Dari Dapur untuk Mitigasi Perubahan Iklim –Bismillah….

Jika ada yang bertanya, “Apa satu hal yang berubah dari hidup kamu setelah menikah?” Maka saya akan menjawab: memasak. 

Dari sekian banyak yang berubah, satu hal tersebut yang paling membuat hidup saya sebagai ibu jadi lebih berharga (Ini bukan berarti jika seorang ibu tidak pandai memasak dia menjadi tidak berharga. Bukan seperti itu.)

Konteks berharga yang saya rasakan di sini lebih kepada proses belajarnya. 

Di mana saya yang dulu tidak bisa membedakan merica dan ketumbar, hanya karena merasa mereka kembar gara-gara keduanya ada huruf “m”. Atau kesulitan membedakan jahe dan kencur, hanya karena kulit mereka yang sama-sama warna cokelat tanah.

Saya semasa lajang memang sama sekali nihil soal pengetahuan dapur. Padahal memasak terlihat seperti aktivitas sepele. Tidak serumit mengerjakan soal fisika tentang kuantum dan energi yang “tak terukur”. 

Namun semuanya berubah ketika takdir mempertemukan saya dengan suami yang memiliki mama yang jago masak. Takdir yang kemudian memaksa saya untuk mempelajari keterampilan bertahan hidup ini. Bukan ingin mengimbangi mama, hanya berusaha agar tidak insecure berlama-lama.

Kali pertama belajar memasak saya bertanya kepada teman lama yang pintar memasak. Patin rica-rica, adalah menu dengan bumbu yang lumayan “complicated” yang berhasil saya buat dengan mengikuti instruksinya. 

Mulai dari sana kemudian rasa percaya diri meningkat. Terlebih suami memang bukan tukang protes. Memasak pun jadi tanpa beban.

Lama-kelamaan saya memberanikan diri untuk mencoba resep masakan yang lain, mulai dari makanan berat hingga kudapan. 

Hampir 9 tahun berlalu, saya yang dulu selalu malu dan sungkan bertemu mama mertua karena takut gak nyambung, sekarang sudah mulai sedikit percaya diri. “Ma, mantu mama ini sudah bisa masak, udah bisa nyambung kalo ngomongin resep” 😀

(Pukpukpuk, terimakasih ya diriku sudah mau belajar).

Sayangnya, masalahnya belum selesai di sini.

Permasalahannya sekarang adalah: saya baru menyadari ternyata kegiatan masak-memasak saya ternyata memproduksi sampah baru. Dan sampahnya pun bukan sembarang sampah.

Memang saya sudah jarang beli masakan, sehingga jarang ada plastik atau bungkus kertas bekas makanan. Tapi, koq setelah masak sendiri koq juga tetap ada sampah. Loh, ternyata saya menghasilkan sampah, toh? (tanya sendiri, bingung sendiri).

Ternyata ya, apa saja yang saya pasti ada sampah, mulai dari kulit bawang, batang sayur, kulit buah, kulit telur, dan bahkan rak telurnya itu sendiri.

Saya sungguh terlambat menyadari. Karena saya pikir sampah dapur adalah sampah organik jadi tidak masalah jika membuang ke TPS umum. 

Toh akan hancur di tanah, kan? Akan terurai, kan? Bener, kan?

Tapi ternyata saya salah….

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim
Sebagian sampah dapur yang saya hasilkan setelah memasak cumi asam-manis

Berdasarkan data yang saya temukan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Komposisi Sampah di Indonesia tahun 2020, ternyata sampah rumah tangga menempati porsi terbanyak dibanding sektor lain, yaitu sebesar 37,3% (Grafik data ada di bawah).

Bahkan sampah rumah tangga 2x lebih banyak dari sampah pasar tradisional yang “hanya” sebesar 16,4%.

Tunggu, tunggu… jadi pasar tradisional yang orangnya berjibun itu sampahnya lebih sedikit daripada sampah rumah tangga??

Fakta ini seketika membuat saya, yang hobinya uprek-uprek dapur, merasa jadi tersangka penyumbang sampah terbesar. Apalagi ditambah isu climate change yang deras berhembus beberapa waktu belakangan ini. Lengkaplah sudah rasa berdosa saya.

Dan berikut adalah data Komposisi Sampah Indonesia tahun 2020 dari Kementrian LHK yang trekumpul dari total 67,8 juta ton sampah selama setahun kemarin. Silakan disimak.

Rumah tangga
37,3%
Pasar tradisional
16,4%
Kawasan
15,9%
Lainnya
14,6%
Perniagaan
7,29%
Fasilitas publik
5,25%
Perkantoran
3,22%
dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim
Gunungan sampah kabupaten Banyumas (Sumber: https://www.republika.co.id/berita/prfq1u291/atasi-sampah-pemkab-banyumas-masuh-butuh-tpa)

Dari data di atas, kemudian dipecah per jenis sampah. Ternyata didapatkan data sebagai berikut: 

(Sumber: https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/persentase-komposisi-sampah-indonesia-2020-1623403927)

See, sisa makanan ada di porsi pertama sebesar 39.74%. Lagi-lagi, sampah dari dapur kita menyumbang persentase tertinggi dibanding jenis sampah lainnya, bahkan plastik sekalipun.

Sampai di sini bagaimana? Sudah tersentak atau masih tetap denial dengan mengatakan “Tapi kan sisa makanan bisa hancur?”

Baiklah, saya ingin bercerita sedikit. Beberapa tahun lalu saya “bertemu” di dunia maya dengan seorang ibu yang giat melakukan zero waste. Saya saat itu hanya senang menonton, tapi tidak tergugah, “Untuk apa? Apa pentingnya?” dan kalimat semacam itu, karena yaa… wawasan saat itu memang belum sampai kepada kecemasan soal climate change.

Lalu, pandemi pun menyapa membuat kami terkurung di dalam rumah dalam waktu yang lama sehingga membuat konsumsi makanan pun meningkat. Saya jadi lebih terpacu lagi mencoba resep ini dan itu dan bisa ditebak, sampah pun bertambah.

Jujur, sebenarnya saat itu saya sudah resah memikirkan soal sampah ini tapi karena di daerah saya tidak banyak edukasi soal memilah dan mengolah sampah akhirnya saya juga jadi selow. 

Sampai akhirnya Juli tadi secara tiba-tiba saya ingin membuat Eco Enzyme untuk memanfaatkan limbah dapur saya, khususnya kulit buah.

Bahaya Sampah Dapur

Seriusan, sampah dapur a.k.a organik berbahaya? Bukannya bisa hancur lebur dan menyatu jadi tanah? Bukannya lebih berbahaya sampah plastik dan logam berat yang gak bisa hancur dengan mudah atau bahkan gak hancur sama sekali?

Saya pun berpikir demikian awalnya. 

Sampai kemudian data demi data menunjukkan kepada saya bahwa ternyata sampah organik juga seberbahaya sampah anorganik

Memicu Gas Metana

Mungkin belum sampai di telinga bahwa pernah terjadi tragedi 21 tahun silam di TPA Leuwigajah Bandung. Saat itu terjadi ledakan yang mengakibatkan 157 orang di sekitarnya tewas pada 21 Februari 2005 pukul 02.00 dinihari.

Ledakan itu berasal dari gunungan sampah setinggi 60 meter sepanjang 200 meter yang menyimpan konsentrasi gas metana yang sangat tinggi. Gas metana tersebut berasal dari sisa-sisa makhluk hidup (kulit buah, daun kering, batang sayur, ranting, sisa makanan, kotoran hewan) yang terkubur dalam kubangan sampah di TPA. Hingga saat ini, tanggal tersebut diperingati menjadi Hari Sampah Nasional.

Gas metana tersebut juga bisa menjadi pemicu kebakaran di lokasi TPA.

Lebih dari itu, penumpukan sampah organik yang lambat terurai -karena jumlahnya yang kian bertambah namun pengelolaannya di TPA tidak sebanding-, menyebabkan akumulasi gas metana yang sangat besar.

Gas metana tersebut naik ke atas merusak lapisan ozon dengan level kerusakan 21x lebih parah daripada karbondioksida. (Sumber: https://sustaination.id/bahaya-sampah-organik/). 

Dengan kata lain, gas metana adalah pemicu percepatan global warming dan climate change.

Sumber Penyakit

Dengan kondisi sampah yang menumpuk dan menggunung sudah pasti menjadi tempat yang empuk bagi berbagai macam kuman. Akhirnya, penduduk sekitar menjadi terancam. Diare, gatal-gatal, demam berdarah, infeksi bakteri, hepatitis sampai potensi keracunan makanan.

Sekali lagi, sampah organik memang benar bisa terurai. Namun ketika sampah yang datang dan diolah tidak sebanding, maka sampah organik akan menumpuk dan menyebabkan masalah demi masalah.

Maka, tidak ada cara lain dengan mengolah sampah kita sendiri di rumah. Ide ini jauh lebih praktis, lebih murah, dan lebih mudah daripada ide membuang sampah bumi ke planet lain, yang biaya sekali pemindahan mungkin sampai kuadriliun rupiah (ide ter-ekstrim yang pernah saya baca di IG :D).

Yuk, kita belajar mengurangi sampah dari rumah dengan cara yang mudah dan murah! Zero waste, zero problem, dari dapur kita bisa melakukan mitigasi perubahan lingkungan

Mengolah Sampah Dapur untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Eco Enzyme

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim

Yang belum tau apa itu Eco Enzyme, dia sebenarnya adalah hasil pemanfaatan limbah kulit buah yang difermentasi dengan gula merah aren / tebu dengan komposisi 1 bagian gula : 3 bagian kulit buah : 10 bagian air.

Misal, saya punya kulit nanas setelah memasak cumi asam-manis sebanyak 300 gram. Daripada saya buang, lebih baik saya buat Eco Enzyme. 

Dengan dengan rumus di atas, maka kita hanya perlu tambahkan: 100 gram gula merah aren / tebu dan 10 liter air. Lalu, setelah dicampur dalam satu wadah kita fermentasi selama 3 bulan. Setelah itu Eco Enzyme bisa kita panen.

Manfaat Eco Enzyme ini sangat banyak sekali, dari pupuk, sanitizer, deterjen alami, pembersih udara dan saluran pembuangan, sampai mengobati eksim dan masker kecantikan. 

Namun, saya pribadi hanya ingin memanfaatkan sebagai pupuk, pembersih udara dan saluran pembuangan (Maklum, yang nulis masih newbie, jadi belum berani eksplore terlalu banyak).

Saya sendiri, yang walaupun masih pemula, merasa Eco Enzyme adalah salah satu cara pengurangan limbah rumah tangga yang sangat highly recomended untuk dilakukan di setiap rumah. Karena Eco Enzyme ini adalah upaya kecil dari dapur namun berdampak besar bagi mitigasi perubahan ilklim, sebab;

  1. Kulit buah sisa makanan keluarga tidak akan berakhir di TPS dimana akan menggunung dan membusuk membentuk gas metana penyebab efek rumah kaca
  2. Kulit buah yang difermentasi akan terurai oleh bakteri baik dan siap menjadi pupuk bagi tanaman
  3. Air fermentasi Eco Enzyme kaya akan enzyme yang berasal dari kulit buah berkolaborasi dengan bakteri baik selama masa fermentasi, sehingga membantu manusia dalam banyak seperti pembersih udara dan saluran pembuangan.

Lubang Biopori

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim

Selain Eco Enzyme, sampah dapur juga bisa dialihkan ke lubang biopori.

Apa itu lubang biopori? 

Lubang biopori adalah lubang resapan yang dibuat dengan memasukkan pipa berlubang-lubang dengan bagian bawah terbuka. 

Sebenarnya lubang biopori yang pakem dibuat dari pipa air dengan panjang 40 – 100 cm dengan lubang -lubang di samping dan ditanam dalam tanah yang sudah dilubangi sebelumnya.

Namun, karena saya kesusahan mendapatkan pipa itu baik secara online maupun offline, akhirnya saya membuatnya dari botol mineral bekas.

Sampah dapur yang bisa dimasukkan termasuk kulit bawang, kulit telur, dan sisa makanan. Nanti sampah itu akan terurai dengan bantuan mikroogranisme tanah. Manfaatnya adalah;

  1. Mengurangi penumpukan sampah di TPS umum yang bisa sebabkan gas metana pembentuk gas rumah kaca.
  2. Menyuburkan tanah karena sampah organik yang dikubur dalam biopori akan menjadi makanan mikroorganisme tanah dan cacing.
  3. Menjadi pupuk organik bagi tanaman karena sampah organik yang membusuk.
  4. Mencegah terjadinya banjir dengan memperbesar daya serap tanah

Air Cucian Beras untuk Tanaman

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim

Selain membuat Eco Enzyme dan Biopori, zero waste bisa kita terapkan pada air cucian beras. 

Sering kita dengar, bukan, soal kebiasaan nenek moyang kita dulu yang merendam beras pada malam hari untuk dimasak keesokan harinya. 

Ternyata, cara tersebut baru dipahami sekarang lewat penelitian sains kesehatan. Bahwa di dalam beras (dan juga biji-bijian) terdapat zat anti-nutrient yang bisa mengikat nutrisi dalam tubuh kita. 

Asam fitat adalah zat antinutrisi yang dapat mengganggu penyerapan zat besi dan zinc. Kadar asam fitat dalam biji-bijan dan kacang-kacangan dapat dikurangi dengan merendamnya semalaman. 

(Sumber: SehatQ, portal online Kemenkes

Setelah direndam semalaman, air rendamannya ditampung saja. Kemudian beras dimasak dengan air bersih yang baru. Air bekas rendaman bisa kita manfaatkan untuk menyiram tanaman. Daripada menggunakan air baru lagi, lebih baik memanfaatkan limbah cucian beras, bukan? 

Jangan khawatir soal anti-nutrient nya. Kita tidak akan mendzolimi tanaman, karena metabolisme kita berbeda dengan tanaman. Justru air rendaman beras mengandung zat hara yang baik untuk tanaman. Biasanya tanaman cepat bertunas jika disiram dengan air bekas rendaman beras. Kita pun bisa menghemat penggunaan air.

Kompos

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim
kompos kami memasukkan sampah rumah tangga mulai dari daun kering, cangkang telur, rak telur, batang sayur, dan sampah organik lain

Selain 3 hal tersebut, ada lagi ide zero waste yang bisa kita lakukan dengan memanfaatkan limbah dapur, yaitu kompos. Kompos sendiri adalah hasil pelapukan bahan organik baik yang disengaja (dibuat) atau tidak disengaja (terjadi begitu saja).

Sebenarnya memasukkan sampah ke dalam lubang biopori sudah termasuk ke dalam pembuatan kompos, namun skala kecil, sampah yang dimasukkan dalam ukuran kecil. 

Kalau kompos yang dibuat dengan sengaja, bisa dibuat dengan menggunakan wadah besar tertutup yang di dalamnya dimasukkan ranting pohon yang berjatuhan, daun kering, rak telur, cangkang telur, kulit buah dan sayur (yang tidak terolah menjadi Eco Enzyme), yang kemudian dicampur dengan tanah dan didiamkan dalam wadah tertutup selama 3 bulan.

Kompos bisa digunakan sebagai media tanam yang subur karena mengandung unsur hara dari sampah organik yang sudah mengalami pelapukan.

Bisa dibilang saya masih pemula untuk zero waste. Walaupun belum bisa 100% benar-benar, tapi setidaknya diri ini sudah tergerak untuk memulainya #UntukmuBumiku. Dengan begitu perasaan berdosa terhadap lingkungan agak sedikit berkurang.

Namun, seandainya sedari dulu saya paham hubungan sampah dapur dan perubahan iklim bumi tentu saya akan memulai #TimeforActionIndonesia sejak dini.

Karena saya seorang ibu dan istri, saya suka memasak, saya juga menghasilkan sampah dari kegiatan saya, tentu seharusnya saya bertanggung jawab atas sampah yang saya hasilkan.

Saat ini membuang sampah ke tempatnya bukan lagi slogan yang cocok untuk saat ini, karena kita harus terus memikirkan masa depan bumi. Sehingga, saya bersumpah untuk terus belajar zero waste dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim untuk kemudian mengajarkannya kepada anak-anak menjadi #MudaMudiBumi agar mereka bisa hidup panjang melihat bumi jauh dari bahaya climate change.

Dengan kesadaran dari setiap ibu di setiap keluarga, semoga bisa dengan signifikan mengurangi bobot sampah yang saat ini setiap harinya terkumpul 175 ribu ton yang masuk ke TPA di seluruh Indonesia.

Semoga dengan langkah kecil kita, bisa mengurangi dampak global warming dan memperlambat climate change sehingga kita bisa mewariskan bumi yang bersih dan sehat untuk anak cucu kita. 

Daftar Referensi

  1. https://sustaination.id/bahaya-sampah-organik/
  2. https://katadata.co.id/timrisetdanpublikasi/analisisdata/5e9a57af981c1/kelola-sampah-mulai-dari-rumah
  3. https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/persentase-komposisi-sampah-indonesia-2020-1623403927
  4. https://humas.bandung.go.id/berita/tragedi-leuwigajah-kisah-kelam-bandung-lautan-sampah
  5. Foto dan video dokumen pribadi

Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

76 Comments

Dessy Achieriny · November 1, 2021 at 7:40 pm

Mamaku termasuk yang seneng bikin pupuk organik sendiri dari memilah sampah sayuran untuk dijadikan pupuk. Kadang cangkang telur diremuk dicampur media tanam. Belajar cinta bumi dari hal kecil.

    Latifika Sumanti · November 4, 2021 at 3:55 am

    mamanya keren banget Mba. Jadi Mba juga udah sering bikin kompos? Aku mau nanya2 nanti boleh?

Diah Alsa · November 3, 2021 at 9:27 pm

belakangnan semakin sering dengar ataupun baca eco enzyme ini begittu juga dengan ecobrick, tapi so far belum membuat sendiri eco enzyme ternyata bisa buat eksim juga ya selain bisa dijadikan bahan pembersih. Mau belajar juga ah buatnya, sama dengan belaja otodidak dengan ecobrick meskipun hasilnya masih bllm benar 😀

semoga makin banyak yang sadar tentang perubahan iklim dan mau berupaya untuk melakukan mitigasi perubahan iklim ini juga ya.

    Latifika Sumanti · November 4, 2021 at 3:56 am

    wah ecobrick, aku sama sekali belum paham, cuma pernah dengar aja. Jadi pengen juga 🙂

Intan Daswan · November 4, 2021 at 4:50 am

Semuanya kembali ke niat yang kuat. Kalau aku kadang suka ada momen malas dan akhirnya kembali ke kebiasaan yang salah. Tapi, kalau dipikir lagi, kalau bukan kita siapa lagi yang sadar dan menjaga lingkungan ini.

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:21 pm

    gpp Mba, manusiawi. Bagusnya sih kita ada komunitas gitu ya, jadi berkumpul yang satu frekuensi saling menguatkan

Rach Alid · November 4, 2021 at 8:27 am

Kok sama ya mba sama aku juga gunakan air bekas cucian beras buat siram tanaman. Tapi sempat kejadian, aku siram dari atas eh daunnya ada putih bekas cucian beras yang mengendam. makasih ide idenya mba

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:20 pm

    Jangan ke daunnya Mba, langsung aja ke tanahnya. Kalo daunnya semprot sama air eco enzyme jadi lebat subur

Nia Haryanto · November 4, 2021 at 10:52 am

Mitigasi perubahan iklim bisa dilakukan dari bidang mana saja ya. Bahkan kita para ibu berawal dari dapur. Dari sampah organik dan anorganik. Dari penghematan sumber daya. Hingga yang lainnya. Jika semua melakukan hal serupa, sekalipun itu kecil, bisa memberi arti yang banyak ya buat bumi.

Lina sophy · November 4, 2021 at 2:51 pm

Masya Allah mbak, keren banget yang udah dilakukan. Bisa dipraktikkan ini di rumah bikin ECO enzim dari limbah dapur. Ilmu² kayak begini yang seharusnya sering di share, tfs mbak 🙏🏻

Alfa Kurnia · November 4, 2021 at 7:29 pm

Ternyata sampah dapur kita merupakan penghasil gas metana ya, Mbak. Duh, saya baru tahu. Berarti harus mulai belajar mengurangi sampah dapur dan mengolah yang ada, ya. Meski belum bisa zero waste setidaknya sudah ikut andil menjaga lingkungan.

    Latifika Sumanti · November 5, 2021 at 8:51 am

    Iya Mba, yuk…. Nilainya selow aja yg penting niat kuat. Kalo udah tau faktanya pasti akan ketrigger. Saya juga baru belajar

Farida Pane · November 5, 2021 at 3:47 am

mantap, nih. ibu rumah tangga pun bisa berperan besar buat bumi, ya. cukup dengan memerhatikan apa yang masuk dan keluar dari dapurnya

    Rina Susanti · November 5, 2021 at 4:28 pm

    Benar mba perubahan mulai dr hal kecil lingkungan terdekat, hemat listrik, diet plastik , diet sampah organik

      Diah Agustina · November 7, 2021 at 7:14 am

      Waaah, kaget aku mbak sama faktanya ternyata sampah dapur lebih banyak dari sampah pasar..
      Nah, kalau aku baru ngelakuin hal yang sama seperti mbak dengan menyiran tanaman menggunakan air rwndalam beras. Kalau Eco Enzim belum pernah aku lakukan tapi setelah baca artikel ini, langsung semangat buat memulainya

        Latifika Sumanti · November 9, 2021 at 6:56 pm

        bikin kaget emang fakta yang itu ya Mba. Gak nyangka karena kita lihatnya dikit, tapi kalo semua membuang sampah dapur ke TPS ternyata melebihi sampah pasar jadinya

Milda Ini · November 5, 2021 at 9:48 am

Yah, saya juga menikmati jadi ibu yang setiap hari berpikir untuk masak, dari aktiivitas masak ini saya juga mulai belajar memilah sampah dan mengajarkan untuk hemat, baik bahan baku, juga penggunaan air, gas , listrik dll

Momtraveler · November 5, 2021 at 8:36 pm

Ternyata mitigasi iklim bisa kita lakukan sendiri dan simulai de rumah ya mbak. Setelab baca ini aku jd paham iya juga sampah menggunung gitu pastilah penyakit yg datang blm lagi gas metana. Kalo air cucian beras udah aku praktekin sih tinggal nyobain bikin lubang biopori..makasih mbak sharingnya

    Dian Farida Ismyama · November 6, 2021 at 7:31 pm

    Wah ternyata sampah dapur malah paling banyak ya. Hiks. Aku mau coba juga ah buat eco enzim. Wadahnya harus kedap kah? Terus kalau buat pembersih udara diapain mbak begitu panen? Kalau biopori apakah sisa makanan kayak nasi, daging juga bisa dimasukkan? Atau hanya sisa sayuran buah saja?

      Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:07 pm

      Eco enzyme harus kedap kalo sesuai panduan EEI (Eco Enzyme Indonesia), dari plastik yang mulutnya lebar (gak disarankan di galon), container atau drum plastik gitu Mba bisa. Pembersih udara itu dijadikan cairan dissufer Mba atau semprot aja ke udara pakai botol spray.

      Biopori boleh masuk sisa makanan basah, tapi aku mah di rumah kalo ikan dikasih ke kucing. Kalo nasi bisa ke biopori, cepat lapuknya. Cuman hati-hati jadi sarang semut merah Mba. Tapi bisa diakali dengan masukin kulit bawang ke lubang, karena minyak atsirinya lumayan bikin semut kabur. Kalo gak mempan aku tambahin bawang sebutir sekalian 😀

Mporatne · November 5, 2021 at 10:08 pm

Mpo suka nih dari dapur turut serta membantu menyelamatkan bumi. Semangat emak-emak membantunya

    Nurfitri Wardani · November 6, 2021 at 5:28 am

    Baru tau soal ECO enzim. Ternyata banyak manfaatnya ya. Sangat-sangat tertarik buat nyobain. Paling nggak ada upaya untuk mitigasi perubahan iklim.

      Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:18 pm

      Harus Mba. Aku pikir, semua ibu di bumi ini harus bertanggung jawab atas sampahnya sendiri

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:13 pm

    Iya Mpok. Mpok mangat juga yaa

Niken · November 5, 2021 at 10:53 pm

Akuuuuu gagal terus kalau mau bikin eco enzym, padahal pernah belajar bikin juga sih. ahaha. Kebawa malas nya ini kayaknya. PAdahal penting banget mitigasi penanganan sampah rumah tangga

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:15 pm

    gagalnya kenapa Mba Niken 🙂 Ada grup FB nya kalau mau belajar sama-sama

    Punyaku harusnya panen 27 Oktober tadi, bikinnya 27 Juli, tapi dibuang sama suami karena dikira aku nyimpen sampah T_T

    Jadi ini start lagi, aku taro di tempat aman. Wkwkwk

Yanti · November 6, 2021 at 5:00 am

Dari cara diatas untu k meminimalkan sampah dapur adalah bikin biopori sma ai cucian beras buat nyiram tanaman karena selama ini dua hal tsb sudah saya lakukan saya bangga sebagai ibu rumah tangga bisa berpartisipasi dalam menjaga lingkungan

Lia Yuliani · November 6, 2021 at 5:08 am

Betul sekali Mba, sampah dapur ini paling banyak persentasenya ya. Coba bayangkan aja dalam satu rumah Ada berapa sampahnya. Baru serumah, belum sekomplek, sekota, bahkan satu negara. Segimana banyaknya coba.

Nah, iya Kita bisa berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan dimulai dengan mengelola sampah dapur. Semoga semakin banyak yang tercerahkan dengan hal ini. Tulisannya bagus, Mba. Lengkap dan informatif.

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:17 pm

    Udah pasti banyak kalo akumulasi 🙁 Nah tu, makanya ada perasaan berdosa dari situ Mba, terus jadi belajar ginian deh. Terimakasih apresiasinya 🙂

Eri Udiyawati · November 6, 2021 at 5:26 am

Sampah makanan ini gak akan selesai-selesai kalau kita gak sadar. Betapa bahayanya gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah yang sudah menggununung.

Saya jadi pengen bikin lubang biopori nih buat di rumah. Biar sampah dapur rumah kami bisa berkontribusi untuk mencegah perubahan iklim.

diane · November 6, 2021 at 7:30 am

Dapur ternyata jadi sumber utama sampah ya.. Mau bantu kelestarian lingkugan bisa dimulai dari dapur..

Dedew · November 6, 2021 at 11:04 am

Baru tahu lho aku membuang makanan itu tak hanya boros tapi juga merusak lingkungan karena sisa makanan yang menumpuk itu mengeluarkan gas metana yang membahayakan lingkungan semoga makin banyak yang menyadari bahayanya tidak menghabiskan makanan

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:19 pm

    makanya dalam Islam dilarang mubazir ya Mba. Dampaknya sampai ke anak cucu cicit

Tanti Amelia · November 6, 2021 at 11:52 am

Baru tahu ternyata … pentingnya tiap keluarga punya tempat sampah, di rumah ada tapi dibakar terus menerus, karena supaa ga numpuk. Oke akan aku coba biopori dan pengolahan sampah organik ini

aku udah subscribe youtubenya ya mbak, kalau berkenan subs juga Roema Jamoer yaaa

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:13 pm

    dibakar juga bikin karbon bertambah kan Mba 🙁

    siap. nanti aku subs balik 🙂

Leyla Imtichanah · November 6, 2021 at 12:18 pm

Aku udah pernah praktekin buang air cucian beras ke tanaman nih. Tapi belakangan enggak lagi karena diomelin suami wakakak. Nanti kupraktekin lagi ah.

Fenni Bungsu · November 6, 2021 at 1:53 pm

Sampah dari dapur bisa juga untuk diolah dengan bijak, sehingga gas metana yang dihasilkan tak lagi menumpuk ya.
Yuk turut serta juga, dengan bekerjasama maka bumi kita ini bisa berangsur-angsur pulih

@hm_zwan · November 6, 2021 at 3:42 pm

Wah, keren banget mbak. Aku baru sebatas memilah sampah, terus campur ssampah dapur ke tanah sama nyiram kembang dan tanaman pakai air bekas cuci beras

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:11 pm

    Mba tu dah keren juga. Aku baru mulai ini sekitar Juli tadi karena resah lihat sampah dapur koq banyak

Andy Hardiyanti · November 6, 2021 at 4:59 pm

Sampah rumah tangga tuh paling banyak ya emang berasal dari dapur ya. Kalau sering pesan makanan online, maka sampahnya pun bakal lebih banyak lagi, terutama dari kemasanan makanan yang dipesan. Wajar sih mitigasi perubahan iklim ya baiknya dimulai dari rumah masing-masing, utamanya mulai bijak memilah dan mengurangi sampah dapur.

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:11 pm

    Iya Mba, ternyata paling banyak sampah yg dihasilkan di dapur 🙁

Kartika Nugmalia · November 6, 2021 at 6:14 pm

Setuju banget bahwa hal kecil yang bisa kita mulai dari rumah dan dapur kita sendiri akan memberikan dampak lebih baik bagi bumi. Satu orang saja sangat berarti apalagi jika kita mengajak sahabat, orang terdekat dan temen teman sosial media untuk ikut andil dalam berbagai program bagus ini.

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:10 pm

    Yuk Mba 🙂 sebenarnya aku masih pemula juga, jadi masih sambil belajar buat konsisten

Ria fasha · November 6, 2021 at 6:41 pm

Nah aku dulu juga mikirnya sambah organik bakal cepat hancur dan nyatu dengan tanah, tapi kalo udah kebanyakan malah bisa bahaya ya mbak
Keren banget ide pengelolaan sampahnya. Aku juga lagi berusaha nih , sejauh ini paling sering dilakukan itu buat kompos

lendyagassi · November 6, 2021 at 7:22 pm

Senang sekali..
Aku suka bingung kalau ada limbah rumah tangga yang organik. Karena belum punya biopori. Seharusnya pesen yaa.. Soalnya Pak Kebunku juga datengnya sebulan sekali, huhuu…harusnya bisa banget nih..mengolah dengan penuh kasih sayang limbah organik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan kembali ke lingkungan.

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:08 pm

    Iya Teh, daripada buang ke TPS jadi gas metana kan, mending buat nyuburin tanah dan tanaman di rumah

Herva yulyanti · November 6, 2021 at 10:11 pm

Pas kejadian ledakan TPA leuwigajah itu pas aku kuliah mba ngeri juga sih krn tumpukan sampah yah..untuk sampah dapur kecuali air beras yg bisa dimanfaatkan buat tanaman yg lainnya belum

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:03 pm

    ya ampun, 21 tahun lalu Teteh dah kuliah T_T aku kira kita seumuran. Aku baru kelas 1 SMA itu Teh

Irra Octaviany · November 6, 2021 at 10:18 pm

Keren banget mbak Fika, semoga dengan adanya tulisan ini dapat menginspirasi banyak orang untuk lebih mengolah sampah rumah tangga agar bumi kita kembali sehat

    Latifika Sumanti · November 6, 2021 at 11:01 pm

    Sesungguhnya aku cuma orang yang mengikuti jejak orang2 yang sudah start jauh lebih dulu Mba 🙂

Liswanti · November 6, 2021 at 10:37 pm

Lihat tumpukan sampah gitu aku ngeri.

Sekarang aku juga di rumah mulai bijak soal sampah, ga banyak masak, karena takut ga havis. Jadi masak kalau mau makan.
Tulisan yang menarik, aku jadi pengen belajar soal kompos.

Apura · November 6, 2021 at 11:57 pm

Menarik juga manfaat ECO enzym ya.. perlu dipelajari lagi nih. Gimana kok bisa buat penyakit eksim dan kecantikan. Btw, nyiram taneman pake air beras beneran bikin tanaman subur.

    Latifika Sumanti · November 9, 2021 at 6:55 pm

    Karena kandungan bakteri baik di dalamnya Mba, microbiome itu bagus buat kesehatan usus dan kulit kita

Nabilla - Bundabiya.com · November 7, 2021 at 11:14 am

banyak yang bisa kita lakukan untuk iklim meski dari rumah saja ya mba, saya juga sebisa mungkin membuat kompos dari daun kering meskipun cuma ditaroh aja haha sama air rendaman beras itu bermanfaat banget buat tanaman

    Latifika Sumanti · November 9, 2021 at 6:57 pm

    iya Mba, kita yang skala kecil ini bisa koq brekontribusi banyak asal yang berkemauan juga banyak

Adriana Dian · November 8, 2021 at 7:45 am

wah ternayata sampah rumah tangga presentasenya besar sekali ya mak.. huhu. Semua ibu rumah tangga harus aware ya tentang masalah perubahan iklim iniiii.. makasi sharingnya yaaaa

    Latifika Sumanti · November 9, 2021 at 6:58 pm

    huhu, iya Mba. Dengan fakta ini setiap ibu berasa sekali tanggung jawabnya

Sarieffe · November 8, 2021 at 11:40 am

Alhamdulillah, soal air beras ini sudah lama kulakukan. Pernah berusaha bikin ECO enzyme cuma blm rutin mba. Soal bikin pupuk sendiri aku 2x mencoba tapi gagal. Pupuk yang lugu akan menghasilkan bau tak sedap padahal seharusnya tidak berbau. Dan soal ini aku masih penasaran ingin mencobanya lagi mba

Nurhilmiyah · November 9, 2021 at 4:26 am

Bikin kompos sendiri dan membuat lubang biopori belum saya lakukan nih Mbak. Tp menyiram tanaman dengan air cucian beras, udah rutin. Seneng banget tanamannya pasti yaa hehe…. yuk ah sama2 menjaga bumi kita

indah savitri · November 9, 2021 at 7:06 am

setuju banget mba bahwa sampah rumah tangga punya andil besar dalam urusan sampah dan kita semua bisa banget mengambil langkah kongkret untuk batas mengaasi masalah ini

Anggraeni Septi · November 9, 2021 at 9:02 am

ada temanku yang ngasih tanamannya sisa air cucian beras, kukira aneh, ternyata baru tahu kalo bagus banget buat tanaman dan kita jadi nggak buang-buang air juga, makasih nih mba tulisannya bikin bergerak demi bumi yang makin sehat dan lestari

    Latifika Sumanti · November 9, 2021 at 7:00 pm

    karena semua ibu punya tanggung jawab dalam perubahan lingkungan Mbaa.. Yuk!

Fania surya · November 9, 2021 at 10:36 am

Aku pengen deh nyobain eco enzym , tapi gak sempat2. Padahal sampah organik dapur tuh banyak banget ya. Tiap hari pula. Nah, kl sampah organik dan non organik aku udah mulai pisah2 tuh. Kayaknya hrs lebih rapi lagi biar bumi lebih bersih.

    Latifika Sumanti · November 9, 2021 at 7:01 pm

    Banyak banget kan Mba, kita aja kewalahan ya, apalagi kalo ditumpuk semua, bumi yang kewalahan akhirnya 🙁

Hanifa · November 10, 2021 at 9:42 pm

Langkah penerapan zero waste ini sebenernya nggak muluk-muluk sampe harus ngebersihin sampah di pantai atau ikut bantu pengelolaan limbah pabrik. Pada dasarnya memang perlu dibiasakan dari apa yang bisa kita mulai dari rumah dulu aja. Semoga kesadaran ini bisa dimulai bareng-bareng oleh masyarakat Indonesia ya Mak :))

Juara 3 yang 3 Kali Banjir - Bonjour Fika! · November 17, 2021 at 2:49 am

[…] Dari Dapur untuk Mitigasi Perubahan Iklim […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *