Assalamu’alaikum….
Setiap anak dilahirkan unik dan setiap keunikan pasti punya gaya tersendiri, maka kesimpulannya setiap anak punya gaya (belajar) tersendiri.
Ada yang anaknya suka belajar sambil menggerak-gerakkan kaki, ada juga yang sunyi senyap adalah harga mati, dan ada juga yang enjoy dengan mendengarkan musik. Waktu masih sekolah dulu saya merasa aneh dengan gaya belajar teman-teman yang berbeda dengan saya,
“Masa iya sambil dengerin musik, pelajaran bisa masuk? “, “Eh, si A koq belajarnya didiktekan gitu sama mamanya kalo mau ulangan? Emang bisa gitu nyangkut di kepala?”
Yah, begitulah kebingungan saya dulu melihat gaya belajar teman-teman. Saya yang tipe belajarnya harus dalam suasana hening ga bisa membayangkan gimana teman-teman bisa belajar dengan segala keributan yang ditimbulkannya. Saya yang kalo belajar harus mendengarkan dan menatap penjelasan guru di papan tulis tentu bingung ketika mengetahui ada teman yang didikte mamanya soal materi ulangan besok, cuma mendengarkan tanpa melihat tulisan. Emang bisa gitu ya?
Hmm, itu dulu, waktu belum kuliah di keguruan. Sekarang, apalagi ditambah kuliah parenting di WhatsApp yang banyak bertebaran, sudah ga heran lagi dengan fenomena itu.
Setiap anak itu unik. Setiap keunikan pasti punya gaya masing-masing.
Sekarang saya bukan dihadapkan lagi pada kondisi belajar teman-teman sekolah, yang saya hadapi sekarang adalah calon-calon generasi penerus bangsa, ya anak-anak saya, anak-anak kalian juga.
Maka, harus sama-sama kita pahami bahwa setiap anak punya gaya belajarnya sendiri dan ga bisa dipaksakan harus sama dengan yang lain. Sekarang bukan lagi zamannya menganggap anak yang duduk anteng mencatat penjelasan dan mengerjakan tugas itu yang pintar dan yang suka kelayapan saat tugasnya selesai atau (bahkan belum) dianggap tidak pintar.
Belajar bukan melulu tentang duduk manis dan menulis, juga tidak selalu mendengarkan guru dan mencatat materi, dan belajar tidak mesti di kelas. Ya, belajar bisa di mana saja, dengan siapa saja, materi apa saja, dan tentu-saja dengan gaya apa saja, apalagi jika kita bicara tentang anak-anak pre-school.
Anak main hujan, itu belajar. Anak main tanah, itu belajar. Anak merobek buku, itu belajar. Bahkan kalo ada anak hobi melempar semua isi lemari ke jendela itu juga belajar 😌 (Anak siapa begini ya 😂)
Daftar Isi
Tujuan Anak belajar
Ingat ya konteks belajar di sini bukan hanya belajar di sekolah, tapi juga belajarnya anak-anak, yaitu bermain, bermain yang terstruktur ataupun tidak. Walaupun bermain tetap ada unsur belajar di dalamnya. Karena bagi anak-anak bermain = belajar. Untuk itulah harus dipastikan tujuannya, yaitu;
Ketika kita mendampingi anak belajar maka kita juga harus memperhatikan tujuan belajar di atas;
Apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita?
Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita?
Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! Moment (teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?
Memahami Gaya Belajar
Kenapa harus dipahami? Karena setiap anak unik dan punya gaya tersendiri. Maka, memahami gaya belajar anak akan memahami pula strategi yang sesuai. Harapannya anak akan berkembang dan melejit karena distimulasi dengan cara yang tepat.
| Seperti dandelion warna-warni, anak juga punya “warna-warni” nya sendiri |
🌷Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
🌷Tidak mudah terganggu oleh keributan
🌷Mengingat yang dilihat, daripada yang didengar
🌷Lebih suka membaca dari pada dibacakan
🌷Pembaca cepat dan tekun
🌷Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
🌷Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
🌷Lebih suka musik
🌷Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.
📝Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
📝Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
📝Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
📝Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
🌷Penampilan rapi
🌷Mudah terganggu oleh keributan
🌷Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
🌷Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
🌷Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
🌷Biasanya ia pembicara yang fasih
🌷Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
🌷Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
🌷Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
🌷Berbicara dalam irama yang terpola
🌷Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
🌷Penampilan rapi
🌷Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
🌷Belajar melalui memanipulasi dan praktek
🌷Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
🌷 Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
🌷Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
🌷Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
🌷Menyukai permainan yang menyibukkan
🌷Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
🌷Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.
Faktor yg mempengaruhi gaya belajar anak
Misalnya jika ada seorang anak memiliki fisik kuat dan prima maka akan cenderung memiliki gaya belajar kinestik.
Anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng boleh jadi akan terbiasa untuk mengasah kemampuan pendengarannya.
Kapan Gaya Belajar Mulai Dimiliki Anak?
Dari uraian di atas saya jadi mau noleh ke anak sulung yang usianya baru saja 4 tahun. Walau katanya gaya belajar anak sudah bisa dilihat sejak umur 3 tahun tapi jujur saya belum nemu di mana gaya belajarnya yang cocok 🙈. Mungkin nanti kalo dia sudah masuk sekolah bisa kali ya. Target saya sih SD kelas 1 sudah bisa dilihat arahnya agar bisa menyusun strategi belajar ke arah yang tepat. Sedangkan di umur pre-school dua anak saya lebih ditekankan kepada pembelajaran secara konkret dengan asas “every child have muscle memory” di mana ketika belajar semua indera berperan aktif. Contoh ketika saya mengenalkan huruf pada kakak, saya akan mulai dari sand paper letter lowercase alias huruf kecil dibuat dari kertas amplas (sehingga dia bisa raba bentuk hurufnya), melafalkan bunyi huruf dengan nyanyian “phoenic song” (sila google), sampai merangkai kata dengan movable letter.
Ok, kayanya saya harus buat pembahasan di lain kesempatan khusus ini karena menurut saya ini worth it to share, bangett.
Nah, mungkin sekian sampai di sini ya pembahasan tentang gaya belajar anak. Gimana moms? Sudah dapat hasilnya? Jadi, apa gaya belajar ananda?
Tulisan ini adalah hasil resume dari kulwap GayaBelajar Anak oleh Bunda Puspa

Bookmark aaahhh.
Bagus banget tulisannya mba, saya jadi tercerahkan.
Meskipun bacanya sambil meringis.
Anak bongkar-bongkar itu belajar.
biar emaknya gak pusing, saya tambahin.
Emak rajin beresin 'hasil belajar' anak biar sehat dan langsing hahaha.
Ada juga yg gabungan tipenya mba kaya audio visual atau visual kinetik, mungkin mba termasuk di dalamnya
Hmm kalau baca ulasan ini aku kok nggak ketemu ya aku tipe yang mana? Aku menghafal dengan mengingat tulisan tapi kalau baca nggak pakai mengeja dulu dan nggak suka musik. Heu
Anak saya belum terlihat masuk tipe yana mana. Bisa jd catatan ni buat saya untuk memberikan strategi yg mana buat dia agar cepat mengerti dalam belajar
Menurut tes sidik jarinya, anakku tipe visual kinestetik. Uniknya,meski aku galak banget saat ngajarin dia, tp nyantol. Malah nangis kalo aku lama gak ngajarin dia. Entah rindu sama galaknya apa gimana. Aku setuju banget kalo cara belajar anak itu memang unik.
Aku sedari kecil sadar diri bahwa g bs ngerti sesuatu kalau g ad ilustrasi jelas. Waktu it g tau artinya apaaan? Pas udh pny anak baru ngerti anak visual ini eh nurun siapa? Nurun sy kayaknya. Wkwk. Kalau bapak pica kyknya tipe auditori. Mutia jelas y tipe kinestetik. Hehey. Good job mom. Makanya emaknya suka bereksperiment y buat numbuhin skillnya. 🙂
Rasa maumku print trus suruh emak baca, atau tempel di sd ku dulu kwkwkwk. Aku visual banget. Tapi jaman dulu mah sekolah di pukul rata pendidikannya. Kalau sekarang agak berfariasi sih pilihan sekolahnya ��
Jangankan anak-anak ya, orang dewasa pun beda-beda lah ya cara belajarnya. Ga semua sama, namanya uga manusia. hihi
Bermanfaat banget neh infonya. ��
Benar, orang tua jaman dulu terlalu monoton bahwa kalau anak belajar harus di rumah dengan buku pelajaran, bahkan mereka tidak pernah berfikir kalau di luar itu anak juga belajar, mereka cenderung memperhatikan saat anak belajar bersama buku saja .. Sedangkan jaman sekarang, harusnya sudah tidak ada lagi orang tua yang seperti itu dalam melihat gaya belajar anak hehe
Berarti eny tipe visual banget mba, paling gak suka sama tulisan selalu lebih tertarik jenis visual grafik atau gambar. Kalo bicara cepet banget dah eny nih.. Eh malah curcol wkk