Beauty Talk Skincare Tips

Dari Lemon Sampai Akupunktur, Inilah Perjalananku Berdamai dengan Si Acne Prone (1)

Pakai apa (koq tambah bersih)?”, celetuk bibi ketika pertama kali bertemu denganku setelah 3 tahun lamanya tak bersua.

Di lain waktu…

“Ini Fika, Yun? Sekarang mukanya tambah bagus”, tanya seorang kaka tingkat kepada teman akrabku waktu kuliah setelah beliau melihat fotoku di blog.

Padahal belasan tahun lamanya sudah aku berteman dengan jerawat, flek, bopeng, dan kulit kusam. Belasan tahun lamanya aku tidak mengenali kulitku sendiri. Tapi sekarang, dalam 2 tahun terakhir aku banyak belajar dan banyak pula perubahan pada kulit wajahku. Dalam 2 tahun ini pula aku banyak berbagi tentang pentingnya skincare kepada teman dan komunitas.

Senang rasanya bisa membantu mereka merawat kulitnya. Aku memang bukan beauty blogger, tapi mungkin bisa dibilang seorang beauty-health-enthusiast.
Bonjour everyone, welcome to my (precious) beauty journey ❤

***

10 tahun yang lalu aku cukup aktif di pengajian kampusku. Hingga suatu hari, ustadzah yang biasa aku panggil dengan “kaka” mengeluarkan statement.

Muslimah yang baik itu yang di meja riasnya cuma ada pupur dan sisir”.

Degh! Berasa tertohok. Baru juga mulai icip-icip skincare untuk kulit acne prone ku , sudah dapat statement itu dari guru ngaji. Apa kabar pelembab siang dan malamku??? Baru punya pelembab wajah saat itu aja aku sudah merasa berdosa.

Alhasil, diriku yang baru belajar ini galau setengah mati. Maunya perawatan karena wajahku sudah darurat, tapi kepikiran kata-kata beliau.

Aku tau maksudnya. Menurut beliau sebaiknya muslimah tidak terkuras habis waktunya di depan meja rias karena waktunya bisa lebih produktif di hal lain.

8 tahun lamanya aku mengamini perkataan kaka guru itu. Dan selama itu pula aku hanya mengandalkan bedak dan (syukur-syukur pelembab kalo ada). Dan sekarang setelah berusaha belajar sana sini, justru aku merasa dzolim dengan wajahku karena tidak melindunginya dari sinar UV A yang merusak kolagen di kulitku, membiarkannya tanpa hidrasi hingga sel-selnya keriput karena dehidrasi, dan membersihkan wajah seadanya hanya dengan sabun, membiarkan sel-sel kulit mati menumpuk selama bertahun-tahun.

Maka, dengan segala kerendahan hati ingin rasanya aku katakan, “Maaf Kaka, perempuan muslim yang baik itu dia yang menjaga pemberian Alloh dengan sebaik-baiknya”

Kala Si Beauty and the Beast itu adalah Aku

Sebenarnya selama SMP, awal awal puber, kulitku sama sekali tidak bermasalah. Padahal tipenya oily, tapi untungnya tidak disertai dengan acne prone. Dan kalo boleh shombong, bisa dibilang wajahku dulu termasuk yang mulus *tsaaah *kibas poni.

Wajahku yang oily tanpa acne prone saat itu malah terlihat glowing. Dipakein sabun wajah apa aja no probs, ganti pelembab it’s ok. Saking bagusnya kulit wajah, aku merasa sangat cantik saat itu, plusnya lagi emang saat itu banyak temen laki-laki yang naksir. (Astaga, aku lupa suruh kalian ambil kantong plastik. Siapa tau ada yang mau muntah. Hahahaha).

Lalu menginjak kelas 2 SMA prahara wajah pun dimulai. Kulit wajahku mulai rewel, mulai timbul jerawat, kusam, dekil. Lengkap. Ga ada lagi yang naksir sama yang namanya Fika.

Tapi, sebenarnya yang membuat aku sedih bukan karena ga ada yang deketi aku. Oh, it’s a no prob at all, Dude.. Serius! Karena memang akunya juga udah komitmen ga mau pacaran sejak SMA. Yang buat aku sedih adalah kondisi wajahku sendiri dan aku ga tau harus diapain. Aku sedih aja karena dikira ga bisa merawat tubuh sendiri.

Dan kondisi ini semakin parah saat kuliah. Semakin ke kota kulitku semakin ga terima. Air yang berkaporit, udara yang berpolusi, plus beban pikiran yang makin bertambah. Jerawatku pun semakin parah membuat wajah laksana bulan purnama.

Bersinar? Bukaaan…. banyak kawah maksudnya. Hahahahaha

Yess, acne scar adalah masalah kulitku selanjutnya. Jerawat, flek hitam harus ditambah bopeng di mana mana. Hmmmm, gimana ga tambah seram mukaku? Gimana ga tambah jauh jodohku, Bhambhank?

***

Ohya, sebelumnya aku mau kenalin tipe kulit wajahku. Aku di usia early 30 ini punya kulit dengan jenis normal to oily, acne prone, and dehydrate. Tipe kulit yang bikin aku kebingungan sendiri karena kadang-kadang aku merasa oily, kadang-kadang malah muncul sisik saking keringnya. Kalo semua sifat jelek kulitku keluar rasanya males liat muka sendiri. Dekil, kucel, kusam, jerawatan.

Kalo kalian masih bingung dengan tipe kulit kalian, coba kalian lakukan tes di bawah ya.

1. Pastikan kalian punya waktu kosong di rumah sekitar 4 jam. Idealnya pagi hari.
2. Setelah itu, cuci wajah dengan air, hanya air (no facial wash), kemudian keringkan
3. Diamkan wajah selama 3 jam (no skincare, no AC, no fan).
4. Perhatikan kondisi kulit wajah. Apa yang kalian rasakan? Berminyak seluruhnya, berminyak sebagian, atau merasa ketarik? Atau malah kemerahan?

Nah, sekarang perhatikan parameter skintype-nya di bawah dan cocokkan dengan kondisi wajah kalian ya.

• Kulit normal: tidak ada minyak berlebih, tidak ada rasa ketarik, kelembaban cukup
• Kulit berminyak: minyak berlebih di seluruh wajah
• Kulit kering: tidak ada minyak sama sekali, ada rasa ketarik, kulit bersisik
• Kulit kombinasi: berminyak di daerah T zone (dahi dan hidung) namun di daerah pipi cenderung normal atau kering
• Kulit sensitif: muncul ruam kemerahan pada wajah

Lima parameter di atas adalah skintype yang umum. Biasanya sifatnya genetik atau diturunkan dari orangtua. Tapi, ada lagi kondisi lain yang menyertai. Karena sungguh tiap wajah orang itu berbeda sekali, jadi kita harus punya ID kulit (identitas kulit) agar lebih mendekati kondisi kulit kita sebenarnya.

Mengetahui ID kulit wajah itu penting agar kita tidak salah memilih produk skincare karena tau betul kebutuhan wajah apa.

Misal; ID alias identitas kulit ku adalah normal to oily, acne prone dan dehydrated. Yang pertama itu genetik biasanya, turunan.

Kemudian acne prone itu setengah genetik setengah faktor luar. Karena ternyata ga semua kulit wajah berminyak itu jerawatan. Selama kulitnya ga termasuk acne prone, kulitnya ga akan mudah berjerawat. Tapi bisa berubah menjadi acne prone tergantung faktor internal dan ekternal.

Sedangkan dehidrasi itu contoh kondisi kulit yang sering ditemui, tapi sangat mudah berubah-ubah, tergantung perlakuan si empunya wajah. Dehidrasi inilah biang dari kebingunganku sebagai beauty-enthusiast pemula. Aku merasa berminyak tapi juga ketarik, merasa kering, dan mudah banget kusam. Setelah aku baca-baca, hmmm ternyata ini toh ciri-ciri kulit dehidrasi.

Mengatasi Jerawat dengan bahan natural. Yay or Bhay?

Bertahun-tahun punya masalah wajah yang ga pernah selesai membuat aku makin stress. Eh, ternyata makin stress jerawat juga makin parah. Gituuu aja muternya. Pusing akutu. Mau ke klinik dokter juga berat (sobat missqueen pasti tau rasanya). Mama juga ga kasih saran apa-apa buat wajah anak perempuannya ini. Huhu. Bingung kali ya mama karena ga pernah jerawatan.

(To be continued part two)

(Visited 47 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *