Perubahan Iklim dan Ancaman Kepunahan

Mei 2022 lalu, beberapa ilmuwan di Amerika Serikat, Inggris, Jerman ditangkap oleh polisi setelah melakukan demo untuk memperingatkan penduduk bumi terkait ancaman krisis iklim. Aksi mereka dianggap sudah mengganggu dan isu yang dibawa masih pro kontra.

Sumber: Koran Jakarta

Manusia mungkin bisa berbohong. Namun, alam tidak.

Nyatanya dua bulan setelah kejadian itu, sekitar Juli 2022, Eropa dihantam gelombang panas saat summer selama tiga bulan. Suhu yang biasanya maksimal 30oC, tahun lalu naik drastis menjadi 40o– 44oC, menjadikannya tersangka utama dari 20.000 kematian di benua putih itu. Kebanyakan penderita terkena serangan heat stroke, sebuah kegagalan mekanisme tubuh untuk beradaptasi dengan suhu panas ekstrem.

Nampak sudah apa yang dikatakan oleh para ilmuwan itu bukan bualan. Perubahan iklim dan krisis iklim ini nyata dan faktanya benar-benar mengancam eksistensi manusia.

Lalu, apa saja tanda-tanda alam yang mengarah ke perubahan iklim?

Cuaca Makin Ekstrem

Suhu Naik

Animasi pemanasan global yang memicu perubahan iklim
Sumber: NASA

Kenapa suhu akhir-akhir lebih panas? Bukan cuma di daerah tropis, suhu panas ini merata di seluruh belahan bumi. Pemanasan global ini terjadi karena lapisan gas rumah kaca -yang semakin tebal di atmosfer- menghalangi panas matahari untuk bisa terpantul ke luar angkasa dan malah terserap kembali ke bumi (lihat lagi animasinya).

Ternyata kenaikan suhu ini tidak hanya membuat manusia saja yang stress, bahkan tumbuhan juga.

Suatu hari saya melihat seseorang di Instagram sedang mereview kipas angin yang baru dibeli dan bertanya, “Mba, itu sebelah rumahnya banyak pohon, seperti hutan kecil. Masih panas juga ya?.” Tanya saya.

“Iya Mba. Tahun kemarin masih adem. Tapi tahun ini benar-benar, panas banget.”

Rumah dengan banyak pohon masih terasa panas? Koq bisa?

Kita tahu, pohon melakukan fotosintesis dengan bantuan matahari dan menghasilkan oksigen -sehingga berada dekatnya akan terasa sejuk. Namun ada satu hal yang kita belum banyak tahu, bahwa fotosintesis tanaman akan berhenti jika terlalu banyak cahaya matahari atau suhu yang terlalu panas. Dari website europeanscientist.com dituliskan bahwa tanaman akan melindungi dirinya dengan mekanisme yang disebut photodamage dengan mengusir cahaya menjadi panas.

Well, kalian pasti bingung, kan? Sebenarnya ini naluri pertahanan diri tanaman. Mereka juga punya ambang toleransi untuk lingkungan yang tidak ideal. Sehingga untuk menekan laju pemanasan global, penanaman pohon juga harus disertai dengan pengurangan emisi gas rumah kaca skala besar.

Badai Datang Lebih Sering

Selama delapan tahun belakangan ini, sudah tidak terhitung angin kencang yang menimpa daerah saya, bahkan sampai level destruktif, hingga membuat kerangka atap salah satu perumahan di sini melayang ke tetangga sebelahnya. Kasihan.

Tapi di antara badai-badai yang pernah ada, ada satu badai yang paling besar. Di tahun 2015, saat El Nino datang, kemarau panjang dan sangat kering, karhutla hebat menerjang kami selama tiga bulan. Lalu badai datang mengakhirinya. Ironis. Malam itu, di penghujung musim kemarau, tujuh buah menara SUTT roboh oleh angin kencang dan hujan deras. Pohon pisang depan rumah rebah jimpah di tanah. Di kota, kerusakan lebih kentara lagi. Gelap gulita kami selama sebulan. Habis asap terbitlah gelap.

Para ilmuwan menyebut bahwa peluang terjadinya badai sangat besar saat terjadi kenaikan suhu global. Lebih sering dan lebih lama. Dulu, badai yang terbentuk di lautan akan mencapai daratan dengan kekuatan yang melemah setelah 17 jam terbentuk. Namun, sekarang badai tersebut melemah setelah 33 jam. Suhu panas akan membawa lebih banyak kelembaban dan uap air, sebagai bahan bakar badai.

Selain angin badai, jika musim hujan di daerah saya juga rawan banjir. Bahkan di antaranya ada baru surut setelah sebulan lamanya. Kalimantan si paru-paru dunia benar-benar kewalahan mengatasi dampak perubahan iklim.

Krisis Pangan dan Kesehatan

Tahun 2021 lalu dibuka dengan berita kebanjiran. Seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan diterjang banjir bandang, hingga merusak jembatan, jalan, dan sawah. Lalu, di akhir tahunnya Kalimantan Tengah kena giliran banjir sampai dua kali. Pemanasan global menciptakan kekeringan di belahan bumi lain dan juga menciptakan bencana lain di sisi sebaliknya. Dua kondisi yang membuat rawan gagal panen.

Tidak sampai di situ. Suhu bumi yang memanas membuat banyak serangga bermigrasi mencari tempat yang lebih ideal. Serbuan serangga itu acapkali membuat petani menjadi kewalahan dan berujung pada gagal panen. Masalah pun bertambah. Jika pertanian teru menerus gagal berproduksi, bagaimana kabar manusia?

Selain serangga, migrasi juga terjadi pada kelelawar. Hewan vektor penyakit ini berpotensi menimbulkan wabah baru pada garis migrasinya. Apalagi dengan suhu ekstrem, mutasi virus lebih mudah terjadi.

dampak perubahan iklim

Climate Financing Gap

Di sisi lain, bencana-bencana yang semakin sering terjadi akhir-akhir ini membuat banyak orang menjadi waspada soal krisis iklim. Banyak juga yang kemudian perlahan melirik sustainable lifestyle dan mempelajari isu lingkungan untuk menekan laju perubahan iklim. Saya misalnya, dalam tiga tahun ini ikut menceburkan diri, baik konten di Instagram maupun di blog. Pun semakin banyak organisasi yang menyuarakan soal climate change. Imbasnya solusi yang ditawarkan pun jadi banyak dan beragam.

Namun realisasinya tidak sesederhana itu. Faktanya, laju kerusakan lingkungan dua kali lebih cepat daripada solusi perbaikan yang dijalankan karena kurangnya pendanaan. Padahal kita sedang berkejaran dengan waktu. Para saintis memprediksi kenaikan suhu global akan semakin parah.

Untuk itulah, sebuah organisasi pecinta lingkungan, Greeneration Indonesia yang sekarang bertransformasi menjadi Greeneration Foundation, memfokuskan diri untuk menjadi wadah penghimpun dana publik untuk program-program mereka. Diawali tahun 2014 lalu dengan kampanye generasi hijau; mengumpulkan kardus, kertas, dan koran bekas untuk dijual lagi untuk program penanaman pohon di Bandung, diet kantong plastik, sekarang mereka membagi sektornya menjadi; Education, Strategi Engagement (mendorong advokasi, event tahunan), Community Empowering (merangkul komunitas hingga bisa mandiri mengelola sampahnya sendiri).

mitigasi perubahan iklim

Green Fund Digital Philanthropy

Dari climate financing gap itulah Greeneration Foundation kemudian berfokus lagi pada platform green funding. Agar misi hijau cepat direalisasikan dan masyarakat luas yang tidak punya akses ke lapangan bisa berkontribusi berupa donasi uang. Platform ini juga sudah mendapat izin kemensos sebagai penggalang dana untuk isu lingkungan dan akan ada laporan donatur sebagai bentuk transparansi.

Donasi mulai dari Rp 10.000 untuk dukung misi penyelamatan bumi
Saya titipkan misi hijau yang lebih besar kepada kalian ya Greeneration!

Kita menyiapkan tabungan pendidikan untuk mereka bisa sekolah tinggi-tinggi, me-leskan mereka agar menguasai banyak skill, mengajari mereka untuk menguasai teknologi supaya tidak ditelan zaman.
Tapi kenapa bisa kita lupa memastikan bagaimana bumi mereka di masa depan

Referensi

1. https://climate.nasa.gov/climate_resources/188/graphic-the-greenhouse-effect/
2. https://www.kompas.com/tren/read/2020/11/13/130836365/studi-pemanasan-global-sebabkan-badai-jadi-lebih-kuat?page=all
3. https://www.dw.com/id/tahun-2022-jadi-rekor-musim-panas-dan-pencairan-gletser-di-eropa/a-65392899
4. https://www.europeanscientist.com/en/research/how-do-plants-protect-themselves-from-sunlight/
5. https://greeneration.org/

https://www.instagram.com/reel/CsjZj1-pOUB/?igshid=MmJiY2I4NDBkZg==
https://www.instagram.com/reel/CsjZj1-pOUB/?igshid=MmJiY2I4NDBkZg==

Leave a Comment