www.latifika.com
Blog Contest Lifestyle Parenting Resensi

Si Anak Badai: Kisah Heroik Anak Kampung Nelayan Melawan Korupsi

Petir menyambar, disusul dentum geledek. Badai kembali turun membungkus kampung kami. Tapi kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes air hujan dengan riang. Inilah kami, “Si Anak Badai”. Tekad kami sebesar badai. Kami pantang menyerah.

Hei, para penggemar Serial Anak Mamak, apa yang kalian pikirkan tentang buku baru Tere Liye kali ini? Apakah kali ini giliran Bapak atau Paman Unus yang diceritakan?

Ternyata tidak.

Ini tidak ada lagi hubungannya dengan keluarga Mamak. Serial Anak Mamak
sekarang bertransformasi menjadi Serial Anak Nusantara ditandai
dengan; re-cover dan re-title 4 buku anak-anak Mamak
sebelumnya, kemunculan judul baru di buku ke-5, Si Anak Cahaya serta
dipertegas lagi dengan buku ke-6 yang berkesempatan saya review kali ini, Si
Anak Badai
.

Jadi, sudah jelas ini bukan tentang Bapak atau Paman Unus ya. Latar tempat
dan waktu juga tidak sama dengan 5 buku sebelumnya.

Ternyata, selidik punya selidik sekitar Mei 2018 Tere Liye dan tim penerbit merombak Serial Anak Mamak menjadi Serial Anak Nusantara dan masih akan berkembang judul-judul lainnya.

Buat kalian yang suka genre parenting, Oi… bukankah ini kabar sangat-baik?

Novel Tere Liye adalah novel yang sangat saya tunggu setiap kehadirannnya.
Kalau boleh saya jujur novel karya beliau adalah salah satu saksi kebangkitan
saya dari keterpurukan PPD, Post Partum Depression, 3 tahun lalu.
Jadi, tidak heran hampir 30 judul novelnya sudah saya lahap dan ada lebih dari
20 judul yang menjadi penunggu rak koleksi novel saya dalam 3 tahun terakhir.

Kenapa kesannya saya sangat antusias menghabiskan novel-novel lulusan Fakultas Ekonomi UI ini? Karena dengan membaca kisah-kisah di dalamnya saya jadi belajar banyak hal tanpa merasa digurui. Pelajaran hidup yang disuguhkan sangat membantu saya untuk belajar menata hati.

Belum lagi pengetahuan tambahan yang hampir selalu disajikan Tere Liye di
setiap novelnya. Benar-benar membuat saya makin tahu banyak hal. Seperti kisah
pembuka di novel Bidadari-Bidadari Syurga (saya baru tahu ini kisah
yang ada dalam hadist, tentang ad-dukhon. Waktu pertama kali saya baca
saya cuma bisa bilang “Gila penulisnya, keren banget!” sampai saya
pikir jangan-jangan saya lagi baca novel luar negeri 😅).

Dan novel Tentang Kamu, yang begitu juara di hati karena berhasil mencuri
air mata bahkan sejak kisah pembukanya dan diakhiri dengan merinding seluruh
badan di epilognya. Belum lagi di sana saya bisa sambil belajar sejarah,
geografi, ekonomi, humanity. Ah, maafkan….susah payah saya mengungkapkannya. I
deeply recomended it for yo
u💙.

Rindu apalagi. Terima kasih Bang, karena dirimu saya bisa
membayangkan bagaimana proses perjalanan haji zaman dulu ditengah masa
penjajahan. Benar-benar wawasan yang luar biasa. Saking bagusnya saya bahkan
tidak berani menulis resensinya, takut tidak mewakilkan ke-luarbiasa-an isinya.

Pulang – Pergi, Negeri Para Bedebah – Negeri di Ujung Tanduk, Serial
Bumi
juga masuk dalam 10 buku terfavorit saya.

Astaga, apa-apaan ini? 1 penulis dengan genre sebanyak ini??? Ckckckck….

Termasuk Serial Anak Mamak (seri terdahulu) adalah judul favorit
saya. Walaupun isinya tidak se-memicu adrenalin judul-judul yang saya tulis di
atas, tapi Tere Liye bisa mengemasnya dengan sangat apik dan selalu berhasil
membawa pembaca menyelami cerita. Bahkan saya sempat berpikir jangan-jangan
tokohnya real. Sampai saya mencari tahu di internet adakah anak-anak
petani Bukit Barisan yang kuliah di Jepang 😌. Ah, akhirnya saya tau
sepertinya ini kisah yang terinspirasi dari masa kecil beliau dengan ending
yang berbeda.

Yah, begitulah kesan saya ketika menghabiskan puluhan novel beliau. Tidak
ada kata bosan, tidak ada kata rugi waktu. Terlihat sekali penulis yang
memiliki nama asli Darwis ini melakukan kajian pustaka mendalam, riset,
observasi lapangan, mengumpulkan referensi sebanyak-banyaknya, hingga bisa
membuat tulisan berkualitas di setiap ceritanya. Maka, tidak heran jika
rata-rata bukunya best seller. Namun sejak 2018 beliau
keluar tidak sendiri, ada co-author di sana yang menemani.

Hanya berjarak 8 bulan dari Si Anak Cahaya, apakah dengan kehadiran
co-author novel Si Anak Badai akan tetap sedahsyat buku-buku
sebelumnya?

Yuk, mari temani saya mengulasnya.

Detail Buku

Judul: Si Anak Badai

Penulis: Tere Liye

Co-author: Saripuddin

Penerbit: Republika

Desain sampul:
Resoluzy

ISBN:
978-602-5734-93-9

Cetakan: 1, Agustus
2019

Tebal: iv + 318 halaman

Blurb

Badai kembali membungkus kampung
kami. Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes ait hujan dengan riang.

Inilah kami, Si Anak Badai. Tekad
kami sebesar badai. Tidak pernah kenal kata menyerah.

***

Buku ini tentang Si Anak Badai yang tumbuh ditemani suara aliran sungai riak permukaan muara dan deru ombak lautan. Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian mempertahankan apa yang menjadi milik mereka, hari-hari penuh keceriaan dan petualangan seru.

Plot dan Latar

Plot atau alur yang diambil adalah progesif atau alur maju.
Ceritanya berawal dari kondisi Kampung Manowa yang awalnya
damai menjadi berpolemik karena adanya isu pembangunan pelabuhan yang mendapat
banyak penolakan dari masyarakat sekitar.

Latar tempatnya adalah sebuah perkampungan bernama Manowa yang terletak di muara sungai yang merupakan pertemuan antara air sungai dan laut.

Rumah-rumah penduduk terbuat dari kayu ulin atau disebut juga kayu besi,
berdiri di atas air muara sehingga nampak terapung. Dari rumah ke rumah
dihubungkan oleh jembatan yang juga terbuat dari ulin. Mengingatkanku pada
novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah yang berlatar Sungai Kapuas di
Pontianak, yang juga mengambil tempat sebuah kampung di atas air dengan kayu
ulin sebagai tiangnya.

Latar waktunya mungkin sekitar tahun 2000 awal, mengingat di dalamnya sudah
ada KPK, masih ada tape recorder dan advokat (alm.) Adnan Buyung.
Saya termasuk generasi tape recorder, kala itu tahun 2004 saat saya
masih SMP zaman masih suka dengerin radio di tape recorder yang lebih
terkenal dengan nama walkman, saya masih suka mendengarkan radio lewat
gadget jadul itu. Sedangkan setau saya KPK sudah berdiri tahun 2002.

Tentang latar tempat, jika cerita Eliana dan adik-adiknya berlatar daerah pegunungan dan kampung petani, maka Si Anak Badai berlatar muara, laut dan perkampungan nelayan.

Karakter

Sekarang sudah tau ya kalau Si Anak Badai ceritanya berbeda dengan
5 judul serial sebelumnya yang karakter dan tokohnya sama? Jadi, yuk kenalan
sama karakter baru ada yang ada di buku ini.

1. Zaenal

Tokoh utama dalam cerita ini. Biasa dipanggil Za. Anak
sulung dari 3 bersaudara. Usia Za12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Sifatnya bertanggung
jawab
, setia kawan dan pemberani.

2. Mamak Bapak

Mamak Za bekerja sebagai penjahit dan Bapak Za bekerja
sebagai pegawai kantor kecamatan. Mamak, seperti di
kisah-kisah sebelumnya, berkarakter kuat dan tegas di luar
namun sebenarnya sangat menyayangi anaknya. Sedangkan Bapak terlihat lebih kompromis
dan sering menjadi jembatan antara Mamak dan Za-beradik.

4. Adik Zaenal; Fatahillah dan Thiyah

Fathahillah atau dipanggil Fat berjarak setahun dari Za. Fat kelas 5
SD
. Sering disuruh Mamak bersama Za mengukur baju tetangga. Sedangkan Thiyah,
adik perempuan Za duduk di kelas 1 SD. Thiyah lebih cerewet
tapi suka membantu pekerjaan rumah bersama Mamak

5. Geng Anak Badai; Ode, Malim, Awang

Berempat dengan Za mereka sekelas. Mereka juga sering bersama mengerjakan “job” anak koin saat pulang sekolah. Mereka berempat pula yang kemudian menghadapi ganasnya badai laut, sehingga dinamakan Si Anak Badai. Dan pada akhirnya pula mereka juga yang menyelesaikan polemik penggusuran kampung.

6. Pak Kapten aka Sakai bin Manaf

Karakter Pak Kapten terlihat keras dan pembawaannya tidak ramah
dengan anak-anak, kecuali pada Rahma, cucunya. Sehingga anak-anak kampung
Manowa pun segan mendekat. Tapi, di sisi lain Pak Kapten juga yang paling keras
menolak pembangunan pelabuhan, menjadi garda terdepan penduduk kampung.

7. Pak Alex

Dikenal sebagai si Bajak Laut karena selain fisiknya yang
seperti bajak laut; badan gempal dan sebelah mata yang dibabat perban, Pak Alex
bersama Camat Tiong menjadi perpanjangan lidah dari pihak petinggi-petinggi
yang ingin menggusur penduduk kampung untuk proyek pelabuhan.

8. Adnan Buyung

Advokat yang merupakan kaka dari Wak Sidiq, ketua kampung Manowa yang nantinya membantu perkara Pak Kapten di pengadilan.

Sinopsis

Kampung Manowa adalah sebuah kampung di daerah muara sungai yang berbatasan
langsung dengan laut. Sebagai muara, kampung Manowa mempunyai pelabuhan tempat kapal-kapal
penumpang berhenti sementara mengangkut penumpang dari Kampung Manowa dan
sekitar.

Cerita bermula dari Za yang bertemu bajak laut hanya untuk bertanya mana
kapal mereka yang paling hebat. Bajak laut marah dan bertanya dari mana asal
Za. Lalu setelah Za menjawab nama kampungnya, bajak laut berteriak kepada anak
buahnya agar segera menuju Manowa untuk menyerang dan merampas harta karun
Manowa.

Ternyata kisah pembuka itu hanyalah mimpi Za saat tertidur di siang bolong. Tapi, kemudian mimpi itulah yang menjadi penanda kedatangan “bajak laut” betulan yang ingin “menyerang” Manowa.

Empat sekawan; Za, Ode, Malim, dan Awang, meramaikan geng anak koin di
kampungnya, seperti lazimnya anak-anak lainnya yang kampungnya berhadapan
dengan pelabuhan. Menceburkan diri ke air muara saat kapal penumpang mendekat
ke pelabuhan, memanggil penumpang yang berbaik hati melemparkan koin untuk
mereka, saling berebut untuk kemudian menghitung jumlahnya ketika menjelang
sore.

Malim yang mendapat uang paling banyak kemudian terpikirkan hendak berhenti
sekolah. Susah payah Za membujuknya, bahwa sekolah tidak melulu soal ijazah,
tapi Malim tetap keras kepala. Hingga suatu saat Za berhasil menyelamatkan
nyawa Malim yang berada di ujung tanduk. Peristiwa yang tidak akan dilupakan Malim
seumur hidup.

Ada juga kisah mereka melaut dengan para nelayan. Bagaimana mereka bertemu
dengan badai di tengah laut. Membacanya sangat mengerikan. Seolah-olah saya
juga berada di sana menghadapi amukan sang laut. Lagi lagi, kisah heroik akan
kita jumpai di sini.

Urusan badai laut selesai, mereka pun kembali ke kampung mereka yang sedang
di ujung tanduk, hendak dihancurkan.

Adalah Sang Kapten, tetua Kampung Manowa yang sangat vokal menentang
pembangunan pelabuhan di kampung nenek moyangnya. Saking vokalnya, Sang Kapten
yang bernama Sakai bin Manaf dituduh sebagai dalang kebakaran kapal 10 tahun
lalu di kampungnya sendiri. Dengan rekayasa kasus ala pejabat tinggi jadilah
Kakek Sakai menjadi pesakitan, dipenjara.

Setelah beberapa waktu Manowa kedatangan Camat Tiong, Pak Alex (Si Bajak
Laut), dan Utusan Gubernur, serta membereskan Sang Kapten kini giliran
alat-alat berat yang berdatangan di hadapan mereka. Ya, pejabat-pejabat itu
cepat sekali bertindak walau penolakan jelas terjadi. Satu persatu alat berat dipindahkan
dari rakit ke dermaga kayu pelabuhan.

Kepala mandor yang sangat yakin tanah Manowa layak dijadikan pelabuhan
-apalagi jika hanya menahan beban alat berat- berdasarkan kajian struktur tanah
yang dikantonginya, dibuat terhenyak melihat satu buldozer yang baru saja
dipindahkan perlahan jatuh berdebam ke sungai seiring runtuhnya dermaga kayu.

Astaga…. Kajian struktur tanah yang diberikan kepadanya ternyata palsu!

Jatuhnya satu buldozer ini kemudian bagai efek domino, turut menjatuhkan “buldozer-buldozer” lain yang memaksa ingin meruntuhkan kampung demi pelabuhan yang tidak layak bangun.

Ulasan

Sampul novelnya saya suka. Sudah benar-benar mewakilkan latar tempat cerita. Warna yang dipilih juga sangat mendukung, semburat jingga dan agak gelap, seperti bercerita bahwa suasana mencekam melanda kampung.

Untuk tebal buku, saya mendapatkan informasi yang berbeda. Di Goodreads dituliskan 422 halaman, sedangkan novel yang saya beli tebalnya hanya 318 halaman dengan 4 halaman informatif buku di depan halaman, jadi total 322 . Masih belum terjawab kebingungan saya, apakah di Goodreads salah tulis ataukah saya dapat edisi belum direvisi? Semoga saja hanya salah tulis ya, karena wah lumayan juga kalau tertinggal cerita 100 halaman, hihihi….

Membaca kisah Si Anak Badai mengingatkan saya dengan cerita heroik di buku Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk yang terinspirasi dari kasus Bank Century. Menurut saya, ini cara cerdas mengajak masyarakat untukua memikirkan kondisi negerinya. Tentu saja untuk orang awam seperti saya, kasus rumit seperti itu susah dimengerti, tapi di tangan penulis dengan background ekonomi ini mampu mengubahnya menjadi bacaan yang mudah dicerna sekaligus menegangkan (walau bagi saya tetap sulit dipahami terutama di bagian kajian ekonominya 😅 *nasib anak IPA *ada yang tanya? *eh)

Tentu harapan yang sama dengan novel Si Anak Badai.

Tapi, sayangnya menurut saya novel kali ini kurang greget. Dari klimaks, kemudian antiklimaks dan berlanjut dengan penyelesaian, semuanya terkesan cepat. Terlalu terburu-buru kelihatannya.

Padahal saya berharap sekali banyak sisi dramatisnya seperti lazimnya
novel-novel lainnya yang langganan cetak ulang puluhan kali. Mungkin kalau
bertambah 100 halaman lagi sangat cukup membuat cerita ini semakin dramatis.

Satu hal yang membuat saya tergila-gila memburu setiap novelnya adalah
karena sajian pengetahuan yang diselipkan setiap cerita. Setiap kali membaca
buku beliau ada saja wawasan baru yang saya dapat. Jadi bagi saya, Tere Liye
tidak hanya jago memainkan emosi pembaca dengan karakter dan cerita yang
dibuatnya.

Tapi sayangnya, di novel ini saya haus akan wawasan. Padahal saya
menanti-nantikan di setiap halaman seperti di novel sebelumnya. Misalnya, di
salah satu kisah di novel Pukat, akhirnya saya yang hanya “bisa
makan nasi” kemudian mengerti bagaimana proses panjang yang dikerjakan
petani dari menyiapkan lahan sampai memanen. Bertaruh nyawa, bermandi keringat
demi orang-orang bisa makan. Benar-benar membuat saya kemudian punya pandangan
berbeda terhadap petani. Atau cerita asal muasal nama Pontianak yang konon
berasal dari kisah peperangan antara manusia dan kuntilanak. Mungkin saya tidak
akan pernah tau kalau tidak membaca Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

Atau kisah Mamak di Si Anak Cahaya dan kisah Sri Ningsih di Tentang
Kamu
yang membuat saya tergambar betul bagaimana kondisi Indonesia saat
dikuasai PKI 💔.

Mungkin di novel ini Bang Tere Liye dan Sarippudin bisa menyisipkan pengetahuan soal ikan cakalang atau mendeskripsikan muara lebih detil lagi. Atau lebih seru lagi jika ditambah wawasan tentang kapal di awal cerita dan kajian struktur tanah di bagian konflik. Tentu ini akan menambah bobot novel bergenre semi action ini.

Misalnya, pada halaman 264. “Kontur sungai tidak mendukung, pembangunan pelabuhan bisa membuat pendangkalan muara. Kepadatan tanah juga tidak mendukung, kontruksi besar akan amblas“. Bagi saya ini hanya terkesan menyebutkan saja. Alangkah lebih bagus jika ada pengembangannya yang menjelaskan lebih detil maksud dari “kajian struktur tanah yang tidak layak bangun”.

Terlepas dari itu semua, saya tetap mengapresiasi karya ini. Memang tidak
mudah membuat novel apalagi hanya berjarak 8 bulan dari novel sebelumnya.
Terlebih ini adalah serial novel satu-satunya yang mengkhususkan pada kisah
kehidupan anak-anak nusantara, tentunya akan menjadi insight baru
mengingat anak zaman sekarang lebih dekat dengan gadget daripada alam. Jadi,
tetap lanjutkan kisah-kisah anak Indonesia yang penuh dengan pelajaran hidup
ya, Bang!

Mengambil tema korupsi pembangunan pelabuhan di novel kali ini mengingatkan
saya pada kasus Bank Century yang menjadi inspirasi pada kisah Negeri Para
Bedebah – Negeri di Ujung Tanduk.
Berbekal Google akhirnya saya menduga
kisah ini terinspirasi dari proyek Pelabuhan Kijing di Menpawah, Kalimantan
Barat (eh, nama kampungnya mirip ya😅) atau Pelabuhan
Bagansiapiapi di Sumatera Utara.

Terlepas dari objek inspirasi di atas, sebenarnya tidak susah mencari kasus korupsi di Indonesia. Seperti sudah lazim saja. Dan lagi-lagi yang menjadi korban adalah masyarakat awam dan lingkungan. Dan dari cerita Si Anak Badai membuat kita tergambar bagaimana lingkaran setan di lingkungan pejabat korup. Mereka rela menumbalkan orang lain demi ambisi mereka. Dan novel ini kembali menyadarkan kita bahwa korupsi benar-benar bedebah, mulai dari bagi-bagi jatah uang rakyat di kalangan pejabat agar proyek berjalan mulus sampai memaksakan pembangunan yang tidak lulus kajian struktur tanah. Bukankah ini jahat sekali, bagaimana kalau bangunannya ambruk dan menelan korban jiwa dan kehancuran materiil yang sudah memakan uang rakyat milyaran hingga trilyunan?

Selain itu, di sini Tere Liye juga seperti menyindir attitude masyarakat kita. Seperti di halaman 80, “Biasanya begitulah. Namanya tamu penting pasti terlambat. Kalau dia sudah datang sejak tadi, jadi tidak penting“.

Bagian ini sebenarnya sangat miris, tapi pengen tertawa rasanya saking benarnya.

Selain kisah heroik, di novel ini pula ada bagian yang menceritakan seberapa besar kasih sayang Mamak. Memberikan sudut pandang bagi pembaca remaja dan anak-anak tentang sosok Mamak. Walaupun Mamak kelihatannya cerewet, suka menyuruh, jarang memeluk, terlalu sibuk, seperti tidak ada sayang-sayangnya, tapi sungguh sebenarnya Mamak sangat menyayangi anak-anaknya. Bagian ini sangat sangat mungkin related dengan kehidupan pembaca kecil sehingga memberi sudut pandang lain tentang seorang ibu.

“Datangilah mereka sekarang juga (red: mumpung tidur nyenyak). Cium satu per satu. Itu akan menjadi embun di hati kau,juga di hati mereka”, kata Bapak kepada Mamak.

Jadi, buku ini selain mengangkat tema berat, juga disisipi dengan kisah romansa, baik tentang ibu- anak dan juga antara Za-Rahma, cucu Kapten. Tapi, karena ini bukan novel romance tentu kisahnya sangat ringan. Jujur, kisah Za-Rahma menjadi penyegar dalam novel ini dan lagi-lagi sangat related dengan kehidupan remaja awal yang baru mengenal lawan jenis.

“Anak sulung Mamak ternyata sudah besar. Sampai anak gadis tetangga mau membantu”.

Eh? Apa yang terjadi?

Dan bagian ini sangup membuat saya mesam-mesem. Digoda teman-teman mungkin biasa. Tapi kalau digoda mamak sendiri? Alamaaak…..Hahahaha.

Beberapa wawasan lain yang saya dapat salah satunya adalah tentang pengacara Adnan Buyung. Saya penasaran kenapa Tere Liye dan co-author memilih beliau. Lagi-lagi berbekal Google akhirnya saya tau bahwa Pak Adnan Buyung adalah pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Walaupun beliau sudah tiada tapi LBH masih berdiri dan sudah mempunyai cabang di daerah-darah. Dan dari sini juga saya jadi tau bahwa LBH didirikan oleh kelompok pengacara karena melihat hukum Indonesia tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

“Jagalah LBH, teruskan perjuangan untuk si kaum tertindas”

(Adnan Buyung Nasution)

Semoga peninggalan Pak Adnan Buyung tetap berdiri dan mampu memberi bantuan hukum kepada masyarakat kelas bawah.

Oh iya, ada satu hal yang selalu saya perhatikan dari 30 judul novel Tere Liye yang saya baca (sebenarnya ini sudah di luar resensi Si Anak Badai), bahwa setelah epilog tidak ada lagi halaman biografi penulis beserta karyanya yang seperti lazimnya kita temui di buku-buku lainnya. Di satu sisi kagum karena ini seperti low profile author yang tidak suka menampilkan karya-karyanya walaupun rata-rata best seller dengan belasan sampai puluhan kali cetak (Iya, iyaa… saya tau Tere Liye tidak suka diekspose, hihihi). Tapi, bagi yang baru membaca novel Tere Liye kemudian tertarik ingin membaca lagi, kemungkinan dia akan kebingungan mencari novel-novel lainnya. Apalagi kalau dia tidak punya ide sama sekali mencari tau di internet (jadi ingat saya pertama kali saya menyentuh karya Tere Liye tahun 2013 berjudul Bidadari-Bidadari Syurga tapi kemudian seperti kehilangan jejak, baru tahun 2017 saya mulai berburu semua judul-judulnya). Jadi, mungkin ada baiknya kali ya Bang buat daftar karya-karyanya di halaman akhir.

Akhirul kalam, saya pribadi mengapresiasi tema yang diangkat mengingat Indonesia darurat korupsi. Hanya saja saya merasa Si Anak Badai perlu ditambah ceritanya baik dari segi dramatisasinya dan juga wawasannya agar semakin berbobot dan berkesan di benak pembaca.

So, final verdict? 4 dari 5 dengan segala kelebihan dan kekurangan yang saya jabarkan panjang lebar di atas. Mohon maaf ya penulis dan co-author jika resensi saya ada yang tidak berkenan. Ini hanya semata untuk karya-karya kalian yang akan datang.

Terus berkarya, tetap menginspirasi, tetap mencerdaskan, dan tetap bermanfaat!

 

Baca juga: Pertama Kali Ikut Lomba Resensi: Aku Ga Mau Menang

17 thoughts on “Si Anak Badai: Kisah Heroik Anak Kampung Nelayan Melawan Korupsi”

  1. Seuju Mbak. Tere Liye itu penulis serba bisa. Aku jatuh cinta sama novel hujannya. Karena aku memang suka novel genre Fantasi. Keren banget Mba bisa punya koleksi sebanyak itu dan reviewnya juga top abis lengkap hehe. Sempat kaget juga pas M a bilang sempat kena PPD namun berhasil bangkit karena buku. Luar biasa Mba. Semangat terus ya 😍

  2. Ini kenapa semua novel tere liye membuat nisa pensaran haha. Sebelumnya pernah membaca caption atau qoutes dari tere liye tanpa pernah membuka isi novel nya, ternyata semenarik ini. Oalaaah ini racun dan pasti nya pensaran sama isi ceritanya, apalgi kalo ceritanya berkesinambungan.

    Ini si anak badai, kalo cerita ttg korup mmg gak ada habisnya ya, suka dongkol sama orng orng yang rela menghalalkan segala cara agar mdnptkan apa yg mereka mau huhu

  3. Yuhuuu, Mbak Fika keren banget koleksi novel Tere Liyenya. Aku mungkin baru setengahnya dan aku belum punya dan baca yang Si Anak Badai. Luar biasa memang gaya penceritaan dan jalinan kisah yang ditulis oleh Tere Liye ini. Se-magic itu mampu menyihir pembaca masuk ke dalamnya.

  4. Jadi ini novelnya berseri gt ya sambung menyambung antara 1 dgn yg lainnya. Jujur sih, aku cinta novel yg sekali baca habis gitu soalnya kalo besambung gini kan bikin penasaran ya tapi seru juga pastinya menanti tiap serinya.

  5. Awalnya aku salfok sama rak bukunya.
    Bukunya menarik banget ya kak. Walaupun ada beberapa literasi kurang tersaji di bukunya. Tapi sepertinya menarik untuk di baca sembari menyesap kopi pas weekend

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *