Juara 3 yang 3 Kali Banjir – Bismillah… 

Bulan ini saya senang sekali, akhirnya setelah 2 tahun hiatus menang lomba sekarang bisa merasakan euforia nya lagi. Memang saya tergolong jarang ikut lomba karena sedikit trauma. Beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti 2 lomba yang ternyata abal-abal. Kecewa? Jelas. Karena, hei, bahkan salah satu dari lomba itu brand ternama yang sering wara-wiri di TV.

Juara 3

Namun, kali ini saya cukup percaya diri dan menepis rasa khawatir untuk tetap mengikuti lomba dari HIIP (Blogger Perempuan). Pertama, karena penyelenggaranya sudah kredibel (who don’t know Blogger Perempuan?). Karena walaupun toh bila nanti tidak menang lomba , tapi saya akan legowo dengan para pemenangnya. HIIP tidak pernah asal-asalan dalam menilai.

Kedua, karena topiknya sangat menarik saya yang saat ini sedang belajar zero waste dan ketambahan info soal climate change yang di ujung tanduk.

Saking niatnya saya ikut lomba, sampai-sampai saya buat versi videonya yang sudah saya upload di channel saya di sini. 

Alhamdulillah, nyantol juga jadi juara 3 :). Walaupun beberapa teman bilang saya totalitas mengerjakannya, tapi saya baru sadar saya kurang 1 hal krusial di dalam tulisan ini, yaitu: menjelaskan lebih dalam soal climate change itu sendiri dan apa hubungannya dengan sampah.

Masalah saya dari dulu adalah tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan singkat, padat, berisi. Tulisan saya di blog ini panjang-panjang. Organik biasa 1200-an kata, tapi kalo lomba bisa 2000 – 4000 kata. Dan itupun selalu ada hal esensi yang luput ditulis. Koq tuman 🙁

Well, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak pada Blogger Perempuan yang sudah mengapresiasi tulisan saya yang masih dalam tahap belajar ini. Saya ucapkan juga kepada teman-teman yang men-support dengan tulus saat tulisan ini tayang di blog, baik tahu atau tidak tahu bahwa ini tulisan buat lomba 🙂 .

Ini dia tulisan saya yang nyempil di pengumuman:

Dari Dapur untuk Mitigasi Perubahan Iklim

menang lomba

menang lomba

3x Banjir

Belum berakhir 2021, sudah tiga kali banjir di Kalimantan Tengah. Menurut penduduk asli sini, baru kali ini kejadian seperti ini. Berpuluh tahun tinggal di sini, baru ini bolak-balik mengungsi.

Paru-paru dunia yang berubah jadi paru-paru basah, kata orang-orang. 

Tambang pasir, batu bara, emas, perkebunan sawit, ilegal logging sampai kutub yang mulai mencair karena pemanasan global, menaikkan ketinggian air laut. Sah, itu semua berkontribusi dalam musibah banjir terparah sepanjang sejarah di Kalimantan.

menang lomba

Januari, September, November. Tiga kali banjir dalam setahun (Sumber: Tebengan Online)

Saya bukanlah aktivis lingkungan, tapi bisa dibilang saya termasuk orang yang sangat cemas melihat kondisi dunia terbaru. Ya, siapa saja yang paham soal ini pasti akan secemas saya. Pandemi belum sepenuhnya usai, namun isu climate change sudah berhembus begitu deras. Dan isu ini sama sekali bukan hanya sekedar wacana, tapi sudah sampai taraf “sudah kejadian”.

Climate change atau perubahan iklim, menjadikan cuaca sangat ekstrem sehingga menimbulkan “reaksi” yang berlebihan, seperti curah hujan berlebih dan panas berlebih. 

Di tahun ini saja, bencana alam terbesar di sepanjang sejarah sudah tercatat di setiap negara. Turki, Yunani dan Cyprus dihantam gelombang panas pada Agustus 2021 tadi. Suhu yang hampir capai 45 derajad celcius memicu kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarang mereka. Cina, Eropa, Australia dan tentu saja Indonesia, juga mencatatkan rekor musibah banjir terburuk tahun ini.

 

Tidak bisa kah ini dikendalikan? Saya pun tidak tahu 🙁 . Yang pasti kita harus berusaha dulu semaksimal mungkin. Semoga masih ada kesempatan untuk kita memperbaiki alam titipan anak cucu kita ini. Semoga Allah Sang Pencipta mengizinkan alam ini pulih lagi.

 

 

 


Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *