InstagramYouTube

Sulap Sampah Menjadi Berkah dengan Manfaat Eco Enzyme

Sulap Sampah Menjadi Berkah dengan Eco Enzyme – Sampah menurut definisi KBBI adalah sesuatu yang tidak terpakai lagi dan dibuang. Sementara berkah berasal dari bahasa Arab yang berarti kebaikan atau sesuatu yang membawa ke arah yang lebih baik. Lalu, bagaimana menyulap sampah menjadi berkah dengan eco enzyme?

Apa itu Eco Enzyme?

Eco Enzyme adalah pemanfaatan sampah dapur berupa kulit buah dan sayur dengan menggunakan proses fermentasi yang dilakukan selama 3 bulan. Hasil akhir eco enzyme berupa: padatan -ampas kulit buah yang sudah hampir hancur- dan cairan.

Baiqh, sebelum masuk ke inti, boleh ya tanya dulu. Pernah gak sih kalian merasa sayang melihat kulit buah mangga, nanas atau semangka atau buah apa saja yang kalian makan masuk ke tempat sampah?

Kalau iya, kita se-gank. *Eh

Eh, aku gak, Jeng. Kulit ya dibuang, ngapain di sayang-sayang. Medit amat

Saat belum mengenal eco enzyme, saya sering sedih -tapi tidak berdaya- melihat kulit buah terbuang. Yaa…berasa sayang aja gitu tapi gak tahu harus ngapain. Insting saya bilang kulit buah itu ada manfaatnya, tapi apa saya juga gak tahu. *mulai bingung.

Akhirnya bulan Juni 2021 tadi, saya mendapat jawaban soal kulit buah yang selalu jadi pikiran. Yap, eco enzyme! Setelah itu saya tidak lagi membuang kulit buah -yang jika berakhir di TPA hanya akan berpotensi menghasilkan gas metana yang ikut merusak ozon- melainkan disulap menjadi eco enzyme, si berkah penuh manfaat. Soal tersebut pernah saya bahas di artikel tentang climate change di sini.

Lalu, apa itu eco enzyme?

Pada intinya, konsep eco enzyme adalah proses fementasi kulit buah dengan gula merah / gula aren untuk mendapatkan cairan eco enzyme yang penuh dengan bakteri baik hasil fermentasi dan enzyme dari kulit buah.

Adakah Formulanya?

Ya, betul. Eco enzyme punya formulasi yang pakem. Karena ditemukan oleh seorang bergelar Ph.D asal Thailand, Dr. Rosukon Poonpanvong dan melewati penelitian selama 30 tahun, eco enzyme tidak dilakukan dengan kira-kira atau sesuka hati, dia punya formula baku dalam pembuatannya.

Formula tersebut adalah:

1 (bagian gula merah / gula aren) : 3 (bagian Bahan Organik (buah/sayur)) : 10 (bagian air)

Agar memudahkan pengerjaan, maka semua dibuat dalam satuan massa gram / kilogram.

Masih bingung? Baik, saya akan mensimulasikan soal rumusan itu. Dan untuk memudahkan kita, Dr. Rosukon memakai satuan massa gram / kg termasuk air. Perhatikan cara menghitungnya ya, tapi saya yakin kalian bisa semua.

Misal,

Hari ini saya punya 600 gram kulit buah (Bahan Organik, BO), maka gula yang saya perlukan adalah 600/3 = 200 gram gula. Dan air yang saya perlukan 200×10 = 2000 gram air atau 2 kg air (ini setara dengan 2 L air, karena massa jenis air 1 kg/L)

Kenapa patokannya kulit buah? Karena kulit buah adalah bahan utamanya, sehingga saya biasanya menentukan dulu berapa gram kulit buah yang saya punya hari itu, baru menentukan porsi gula dan air.

Gimana? Sudah paham? Begitu cara termudah yang sering saya praktekkan, termasuk ketika membuat vlog tentang proses pembuatan eco enzyme.

Bagaimana Proses Pembuatannya?

Setelah menyiapkan semua bahan, pastikan kalian punya toples atau wadah container yang bersih. Bekas pun tidak apa-apa, tidak usah beli baru karena konsep eco enzyme pun memanfaatkan barang yang tidak terpakai.

Sangat disarankan menggunakan bahan plastik dan bukan kaca, gunakan juga toples yang bermulut besar untuk menghindari ledakan gas yang dihasilkan selama proses fermentasi di awal pekan (wadah bermulut kecil seperti galon, rawan ledakan). Ledakan itu sebenarnya tidak bahaya, karena bukan bom, hehehe. Hanya saja kita tetap akan dibuatnya kaget dan repot karena kulit buah akan berhamburan ke luar mengotori lantai dan dinding.

Saya biasanya menggunakan container plastik tebal ukuran 40 x 20 cm, jadi cukup lebar bukaanya. Saya letakkan di luar dan terkena sinar matahari pagi dan siang. Sebenarnya boleh di mana saja, di tempat tertutup juga boleh asal bersih dan jauh dari sumber bau.

Tapi saya pribadi lebih senang di luar dan terkena sinar matahari untuk meminimalisir timbulnya belatung. Ide ini saya dapat setelah menyimak obrolan senior yang membahas remedi soal eco enzyme yang rusak (berbelatung dan tumbuh jamur tidak baik). Remedi yang disarankan antara lain; menambah gula aren dan meletakkan di tempat yang terkena sinar matahari langsung.

Teman saya pernah mengalami eco enzyme umur 2 pekan yang berbelatung dan saya sarankan seperti itu: dijemur di bawah sinar matahari selama 3 hari. Hasilnya belatung hilang dan malah dapat bonus mama enzyme (lapisan jelly di atas permukaan eco enzyme, kata senior ini adalah “berkah di atas berkah”, tapi saya sendiri belum pernah dapat jadi tidak bisa menceritakan kepada kalian, hehe).

Jika bahan dan wadah sudah siap, kalian tinggal memasukkan semua bahan ke dalam wadah dan tutup rapat selama 3 bulan. Beberapa senior menyarankan jangan dibuka tutup untuk meminimalisir kontaminasi dengan patogen atau bakteri jahat. Tapi, beberapa juga bilang kalau gak masalah sesekali dibuka untuk mengeluarkan gas berlebihnya.

Kalau saya melakukan yang kedua, hehehe. Karena nganu, bau fermentasinya bikin ketagihan, wangiiii kecut seger. Bukan wangi parfum ya, dia ini bau-bau fermentasi gitu lah pokoknya, mungkin mirip tape, ada juga yang bilang mirip wine. Huh, tapi ini gak boleh diminum ya. Modyar nanti, wkwkwkw.

proses pembuatan eco enzyme
sampah kulit buah saat buka puasa hari kedua langsung dibuat eco enzyme
proses pembuatan eco enzyme kulit semangka
Saya pakai wadah container isi 10 liter
panen eco eznyme
Ini adalah wadah eco eznyme yang siap untuk dipanen. Kulit buah sudah banyak yang mengendap di dasar, siap dihancur menjadi pupuk padat
Penampakan dari samping eco enzyme yang siap dipanen, beberapa sudah hancur jadi ampas

Bisa untuk Apa Saja Hasil Eco Enzyme?

Seperti yang sudah saya tuliskan di awal, bahwa hasil eco enzyme ini berupa padatan dan cairan. Dari hasil panenan itu semua bisa dimanfaatkan tanpa terbuang.

Yang berupa padatan bisa ditaruh di kompos untuk memperkaya unsur hara atau langsung ditaburkan ke tanah. Jika ingin ditaburkan ke tanah maka keringkan dulu agar proses fermentasinya berhenti (agar tanah tidak terlalu asam pH nya dan “panas” yang menyebabkan tanaman di sekitarny mati).

Nah yang berupa cairan ini fungsinya jauh lebih banyak lagi. Saya pribadi sudah mengaplikasikan untuk; pupuk cair dikocor (perbandingan 1:1000 dengan air), insektisida semprot ke daun (perbandingan 1:1000, di sore hari, percobaan ke 1 tanaman dulu untuk lihat reaksinya “terbakar” atau tidak), preventif lubang saluran pembuangan tersumbat dan lubang WC (EE murni), menghilangkan bau pup dan pipis anabul (disiram, perbandingan 1:500), menghilangkan bau kandang (disemprot, perbandingan 1:500), mengepel lantai (perbandingan 1:500), menyikat lantai (EE murni), mengobati eksim / biduran (perbandingan 1:1000), membersihkan karat, panci gosong *EE murni), membersihkan kulkas dan keramik dapur (perbandingan 1:1000).

*Takaran itu berdasarkan pengalaman, jika kalian sudah terbiasa nanti kalian bisa mengira-ngira sendiri takaran yang pas buat kalian sendiri.
*Takaran menggunakan mL

Apakah itu saja?

Ternyata tidak. Masih sangat banyak manfaat eco enzyme, lebih dari yang saya sebutkan itu, seperti; pengganti sabun dan sampo, termasuk sabun cuci piring dan deterjen, pemurni udara, membersihkan air yang tercemar, memandikan anabul, dan mengusir serangga.

Beberapa teman saya sudah mencoba membuat dan ada yang sudah membuktikan betapa si cairan ini begitu powerful. Masya Allah.

testimoni eco enzyme
Dia mencoba menghilangkan tai manan dengan eco enzyme. Tai manan itu bahasa Banjarnya untuk jamur bintik hitam di pakaian.

Frequently Question about Eco Enzyme

Berikut saya akan merangkum pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh teman-teman yang penasaran ingin membuat eco enzyme juga.

1. Harus pakai gula merah / aren ya?

Sebaiknya iya. Gula merah / aren dipilih karena minim proses, sedangkan gula putih ultra proses dan penambahan zat bleaching. Tapi kalo terpaksa ya sudah tidak apa-apa. Lain kali siapkan gula merah / aren saja ya.

2. Saya punyanya botol dan toples sosis? Apakah bisa?

Sebenarnya bisa aja, yang terpenting dari bahan plastik. Jika memakai wadah dengan mulut kecil, maka 2 pekan pertama harus rajin buka tutupnya sedikit untuk mengeluarkan gas. Setelah 2 pekan pertama gas yang terbentuk sudah hampir gak ada, jadi gak masalah, gak harus buka tutup selama 3 bulan penuh

3. Buah apa yang bisa dipakai?

Semua buah bisa dipakai asal MATANG. Buah mentah tidak terlalu baik dipakai enzyme karena selain penuh dengan getah, enzyme nya pun tidak banyak.

Saya sendiri suka memakai kulit buah nanas, semangka, lemon, karena selain sering makan juga buah itu mengeluarkan bau yang wangi segar ketika fermentasi. Dan jika digunakan sebagai cairan pembersih daya bersihnya kuat.

Kulit pisang bagaimana?

Boleh koq, boleh banget, tapi jangan kaget nanti dia berubah warna jadi hitam ya, belum tentu pertanda jelek. Itu karena kulit pisang mudah teroksidasi. Cuma karena kulit pisang gak mengeluarkan wangi apa-apa jadi saya lebih sering masukin dia ke komposter.

Nangka, cempedak gimana?

Nah, ini termasuk buah yang kurang suka saya jadikan eco enzyme. Wangi sih wangi, tapi bergetah dan nempel, saya kurang suka. Kulit cempedak sih enaknya dibuat mandai ya, dimakan, hmmmm, nyaman banar pian.

4. Bagaimana ciri eco enzyme yang berhasil?

Eco enzyme yang berhasil bisa diperhatikan dari bau dan warnanya. Baunya wangi segar khas fermentasi. Seperti tape singkong tapi lebih enak eco enzyme baunya. Warna jamur yang dihasilkan putih serbuk bukan lembaran.

Eco enzyme umur 5 hari sudah muncul jamur putih, wangi fermentasi sudah terbentuk, masih banyak gelembung-gelembung gas proses fermentasi.

5. Bagaimana yang gagal?

Kalau gagal baunya seperti tempat pembuangan sampah, busuk. Jamurnya warna hitam. Busuk dikarenakan eco enzyme tercampur oleh bakteri jahat atau patogen.

6. Boleh diminum? Katanya wangi seger khas fermentasi

Kagak, kagak, KAGAK BOLEH! *tekotok mode ON

7. Bagaimana penampakan eco enzyme siap dipanen?

Setelah 3 bulan kulit buah akan tenggelam, beberapa malah sudah hancur. Tidak ada lagi gelembung gas yang dihasilkan. Ampas kulit akan kita jadikan pupuk dengan langsung tabur di tanah atau dijadikan komposter, sedangkan cairannya akan siap jadi cairan segala rupa.

Container atas siap dipanen, kulit buah sudah tenggelam dan hancur. Sedangkan container bawah baru dibuat 5 hari lalu, kulit buah masih mengambang semua.

Saya akan membuat vlog panen eco enzyme. Semoga bisa membantu kalian agar lebih mudah membuat, memanen dan mengaplikasikan eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari.

Sekian artikel dari saya. Terimakasih sudah membaca ya.

Leave a Comment