Apa jadinya jika pusat keseimbangan seluruh klan yang dijaga selama 40.000 tahun dipertaruhkan oleh ambisi dan keegoisan oleh seseorang yang belum pernah bertualang ke dunia paralel? Bersiaplah untuk naik roller coaster coaster selama membaca Selena dan Nebula, Teman. 

***

 

Bagi tim genre fantasi, tentu serial Bumi yang berseri-seri banyaknya ini adalah sebuah angin surga. Tapi, tentu lain ceritanya dengan tim genre roman-histori, seperti saya, nampaknya dunia fantasi yang dibangun dalam setiap cerita akan sukar dimasuki.

Setidaknya itu yang saya rasakan di tahun 2017, sebelum berkenalan dengan serial fantasi Tere Liye ini.

Tapi, bagaimanalah … saya sudah terlanjur cocok dengan gaya penulisan anak Sumatera pedalaman dengan puluhan novel best seller ini. Alhasil penasaran itu tetap tak berhasil juga diredam.

Apakah gerangan yang membuat serial ini laris manis dan difavoritkan banyak orang?

Resensi Selena dan Nebula

Selena dan Nebula. Formasi tidak lengkap karena sebagian meminjam.

Jujur saja, pada awalnya rasa skeptis bisa menikmati novel-novel beliau kali ini sempat menghinggapi saya: fantasi berbalut science-fiction dengan background penulis  lulusan akuntansi UI?

Oke lah kalau judul-judul beliau lainnya selalu laris bak kue kering jelang lebaran. Tapi, bukankah ilmu ekonomi cukup jauh dari sains?

Tapi, lagi-lagi karena penasaran melihat respon para pembacanya akhirnya saya menyerah juga untuk tidak membaca. Sekeren apa sih penulis lokal bisa membuat serial science fiction?

Sebelumnya saya tidak menyangka akan bisa mengikuti (dan menikmati) serial ini. Mengingat waktu booming Harry Potter saja saya bergeming. Yah, karena genre saya memang bukan fantasi. Saya bukan tipe pembaca yang senang berimajinasi luar biasa. Saya lebih tertarik untuk mengetahui “sejarah yang tersembunyi”, termasuk menemukan hikmah kehidupan dari setiap judul. Pikir saya, itu semua akan sulit ditemui dalam novel fantasi.

Tapi inilah saya sekarang, terdampar di dunia antah berantah, petualangan anta klan, nun jauh di sana hingga ke konstelasi terkecil di alam semesta. Kalian mau tahu bagaimana resensi novel serial Bumi ke-8 dan 9? 

 

***

🌖SELENA🌖

 

Resensi Selena dan Nebula

 

Detail Buku

Judul: Selena
Penulis: Tere Liye
Co-author: Diena Yashinta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Desain sampul: Orkha Creative
ISBN: 9786020639512
Cetakan: ke-2, April 2020
Tebal: 365 halaman

 

Blurb

SELENA dan NEBULA adalah buku ke-8 dan ke-9 yang menceritakan siapa orangtua Raib dalam serial petualangan dunia paralel. Dua buku ini sebaiknya dibaca berurutan.

Kedua buku ini juga bercerita tentang Akademi Bayangan Tingkat Tinggi, sekolah terbaik di seluruh Klan Bulan. Tentang persahabatan tiga mahasiswa, yang diam-diam memiliki rencana bertualang ke tempat-tempat jauh. Tapi petualangan itu berakhir buruk, saat persahabatan mereka diuji dengan rasa suka, egoisme, dan pengkhianatan.

Ada banyak karakter baru, tempat-tempat baru, juga sejarah dunia paralel yang diungkap. Di dua buku ini kalian akan berkenalan dengan salah satu karakter paling kuat di dunia paralel sejauh ini. Tapi itu jika kalian bisa menerkanya.

Dua buku ini bukan akhir. Justru awal terbukanya kembali portal menuju Klan Aldebaran.

 

Plot dan Latar

Plot atau alur yang dimainkan di novel Selena ini adalah alur mundur untuk maju. Gimana, gimana? Maksudnya campuran? Ga juga menurut saya, sih. Cerita dari bab 1 – 31 memakai alur maju sampai selesai, namun sebenarnya itu adalah cerita masa lalu yang diceritakan ulang (ada pada bab epilog atau penutup).

Latar tempat pada cerita ini adalah di Klan Bulan (Klan Bulan bukan di Bulan ya).

Klan Bulan adalah sebuah dunia dengan dimensi lain yang masih paralel dengan bumi. Mereka juga punya unsur yang sama yang dimiliki Klan Bumi, seperti; air, tanah, udara, matahari, bulan, gravitasi.

Yang berbeda adalah tingkat kemajuan teknologi yang lebih canggih daripada Klan Bumi, semisal rumah yang dibangun di atas tiang dan tidak mengorbankan lingkungan, serta kebiasaan unik penduduknya yang menyukai pakaian hitam-hitam.

Selain Klan Bulan, sedikit latar Klan Bumi melengkapi epilognya.

Adapun latar waktunya adalah sekitar 17-20 tahun yang lalu. Saat Miss Selena, guru Matematika Ali, Raib, dan Seli masih remaja.

Resensi Selena dan Nebula

Ilustrasi rumah penduduk Klan Bulan permukaan, dibangun di atas tiang tinggi sehingga tidak membabat pepohonan (Sumber: bdir.com)

Tokoh dan Karakter

Tidak seperti di 7 buku sebelumnya, kali ini untuk tokoh utamanya berbeda. Jika sebelumnya Miss Selena hanya sebagai figuran, maka sekarang -sesuai namanya-, Miss Selena menjadi tokoh utama bersama 2 temannya yang lain. Adapun tokoh lainnya ada yang sudah muncul di buku sebelumnya dan ada yang memang benar-benar baru. Berikut tokoh serta karakternya.

1.Selena

Tokoh utama pada buku ini dikisahkan dalam sudut pandang pertama “aku”. Seorang anak yatim piatu saat umurnya belum genap 15 tahun. Berasal dari Distrik Sabit Enam. Dari kecil Selena sudah punya bakat setajam Elang di pegunungan berkabut dan ingatan super tinggi pada setiap detail yang dilihatnya, namun sayangnya tidak punya kekuatan Klan Bulan karena tidak mewarisi kode genetik keturunan murni. Karakternya ceria, sangat percaya diri, tidak mudah takut, penasarannya sangat tinggi, cepat belajar, tapi suka nekat. Ciri khasnya berambut keriting.

2.Tazk

Mantan boyband, tampan, ramah, pintar, perfectionist, berjiwa pemimpin. Seorang cucu dari mantan petinggi Pasukan Bayangan. Salah satu mahasiswa di Akademi Bayangan Tingkat Tinggi (ABTT) bersama Selena dan Mata. Berasal dari Kota Tishri.

3. Mata

Salah satu mahasiswa ABTT. Anak yatim piatu sejak kecil tanpa diketahui siapa orangtuanya. Secara fisik Mata mempunyai rambut lurus, panjang, dan mata yang indah apalagi saat bulan purnama. Sangat menyukai mata kuliah Bahasa-Bahasa Klan Bulan. Berasal dari Distrik Sungai-Sungai Jauh, tempat leluhur Klan Bulan pemilik keturunan murni.  

4. Paman Raf dan Bibi Leh

Paman Raf adalah adik dari Ibu Selena, Jem. Paman Raf adalah seorang kepala proyek spesialisasi bawah tanah. Orangnya ketus, asal bicara, cerewet, suka marah, tapi sebenarnya baik. Kebalikannya, Bibi Leh, istri Paman Raf sangat baik dan ramah, terutama pada Selena yang yatim piatu. Mereka punya 5 anak laki-laki yang tinggal bersama.

5. Master Ox

Kepala sekolah ABTT. Mempunyai pengetahuan yang banyak tentang dunia paralel sekaligus memiliki teknik bertarung Klan Bulan yang sangat tinggi. “Bulan sabit gompal!” adalah kalimat saktinya saat sedang marah.

6. Bibi Gill

Dosen Selena pada mata kuliah “Malam dan Misterinya”. Salah satu mantan pengintai Pasukan Bayangan yang sudah berkelana jauh ke dunia paralel. Memilih “insyaf” dan fokus menjadi pengajar di ABTT. Penuh misteri karena selama ini dia tampil tidak dengan wujud aslinya. 

7. Tamus

Mantan Pasukan Bayangan yang masih sangat berambisi mengembalikan kejayaan Pemilik Kekuatan. Digambarkan sebagai sosok yang tinggi, kurus, tua, telinga mengerucut, jahat, licik, serta menghalalkan segala cara. Mampu berpindah lewat media cermin dan sangat menguasai teknik bertarung Klan Bulan.

8. Ev dan Boh

Ev, perempuan dan Boh laki-laki. Teman Selena, Tazk, dan Mata di ABTT. Kemunculan mereka menambah warna dalam cerita karena kekonyolan mereka berdua.

9. Av

Kepala Perpustakaan Sentral Klan Bulan, satu-satunya penjaga ruangan Bagian Terlarang. Memiliki teknik penyembuhan yang sangat langka. Orangnya sangat baik, hangat, dan penolong.

 

Sinopsis

Tersebut sebuah kisah tentang seorang anak yang miskin dan selalu dirundung malang di Distrik Sabit Enam, Klan Bulan, bernama Selena.

Badan kurus, kulit hitam, rambut keriting, miskin, dan kemampuan menghilang tidak sempurna menjadi “penyempurna” bully-an teman-temannya kepada dirinya.

Kemalangan itu semakin bertambah karena akhirnya ia mendapati kenyataan bahwa ibunya yang sakit-sakitan pergi menyusul ayahnya sekaligus meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Ibunya berpesan agar Selena pergi menemui Paman Raf, adik ibunya, di Kota Tishri karena di Distrik Sabit Enam itu mereka tidak punya keluarga lagi. 

Singkat cerita, Selena akhirnya menemukan rumah Paman Raf dan dia harus cepat beradaptasi di hari pertama tinggal di rumah itu. Tak disangka ternyata pamannya dengan tega berencana mempekerjakan dirinya di proyek konstruksi lorong kereta api bawah tanah yang dipimpinnya. Bibi Leh yang menentang keras ide tersebut akhirnya mengalah.

Namun ternyata “ketegaan” pamannya itu justru menjadi pembuka jalan atas keistimewaan yang dimiliki Selena.

Suatu hari proyek mereka mengalami jalan buntu, sudah beberapa mata bor yang patah karena memaksa menembus dinding tanah yang keras, sementara ada kantung gas di dekatnya. Tak disangka, Selena dengan mata Elang nya mampu menganalisa struktur tanah dengan mencocokkan peta digital dan memproyeksikan di kepala. Sarannya untuk memindahkan jalan mata bor kemudian disetujui oleh 2 insinyur yang tertegun melihat kemampuannya –padahal mereka didatangkan khusus menangani kebuntuan ini. 

Selena pun “naik pangkat”, dari tukang angkut bongkahan batu menjadi asisten Aq, mandor proyek pamannya. Merasa sayang dengan kemampuan yang dimiliki Selena namun tidak didukung dengan pengetahuan akademik, Selena, akhirnya disekolahkan untuk mengejar ketertinggalannya.

Cukup 3 tahun belajar Selena sudah bisa setara dengan orang lulusan SMA. 

Selena dan Nebula

Ilustrasi Selena (Sumber: whatarainyday.tumblr.com)

Selena kemudian mencoba peruntungan masuk ke Angkatan Bayangan Tingkat Tinggi, sebuah sekolah prestisius nan masyhur di Klan Bulan. Untuk masuk ke sana setiap calon mahasiswanya wajib mengikuti 3x tes; tes akademis, tes kemampuan fisik, dan tes kekuatan Klan Bulan (menghilang dan bertarung).

Bisa ditebak, Selena gagal di tes ketiga. Seperti api yang berkobar kemudian disiram air, semangat hidupnya langsung padam seketika. Padahal sebelumnya dia berambisi sekali untuk bisa masuk ke ABTT. 

Kemudian muncul Tamus secara tiba-tiba lewat cermin di kamarnya. Kedatangannya seperti bisa mencium ambisi yang kehausan untuk kemudian memanfaatkannya. Singkat cerita, Tamus akhirnya membuat Selena bisa masuk ke ABTT, menjadi mahasiswa ke 101. Namun bagi Tamus tidak ada namanya makan siang gratis.

Master Ox, kepala sekolah ABTT terpaksa menerimanya dengan berbagai drama sebelumnya. Dari drama –kedatangan Selena yang mengejutkan ke ABTT– itulah awal pertemuan Selena, Mata, dan Tazk, yang kemudian berlanjut menjadi persahabatan. Tapi, sayang Selena berhutang banyak dengan Tamus dan dia harus membayarnya.

Kisah mereka kemudian berlanjut di seputaran perkuliahan, kehidupan asrama, dominansi senioritas, dosen-dosen nyentrik, ilmu pengetahuan yang aplikatif, serta simulasi latihan bertarung dengan robot khusus untuk mahasiswa yang kemampuannya di atas rata-rata; Selena, Tazk, dan Mata. 

 

Resensi Selena dan Nebula

Ilustrasi Mata (Sumber: twitter.com/niac91)

Kisah ini kemudian bertambah seru dengan bertemunya Selena dan Av. Orang tua itu menyembuhkan Selena yang hampir mati terkena serangan mematikan pintu keamanan Bagian Terlarang Perpustakaan Sentral karena dia nekat masuk ke dalamnya untuk mencuri perkamen atas perintah Tamus. Tapi, pada akhirnya Av membolehkan Selena masuk ke dalam Bagian Terlarang dan melihat-lihat isinya selama 5 menit tanpa membawa sesuatupun. Kenapa Av membantu penyelinap Bagian Terlarang?

Resensi Selena dan Nebula

Ilustrasi perkamen (Sumber: pixabay.com)

Ambisi, persaingan akademis, latihan bertarung, persahabatan, dan cinta segitiga malu-malu menjadi warna tersendiri di novel ke-8 ini. 

 

Ulasan

Pertama, izinkan saya mengulas dari segi kover. Walaupun ada yang bilang “Jangan menilai isi buku dari kovernya”, tapi entah mengapa saya suka melihat cover buku Serial Bumi.

Setelah diperhatikan ternyata ilustrasinya menarik karena ternyata icon-nya berhubungan dengan kisah di dalamnya. Saya bahkan suka menebak-nebak dari kovernya akan berkisah tentang apa kali ini bukunya.

Seperti di buku Selena ini contohnya, pada sampulnya ada gambar; bangunan besar dan megah (yang saya tebak itu adalah Gedung Perpustakaan Sentral), gulungan kulit hewan (yang saya baru tahu istilahnya adalah perkamen), buku yang setengah terbuka (Buku Kehidupan yang dicari Tamus), kapsul terbang, dan gedung-gedung tinggi (sepertinya kampus ABTT).

Yeah, untuk ukuran cover itu sungguh keren.

Bagaimana dengan ceritanya? Ceritanya di luar ekspektasi.

Mungkin jika saya tidak membaca review singkat teman-teman bookgram, saya akan terkejut ketika mendapati bahwa Ali, Raib, dan Seli ternyata hanya mendapat porsi di epilog saja. Tapi, jangan salah, buku ini ternyata menyodorkan cerita yang tidak kalah seru dari cerita 3 sahabat Klan Bumi itu. 

Yap, ini bukan lagi tentang Ali, Raib, dan Seli, melainkan tentang Selena, Tazk, dan Mata, 3 mahasiswa ABTT yang bersahabat baik.

Apalagi kisahnya berlatar di kampus terbaik milik Klan Bulan. Pembaca serasa diajak untuk meliarkan imajinasi  tentang bagaimana dan seperti apa canggihnya Kota Tishri dan prestisiusnya kampus ABTT yang memiliki 400 mahasiswa pilihan dari semua distrik Klan Bulan.

Resensi Selena dan Nebula

Ilustrasi Tazk (Sumber:tyreese.pinops.com)

Saya sangat antusias membayangkan deskripsi kemajuan teknologi dan asyiknya perkuliahan di ABTT. Terutama pemaparan dosen-dosen Klan Bulan untuk semua mata kuliah. Mengingatkan saya pada pelajaran IPA di buku Bumi dan Bulan, kemudian mengaminkan ilmu yang sudah saya ketahui sebelumnya dan tak lupa ber “oooh” panjang untuk hal yang sangat baru bagi saya. 

Selain itu percaya tidak percaya, baru di buku ini yang membacanya membuat saya merinding terutama ketika mengira-ngira kemungkinan Mata sebagai pemilik keturunan murni di halaman 320.

Mata yang tidak banyak bicara, Mata yang menolong sahabatnya dengan tulus walau sahabatnya punya rencana -yang dia tidak tau kalau- berbahaya, Mata yang tidak mau menyombong dengan kemampuan bertarungnya yang istimewa, Mata yang cantik dan bersinar di bawah cahaya purnama.

Ah, tuh kan…saya merinding lagi membayangkan Mata.

Intinya, menamatkan Selena tidak malah membuat saya tidur nyenyak, melainkan ingin cepat-cepat melanjutkan ke judul selanjutnya.

Masih sanggup? Mari kita lanjutkan resensi buku kedua.

***

🌑NEBULA🌑

 

Resensi Selena dan Nebula

 

Detail Buku

Judul: Nebula
Penulis: Tere Liye
Co-author: Diena Yashinta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Desain sampul: Orkha Creative
ISBN: 9786020639543
Cetakan: ke-2, April 2020
Tebal: 376 halaman

 

Blurb

SELENA dan NEBULA adalah buku ke-8 dan ke-9 yang menceritakan siapa orangtua Raib dalam serial petualangan dunia paralel. Dua buku ini sebaiknya dibaca berurutan.

Kedua buku ini juga bercerita tentang Akademi Bayangan Tingkat Tinggi, sekolah terbaik di seluruh Klan Bulan. Tentang persahabatan tiga mahasiswa, yang diam-diam memiliki rencana bertualang ke tempat-tempat jauh. Tapi petualangan itu berakhir buruk, saat persahabatan mereka diuji dengan rasa suka, egoisme, dan pengkhianatan.

Ada banyak karakter baru, tempat-tempat baru, juga sejarah dunia paralel yang diungkap. Di dua buku ini kalian akan berkenalan dengan salah satu karakter paling kuat di dunia paralel sejauh ini. Tapi itu jika kalian bisa menerkanya.

