BLANTERWISDOM101

Menuju Usia 30 yang Bermanfaat, #AyoHijrah Jadi Lebih Baik Bersama Bank Muamalat

Rabu, 01 Mei 2019

 

 

 

 
Hijrah adalah perjalanan untuk selalu menjadi lebih baik



Assalamu'alaikum. ...


Akhir tahun ini usia saya genap 30. Semakin tua saja rasanya. Hiks. Tapi, di sini saya tidak akan bicara tentang krim wajah berbahan retinol, eye cream berbahan arbutin atau skincare anti aging lain, yang 2 tahun belakangan ini sering saya bahas di blog.


Tidak. Hihihi 😊. . ..


Di usia 30 ini mungkin akan saya mulai dengan melakukan muhasabah ke belakang, introspeksi diri. Sudah sejauh apakah usaha saya memperbaiki diri? Apakah saya sudah siap menginjakkan kaki di usia yang identik dengan kematangan? Apakah saya bermanfaat untuk diri saya dan lingkungan?


Hijrah Pertama: Hijrah Fisik


Flashback ke masa awal pubertas, saat-saat SMP. Kalau mengenang masa-masa itu rasanya campur aduk antara senang dan malu. Senang karena periode itu adalah periode prestasi belajar terbaik saya, tapi sekaligus menjadi masa-masa saya "paling liar".


Tidak, tidak sampai pergaulan bebas. Saya "cuma" terkadang pakai pakaian yang saya dulu tidak paham kalau itu ternyata dilarang dalam Islam, agama saya; "cuma" terkadang pakai hot pant, "cuma" terkadang pakai rok di atas lutut. Huhu, malunya kalau ingat masa itu padahal saya sudah masuk periode akil baligh, yang artinya dosa dan pahala saya tanggung sendiri.


Soal pergaulan juga kurang lebih sama. Saya pacaran dan juga banyak berinteraksi dengan laki-laki asing. Bapak sebenarnya tidak suka dengan pergaulan anaknya yang keseringan dapat telpon dari laki-laki (dan malah diladeni), tapi saya dengan "darah muda" yang bergejolak justru mengabaikan sinyal dari bapak sambil berkata dalam hati, kesal "Ah, Bapak kaya ga pernah remaja aja, gitu aja ga boleh".


Hingga suatu hari akhirnya terjadi insiden itu, bapak marah besar karena teman laki-laki yang awalnya berkunjung ke rumah saya bawa ke rumah teman yang lain. Mungkin bapak mengira yang tidak-tidak, sehingga amarah bapak meluap tidak terkira. Dengan parang yang teracung di udara, bapak yang tiba-tiba datang ke rumah teman menyuruh saya pulang dengan kasar.


Parang!? Duh, kalau ingat itu rasanya hati saya langsung kacau, lebih kacau daripada anak kecil yang kaget karena balonnya meletus tiba-tiba.


Sampai akhirnya ketika duduk di bangku SMA, saya perlahan mulai berubah dan bapak sepertinya bisa bernafas lega karena anaknya tidak lagi keluar dengan baju kekurangan bahan, tidak lagi berinteraksi bebas dengan laki-laki yang tidak dikenal.


Bukan, bukan karena parang, teman. Tapi karena saya mulai melihat kehidupan secara terang.


Di SMA inilah saya mulai mengenal Islam. Saya aktif di Rohis, kegiatan ekstrakurikuler berbasis Islam. Saya mulai menjaga jarak dengan lawan jenis, pakaian saya mulai longgar, kerudung mulai panjang dan menutup dada. Dan itu tidak sengaja membuat pembawaan saya jadi kalem, sangat jauh dengan karakter Fika zaman SMP yang atraktif.


Akhirnya selepas SMA dan saya mulai kuliah, interaksi dengan teman laki-laki semakin kaku, saya menghapus semua kontak laki-laki. Circle saya hanya sebatas pada teman perempuan saja. Pakaian saya juga tidak lagi atasan dan bawahan seperti SMA, tapi sudah memakai gamis plus kerudung lebar.


Gamis dan kerudung lebar....


Saya pikir bapak akan senang karena anaknya sudah tidak begajulan lagi dan melengkapinya dengan pakaian syari, terlebih karena anaknya merantau. Tapi, ah..... yang namanya hijrah tidak diuji rasa-rasanya belum lengkap hijrahnya.


Dulu pakaian gamis dan kerudung lebar masih langka, tidak seperti sekarang yang sudah menjadi trend. Maka ujian itu datang dari orangtua saya sendiri.


Bapak mulai berpikir saya terkena brain-wash oleh teroris yang menjadi aktivis kampus yang saat itu memang sedang panas-panasnya dihembuskan oleh sekelompok oknum. Kegiatan kampus juga saat itu sedang dalam masa sulit-sulitnya karena izin untuk kegiatan dakwah dipersulit pihak kampus. Bapak jangan ditanya, bahkan beliau mengira saya ikut aliran sesat. Sampai-sampai sholat pun saya diperhatikan bapak. "Jangan-jangan sholatnya beda", mungkin begitu pikir beliau.


Hiks. ... sedih rasanya jika ingat itu, dicurigai oleh orangtua sendiri.


Benturan demi benturan terjadi, saya sempat lelah menghadapinya. Tapi, lambat laun setelah bertahun-tahun akhirnya Alloh kasih bapak hidayah. Alhamdulillah, Sampai lulus kuliah saya bisa mempertahankan pakaian syari saya.


Hijrah Kedua, Hijrah Hati


Jika hijrah pertama soal fisik, maka hijrah kedua saya tidak lagi tentang penampilan dan pergaulan, tetapi. ....soal hati.


Hati? Ya.. .. Segumpal daging penentu baik buruknya seseorang.


Setelah menikah, sepertinya saya merasa ujian hati paling mendominasi. Karena setelah menikah saya memutuskan untuk berhenti kerja, maka otomatis lingkungan saya menjadi menyempit, apalagi saya langsung dibawa merantau karena suami bertugas di daerah terpencil..


Kurang bergaul membuat saya merasa stuck, apalagi tinggal di daerah terpencil membuat wawasan saya juga ikut "terpencil". Akibatnya saya mulai sering iri dan (hampir) dengki. Hati saya saat itu penuh dengan rasa suudzon kepada orang. Seperti belum cukup, saya malah menambah karat di hati saya dengan memelihara kekecewaan yang sangat besar. .


Saya ingat sekali dulu, sekitar pertengahan 2013 ada seorang artis yang membuka hijabnya. Awalnya saya kaget, sama seperti netizen yang lain. Saya follow akun Instagram artis itu dan .. .  .tambah shock karena ternyata dia tidak hanya buka hijab tapi juga suka mengumbar aurat.


Saya? Tidak afdhol rasanya saat itu kalo tidak numpang julid di kolom komentar, "Mba, habis ketutup rapat terus sekarang dibuka gitu (sampai paha kelihatan) apa rasanya?"


Saya juga masih ingat dulu, waktu anak pertama baru lahir saya merasa selalu dibanding-bandingkan dengan ipar saya oleh mertua. Hal ini sempat membuat saya iri dan (nyaris) dengki padanya karena apa saja yang saya lakukan hampir selalu salah di mata mertua dan ipar saya lebih baik. Imbasnya saya pun menjaga jarak terhadap keluarga baru saya tersebut. Dengan mama mertua pun rasanya saya malas bicara, segan betul, walaupun tetap hormat dengan beliau.  


Saya dulu juga suka memandang sebelah mata para working mom, mengatakan bahwa mereka lebih mengutamakan pekerjaan dibanding anak.


Duh, rasanya kalau didaftar lebih lanjut dosa-dosa hati dan lisan saya tidak terkira 😭. Ibarat hutan yang pohonnya mati satu persatu, daunnya kering kerontang, sedikit saja terkena percikan api, BUSHHH!!!!! Mudah sekali terbakar dan meluas...


Empat tahun di awal menikah, saya diuji dengan segala aneka penyakit hati itu. Dan ujungnya, pada tahun 2016 saya terkena terjangan Post Partum Depression, sebuah tekanan mental setelah melahirkan anak kedua saya. Tekanan mental karena saya tidak bisa mengontrol emosi yang dipupuk dari rasa kekecewaan yang sangat dalam dan disiram dengan kelelahan fisik yang tidak berujung. Tekanan mental yang membuat seolah-olah ada bom yang ingin meledak di dada karena tekanan yang luar biasa itu.


Kalian tau PPD kan? Yang biasanya mengiringi kasus ibu bunuh diri dan atau bunuh anaknya karena baby blues? Dulu saya hanya tau istilah baby blues dari berita di televisi, sekarang bahkan saya mengalaminya sendiri


Tapi, Alloh Maha Baik.. ... 5 bulan "saja" PPD itu disandangkan di pundak saya. 5 bulan dalam kubangan PPD dan sekarang sudah tinggal serpihan kisahnya dan masih berlanjut sampai kini untuk memperbaikinya.


Sebenarnya saya sudah cerita tentang penyakit hati ini secara gamblang di buku antologi saya. Buku yang merupakan kumpulan tulisan pemenang lomba menulis Stop Mom War yang diadakan oleh Kumpulan Emak-Emak Blogger dan DivaPress. Buku ini bagi saya sudah semacam buku"pengakuan dosa" dari seorang mantan pelaku mom war, yang tidak lain saya sendiri.


Buku "pengakuan dosa" yang ternyata sudah beredar di Gramedia. Antara senang dan malu.
 

 

Usaha #AyoHijrah yang Dilakukan Saat Ini


Usahanya tak lain tak bukan ialah hijrah dari kondisi hati yang buruk, bangkit dari keterpurukan paska PPD dan menata hati yang baru.


Ingat hadist masyhur ini, kan?


Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ



“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).


Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. 


Saya pernah dalam kondisi itu, ketika hati kotor mulut juga ikut kotor, suka sekali menghakimi, jari mudah sekali mengetikkan kalimat sindiran, membuat hati yang kotor semakin keras.


Tapi, itu semua sudah berlalu. Fika yang sekarang sudah belajar banyak dari situ.


Apa saja yang sudah dan akan saya lakukan dalam perbaikan hati?


🌱1. Mengurangi waktu di media sosial dan memperbanyak mengisi waktu dengan hal yang lebih berfaedah. Membaca novel misalnya. Saat PPD itu saya bertemu dengan tulisan yang related dengan kondisi saya, tentang memaafkan dan melupakan kekecewaan. Sangat berat tapi ketika sudah mampu melakukannya, hati jadi plong, ringan dan lebih sehat.


Bagi saya novel termasuk hal yang membantu mengobati hati saya yang sakit parah saat itu. Dan untuk novel saya termasuk picky sekali, hanya bisa membaca dari penulis tertentu, penulis yang punya wawasan luas sehingga banyak pelajaran hidup yang didapat setelah menyelesaikan novelnya.


Selain novel, menulis blog juga saya akui sebagai terapi self-healing yang sangat membantu. Saya seperti bisa mengurai emosi negatif dalam keypad dan menghadirkan tulisan yang bukan sampah, tapi semoga berfaedah. Jadi, seperti orang yang mendaur ulang sampah dan membuat barang berguna setelahnya.


🌱2. Selain novel saya juga mulai memperbanyak membaca buku self-improvemen, seperti buku parenting, manajemen rumah tangga dan bahkan buku ruqyah.


Buku ruqyah di sini bukan soal mengusir jin dengan bacaan ruqyah seperti yang lazim diketahui. Tapi, lebih pada bagaimana mengelola hati agar tidak banyak "sampah" sehingga tidak membuat mengundang banyak "lalat".




Buku Sampah dan Lalat karya ust. Nadhif ini adalah my book of the year yang akan saya baca berulang-ulang. Tidak akan pernah bosan karena mengajak kita untuk menemukan titik mana di hati yang membuatnya semakin kotor, semakin berkarat.


🌱3. Belajar untuk tidak mudah menggantungkan hidup pada orang lain, sehingga meminimalisir kecewa yang berlebihan. Salah satu faktor penyebab PPD saya adalah dulu saya terlalu berharap pada manusia, karena memang kondisi paska lahir yang rentan capek. Tapi akhirnya saya harus menelan akibatnya. Sakit hati karena kecewa sebab berharap terlalu banyak.


Tapi itu membuat saya kemudian belajar memaafkan, belajar mandiri, dan belajar bangkit. Dan dari buku-buku yang saya baca, baik fiksi maupun non fiksi semua sangat membantu proses penyembuhan jiwa saya.


🌱4. Berusaha re-framing ketika melihat suatu kondisi, entah di dalam diri atau di luar diri. Dulu saya orangnya impulsif, sering menelan mentah-mentah informasi yang didapat. Akhirnya, judging begitu mudahnya mengalir dari mulut saya, entah itu berita politik atau berita artis seperti yang saya cerita di atas. Tapi sekarang jika saya melihat sesuatu saya berusaha untuk melihat dari kacamata lain, berusaha untuk menumbuhkan empati baru kemudian melakukan penilaian terhadap sesuatu.


Misalnya, saat saya melihat artis atau teman yang sekarang membuka hijab (plus buka-bukaan aurat. Hiks...) selalu saya berusaha self-talk "Hei, jangan dihakimi, mana tau di ujung hayatnya justru dia bertobat dan Alloh terima tobatnya. Kalau aku nyinyir dan dosa dan belum minta maaf sampai akhir hayat, jangan-jangan aku yang rugi di akhirat"


🌱5. Menguatkan komunikasi dengan suami dan bonding dengan anak. Setelah menikah sebenarnya masalah hidup bukannya berkurang tapi justru bertambah. Maka, mempunyai tim yang solid adalah kunci untuk memperkuat langkah hijrah kita. Dengan bonding yang baik kita akan mudah mengisi rumah kita dengan ibadah-ibadah, seperti sholat berjamaah, mengaji Quran, melatih adab, dll. Komunikasi dan bonding yang kuat dengan keluarga juga ampuh menekan stres kita.


🌱6. Ikut komunitas untuk self-upgrade. Sejauh ini saya baru mengikuti grup ODALF (One Day Half Juz), dan hapalan surah Al-Kahfi. Dan selanjutnya saya punya rencana untuk ikut kuliah Sekolah Rumah Tangga dan hapalan juz 'amma setelah lebaran. Semakin banyak kita berinteraksi dengan kumpulan orang yang positif, insya Alloh kita akan kena imbasnya. 


Hasilnya......


Usaha saya sejauh ini sudah lumayan dirasakan hasilnya. Hati yang dulu dipenuhi prasangka-prasangka sekarang sudah banyak filternya. Pikiran yang dulu sumpek sekarang mulai lega. Beban yang dulu berat sekarang ringan. Jari yang dulu suka nyinyirin kehidupan orang sekarang justru berat untuk melakukannya lagi. Sepertinya filter hati saya bertambah seiring dari belajar memaafkan, re-framing, dan empati. Biidznillah... .


Begitulah hidup, selalu mengikuti siklus huruf M, kadang di bawah kadang di puncak. Karena hidup di dunia sesungguhnya adalah ujian untuk membuat kita semakin lebih baik.


Sama halnya dengan Bank Muamalat. Tempo lalu saya dengar bank syariah pertama di Indonesia ini ada dalam masalah. Jujur, ketika mendengar itu rasanya semacam tidak rela dan khawatir sekali jika beneran tutup. Bukan karena saya nasabahnya, tapi karena ustadzah saya dulu pernah bilang kalau Bank Muamalat adalah bank syariah yang paling syari di Indonesia.


Bayangkan jika bank syariah (pioner pula) di negeri mayoritas muslim tutup? Apa kata dunia?


Tapi, alhamdulillah sekarang kondisinya berbeda. Sama seperti saya yang dulu sempat terpuruk, Bank Muamalat sekarang sudah bangkit lagi dengan semangat hijrah baru, jadi lebih baik.


Sebagai seorang muslim tentunya kita tau bahwa ada perintah untuk masuk Islam secara kaffah (menyeluruh) dan tidak sebagian. Memang tidak semua kita terlahir dari keluarga ulama atau kiayi, tapi setiap orang punya kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi dan berIslam seperti yang diinginkan oleh Sang Pemilik Kehidupan, kaffah.


Maka, ketika kita memutuskan untuk hijrah ke arah yang lebih Islami sebagai hamba yang taat tentu kita akan mengusahakan kaffah. Tidak hanya soal pakaian yang syari, tapi juga sikap yang syari, mulai dari adab sehari-hari, makanan hanya yang halal dan thoyyiban, dan seharusnya sampai pada hubungan jual beli dan perbankan.


Nah, Ngomong-ngomong soal perbankan ini agak riskan sekaligus sensitif sebenarnya. Tapi, ya bagaimana.. ..  Dalam Al-Quran jelas Alloh melarang riba. Sedangkan kita dikelilingi oleh bank yang notabene adalah produk riba.


Terus, bagaimana?


Untungnya di Indonesia sudah ada bank syariah sejak 1992. Diprakarsai oleh MUI dengan niat menciptakan bank tanpa bunga untuk membantu muslim Indonesia yang ingin menerapkan perekonomian Islam untuk menyempurnakan keIslamannya.


Mengenal Bank Muamalat sebagai The First Islamic Bank Indonesia


Sejarah Bank Muamalat bermula dari Musyawarah Nasional MUI di Bogor yang menginginkan Indonesia memiliki bank tanpa prinsip bunga. Gagasan ini disambut baik oleh Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan pengusaha muslim lainnya. Akhirnya, pada tahun 1992 Bank Muamalat resmi beroperasi sebagai bank syariah pertama di Indonesia.


Hingga saat ini, bank yang memiliki visi Menjadi bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia dengan eksistensi yang diakui di tingkat regional

telah memiliki 325 kantor layanan di seluruh provinsi termasuk 1 (satu) kantor cabang di Malaysia. Bank Muamalat menjadi satu-satunya bank syariah yang memiliki jaringan di luar negeri.

Operasional Bank juga didukung oleh jaringan layanan yang luas berupa 710 unit ATM Muamalat, 120.000 jaringan ATM Bersama dan ATM Prima, serta lebih dari 11.000 jaringan ATM di Malaysia melalui Malaysia Electronic Payment (MEPS).


Dengan misi "Membangun lembaga keuangan syariah yang unggul dan berkesinambungan dengan penekanan pada semangat kewirausahaan berdasarkan prinsip kehati-hatian, keunggulan sumber daya manusia yang islami dan professional serta orientasi investasi yang inovatif, untuk memaksimalkan nilai kepada seluruh pemangku kepentingan", Bank Muamalat mendirikan layanan finansial berbasis syariah pada nasabah di negeri mayoritas muslim ini. 
 
Program layanan Bank Muamalat bisa dilihat dari infografis berikut ini. 

 



🌷Akad dalam Bank Muamalat


Ada beberapa akad yang mendasari sistem syariah Bank Muamalat, yaitu: akad jual beli, akad investasi, akad amanah/penjagaan/titipan, dan akad sewa menyewa.


Akad jual beli, misalnya; murabahah, salam, dan istishna'. Akad investasi, misalnya; mudharabah dan musyarakah. Akad sewa menyewa, misalnya; ijarah. Dan akad titipan, misalnya; wadi'ah. 


Mengutip dari website resmi Bank Muamalat Indonesia, definisi rinci dari akad-akad muamalah yang dipakai adalah sebagai berikut;
 
 
MURABAHAH adalah akad jual beli dimana harga dan keuntungan disepakati antara penjual dan pembeli. Jenis dan Jumlah barang dijelaskan dengan rinci. Barang diserahkan setelah akad jual beli dan pembayaran bisa dilakukan secara mengangsur/cicilan atau sekaligus.  Biasanya dalam proses pembiayaan KPR. 
 
SALAM adalah jual beli dengan cara pemesanan, di mana pembeli memberikan uang terlebih dahulu terhadap barang yang telah disebutkan spesifikasinya, dan barang dikirim kemudian, Salam biasanya dipergunakan untuk produk-produk pertanian jangka pendek.
 
ISTISHNA’ adalah jual beli barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang berdasarkan persyaratan serta kriteria tertentu, sedangkan pola pembayaran dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan (dapat dilakukan di depan atau pada saat pengiriman barang). 
 
MUDHARABAH MUQAYYADAH adalah akad yang dilakukan antara pemilik modal untuk usaha yang ditentukan oleh pemilik modal (shahibul mal) dengan pengelola (mudharib), dimana nisbah bagi hasil disepakati di awal untuk dibagi bersama, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal.
 
MUSYARAKAH adalah akad antara dua pemilik modal atau lebih untuk menyatukan modalnya pada usaha tertentu, sedangkan pelaksananya bisa ditunjuk salah satu dari mereka. Biasanya dalam pembiayaan properti.

 
MUSYARAKAH MUTANAQISAH adalah akad antara dua pihak atau lebih yang berserikat atau berkongsi terhadap suatu barang dimana salah satu pihak kemudian membeli bagian pihak lainnya secara bertahap. Akad ini diterapkan pada pembiayaan proyek yang dibiayai oleh lembaga keuangan dengan nasabah atau lembaga keuangan lainnya dimana bagian lembaga keuangan secara bertahap dibeli oleh pihak lainnya dengan cara mencicil. Biasanya dalam pembiayaan barang investasi. 
 
WADI’AH adalah akad yang terjadi antara dua pihak, dimana pihak pertama menitipkan suatu barang kepada pihak kedua. Lembaga keuangan menerapkan akad ini pada rekening giro.
 
WAKALAH adalah akad perwakilan antara satu pihak kepada yang lain. Wakalah biasanya diterapkan untuk pembuatan Letter of Credit, atas pembelian barang di luar negeri (L/C Import) atau penerusan permintaan.
 
IJARAH adalah akad sewa menyewa barang antara kedua belah pihak, untuk memperoleh manfaat atas barang yang disewa. Akad sewa yang terjadi antara lembaga keuangan (pemilik barang) dengan nasabah (penyewa) dengan cicilan sewa yang sudah termasuk cicilan pokok harga barang sehingga pada akhir masa perjanjian penyewa dapat membeli barang tersebut dengan sisa harga yang kecil atau diberikan saja oleh bank.

KAFALAH adalah akad jaminan satu pihak kepada pihak lain. Dalam lembaga keuangan biasanya digunakan untuk membuat garansi atas suatu proyek (performance bond), partisipasi dalam tender (tender bond) atau pembayaran lebih dulu (advance payment bond).
 
HAWALAH adalah akad pemindahan utang/piutang suatu pihak kepada pihak yang lain. Dalam lembaga keuangan hawalah diterapkan pada fasilitas tambahan kepada nasabah pembiayaan yang ingin menjual produknya kepada pembeli dengan jaminan pembayaran dari pembeli tersebut dalam bentuk giro mundur. 
 
RAHN adalah akad menggadaikan barang dari satu pihak kepada pihak yang lain, dengan uang sebagai gantinya. Akad ini digunakan sebagai akad tambahan pada pembiayaan yang berisiko dan memerlukan jaminan tambahan. Lembaga keuangan tidak menarik manfaat apapun kecuali biaya pemeliharaan atau keamanan barang tersebut.
 
QARD adalah akad pembiayaan kepada nasabah untuk dana talangan segera dalam jangka waktu yang relatif pendek, dan dana tersebut akan dikembalikan secepatnya sejumlah uang yang digunakannya. Dalam transaksi ini, nasabah hanya mengembalikan pokok.

Kalau yang ini akad yang paling sering ditemui dalam praktek perbankan syariah, berhubungan dengan jual beli dan tabungan
 

 

🌷Prestasi Bank Muamalat

Banyak sekali penghargaan yang diterima oleh bank syariah pioner ini, diantaranya;
💐 Peringkat 1 - Satisfaction, Loyalty, and Engagement Award 2019
💐 Golden Award Corsec & Corcomm Terbaik - Kategori Bank Publik
💐 Anugerah Syariah Republika 2018 – Kategori The Fastest Growing Income Sharia Bank
💐 ATM Bersama Awards 2018 – Kategori Best Active Terminal Bank Syariah
💐 BAZNAS Award 2018
💐Best Islamic Financial Institution Indonesia dari Global Finance World’s Best Islamic Financial Institutions Awards 2018.
💐TOP CSR 2018 kategori Program Pembinaan UMKM dan Koperasi
💐2 Besar Bank Swasta Tbk-Terbaik di Indonesia 2018 Buku II Asset > Rp Rp 25 T - Economic Review
💐Mobile Application Best Choice Award - Infobrand 2018






Jadi, sudah tau kan kenapa harus Bank Muamalat?

  1. Karena Bank Muamalat adalah bank pertama murni syariah di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1992.
  2. Bank Muamalat tidak menginduk dari bank lain, sehingga terjaga kemurnian syariah nya.
  3. Pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
  4. Selain itu juga terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. 
  5. Bank Muamalat memilki produk dan layanan keuangan lengkap yang ditunjang dengan berbagai fasilitas seperti Mobile Banking, Internet Banking Muamalat dan jaringan ATM dan Kantor Cabang hingga ke luar negeri.
  6. Selain misi finansial, Bank Muamalat juga mempunyai fungsi sosial, seperti menghimpun dana Zakat, Infaq, Sedekah serta mengumpulkan dan menyalurkan hewan qurban. 
  7. Bank Muamalat kontinu berprestasi dari tahun ke tahun.


Untuk poin nomor 2 itu sama persis dengan yang dikatakan oleh guru ngaji saya sewaktu kuliah, bahwa; Bank Muamalat adalah Bank syariah yang paling syari, alasannya karena tidak menginduk dari bank lain.


Tuntas sudah keraguan saya dan akhirnyaaa....  saya memutuskan untuk membuka tabungan di sini.


Bagaimana Cara Membuat Rekening Baru?


Jujur, ini adalah tabungan pertama saya setelah menikah. Dulu sih sempat punya waktu jadi mahasiswa, tapi karena bank konvensional (karena adanya di kampus hanya itu) jadi rekening saya kebanyakan cuma sebagai tempat transfer.


Ketika sampai di bank, kita akan diarahkan oleh satpam untuk mengambil nomor antrian. Saran saya datang pagi sekali ketika kantor baru buka, karena proses pembuatan buku tabungan memakan waktu 1 jam lamanya.


Untuk proses buka tabungan kita akan dilayani di bagian customer service. Nanti di sana kita akan ditanya mau memilih layanan apa. Karena saya hanya ingin menabung, jadi saya bilang ingin buka tabungan pribadi.


🌷Syarat membuat rekening


Syaratnya simpel sekali, hanya membawa KTP asli. Selain itu untuk membuka rekening KTP kita harus menunjukkan domisili yang sama dengan tempat bank berada.


Setelah itu nanti kita akan ditawarkan pilihan akad, mau yang mudharabah atau wadi'ah. Akad mudharabah adalah bagian dari akad investasi, uang yang kita tabung akan dikelola/diinvestasikan/disalurkan oleh Bank ke tempat usaha. Keuntungannya akan dibagi tiap bulan dengan istilah bagi hasil dan kerugiannya dikembalikan pada pemilik modal. Jadi, bagi hasilnya akan fluktuatif tergantung keuntungan Bank. Ini yang membedakan dengan bunga pada bank konvensional.


Sedangkan akad wadi'ah adalah salah satu akad penjagaan/titipan. Jadi, uang nasabah hanya disimpan tanpa digunakan, sehingga setiap bulannya tidak ada bagi hasil dengan bank.


Dijelaskan juga bahwa tabungan mudharabah setiap bulannya akan dikenai biaya administrasi sebesar Rp 11.000 sedangkan tabungan wadi'ah gratis. Sedangkan untuk setoran awalnya keduanya sebesar Rp 100.000.


Setelah dijelaskan dan kita memilih akad tabungan, selanjutnya adalah mengisi formulir registrasi.


2 formulir yang harus diisi dan 1 berkas SK yang harus diparaf
 


Setelah selesai input data, CS akan memberikan pin dalam amplop yang bisa digunakan untuk aktivasi mobile banking dan ATM. Jangan khawatir bingung karena untuk mobile banking kita akan dipandu dari awal sebagai pengenalan aplikasi Bank Muamalat yang kita dowload dari PlayStore/AppStore.


Setelah itu CS akan meminta waktu sebentar untuk take photo dari kamera kecil di atas komputer mereka guna melengkapi data nasabah. Kemudian, setelah berkas selesai dan setoran awal diberikan, tunggu beberapa menit dan taraaaaaa...



Akhirnya...   Punya juga tabungan unyu, eh ungu 💜
 



Bagaimana kalau ingin pindah jenis tabungan?


Misal, kita mau pindah dari akad mudharabah ke wadi'ah atau sebaliknya, ternyata tidak boleh kecuali buat rekening baru. Karena dalam syariah Islam tidak boleh ada 2 akad dalam 1 transaksi dan jika ingin mengubah akad maka harus dimulai dari awal.


Menuju usia 30 yang bermanfaat, #AyoHijrah bersama Bank Muamalat
 

 

🌷Sudah tersedia layanan mobile banking

Oya, selain dibuatkan buku tabungan dan kartu ATM, kita juga akan dibantu untuk aktivasi mobile banking karena Bank Muamalat sekarang sudah tersedia aplikasinya via Playstore untuk yang android dan AppStore untuk yang iOS, terhitung sejak tahun 2015.

Alhamdulillah sekali ketika tau ini, karena sejak awal menikah sebenarnya sudah ingin buka rekening sendiri tapi karena saat itu belum tersedia aplikasi m-banking jadinya urung. 


Dan sebagai tambahan informasi, ternyata aplikasi m-banking Bank Muamalat mendapat penghargaan dari Info branded 2018 dalam Mobile Application Best Choice Award. 

 Sungguhlah keren sekali 😍  menggabungkan antara urusan dunia dan akhirat . 

 

 
💜💜💜
 

Baiklah, sepertinya cukup sudah saya berbagi kisah hijrah saya di blog ini. Semoga dapat diambil manfaatnya ya, teman-teman pembaca yang budiman.


Dan saya juga mau mengucapkan barokallohu fii umrik untuk Bank Muamalat yang usianya tahun ini menginjak  27 tahun, semoga hijrahnya kali ini menjadikannya semakin lebih baik lagi menyokong sendi perekonomian syariah dan jauh lebih bermanfaat lagi bagi umat.

 

 

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

 

💜💜💜

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah.” (Al-Baqarah: 208)




Tulisan ini disertakan dalam kompetisi blog Bank Muamalat bekerja sama dengan Blogger Perempuan dalam rangka milad ke-27 Bank Muamalat



📚Referensi;


1. https://www.bankmuamalat.co.id

2. https://www.kompasiana.com/dina07699/5af6f205ab12ae62084c40c2/sistem-operasional-bank-syariah?page=all
3. https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html
4. https://ekonomi-islam.com/5-bank-syariah-terbaik-di-indonesia-2018/
5. https://muslimah.or.id/6435-pribadi-yang-bermanfaat.html

 

 

Share This :

0 komentar