Hari ini Ahad, 19 Juli 2020 untuk pertama kalinya aku berkesempatan membagi pengalaman blogging selama 3 tahun ini. Sempat kaget juga pas ditawarin temen kuliah S1 dulu, Yanti, untuk mengisi kulwap yang pesertanya adalah mahasiswi asrama yang diampunya. 

Bentar, jadi dia udah jadi dosen dan aku IRT??? 

Yaaaak, mulai lagi deh insecure. Untung ada embel-embel bloggernya. Hahaha *apasih *plak

Selain kaget, aku juga awkward  karena yaa… merasa kurang pantas aja. Walau sudah 3 tahun punya blog tapi saya kadang hiatus nulis karena berbagai alasan (yang terbesar karena mau fokus dengan anak).

Jadi kalo dikalkulasi, mungkin full nulis sekitar 2 tahun aja. Dan selama 2 tahun ini artikel di blog baru 170an. Jadi, kalau hari ini materinya dirasa kurang “ndaging”, ku minta maaf, ya Teman.

Sempet aku tawarkan ke temen blogger yang lebih PRO, tapi Yanti tetep pengen aku aja yang ngisi. Mungkin kalo temen lebih enak komunikasinya. Okelah kalau begitu. Semoga materi yang sudah disampaikan bisa tersampaikan dengan baik. 

Berikut materinya kemarin (yang sudah kuubah sedikit POVnya, dari “saya” menjadi “aku”, karena sudah terbiasa “aku” di blog baru ini.

Kenapa Harus Ngeblog? 

Mau curcol sedikit ya kalo boleh kenapa aku harus ngeblog, yang sebenarnya sudah pernah aku tuliskan di artikel sebelum-sebelumnya.

Sebenarnya aku suka nulis dari kecil, waktu SD SMP SMA rajin nulis diary sampai suka main surat-suratan. Tapi aku ga sadar kalo itu bakat. Aku pikir menulis itu kegiatan yang semua orang pasti bisa lakukan.

Ketika SMA ada tugas bikin cerita fiksi, yang lain mentok 3-4 halaman, aku bisa 8-10 halaman. Ketika kuliah aku juga suka nulis opini dan masuk di Banjarmasin Post.

Aku merasa ga ada yg spesial dengan kemampuan menulis ini, aku masih berpikir ini adalah sebuah kegiatan biasa yang orang lain pun bisa dan bukan sebuah bakat.

Sampai akhirnya guru ngaji waktu kuliahaku bilang “Fika, tolong ajarin Kaka nulis, donk. Gimana sih mengalurkan narasi? Kalo ketemu pulpen dan kertas bingung mau nulis yang di kepala?”

Saya bengong, donk. Soalnya guru ngaji saya itu pinter sekali berbicara.

Logika saya, orang yang fasih bicara (pandai berkata-kata) apalagi sampai rutin mengisi kajian di depan umum pastilah di otaknya sudah terstruktur apa yang ingin dikatakan.

Ya udah, apa repotnya? Kan tinggal tulis apa yang dipikirkan.

Ya kan? Kan?

Ternyata kata beliau ga semudah itu. Kata beliau lagi, fasih bicara belum tentu fasih menulis.

Aku? Kebalikannya, fasih menulis tapi tidak kalo disuruh bicara. (Tapi ada manusia yang bisa keduanya. Salah satunya adalah Yanti, temenku itu. Aku akui dia sangat fasih keduanya).

Sejak hari itu aku baru faham. Ooh, ternyata memang menulis itu bakat dan bukan sekedar kegiatan semata. Tidak semua orang “bisa” menulis.

Hal ini cukup membesarkan hatiku yang selama ini insecure dengan cara berkomunikasi verbal yang kurang bagus.

Kegiatan menulisku kemudian vakum setelah menikah. Kesibukan baru sebagai istri dan ibu membuat kegiatan menulis sepertinya tidak begitu penting lagi.

Sampai akhirnya qodarullah aku mengalami depresi paska melahirkan. Ketika itu anak kedua baru lahir, 2016. Sebenarnya saya sudah ada tanda2 baby blues yang menumpuk tak terkendali yang akhirnya menjadi depresi. Bagi beberapa ibu, depresi ini harus disembuhkan lewat perantara psikolog atau psikiater karena sudah masuk ranah gangguan mental (bukan gila ya).

Tapi saya waktu itu merasa mustahil bisa berkunjung ke psikolog. Jadi saat itu saya alihkan dengan membaca novel penulis favorit saya dan tentu saja menulis.

Singkat cerita, saat itu tiba2 muncul begitu saja pikiran untuk membuat blog yang sudah lama dipendam. Setelah itu aku belajar membangun blog secara otodidak, berbekal Googling. Setelah saya punya blog dan rajin menulis pelan2 depresi saya mulai menurun.

Seperti sebuah keajaiban. Yap, writing heals me. 

Kalo blog saya lahir dari depresi paska lahir, maka ada juga teman blogger yang masih single bilang blognya lahir dari sakit hati diputusin mantan. Hahaha.

Yap. Writing is self-healing.

Memang, awalnya kita akan menulis secara sembarangan, asal keluar isi hati yang dongkol. Tidak masalah, keluarkan aja negative vibes lewat tulisan.

Setelah itu kalian akan merasakan plong. Beban di pundak terasa lepas. Awalnya memang begitu. Tapi, ketika kita baca ulang tulisan kita yg penuh negative vibes itu, lama2 kita akan malu sendiri.

Yaa aampun, tulisan apaaa ini? 

Hahahahaha.

Kemudian pikiran kita akan berlanjut, bagaimana membuat tulisan yang tujuan awalnya untuk “nyampah” menjadi sesuatu yang bermakna?

Maka, di sinilah kita akan bertransformasi lebih baik. Tidak hanya mengeluarkan uneg-uneg dan “sampah” belaka, tapi bagaimana membuat “sampah” itu berguna bagi orang banyak.

We recycle the negative vibes to be positive vibes.

Jadilah blog itu kemudian tidak hanya tumpahan emosi belaka tapi juga bermanfaat untuk dibaca. Apalagi agama kita melatih untuk berpikir visioner. Tulisan kita tidak hanya berdampak sekarang, tapi akan terus mengalir pahalanya jika bermanfaat bagi orang lain.

Jadi, untuk apa ngeblog?
🌺Mengemukakan ide personal
🌺Mengeluarkan uneg-uneg alias “sampah dan recycle “sampah” (energi negatif) menjadi sesuatu yang bermanfaat
🌺 Self-healing
🌺 Monetize
🌺 Amal jariyah

Kalau kalian?

Blog, Blogging, dan Blogger

Blog itu apa sih?

Ternyata blog itu adalah singkatan website log, yang artinya website dalam bentuk tulisan.  Ga melulu tulisan, ada juga gambar, video dan infografis di dalamnya. Tapi memang titik beratnya adalah tulisannya.

Kegiatannya namanya blogging atau ngeblog. Pelakunya namanya blogger atau narablog.

Lalu, Apa yang Harus Dipersiapkan?

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan ketika ingin mempunyai blog;

  1. Platform blogging (wadah menulis).
  2. Smartphone atau laptop atau PC untuk bisa mengakses blog
  3. Bakat dan minat menulis
  4. Konsep blog
  5. Email

Sudah ada yang keder duluan? Eh, jangan ya. Baca aja dulu sampai selesai.

1. Platform Blog

Platform blog maksudnya adalah wadah untuk meletakkan tulisan kita di website. Ibarat nulis diary, platformnya buku diary kan? Jenisnya macam-macam, ada yang bentuknya kecil dengan hard cover, ada yang besar dengan hard cover, ada juga yang pakai binder.

Platform blogging ada banyak, tapi yang paling sering dipakai blogger ada 2 macam;

  1. Platform Blogspot atau “Blogger”. Gratis tempatnya, disupport oleh Google.
  2. Platform WordPress.com. Gratis tempatnya, disupport oleh WordPress.com
  3. Platform WordPress.org. Berbayar tempatnya (sewa setahun sekali), disupport oleh WordPress.org

Saya pernah punya ketiganya. Dan blog yang eksis www.latifika.com ini dibangun dengan platform WordPress.org.

Mau lihat contoh ketiganya?

Ini tampilan dasbor atau tempat admin (penulis) platform Blogspot mulai membangun blognya.

 

Kalau yang ini tampilan dasbor atau tempat admin (penulis) platform WordPress.com mulai membangun blognya.

 

Sedangkan yang ini tampilan dasbor atau tempat admin (penulis) platform WordPress.org mulai membangun blognya. Memang ini yang paling pricey dibanding yang lain, karena harus bayar sewa tempatnya tiap tahun tapi lebih puas utak atik desain blog sampai tingkat keamanan.

2. Smartphone atau Laptop?

Silakan yang mana aja, bebasss. Karena ada blogger yang mood nulisnya dapet kalo berhadapan dengan smartphone dan stag kalo nulis di laptop. Pun begitu sebaliknya.

Namun, di era sekarang saat visual lebih dominan, blog tidak hanya melulu soal menulis, tapi juga bagaimana membuat visitor blog betah berlama-lama, entah karena gambarnya, videonya atau infografisnya.

Maka, selain menulis skill memainkan aplikasi pendukung juga diperlukan, seperti Canva, PicsArt, mencari gambar gratis di Pixbay (jangan pakai gambar copyright), atau bahkan punya channel Youtube lebih baik (yang terakhir aku belum sih, wkwkwk). 

Asik banget saat kita ngeblog dengan mengkombinasikan antara tulisan dan visual. Rasa-rasanya otak kiri dan kanan dipaksa berlatih secara bersamaan. Minimal bisa utak atik Canva deh buat bikin infografis. Jadi, kalo lelah menulis tinggal mainan Canva aja buat desain infografis.

It’s so exciting!

3. Bakat dan Minat Menulis

Sebenarnya bakat dan minat bukan syarat wajib menjadi blogger. Ada juga blogger yang memang terpaksa jadi blogger karena ingin monetize (menghasilkan uang dari ngeblog) aja. Tapi ada juga yang memang punya bakat dan minat dan sekaligus ingin monetize.

Kalo kata orang ada “hobi yang dibayar”, ya salah satunya dengan ngeblog ini.

Pun ada juga yang sekedar ikut-ikutan, tidak punya bakat dan minat tapi ingin punya blog.

Ga ada yang salah, siapa aja boleh punya blog. Yang membedakan adalah kualitas tulisannya. Biasanya semakin berbakat semakin renyah tulisannya. Soal menulis juga erat kaitannya dengan membaca. Biasanya semakin banyak bacaannya semakin berbobot tulisannya.

Perlu contoh? 

Misal blog Mba Rizka Edmanda, blogger asal Pontianak rizkaedmanda.com (platform WordPress.org)

atau punya Bang Nodi Harahap, blogger Medan nodiharahap.com (platform Blogspot)

Mereka ini punya ciri khas masing-masing di tulisannya dan juga sangat berkualitas. Maka ga heran sering jadi langganan juara.

4. Konsep Blog

Konsep blog ini bahasa sederhananya adalah identitas blog: dari tampilan luar blog, topik blog yang diangkat sampai ke gaya penulisannya.

Tampilan blognya mau gimana? Formal, elegan, clean, colorful atau dark?

Topik blognya mau gimana? Kecantikan, kesehatan, parenting, traveling, kuliner atau lifestyle?

Gaya penulisannya mau gimana? Formal atau santai?

Belum punya konsep tapi pengen nulis? 

Gpp bangetttt. Nulis aja, Sista. Awalnya mungkin kita akan menulis apa aja yang ada di otak kita, lambat laun kita akan menemukan passion kita sendiri. Seperti aku, dulu awal blog berdiri saya nulis tentang resep juga, skincare juga, berita pro kontra juga, semua-muanya pengen ditulis rasanya. Lama-lama akhirnya ketertarikan kita akan mengerucut pada beberapa hal saja. 

Kenapa konsep blog ini penting? Karena yang jadi blogger itu buanyaaaaak. Tapi kalau kita punya ciri khas tentu akan mudah diingat pembaca.

5. Email

Kalo yang ini ga usah dijelaskan lagi ya semua sudah paham.

Punya email adalah sesuatu yang wajib jika ingin menjadi blogger. Gunanya untuk jalur komunikasi ketika ada job, syarat masuk komunitas blogger dan yang terpenting sebagai akses masuk ke blog kita sendiri.

Sepertinya materinya saya cukupkan sampai di sini ya. Semoga ini cukup untuk mengenalkan kalian pada dunia blogging. Saya minta maaf kalo ada materi yang tidak dimengerti karena terbawa2 istilah dunia blogging.

 

 

Kategori: Blogging

Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *