Sunscreen, Sebucin Itu…

Aku kenal skincare sebenarnya mulai kuliah semester 3, walau kenalnya cuman: sabun, krim siang dan krim malam. Kemudian berhenti skincare pas semester 7, karena skincare yang aku pakai itu berkasus: ketahuan mengandung merkuri.

Rasanya pas tau itu pengen marah banget ke kakak tingkat yang jadi penjualnya. Karena aku seyakin itu sama beliau. Beliau bilang ini skincare dari susu kambing, zaitun, bla bla bla. Aku percaya aja. Gimana gak percaya kalau beliau statusnya guru ngajiku, yang suka ngasih kajian Islam di kampus.

Sebenarnya ini juga gak salah beliau sepenuhnya. Karena titik mulanya tetao pada produsen yang gak amanah.

Intinya, setelah semester 7 alias sejak tahun 2011 itu aku trauma pakai skincare.

Kemudian aku menikah, dan masih polosan, bahkan lipstik juga gak. Cuma berani pakai masker, bedak tabur dan celak.

Sampai akhirnya kami pindah ke Palangkaraya, Kota Panas Cantik, kulitku yang gak jelek gak bagus juga, tiba-tiba langsung juelek banget. Kusam sekusam-kusamnya. Tapi karena emang lagi hamil dan menyusui aku memang gak peduli dengan skincare.

Sampai akhirnya umurku 26 tahun, anak sudah 2 (kakak umur 3.5, dedek umur 1 tahun), aku ketemu sama ustadzah di musholla belakang rumah. Karena muka beliau itu putih bersih dan cantik, aku gak bisa menahan rasa penasaranku. Kutanya berapa umur sidin. Ternyata sudah 36. OMG, aku kira 23 alias di bawah aku beberapa tahun. Tiba-tiba aku merasa kami tertukar umur.

Sejak itu, benar-benar merubah diriku yang awalnya gak peduli dengan skincare.

And, here am I. 33 yo, hampir 7 tahun berpetualangan dengan skincare.

Dalam 7 tahun ini petualanganku benar-benar gak ada yang mulus. Mungkin aku terlalu heboh ingin cepat lihat hasilnya, jadi pengen coba segala jenis skincare tanpa ilmu. Hasilnya? Dari 7 tahun ini, mungkin cuma 2 tahun kalo ditotal muka yang mulus kinclong hasil perawatan. Sisanya berjibaku karena purging dan breakout.

Tapi dari pengalaman 7 tahun itu setidaknya ada hal baiknya: aku jadi lebih kenal dengan kulitku.

Ada kesimpulan yang harus dibayar mahal (dengan bolak-balik breakout dan purging). Di antaranya;

1. Aku harus menghindari skincare dengan bahan salicylic acid dan fragrance
2. Aku bisa skip skincare malam tapi aku tidak bisa skip skincare siang (terutama sunscreen)

Dengan kesimpulan tersebut, praktis sekarang rangkaian skincare ku sangat amat simple. Yang wajib cuma: facial wash di sore hari, sunscreen di siang hari. Cuma itu yang wajib. Wohoo, skincare apaan ini, gini doank? Tapi yap, step sesederhana ini sekarang yang aku jalani. Kalau lagi rajin ada tambahan toner hidrasi dan moisturizer di malam hari dan toner vitamin C di siang hari, nemenin sunscreen.

Aku juga sangat berhati-hati dalam menerima job skincare. Bahkan dalam 3 tahun ini baru 2 brand yang aku review. Kebetulan juga cocok! Fiuh, leganya. Lega plus senang kalo harus mereview dan alhamdulillah cocok!

Dan kebetulan lagi keduanya adalah sunscreen. Satu-satunya regimen yang masih sampai detik sekarang pengen aku eksplorasi lebih dalam. Kenapa?

Karena sunscreen adalah skincare wajib. Bener-bener wajib. Mungkin bagi orang gak pakai skincare efeknya gak sekarang (long term), tapi buat aku, oh no, sekali aku skip sunscreen mukaku akan langsung berasa kering ketarik dan besoknya akan ada yang bersemi di wajah. Acne.

Terlebih di kotaku cuaca siang hari sering gak nyantai. Panas banget tolong T_T Jadi kalo gak pakai sunscreen, bahkan cuma di rumah aja, sel kulitku kek demo besar-besaran. Kulit ketarik sana-sini. Duh, gak enak. Beneran kek orang dapat hukuman seketika.

Terlebih lagi aku sekarang lagi belajar gardening dan ya ampuun, di sini jam 7 8 pagi aja mataharinya udah panas menyengat, hiks.

Disclaimer dulu ya, aku bukannya takut menghitam dan gak bersyukur dapat sinar matahari. Tapi setauku vitamin D3 diperlukan tubuh juga cuma perlu 15 menit berjemur aja. Kalo kasus nya seperti aku yang bisa 2 3 jam di bawah matahari, ya jelas akan tanning.

Dan masalah gak berhenti sampai di situ. Untuk kulit super sensitif sepertiku, masalah sunscreen bukan masalah tanning aja, tapi juga kulit ketarik dan berakhir breakout.

Jadi, itulah alasan sunscreen sepenting itu bagiku sekarang. Dan mencari sunscreen yang nyaman dan nampol adalah PR seumur hidupku. Hihihi.

Kalau kalian tim yang aman walau keskip sunscreen 1 2 hari atau seperti aku?

Leave a Comment