Surat Buat Adek

Assalamualaikum

Hai Adek, apa kabar? Aku sudah dengar dari mamak katanya kamu sudah menemukan calon istri, padahal baru kamu kenal 3 bulan tapi sudah mantap untuk menikah tahun ini juga. Aku tau itu rasanya, saat kita bertemu dengan seseorang yang akan jadi jodoh kita, perasaan tergenapi itu muncul begitu saja tanp kita buat. Aku paham karena aku dulu juga mengalami itu. Seperti itulah tanda dari Allah SWT.

Harusnya aku senang sekali ketika berita itu datang. Adek satu-satunya, lelaki gagah dan tampan ini akhirnya menemukan calon pendamping hidupnya.

Tapi, aku gak tau kenapa tiba-tiba terbesit perasaan iri tidak jelas ini. Iya iri. Gila kali ya iri sama adek sendiri kata orang.

Tapi aku merasa pantas iri denganmu karena entah kenapa aku bisa membayangkan kamu nanti akan menjadi seorang ayah yang sabar, penyayang dan tentu saja tidak pemarah. Aku iri, aku membayangkan semua kebaikan itu padamu sedangkan aku gak punya itu karena aku bukan ibu yang sabar dan penyayang. Pemarah? Apalagi.

Hei, bagaimana bisa kamu jadi ayah yang pemarah kalau selama hidupmu kamu tidak pernah kena marah bapak dan mamak. Jadi, memang sudah sewajarnya kamu akan menjadi orangtua yang baik dan penyabar bersama calon istrimu yang lulusan ponpes itu. Lengkap sudah akan sempurnanya keluarga kecilmu nanti.

Sedangkan kakakmu dulu, ya begitulah, selalu ada cela untuk dimarahi. Ingat kan, Dek, malam hari raya sekitar tahun 2003, aku kelas 2 SMP dan kamu kelas 4 SD. Aku yang lagi makan soto buatan ninik dipanggil bapak lalu aku -yang lagi asyik makan- tiba-tiba disidang dan dimarahin habis-habisan hanya perkara aku ketahuan bersurat-suratan dengan kakak kelas. Tanpa mendengarkan apa argumentasiku, bapak menumpahkan semua amarahnya.

Padahal tau gak, surat-surat itu hanya sekedar membalas pesannya saja karena aku gak enak mengabaikan, tapi perasaannya aku tolak. Ya bapak mana mau tau sih Dek. Yang bapak tau kalo surat-suratan berarti pacaran. Astaga. Padahal prestasiku gak ada penurunan, masih rangking 1, bahkan tahun itu juara umum sekolah. Tapi kayaknya itu gak berarti kalau bapak sudah menemukan celaku.

Apa kamu tau juga, aku pernah dibawakan parang sama bapak saat main ke rumah teman hanya karena bapak tau temanku itu kedatangan tamu laki-laki. Aku lari tunggang langgang keluar dari belakang rumahnya sampai terjatuh-jatuh. Besoknya di sekolah aku tutup telinga dia cerita ke teman lain atau tidak.

Bayangkan, apa aku masih punya harga diri??

Satu yang aku sesalkan, kenapa bapak mudah marah denganku, tapi denganmu tidak? Kamu pulang malam, tapi gak pernah kena tegur. Kamu sering ngendon di kamar, main game, asik dengan duniamu. Dan di luar bapak susah payah cari makan kambing dan kasih makan ayam. Ada bapak nyuruh kamu? Gak ada. Yang ada bapak segan nyuruh kamu. Aku lo Dek yang bantuin bersih2 di rumah sama jaga warung, masih aja kena marah dan omel 😂. Mukaku ngeselin kali ya Dek. Kalo mukamu muka cakep, gak bisa dimarahin.

Soal rangking di sekolah juga aku iri. Aku ingin belajar tanpa memikirkan berapa peringkat ku nanti di akhir semester. Belajar tanpa beban sepertimu. Bergaul dengan teman tanpa takut dicurigai pacaran.

Kenapa ya Dek, beban belajar itu juga berbeda. Apakah anak pertama harus rangking pertama, anak kedua gak wajib? Pasti kamu gak pernah merasakan gimana gugupnya saat pembagian rapor. Kamu pasti juga gak pernah khawatir dimarahin bapak tiap kali kertas ulangan dibagi.

Kenapa Dek, kita dibedakan. Kenapa?

Jadi aku sangat yakin, kalau kamu nanti akan jadi kepala keluarga yang baik. Kamu penuh sokongan mamak dan bapak. Tumbuh dengan baik nyaris tanpa kena marah. Kamu juga dekat dengan mamak, bisa tanpa segan bercerita dengan mamak, pun minta dibelikan ini itu sewaktu sekolah, tanpa merasa sungkan. Dan mamak seperti biasa selalu menurutimu. Bajumu mahal-mahal, necis pula, mamak bilang kamu gengsinya tinggi. Dan mamak bilang itu sambil ketawa kecil yang aku artikan beliau gak keberatan dengan gengsimu itu.

Aku langsung merasa ciut. Aku jadi ingat, dulu aku pernah ikut tes PLN saat lulus SMA di luar kota. Ternyata bajuku tidak sesuai dengan peraturan panitia. Risni mengajak ke Matahari karena dia juga salah bawa baju. Di sana kami beli sepasang kemeja dan rok seharga 170rb (tahun 2008). Pas mamak tau, mamak marah sekali. Bilang aku boros, gak bisa atur uang. Aku terkaget-kaget, padahal aku baru itu dikasih uang agak banyak dan yang kubelanjakan hanya pakaian yang mau dipakai saat tes karena aku salah bawa kostum.

Percaya gak Dek, setelah kejadian itu tiap aku liat pakaian itu, seperti ada muka di baju itu sambil bilang “Ini baju boros”. Antara trauma atau malas inget kejadian dimarahi itu, baju itu gak pernah aku pakai lagi.

Aku tanya sekali lagi pernah gak kamu diomelin mama pas beli baju mahal? Gak pernah kan?! Aku iri Dek, gpp kan 😌

Kadang aku bertanya-tanya dengan sedikit angkuh. Kamu gak pernah rangking 3besar, ikut lomba juga gak, bantu mamak dan bapak di rumah juga gak, kenapa mamak dan bapak malah segan sama kamu? Aku Dek, aku yang rajin belajar duluu sampai juara umum berturut-turut, setiap hari bantu mamak di rumah, bajuku gak mahal, aku sukanya yang murah, aku juga gak pacaran, mau lanjut S2 kata mamak gak ada biaya -sedangkan kamu S1 molor sampai 7 tahun baik-baik aja- kenapa selalu aja mamak dan bapak punya alasan marahin aku ya Dek. Mukaku ngeselin kali ya? Kalo ngeselin kenapa aku dilahirkan ya? Aku jadinya ngewarisin sifat itu Dek. Aku sedih banget jadinya 😭😭😭

Anak-anakku jadi pelampiasannya sekarang. Aku benci aku sendiri, Dek! Kalau mamak dan bapak gak bisa marahin kamu, kenapa sama aku marahnya bisa rupa-rupa? Kenapa, Dek?

Apa mamak dan bapak sadar perlakuan mereka ya Dek? Atau cuma aku yang merasa? Atau jangan-jangan aku yang lebay Dek?

Tapi yang pasti keluarga kita memang kaku. Aku ngobrol dengan mamak, kaku, walau sudah sebesar ini. Aku ngobrol sama bapak juga kaku. Apalagi sama kamu, Dek. Boro-boro kamu ngabarin tentang calonmu, aku malah dapat berita dari mamak dan cuma setengah2. Jadi dengan istrimu nanti, aku juga gak berharap banyak bisa akrab.

Keluarga kita yang kaku ini aku akui membuat kita berempat seperti berjarak. Tidak ada istilah anak curhat ke orangtua. Duh jauh sekali. Aku lebih senang cerita ke sahabatku, ke diaryku. Gimana mau cerita, kalau setiap ketemu pasti cekcok. ALhasil aku jadi jarang ke dapur karena sering miskom sama mamak. Lebih baik bersih-bersih rumah atau jaga warung.

Ngomong-ngomong sahabatku, ternyata sahabatku itu senang cerita ke mamanya. Senang sekali melihat keluarga mereka. Hangatnya memancar sampai sini. Aku iri dengannya tapi bukan perkara akademik. Aku iri sekali dengan kehangatan keluarganya.

Tapi aku tetap bersyukur menjadi bagian di keluarga kita. Mamak dan bapak punya orientasi akhirat yang kental, dulu waktu kita masih di PTP setiap ulama datang ke mesjid PTP kita berempat selalu datang ke sana. Aku dengan senang hari melangkah bersama. Bapak juga keras soal sholat wajib sekalipun aku dalam perjalanan rekreasi. Pun soal harta, kata bapak gak usah terlalu bernafsu yang penting bekal untuk akhirat. Dari sana aku berniat menabung untuk bisa sedekah kapan saja aku mau dan semoga bisa naik haji suatu saat nanti. Aku belajar banyak hal dari sana. Mereka hanya kurang di komunikasi dan perlakuan yang adil. Tapi sayang semuanya membekas di jiwa anak pertama ini.

Buat kamu adekku satu-satunya, aku doakan semoga rencanamu berjalan dengan baik di tahun ini. Semoga bisa jadi keluarga sakinah mawaddah warrohmah. Walaupon aku iri denganmu tapi untukmu selalu doa yang terbaik. Maafkan aku juga sebagai kakak gak bisa jadi kakak yang asyik bagimu karena ya aku tidak merasa dibantu untuk jadi kakak yang baik.

Semoga surat ini sampai ke tanganmu entah bagaimana caranya ya. Kita gak pandai saling berbagi secara verbal, jadi aku tulis surat ini untuk dibaca entah kapan olehmu.

Leave a Comment