Amunisi Penulis (Kata, Kalimat, dan Paragraf)

Siapa yang tidak tahu soal sinonim kata. Bagi penulis, mengetahui persamaan kata itu seperti amunisi yang wajib dimiliki. Sebuah erita atau tulisan akan membosankan dibaca ketika ada beberapa kata yang sama terulang. Jadi, sudah seharusnya seorang penulis mempunyai tabungan diksi agar tulisannya renyah sekaligus empuk untuk dibaca. Kata Bang Tere Liye.

Sebenarnya aku sedang proses menabung diksi yang dimaksud beliau ini. Tapi baru satu halaman sih. Ehehehe. Kalian juga bisa mencatatnya di buku ataupun di note HP. Baiklah. Tidak usah berpanjang kata, karena memang intinya ini tentang worksheet, dan bukan soal uraian materi kepenulisan Bang Tere Liye.

***

Tugas Chapter 6: Menemukan Sinonim Kata

1. Kamu

Anda, Kau, Dikau, Engkau, Loe, Awak, Tuan, Sampean, Saudagar, Situ, Anta.

2. Suka

Senang, gembira, tertarik, demen, sudi, berkenan, girang, bersedia, doyan, rela.

3. Sedih

Murung, kecewa, iba, terenyuh, pilu, duka, lara, gundah, masygul, merana, getir, muram, malang

***

Tugas chapter 7: Latihan Mengotak-atik Kalimat

1. Tahun pertama merawat ibunya, dia kecewa, marah dengan situasi yang dialaminya, dia iri melihat orang lain yang memiliki karir, apalagi saat membayangkan temannya yang sekarang pasti sibuk melayani pasien.

– Tahun pertama merawat ibunya, dia marah dengan situasi yang dialaminya, kecewa, dia iri melihat orang lain yang memiliki karir, apalagi saat membayangkan temannya yang sekarang pasti sibuk melayani pasien.

– Dia kecewa. Tahun pertama merawat ibunya, dia marah dengan situasi yang dialaminya, dia iri melihat orang lain yang memiliki karir, apalagi saat membayangkan temannya yang sekarang pasti sibuk melayani pasien.

– Tahun pertama merawat ibunya, dia iri melihat orang lain yang memiliki karir, apalagi saat membayangkan temannya yang sekarang pasti sibuk melayani pasien, dia marah dengan situasi yang dialaminya. Kecewa.

– Kecewa. Dia marah dengan situasi yang dialaminya. Tahun pertama merawat ibunya, dia iri melihat orang lain yang memiliki karir, apalagi saat membayangkan temannya yang sekarang pasti sibuk melayani pasien.

– Tahun pertama merawat ibunya, dia marah dengan situasi yang dialaminya, dia iri melihat orang lain yang memiliki karir, kecewa, apalagi saat membayangkan temannya yang sekarang pasti sibuk melayani pasien.

2. Dokter C, yang terakhir bercerita, ternyata dia sehari pun tidak pernah membuka praktek dokter atau bekerja di rumah sakit

– Yang terakhir bercerita, Dokter C, ternyata dia sehari pun tidak pernah membuka praktek dokter atau bekerja di rumah sakit

– Yang terakhir bercerita, Dokter C, ternyata dia sehari pun tidak pernah bekerja di rumah sakit atau membuka praktek dokter

– Dokter C, yang terakhir bercerita, ternyata dia sehari pun tidak pernah bekerja di rumah sakit atau membuka praktek dokter

– Ternyata Dokter C yang terakhir bercerita, dia sehari pun tidak pernah bekerja di rumah sakit atau membuka praktek dokter

– Ternyata Dokter C yang terakhir bercerita, dia tidak pernah bekerja di rumah sakit atau membuka praktek dokter sehari pun

– Dokter C, yang terakhir bercerita, ternyata dia tidak pernah membuka praktek dokter atau bekerja di rumah sakit sehari pun

***

Chapter 8: Memperbaiki Paragraf

Mereka berteman baik sejak kecil, tinggal di pantai yang indah, sebuah pulau. Bagaimana mereka bisa berteman? Satu mahkluk udara, satu mahkluk air, satu tumbuh2an. Jangan ditanya, fiksi itu bebas, dan ini hanya perumpaan saja. Sebuah tamsil. Jadi mari fokus ke ceritanya. Tiga teman ini sedang berkupul, bercerita tentang petualangan mereka selama setahun terakhir. Si burung pipit yang pertama bercerita. Dia bilang, dia terbang ke pulau-pulau lain, melihat sawah2 luas, menemukan kampung-kampung permai, melihat banyak hal. Jauh sekali dia terbang, ratusan kilometer. Maka pengalamannya tidak terbilang. Seru mendengar ceritanya. Dua temannya mengangguk-angguk senang. Si penyu mendapat
giliran kedua bercerita. Kalian tahu, penyu bisa berenang melintasi samudera. Maka ceritanya lebih dahsyat lagi. Si penyu bilang dia menyaksikan kota-kota megah, gedung2 tinggi, gunung-gunung berlapiskan salju, padang pasir, padang rumput. Lebih seru lagi mendengar cerita si penyu ini. Dua temannya bertepuk riuh, senang. Yang terakhir, giliran si pohon kelapa yang bercerita. Aduh, apa yang akan diceritakannya? Bukankah dia tumbuh2an, sudah takdirnya terbenam di tanah, tidak bisa kemana2, hanya bisa menonton cemburu hewan2 lain yang berpetualang. Hanya bisa menatap sunrise, sunset, disitu2 saja, dipinggir pantai sepanjang hidupnya. Tapi jangan salah, si pohon kelapa juga punya cerita petualangan yang hebat. Ketahuilah setahun terakhir dia berbuah lebat. Buah itu matang, saking matangnya lantas satu-persatu jatuh di atas pasir. Air pasang datang menggulung buah2 kelapa. Kemudian membawanya pergi ke lautan luas. Buah kelapa itu terombang-ambing oleh ombak, berhari-hari,
berminggu2, berbulan2, hingga akhirnya kandas di pantai berbeda, keluar akarnya, tumbuh tunasnya, menjadi pohon kelapa yang tinggi. Itulah petualangan si pohon kelapa. Tidak terbilang ribuan buahnya yang berlayar di samudera luas. Si burung pipit terdiam, kemudian berseru, “Amboi, bukankah itu buah2 kelapamu yang tumbuh di pulau seberang itu, Teman?”. Si penyu juga tidak kalah berseru, “Astaga, kawan, aku mengenal buah kelapamu yang tumbuh di pulau ribuan kilometer sana. Ternyata itu berasal darimu?” Lihatlah si pohon kelapa di pinggir pantai itu. Dia tidak bisa terbang, tidak bisa berenang, tapi buah2 terbaik miliknya berpetualang kemana2, lebih jauh dibanding si burung pipit dan si penyu.

(Setelah diperbaiki paragrafnya menjadi…)

Mereka berteman baik sejak kecil, tinggal di pantai yang indah, sebuah pulau. Bagaimana mereka bisa berteman? Satu mahkluk udara, satu mahkluk air, satu tumbuh2an. Jangan ditanya, fiksi itu bebas, dan ini hanya perumpaman saja. Sebuah tamsil. Jadi mari fokus ke ceritanya.

Tiga teman ini sedang berkupul, bercerita tentang petualangan mereka selama setahun terakhir. Si burung pipit yang pertama bercerita. Dia bilang, dia terbang ke pulau-pulau lain, melihat sawah2 luas, menemukan kampung-kampung permai, melihat banyak hal. Jauh sekali dia terbang, ratusan kilometer. Maka pengalamannya tidak terbilang. Seru mendengar ceritanya. Dua temannya mengangguk-angguk senang.

Si penyu mendapat giliran kedua bercerita. Kalian tahu, penyu bisa berenang melintasi samudera. Maka ceritanya lebih dahsyat lagi. Si penyu bilang dia menyaksikan kota-kota megah, gedung2 tinggi, gunung-gunung berlapiskan salju, padang pasir, padang rumput. Lebih seru lagi mendengar cerita si penyu ini. Dua temannya bertepuk riuh, senang.

Yang terakhir, giliran si pohon kelapa yang bercerita. Aduh, apa yang akan diceritakannya? Bukankah dia tumbuh2an, sudah takdirnya terbenam di tanah, tidak bisa kemana2, hanya bisa menonton cemburu hewan2 lain yang berpetualang. Hanya bisa menatap sunrise, sunset, disitu2 saja, dipinggir pantai sepanjang hidupnya. Tapi jangan salah, si pohon kelapa juga punya cerita petualangan yang hebat. Ketahuilah setahun terakhir dia berbuah lebat. Buah itu matang, saking matangnya lantas satu-persatu jatuh di atas pasir. Air pasang datang menggulung buah2 kelapa. Kemudian membawanya pergi ke lautan luas. Buah kelapa itu terombang-ambing oleh ombak, berhari-hari, berminggu2, berbulan2, hingga akhirnya kandas di pantai berbeda, keluar akarnya, tumbuh tunasnya, menjadi pohon kelapa yang tinggi.

Itulah petualangan si pohon kelapa. Tidak terbilang ribuan buahnya yang berlayar di samudera luas. Si burung pipit terdiam, kemudian berseru, “Amboi, bukankah itu buah2 kelapamu yang tumbuh di pulau seberang itu, Teman?”. Si penyu juga tidak kalah berseru, “Astaga, kawan, aku mengenal buah kelapamu yang tumbuh di pulau ribuan kilometer sana. Ternyata itu berasal darimu?” Lihatlah si pohon kelapa di pinggir pantai itu. Dia tidak bisa terbang, tidak bisa berenang, tapi buah2 terbaik miliknya berpetualang kemana2, lebih jauh dibanding si burung pipit dan si penyu.

Leave a Comment