wajahnya datar. Kartika dengan cepat menghibur, “Gak papa, mungkin setelah izin ke-5 baru dibolehkan. Aku doakan! Semangat!” Laras tersenyum geli melihat temannya mengepalkan tangan untuknya.

Dua bulan berlalu. Ujian kelulusan hampir selesai. Hari ini hari terakhir ujian praktek olahraga. Kami bersiap berganti kostum. Saat kami siap ke lapangan, seorang anak kelas XI memanggil Laras, katanya ada panggilan dari ruang guru.

Bagai petir di siang bolong. Berita itu ternyata berita yang menghujam ulu hati: Ibu Laras meninggal dunia. Tanpa menyelesaikan ujian terakhirnya, Laras segera pulang. Kartika ikut menemani setelah meminta izin pada guru olahraga mereka.

Ibu yang selalu menyayanginya. Yang selalu melindunginya dari amarah bapaknya. Yang selalu menghiburnya. Yang selalu mendoakan keselamatannya. Sekarang pergi dari sisinya. Laras begitu terpukul. Air matanya mengalir, tidak tertahan. Dia menciumi wajah ibunya untuk terakhir kali. Wajah ibunya yang kurus, seperti selembar daging membalut tulang.

Kartika terkesiap. Tidak menyangka ibunya Laras sekurus itu. Bukankah mereka sekarang berkecukupan?

Setelah kematian ibunya. Seakan tidak ada lagi yang bisa membendung niat Laras untuk pergi ke seberang pulau. Walau bapaknya menentangnya mati-matian, tapi Laras merasa tidak perlu lagi menuruti perkataannya. Subuh hari itu, Laras pergi mengendap-endap keluar. Membawa pakaian dan berkas-berkas yang diperlukan. Meninggalkan bapaknya yang masih tertidur pulas. Mendengkur keras di ruangan ‘kerja’nya.

Kartika, walau tidak tahu apakah yang dilakukannya benar atau tidak, sudah menunggu dari jarak lima puluh meter. Membantu misi terakhir Laras. Subuh itu, hari masih gelap dan dingin, tapi dua anak remaja ini melaju mantap ke bandara. Mengejar penerbangan paling pagi. Semua berjalan lancar sampai pesawat Laras benar-benar take off.

Kartika. Terimakasih banyak sudah membantuku. Maaf aku belum bisa cerita semuanya. Tapi sekali lagi aku sangat berterimakasih. Sekarang aku sudah sampai di pesantren yang aku tuju. Semuanya lancar sesuai rencana. Puji syukur alhamdulillah. Kuasa Allah. Nanti aku berkabar lagi ya. Saat ini mungkin akan ku matikan ponselku supaya lebih fokus belajar dan tidak perlu takut dihubungi bapak.

Pesan Laras itu cukup membuatnya tenang. Setidaknya Laras sudah sampai di tempat yang diinginkannya. Soal keluarganya? Kartika tidak berani berspekulasi sendiri.

Hari demi hari berlalu. Kartika menjalani hari sebagai mahasiswa.

Dua tahun sejak itu. Artinya dua tahun sejak Laras jadi anak pondok dan berarti juga tahun kedua Kartika di sekolah perpajakan. Saat itu datang kabar kepadanya bahwa bapak Laras menyusul ibunya. Kartika pun segera datang melayat. Berharap bertemu sahabatnya itu. Tapi, aneh, sampai selesai prosesi pemakaman Laras juga tidak muncul barang hidungnya. Aneh. Karena Laras adalah anak tunggal. Masa iya tidak ada?

Apalah daya, rasa penasaran Kartika tidak kunjung terjawab. Bahkan sampai setahun kemudian. Hingga akhirnya datang surat ke alamat orangtua Kartika. Surat yang dikirim dari seseorang bernama Ayshel.

Kartika membuka surat itu sambil dikerubuti rasa penasaran. Siapa Ayshel?

Assalamu’alaikum.

Salam kenal, Kartika. Laras sering cerita tentang kebaikanmu semasa di SMA. Dia mengucapkan banyak terimakasih.

Kenalkan, aku Ayshel, teman karib Laras di pondok ini. Kami berteman sejak Laras pertama kali menginjakkan kaki di sini.

Oh ya, Laras juga minta maaf tahun lalu tidak bisa pulang saat ayahnya meninggal. Dia sedang dalam masa pengobatan, tidak bisa terputus. Kartika, Laras kurus sekali bukan saat itu? Pasti kamu juga sadar soal itu. Dengan berat hati aku harus mengatakan, bahwa ayahnya sudah melakukan perjanjian dengan iblis laknatullah untuk pesugihan. Dan cerita orang-orang tentang tumbal pesugihan ternyata bukan cerita bualan. Setelah ibunya, sebenarnya giliran Laras. Itulah kenapa dia ingin pergi jauh dari rumahnya. Selama dua setahun pertama dia diruqyah oleh Ustadz Umar dan istrinya. Atas izin Allah, badannya mulai berisi sejak saat itu. Tidak habis pikir ada seorang ayah yang tega mengorbankan anak dan istrinya sendiri. Tsumma na’udzubillah. Dia juga sudah bisa memaafkan perlakuan bapaknya yang suka melakukan kekerasan fisik dan psikis. Bahkan waktu SMP, Laras juga pernah dibenturkan kepalanya ke dinding perihal sepele. Ah, tidak pantas rasanya membicarakan orang yang sudah meninggal. Aku minta maaf, Kartika.

Setahun setelah beres ruqyah, Laras mulai bisa fokus belajar di pondok. Tapi karena di sana dia terhitung tidak bayar SPP, jadi sebagai gantinya dia membantu banyak pekerjaan di pesantren, memasak sampai membersihkan toilet, menjadi asisten guru PAUD sampai membantu tukang kebun. Tapi dia tidak pernah mengeluh. Katanya, masih syukur pesantren mau menampungnya. Aku jadi malu sendiri. Dia begitu menerima takdirnya sampai ke bagian yang paling pahit.

Tapi, sebulan lalu, Allah mengambil Laras saat sujud panjangnya di tengah malam. Bukan karena tumbal, melainkan karena Allah yang berkata perjuangannya sudah selesai. Dia memang sedih sekali saat ibunya wafat waktu itu, Karena doa ibunya lah dia punya kekuatan itu. Dia sering melihat ibunya menangis saat shalat malam. Mendoakan keselamatannya. Meminta pertolongan Allah untuk anaknya. Saat dia merindukan ibunya, dia sering bangun tengah malam, mengikuti jejak panutannya itu. Semoga Allah menempatkan mereka berdua di tempat terbaik di sisi-Nya.

Maaf ya Kartika. Aku baru mengabarimu. Aku juga baru tahu alamatmu setelah membereskan buku-buku Laras dua pekan lalu. Salam kenal sekali lagi.

Wassalam.

Tidak terasa kertas itu basah. Bayangan Laras sekelebat hadir di kepalanya. Selamat tinggal Laras. Kamu sudah tidak sakit lagi.

Leave a Comment