Dua buku ini bukan akhir. Justru awal terbukanya kembali portal menuju Klan Aldebaran.

 

Plot dan Latar

Plotnya masih sama, menceritakan ulang kejadian 17 tahun lalu, dan sekali dua kembali ke masa sekarang. Sedangkan latar tempatnya di Klan Bulan, Klan Nebula, dan Klan Bumi (epilog).

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh-tokoh pada Klan Bulan masih sama. Hanya ada penambahan tokoh baru di Klan Nebula. Siapa sajakah mereka?

1. Lumpu

Kepala kampung Klan Nebula. Orangnya keras, ketus, dan tertutup kepada orang baru.

2. Kosong

Salah satu penduduk kampung Klan Nebula. Kebalikan dari Lumpu, Kosong adalah seorang ibu, ramah sekali, dan terbuka kepada pendatang Klan Nebula

3. Si Brutal, Si Ganas, Si Buas

Pemimpin raksasa yang selama 40.000 tahun dikurung di dinding Klan Nebula kemudian lepas dan mengamuk membalas dendam. 

 

Sinopsis

Di novel sebelumnya diceritakan untuk membalas budi Tamus, Selena diharuskan menjalankan perintah untuk menemukan Buku Kehidupan, untuk melengkapi Buku Kematian yang sudah lama didapatkan Tamus dari hasil penjelajahan antar klan.

Namun, jalan menuju ke sana sangat panjang. Tamus menduga cara mendapatkan Buku Kehidupan ada di Bagian Terlarang Perpustakaan Sentral Kota Tishri.

Singkat cerita, dengan berbagai cara –bahkan sempat berada di ujung maut– akhirnya Selena mampu masuk dan menemukan perkamen yang diincar Tamus.

Sebenarnya ada larangan membawa apapun keluar dari ruangan tersebut, namun dengan kemampuannya Selena mampu mengingat dengan baik setiap detail isi dari perkamen tersebut.

Resensi Selena dan Nebula

Ilustrasi Gedung Perpustakaan Sentral Kota Tishri, sangat besar dan megah sampai sulit diambil fotonya dalam ukuran penuh (Sumber: pixabay.com)

Antara takut dengan Tamus dan rasa penasarannya yang besar, yang pasti kesibukan Selena memecahkan kode rumit di perkamen tersebut kemudian menjadi inti dari buku ke-9 ini.

Perjalanan menemukan maksud kode ini akhirnya membawa mereka menuju Klan Nebula dan perasaan Selena yang semakin dalam kepada Tazk. Sedangkan Tazk punya perasaan lain. 

Niat berpetualang ke Klan Nebula sebenarnya sudah diendus oleh Bibi Gill dan Master Ox. Mereka berdua pun memperingatkan agar Selena jangan sekali-sekali nekat pergi ke sana.

Tapi, dasar Selena keras kepala. Dia malah tak mengindahkan itu semua. Bagai masuk telinga kiri keluar telinga kiri. Mental.Dia bersikeras masuk ke Klan Nebula untuk menemukan Cawan Keabadian.

Nampaknya sejak pertemuan dengan Tamus di stadion sepak terbang menjadikan Selena senekat itu (kalau boleh dibilang bebal).

Singkat cerita, Selena dan 2 sahabatnya berhasil memecahkan kode di perkamen Bagian Terlarang Perpustakaan Sentral dan menemukan jalan masuk menuju Klan Nebula, dimana terdapat Cawan Keabadian. Cawan tersebut adalah pusat keseimbangan seluruh dunia paralel.

Sesampainya mereka di Klan Nebula, mereka terkejut dengan siklus siang malam yang tidak teratur. Ternyata hal ini karena Klan Nebula adalah klan yang senang berpindah, klan terpencil sekaligus klan pengasingan.

Ya, klan pengasingan puluhan monster raksasa setinggi 60 meter yang dikurung di dalam dinding batu bagian bawah. 40.000 tahun lamanya monster itu berada di dalam dinding batu dan dijaga oleh penghuni Klan Nebula yang hanya berjumlah 40 rumah, tidak bertambah dan tidak berkurang selama 40.000 tahun demi menjaga keseimbangan dunia paralel.

Namun, karena kebebalan seseorang Selena, monster-monster yang terkurung itu lepas satu per satu. Nyaris semua penduduk Klan Nebula dibantai oleh mereka. Tapi, akhirnya dengan satu kekuatan yang dimiliki oleh salah satu dari 3 sahabat itu, monster-monster tersebut dapat terpenjara kembali dan bahkan terkunci untuk selama-lamanya. Sebuah pengorbanan besar yang sama dengan 40.000 tahun lalu.

Apa yang dilakukan Selena sehingga menyebabkan terbebasnya monster ribuan tahun itu? Bagaimana cara mereka mengunci kembali monster tersebut? Bagaimana nasib Cawan Keabadian? Bagaimana pula nasib cinta segitiga mereka?

Ah, sepertinya saya susah menjelaskan semuanya di sini, kalian harus membacanya langsung. Kalian tau, menamatkan buku ke-9 ini entah seperti apa perasaan saya jika ada bentuknya. Sepertinya tidak karu-karuan lagi.

Antara kagum dengan kecerdasan dan jiwa pantang menyerah Selena sekaligus gemas sekali dengan wataknya yang keras dan bebal. Kenapa nekat sekali, sih?!!! Saya sampai terbawa emosi membacanya. Untung ga banting buku.

Di sisi lain ketulusan Mata pada Selena membuat hati saya berdesir dan merinding tanpa bisa dikontrol. Merindingnya saya di buku ke-8 seperti belum ada apa-apanya.

Ya, memang buku ini kisah romance nya lebih kental dibanding Serial Bumi sebelumnya karena Bang Tere Liye sudah berjanji untuk menjelaskan siapa orangtua Raib sesungguhnya. Dan beliau sudah menepati janjinya. Di kedua buku ini kita akan menemukan siapa orangtua Raib. Apakah kalian sudah bisa menebaknya? 

Buku kedua ini memang lebih menegangkan sekaligus mengaduk-aduk emosi saya. Namun, sesekali tetap diselingi hal-hal yang kocak ala Tere Liye.

Seperti Bab awal yang menceritakan kedatangan 3 sahabat itu ke acara inagurasi mahasiswa baru dengan cara yang aneh. Astagaaa, terpingkal-pingkal membayangkan bagaimana wajah Master Ox saat itu. Sakit perutku, Bang! 😂

 

Pelajaran yang Dipetik dari Novel Selena dan Nebula

Seperti yang pernah saya bilang di resensi sebelumnya, satu hal yang paling membuat saya jatuh hati pada karya beliau adalah adanya pelajaran yang bisa diambil dari setiap judulnya.

Bahkan ada buku beliau yang menjadi favorit saya sampai detik ini, karena apa? Karena tiap babnya ada saja minimal 1 pelajaran baru yang saya dapatkan dan menghabiskan novelnya membuat saya seperti katak yang berhasil keluar dari tempurung.

Nah, bagaimana dengan buku Selena dan Nebula yang bergenre science fiction? Sebenarnya dari namanya saja, buku ini lebih dekat kepada pelajaran sains. Cocok sekali untuk anak-anak SMP atau SMA.

Banyak pengetahuan baru yang merupakan elaborasi dari pelajaran di sekolah, misalnya fakta tentang gajah yang ternyata adalah hewan dengan ingatan paling tajam, bahkan dia bisa mengingat sumber air yang pernah didatangi 30 tahun lalu (Nebula, hal 215). Hehe, saya baru tau ini.

Ada juga informasi tentang bagaimana cara membersihkan polusi air. Saya agak tidak menyangka ternyata jawabannya adalah kerang (Nebula, hal 48).

Iya, hanya dengan kerang saja bisa membersihkan air yang terkontaminasi limbah. Saya bener-bener baru ngeh, tapi iya juga ya, makanya ibu hamil tidak boleh mengonsumsi kerang.

Ada juga pelajaran “Non-gaib” yang seru untuk diulas, yaitu tentang: jika kita menjatuhkan bola besi dan sehelai kapas, manakah yang akan jatuh lebih dulu?

Dan jawabannya adalah: tergantung di mana dijatuhkannya.

Jika dijatuhkan di ruangan biasa tentu bola besi jatuh lebih dulu. Tapi, jika keduanya dijatuhkan pada ruangan kedap udara, maka keduanya akan jatuh bersamaan.

Di dalam hukum Fisika, ada yang namanya konsep Gerak Jatuh Bebas (GJB) yang jika dilihat berdasarkan rumusnya tidak dipengaruhi oleh berat benda -namun hanya terjadi jika kondisi terkontrol, yaitu saat ada di ruang hampa udara.

Artinya, semua benda jika dijatuhkan pada ketinggian yang sama dan pada percepatan gravitasi yang sama maka jatuhnya akan bersamaan. Adapun yang kita lihat dalam keseharian itu sudah tidak berlaku lagi konsepnya karena ada variabel hambatan udara yang membuat benda ringan lebih besar daya hambatnya.

Untuk lebih jelasnya bisa simak di bawah ya, sumbernya ada di sini.

 

Asik sekali ya ketika bertemu dengan novel yang tidak sekedar menghibur tapi juga menyinggung pelajaran di sekolah.

Membacanya tidak membuat kita merasa digurui dan….jujur, seandainya saya masih sekolah sepertinya saya akan semangat menggali ilmu pengetahuan yang sudah disampaikan oleh guru.

Yeaah, nampaknya memang begitu tujuan penulis serba bisa-lintas genre ini: membuat novel untuk remaja dan menyelipkan pelajaran sekolah agar mereka tidak jauh-jauh dari ilmu pengetahuan.

Tapi, apakah itu saja pelajaran yang bisa dipetik dari dua buku ini? Jelas tidak. Lebih dari itu, kedua buku ini menyampaikan pesan kehidupan yang mendalam kepada pembacanya. Apa sajakah itu?

 

1. The Power of Reframing 

“Hidup ini hanya soal sudut pandang. Digeser sedikit saja cara kita memandangnya, kita bisa mengubah sesuatu yang menyebalkan menjadi hal yang berbeda” (Selena, hal. 46)

Ya, reframing adalah soal sudut pandang. Ketika kita menghadapi sesuatu di luar ekspektasi, tentu hal itu menyebalkan karena bukan sesuatu yang kita sukai. Contoh dekatnya adalah pandemi ini. Yah, siapa yang mau menghadapi kondisi seperti ini dan memaksa kita menjalankan karantina di rumah. Pasti menyebalkan.

Namun, saat kita ubah framing kita, maka kita bisa mendapatkan hal yang lebih baik. Kita bisa lebih dekat dengan anak-anak, bisa lebih eksplor kreativitas, bisa bongkar barang-barang di lemari –entah digunakan lagi atau untuk donasi. Sehingga sesuatu yang menyebalkan tadi bisa menjadi hal yang berbeda saat kita mengubah sudut pandang.

 

2. Nurani

“Dunia kita dekat sekali dengan kegelapan. maka pada saat gelap menyelimuti, pastikan kamu tetap mencari cahaya di sekitarmu. Nurani. Cahaya kecil yang selalu ada di dalam hatimu.” (Selena, hal. 339).

Walau petuah ini diberikan khusus untuk Selena namun sangat erat dengan kita juga. Setiap manusia terlahir bersih dan dibekali nurani. Saat manusia tersesat dan semakin jauh dari kebenaran, pasti ada perasaan bersalah yang meronta-ronta dalam hati.

Itulah nurani, cahaya kecil. Jika kita dengarkan, maka cahaya itu akan tetap hidup. Sebaliknya jika mengabaikan, maka cahaya itu akan redup dan akhirnya padam. 

 

3. Keseimbangan hidup

“Aku selalu meyakini, semakin gelap sesuatu, hanya soal waktu cahaya terang menyinarinya. Dan sebaliknya, semakin terang sesuatu, maka bayangannya juga akan semakin gelap” (Nebula, hal. 230)

Terkadang, ketika kita ditimpa cobaan berat, hidup rasa terpuruk dalam jurang, semua terasa gelap. Tidak ada semangat hidup. Namun, ingatlah bahwa hidup ini penuh keseimbangan, bisa jadi semakin gelap justru semakin dekat dengan cahaya, laksana malam yang semakin pekat, semakin dekat pula dengan fajar. Di sisi lain, semakin terang cahaya kebenaran maka akan semakin terlihat mana yang benar dan mana yang salah.

 

4. Teknologi dan kualitas hidup

“Semakin maju teknologi, memang semakin banyak waktru yang dihemat manusia, tapi kualitas hidup mereka justru menurun. Waktu dan kemudahan hanya digunakan untuk hal yang sia-sia, memeloti gadget di tangan” (Nebula, hal. 299)

Hikmah ini mungkin yang paling menohok karena begitu dekat dengan keseharian kita sebagai manusia era digital. Coba lihat, zaman sekarang saat teknologi baru bermunculan, justru membuat manusianya rentan penyakit.

Zaman dulu orang kurus dan tegap biasa dilihat. Sekarang justru semakin banyak manusia berbadan tambun dan perut buncit. Kemudahan hidup karena teknologi membuat kita termanjakan dan kurang bergerak, akibatnya banyak bermunculan penyakit metabolik di era digital. 

 

5. Ambisi dan Kebinasaan

Ini hikmah yang saya tangkap secara keseluruhan dari kedua novel ini, Selena dan Nebula. Selena yang sangat berambisi masuk ABTT membuat Tamus mengendus celah untuk memanfaatkannya. Ambisi jua lah yang membuat Selena nyaris meruntuhkan keseimbangan antar klan dan dia harus membayar mahal untuk itu.

Ambisi yang membinasakan juga sangat related dengan kehidupan sehari-hari. Karena ambisi yang tidak terkontrol sangat dekat dengan bisikan setan. Setan memerdaya manusia lewat hawa nafsu dalam menjalankan ambisinya.

Makjleb!

Luar biasa ternyata pelajaran yang bisa diambil dari kedua buku ini. Bahkan saya merasa, Selena dan Nebula ini mendapat tempat spesial di hati saya. Selain karena dia berhasil mendobrak kebosanan saya di 2 judul sebelumnya plus ceritanya yang sukses membuat perasaan saya tercampur aduk.

Namun, ada juga beberapa poin yang menurut saya kurang dieksplor, membuat saya cukup gemas –entah karena Bang Tere Liye kurang mengelaborasi atau memang sengaja dirahasiakan hingga buku berikutnya rilis. Beberapa di antaranya adalah;

1. Av

Scene bersama Av sangat sedikit di kedua buku ini. Padahal Av bak dewa penyelamat tokoh utama dari kematian dan membuka aliran darah yang dikunci oleh Tamus. Ditambah lagi, Av, menurut saya sangat mudah memberikan izin Selena untuk melihat-lihat perkamen padahal ruangan itu sangat terlarang. Bagi saya ini masih agak mengganjal. Jujur, saya sangat berharap porsi Av bisa lebih banyak.

2. Bibi Gill

Selain Av, Bibi Gill juga salah satu orang yang memberikan informasi tentang kode gambar dari seluruh Klan kepada Selena, padahal Bibi Gill sudah menaruh curiga berdasarkan insting pengintainya. Ini juga menjadi bagian yang agak janggal karena menurut saya terlalu mudah mengizinkan Selena meminjamnya.  Yah, saya tau ini adalah bentuk reward juga dari Bibi Gill, sama seperti Av. Tapi tetap saja saya menyayangkan hal itu. Mungkinkah akan diperjelas di buku selanjutnya? Kita tunggu saja.

***

Sihir atau Bukan?

Sejak awal serial ini rilis saya tau Bang Tere Liye sedang tidak ingin membawa kita pada cerita sihir-sihiran atau siluman-siluman-an.

Lalu bagaimana soal fantasi itu?

Satu hal yang paling membekas di benak saya adalah soal kekuatan bukan sihir yang mungkin bisa jadi ada, seperti halnya belut listrik yang punya kekuatan menyetrum karena sel-sel syarafnya terspesialisasi seperti kepingan logam (electroplaques), yang kemudian Tere Liye kaitkan dengan istilah keturunan murni atau pewaris kode genetik.

Resensi Selena dan Nebula

Belut listrik yang punya “kode genetik” menyetrum. (Sumber: dokumen pribadi)

Ini memang fiksi, tapi bagi saya penulis berhasil mengaburkan mana fiksi dan mana fakta. Membuat saya sempat berpikir jangan-jangan teleportasi, pukulan berdentum, teknik menghilang itu bisa jadi ada penjelasannya secara ilmiah di masa depan. Eh, gimana? Tuh, kan… saya jadi terbawa suasana.

Yup, akhirnya penulis yang bernama asli Darwis ini berhasil meruntuhkan keraguan saya tentang: sekeren apa sih cerita science fiction di tangan penulis lokal (berbasis ekonom pula). Kalau kata remaja zaman now: Ini sih keren beud, gewla!

Ya, saya akui ini keren. Bahkan sekarang dengar-dengar ada beberapa judul Serial Bumi yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. Wow! Congratulation. My hat’s off to you!

Seperti yang sudah saya bilang, saya sempat didera kebosanan dengan buku ke-6 dan 7 Serial Bumi yang saya kira selesai ternyata belum dan entah sampai mana ujungnya.

Padahal seperti yang saya bilang di awal juga, bonding dengan serial fantasi Bang Darwis ini awalnya tidak mudah dibentuk karena bukan genre saya. Tapi, rasa skeptis itu runtuh seketika sesaat saya menamatkan Bumi dan Bulan. 

Dan setelah terpikat pada 5 buku pertama, buku selanjutnya saya merasa biasa saja -walaupun begitu saya tetap melahapnya sampai habis.

Iya, saya tau ada co-author. Tapi, sebagai penggemar berat karya beliau tentu saya mengharapkan beliau masih “ada” di dalam buku-bukunya dan mengambil peran besar atas semua konsep, alur, dan juga hikmah di dalamnya. Karena sebuah karya dibeli dan dinikmati karena pembeli menginginkan ciri khas yang tidak didapat di karya lain. Tapi, syukurlah, ketika saya membeli buku ke-8 dan 9 ini antusias saya kembali naik.

Thank you, now you’re come back!

 

Kesimpulan

Baiklah, untuk ulasan panjang lebar kali ini saya harus tetap menyimpulkan penilaian.

Untuk covernya yang selalu iconic dan menawan, konsep cerita Selena dan Nebula yang di luar ekspektasi yang sukses membuat hati tidak karuan, porsi cerita yang pas antara scene; menegangkan, menggelikan, hingga yang mengagumkan, ditambah pelajaran demi pelajaran yang yang diselipkan, termasuk pesan kehidupan, membuat saya ingin sekali berkata “Bang, lanjutkan!”.

Semoga buku selanjutnya akan lebih menawan lagi, membuat hati makin tidak karuan, serta selalu sarat pelajaran serta pesan kehidupan.

Rate 4,9 of 5 🌟🌟🌟🌟⭐

Akhir kata, pesan saya kepada calon pembaca buku Selena dan Nebula ini, bersiaplah untuk melanglang buana! Ini belum berakhir karena masih ada kisah Klan Aldebaran, asal muasal leluhur pemilik garis keturunan murni yang ada di semua klan. Percayalah ini sangat dan akan sangat keren! 😊

 

 


Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

49 Komentar

Nchie Hanie · Mei 28, 2020 pada 2:59 pm

Waah rumah penduduk di Klan Bulannya menarik banget, aku jadi pengen jadi warga sana biar bisa kenalan juga sama Selena . Seru banget ceritanya mengajak aku jalan2 ke negeri yang baru ku kenal.
Juara memang sang penulis, yang ga diragukan lagi kepiawaiannya dalam bercerita dan mengambil sisi2 hikmah di setiap judulnya.

Jadi kepoo , packaging bukunya, kek misterius.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:18 am

    iya ya Mba, kaya aura-aura misterius gitu. Pas sama konsep ceritanya, negeri antah berantah

Yeni Sovia · Mei 28, 2020 pada 8:17 pm

Oh selena ama nebula ini serinya bumi ya. Aku baru tahu. Aku pernah baca yang bumi tapi cuma novel itu belum punya lanjutannya. Jadi penasaran ikh aku pengen baca juga lanjutannya sampai cerita nebula ini hihihi. Soalnya aku penggemar tulisan beliau

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:17 am

    Sudah banyak lanjutannya Mba, udah ke-8 dan 9 ini, wkwkwkwk. Yuk, coba baca lengkapnya Mba

Ucig · Mei 29, 2020 pada 3:12 pm

Setuju covernya bagus keren. Jujur aku blm baca buku2nya tapi pak suami yg penasaran dan beli buku2 TL. Aku mau buka bukunya udah riweh anak2 huhuu

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:16 am

    Wah kereen, suaminya baca novel beliau Mba?

Maria Soraya · Mei 29, 2020 pada 7:50 pm

Akuuu agak lama connectnya klo ketemu novel berbau imajinatif. Entah kenapa ini terjadi setelah menjadi Ibu. Aku lebih suka novel2 ringan ato yg sekalian novel sejarah.

    Latifika Sumanti · Mei 29, 2020 pada 11:47 pm

    Akupun Mba. Awalnya skeptis banget sama Serial ini karena sekelas Harry Potter aja lewat, aku skip maksudnya. Ndilalah nyoba baca buku pertama jadi keterusan, malah ga bisa berhenti.

Helena · Mei 30, 2020 pada 9:10 am

I am fan of Harry Potter zaman muda, kalau sekarang kurang tertarik dengan fiction gini.
Tapi … baca ulasan panjang banget komplit jadi penasaran gimana sih novelnya Tere Liye? Kok bisa selalu laris manis? dan hey … lulusan akuntansi UI? hihi ….

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:16 am

    Iyaa, lulusan UI. Jadi tau kan kenapa beliau kritis? hihihi

Nia Haryanto · Mei 30, 2020 pada 2:19 pm

Wah, ini toh cerita fantasi yang dibuat Tere Liye itu. Jadi kepengen baca deh. Apa masih sama kayak karya-karya yang lainnya? Apa masih kerasa Tere Liye-nya? Kudu baca ceritanya langsung deh. Suka Tere Liyenya, sekaligus suka juga dengan kisah fantasi. Semoga suka juga dua buku ini.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:15 am

    Ah, Mba Nia…pertanyaan itu sama galaunya dengan yang kurasakan. Tapi tenang, he is come back di sini Mba.

Tuty Queen · Mei 30, 2020 pada 5:02 pm

Aku nggak pernah ngikutin Harry Potter malah mbak karena nggak begitu suka film imaginasi. Nah, buku ini kayaknya kalau di film kan bakalan banyak yang suka nih terutama penggemar Harry Potter

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:06 am

    Hihihi, iya saya awalnya bukan tim genre fantasi. Skeptis duluan awalnya. Ndilalah pas baca Bumi koq ketagihan pengen lanjuttt

Lidya · Mei 30, 2020 pada 6:06 pm

Baca nama Nebula aku jadi inget karakter komik di Marvel Comics nih 🙂
Kalau yang imajinasimajinasi gini aku haru sklik dulu di awalnya nih untuk melanjutkan ke halaman akhir.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:07 am

    Iya, Nebula kan arti sebenarnya awan antar bintang. Istilah umum di dunia alam semesta

Milda Ini · Mei 30, 2020 pada 6:29 pm

karya Tere Leye yang ini aku belum baca, selalu suka dengan gaya penulisnya saat mendeskripsikan sesuatu sehingga kita pembaca seolah mendapatkan gambaran yang sangat jelas.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:08 am

    Setuju Mba. Semoga beliau ga berubah

Sapti nurul hidayati · Mei 30, 2020 pada 6:43 pm

Wah mb, nggak nyangka ceritanya semenarik ini. Jadi pengen baca sendiri. Bagus dan menghibur sepertinya. Saya sih suka cerita imaginasi kyk gini….harpot dulu saya ngikuti. .

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:05 am

    Naaah, Mba…ini kayanya mesti baca deh. Ga kaya Harpot banget sih, karena bukan sihir-sihiran. Malah banyak pelajarannya di sini

Suciarti Wahyuningtyas (Chichie) · Mei 30, 2020 pada 7:45 pm

Aku tuh suka deh buku Tere Liye, aku punya 2 doang sih bukunya dan emang suka banget. Kalau yang Selena dan Nebula ini belum punya, jadi kepengen cari bukunya untuk bacaan bulan Juni. KArena aku mencanangkan minimal 1 minggu bisa baca 1 buku.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:04 am

    Berarti kudu beli dari buku Bumi dulu ya Mba, terus Bulan, Matahari, Bintang, Komet, Ceroz dan Batozar, Komet Minor, baru deh Selena dan Nebula ini

Echaimutenan · Mei 30, 2020 pada 7:54 pm

Kemarin pas nyobain google books ada buku ini. lagi promo kemaren kan dapat saldo aku tiba2 dari doodle playstore xD. Tapi sampe sekarang belum beli apa2. Kayaknya bisa beli yang tere liye ini cucok buat dirumah sambil berangan2

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:03 am

    Berangan-angan ke Klan Bulan ya Mba

Indah Juli · Mei 30, 2020 pada 8:03 pm

Asyik, akhirnya ku bisa baca juga review novel fantasinya Tere Liye ini, jadi mantap mau beli bukunya.
Sempat ragu juga, karena selama ini terbuai dengan novel-novel inspiratifnya Tere Liye.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:02 am

    Tenaaaang MakPuh, ini walaupun imajinatif tapi pesan-pesannya dalem bangett

Hidayah Sulistyowati · Mei 30, 2020 pada 8:36 pm

Ini bukan serialnya Bumi, Bulan, Matahari kan? Dulu baca yang ini sempat skeptis tapi ternyata menarik.
Eh ini ada lagi serial fantasy lain dari bang Tere, aku belum punya yang Selena dan Nebula, menarik banget ya

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:02 am

    Laah, ini Serial Bumi Mba, buku ke-8 dan 9.

artha · Mei 30, 2020 pada 9:29 pm

eh tazk ini mantan boyband 😆 bisa ajah ya bikin novel berseri begini, mana genre-nya gak tanggung2 ambil science gini. woaaa… imajinasi tingkat tinggi, beb

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:01 am

    Banget Mba. Apalagi buku pertama, jatuh bangun saya ngebayangin dunia paralel yang dimaksud penulis ini gimana. Tapi seru, melatih imajinasi tingkat tinggi. Setuju kata Mba

diane · Mei 30, 2020 pada 9:36 pm

Duh menarik. bangett bukunya.. kayaknya aku pengen beli deh buat bacaan anak2ku..

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 3:00 am

    AYo, Mba, ini memang targetnya anak sekolah karena banyak menyinggung pelajaran akademik

Lina W. Sasmita · Mei 30, 2020 pada 10:09 pm

Wohooo baru baca sinopsisnya saja seru abis. Jujur saya juga bukan penikmat cerita-cerita seperti ini namun kalau Tere Liye yang meraciknya, tentu saja tastenya beda. Bakalan seru dan bahkan selalu bikin penasaran.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 2:59 am

    Ahh, ketemu yang satu aliran banget ini: ga terlalu suka fantasi tapi kalau Tere Liye yang nulis ga bisa bilang ga. Toss yuk?

Uniek Kaswarganti · Mei 30, 2020 pada 10:29 pm

Aku terus terang agak kesulitan membaca reviewnya karena memang tidak terbiasa membaca buku fanfic. Kayaknya ini lebih sulit dibandingkan Harry Potter ya hehehe… Iya, Harpot adalah satu-satunya novel fantasy yang kubaca.

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 2:58 am

    Entah Mba, soalnya saya ga bisa baca Harry Potter, yang sihir-sihiran gitu. Ga masuk

Naqiyyah Syam · Mei 30, 2020 pada 10:30 pm

wow penulisnya tere liye ya aku sih suka noelnya tapi tema imajinatif ini kurang mengebu, aku suka yang mellow dan romantis ringan aja haha…. tapi suka deh reviewnya

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 2:57 am

    Beda-beda ya tiap orang. Kalau mellow romantis kaya Daun Yang Gugur Tidak Pernah Membenci Angin gitu akunya yang malah “krik krik krik”. Hehehe…masing-masing selera ya. No prob

Indah Nuria · Mei 30, 2020 pada 11:36 pm

Aku sudaaah baca dan sukaa bangeet dengan buku ini mbaaa. Keren plot ya dan menghipnotis

    Latifika Sumanti · Mei 31, 2020 pada 5:27 am

    Waah, penikmat serial fantasi ya Mba? Iya, yang buku ke-8 9 ini alurnya di luar ekspektasi. Seru bayangin kehidupan di klan lain ya

Faradillah · Mei 31, 2020 pada 6:59 pm

Kalo aku baca novel pembahasannya berat suka ngantuk tidur gitu, jadi kalo dulu susah tidur baca novel yg berat dah hahaa kayak ada magnetnya pgn bobo. Jadi kalo baca novel yg ringan2 aja

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 2:56 am

    Ini mah ga berat Mba. Anaka-anak SD, SMP, SMA bacaa ini juga koq

TIAN LUSTIANA · Mei 31, 2020 pada 11:30 pm

Udah lama mupeng sama buku ini, belum terealisasikan aja nih bacanya, tar ah mau beli online saja

    Latifika Sumanti · Juni 1, 2020 pada 2:55 am

    Siap Mba. Jangan lupa beli yang ORI ya…

Dedew · Juni 1, 2020 pada 6:08 pm

Wah, Tere Liye nih serba bisa, ngga hanya jago angkat cerita yang sarat lokalitas daerah eh sekarang nulis fantasi yang tebal..jenius pisan..aku jarang baca fantasi, paling Harry Potter huhu

    Latifika Sumanti · Juni 3, 2020 pada 2:12 am

    Itulah yang dulu sempat banyak orang skeptis. Tapi sekarang memang beliau membuktikan sebagai penulis serba bisa – lintas genre

Siti hairul · Juni 1, 2020 pada 6:32 pm

Aku suka semua bukunya Tere Liye. Baca yang seri Selena Nebula ini udah berasa kayak di masa depan

    Latifika Sumanti · Juni 3, 2020 pada 2:11 am

    Iya Mba, kalo scific rata-rata begitu ya

Latifika Sumanti – Blogger Perempuan · Juni 4, 2020 pada 1:12 pm

[…] Baca Selengkapnya […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *