BLANTERWISDOM101

Dari Ribuan Tahun Silam Hingga Nasib Bumi Masa Depan, Inilah 7 Fakta tentang Gambut

Sabtu, 22 Oktober 2022

 Dari Ribuan Tahun Silam Hingga Nasib Bumi Masa Depan, Inilah 7 Fakta tentang Gambut - Bismillah...

Dulu sewaktu kuliah ke kota provinsi, saya selalu melewati padang ilalang yang luas sekali di kanan kiri jalan. Mungkin ratusan hektar luasnya. Saya tidak tahu apa namanya, tapi yang terlihat padang ilalang itu terendam air setiap tahun. Dulu, waktu kecil saya mengira itu padi, tapi sampai aku besar padinya tidak pernag menguning. Baru sekarang aku paham bahwa padang ilalang yang kukira hamparan sawah di daerah Bati-Bati, Kalimantan Selatan adalah lahan gambut.

Daerah Bati-Bati, Kalimantan Selatan dengan lahan gambutnya.

Tiga puluh tahun hidup aku baru tahu hari ini betapa pentingnya lahan gambut untuk masa depan bumi. Hari ini, di pekan ketiga Oktober akhirnya belajar secara mendalam bersama #EcoBloggerSquad tentang materi lahan gambut

Palangka Raya tempat saya tinggal juga punya lahan dan hutan gambut yang cukup besar. 1/5 wilayahnya adalah gambut atau sekitar 3 juta dari 15 juta hektar total luas provinsi. Seharusnya saya tahu banyak soal gambut. Tapi sampai kepala 3 ssekarang pun, wawasan saya soal gambut masih minim. Padahal sebaran gambut di daerah saya yang cukup luas ini membuat kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 dan 2019 silam menjadi sangat mengerikan.

Salah gambut? Bukan. Tapi memang gambut punya karakteristik unik. Yang jika disayang dia menjaga ekosistem bumi, tapi jika dirusak dia akan memicu krisis iklim.

Indonesia sebagai negara pemilik salah lahan gambut terbesar dunia, sudah pasti harus punya literasi tentang gambut yang cukup. Sejauh mana kalian paham soal gambut? Saya akan menuliskannya dalam beberapa poin berikut.

Gambut Teh Naon?

Apa itu gambut?

Slide pemaparan pertama dari Pantau Gambut kemarin menjelaskan bahwa gambut adalah jenis lahan yang terbentuk dari material-material organik (serasah daun, ranting pohon, akar, batang) yang tidak membusuk secara sempurna dan berlangsung lambat, hingga ribuan tahun, sehingga menumpuk dan membentuk lapisan gambut.

Bahan organik tersebut tidak bisa membusuk dengan baik karena terendam air, sehingga menyimpan karbon yang berkali lipat dibanding tanah mineral
(Sumber: Pantau Gambut)

Gambut sering ditemukan di daerah genangan air seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.

Di Kalimantan Selatan ada satu kecamatan yang diberi nama Kecamatan Gambut, Kabupaten banjar. Mungkin karena wilayahnya semuanya tertutupi gambut.

Apalagi ciri-ciri gambut?

Tanah gambut termasuk tanah yang kurang subur karena dibentuk dari dekomposisi bahan organik yang tidak sempurna sehingga tanahnya bersifat asam (pH nya rendah), miskin mineral dan unsur hara dibanding tanah mineral.

Sumber: Pantau Gambut)

Ohya, walau gak subur, tapi tanah gambut masih bisa ditumbuhi, biasanya berupa tanaman purun, rotan, pakis-pakisan dan juga pohon khusus lahan gambut namun ukurannya tidak sebesar pohon di tanah mineral.

Tanah kalau gak subur kelihatannya gak berfaedah, terus buat apa Allah ciptakan kalau gak bermanfaat? Nah itu, jangan-jangan bukan gak bermanfaat, tapi kitanya yang belum banyak tau rahasia penciptaan-Nya. Tanah gambut ternyata memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan alam. Ini dia 7 fakta menarik tentang gambut yang mungkin banyak orang yang belum sadari.

Spons Alam

Terbentuk dari serasah-serasah daun dan bahan organik lainnya membuat struktur tanah gambut tidak padat dan mempunyai pori-pori yang besar, seperti spons. Berat tanah gambut pun ringan dibanding tanah mineral. Namun tanah gambut punya kemampuan menyimpan air lebih banyak, berkali-kali daripada bobot keringnya. Bahkan hingga 850% dari bobot keringnya seperti yang dikutip dari Pantau Gambut.

Dengan karakteristik unik seperti ini, tanah gambut sangat bisa menyerap kelebihan air saat banjir dan mengeluarkan cadangan airnya ke sungai dan sekelilingnya saat kekeringan di musim kemarau. Persis seperti spons cuci piring yang menyerap banyak air lalu kemudian kita peras.

Dengan fungsinya ini, jelas gambut sangat membantu keseimbangan ekosistem dengan mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau.

Penyimpan Karbon Dunia

Gambut menyimpan karbon yang sangat tinggi karena pembusukan bahan organik yang tidak terjadi secara sempurna. Jika pada tanah mineral bahan organik cepat membusuk dan menjadi unsur hara, maka pada tanah gambut bahan organik (daun, ranting, batang, hewan mati) tidak bisa membusuk dan menjadi unsur hara. Lalu itu semua menjadikannya simpanan karbon yang terkubur di dalam lapisan tanah.

Semakin tua umur gambut maka lapisan karbon juga akan semakin tebal. The fun fact: perlu waktu sekitar 2000 tahun untuk membentuk gambut sedalam 4 meter. Lapisan gambut yang tebal disebut kubah gambut. Dalam kubah gambut inilah tersimpan cadangan karbon paling banyak. Tahukah kalian di mana kubah gambut paling tebal di dunia? Keep scrolling, Guys!

Sebentar, kalian tahu Amazone? Hutan Amazone sebagai hutan hujan tropis terluas di dunia diperkirakan menyimpan karbon di dalamnya sebesar 86 gigaton. Dan lahan gambut Indonesia yang seluruhnya ditotal gak sampai 5% luas Amazone punya simpanan karbon lebih dari setengah yang dimiliki Amazone. Itulah sebabnya lahan gambut Indonesia adalah disebut surga karbon karena dengan luasan yang kecil dibanding hutan hujan tropis tapi mampu menyimpan cadangan karbon sebesar 57 gigaton karbon.

Ilustrasi tentang gambut yang menyimpan karbon dari vegetasi di atasnya
(Sumber: Pantau Gambut)

Sumber Pangan, Ladang Pencaharian

Walau tidak subur untuk lahan bertani, tapi tanah gambut faktanya mampu menunjang perekonomian masyarakat lokal. Selain itu, juga jadi habitat untuk perlindungan keanekaragaman hayati.

Sebut saja, tanaman purun dan rotan yang jadi bahan anyaman, ikan gabus, kapar, biawan, gurame, sepat siam, kihung, toman, lais, saluang dan juga lele, sebagai ikan air gambut, dan ada juga sagu, jelutung, ramin, bangau (untuk obat-obatan), pakis-pakisan yang bisa dimakan, dll.

Gambut Kita Sultan

Kalian tahu, berapa % lahan gambut di dunia? Hanya 3% dari total luas daratan dunia. Dan 10% dari luas gambut dunia ada di Indonesia.

Jadi, aku itu baru tahu ya kalau gambut itu ada beberapa jenis. Ada gambut boreal, gambut subtropis dan gambut tropis (kalian bisa lihat gambar di bawah untuk tiap jenis gambut). Jika dilihat secara keseluruhan, gambut terluas ada di Kanada (170 juta hektar), Rusia (150 juta hektar, AS (40 juta hektar), Indonesia (13,43 juta hektar).

Sebaran lahan gambut di dunia
(Sumber: Pantau gambut)

Sedangkan untuk sebaran lahan gambut tropis terbesar dunia, Indonesia berada di urutan kedua dunia setelah Brazil dengan Hutan Amazone nya.

Dari 258.500 spesies pohon tinggi yang tercatat di muka bumi ini, 15% nya terdapat di lahan gambut Indonesia (35.000 spesies pohon tinggi). Juga terdapat 35 spesies mamalia. 150 spesies burung dan 34 spesies ikan di lahan gambut. Beberapa di antaranya dinyatakan endemik dan dilindungi oleh Badan Konservasi Alam Dunia, seperti; orang utan, buaya senyulong, langur (primata mirip monyet), harimau Sumatera, beruang madu, dan macan dahan.

Gambut Tropis Tertua di Dunia ada di Indonesia

The fun fact: ternyata lahan gambut tropis tertua di dunia ditemukan di pedalaman Kalimantan. Lahan gambut ini disebut lahan gambut purba karena terbentuk sejak 47.800 tahun lalu dan memiliki lapisan yang sangat dalam, yaitu 18 meter, setara dengan tinggi bangunan 6 lantai. Tepatnya di Putussibau, Kalimantan Barat lokasi gambut tropis tertua di dunia itu.

Putussibau adalah lokasi tempat lahan gambut tropis tertua di dunia dengan kedalaman 18 meter!
(Sumber: Pantau Gambut)

Perkiraan sebelumnya bahwa jumlah total karbon yang tersimpan di Kalimantan adalah 9,1 gigaton dan di Indonesia adalah 25,3 gigaton, itu terlalu rendah. Perlu lebih banyak data untuk melakukan perhitungan lanjutan agar hasilnya lebih akurat.

(Peneliti dari Department of Geography University of Oregon)

Karbon yang tersimpan itu bukan untuk dieksploitasi. Justru harus dijaga agar tidak keluar ke permukaan atau bahkan terbakar, karena jika gambut rusak "nyawa bumi" jadi taruhannya.

Gambut di Ujung Tanduk

Sayang seribu sayang, negara pemilik gambut terbesar dunia ini seperti belum memiliki literasi yang baik soal gambut. Melihat gambut ditumbuhi ilalang atau rumput liar (padahal mungkin yang dilihat itu purun tapi yang melihat gak terlalu paham), merasa sayang melihat lahan yang seperti tidak berfaedah, mereka lantas mengirimkan buldoser dan eksavator untuk mengeksekusi lahan gambut agar lebih "bermanfaat" ceunah, tentu bermanfaat versi kapitalis.

Siapa mereka? Orang-orang beduit tapi tidak paham soal urgensi gambut, bahkan beberapanya adalah kebijakan pemerintah, seperti program food estate di Pulang Pisau dan Kapuas, Kalimantan Tengah.

Lahan gambut yang basah mereka keringkan untuk dialihfungsikan. Apakah mereka tidak sadar sedang membuka jalan untuk karbon ke luar permukaan, membuatnya bereaksi dengan oksigen, dan jadi rentan terbakar?

Lahan gambut berbeda dengan lahan biasa, yang saat terbakar api tidak hanya ada di permukaan tapi juga masuk ke dalam lapisan bawah, membakar bahan organik di dalam. Inilah yang membuat Indonesia menjadi penyumbang gas rumah kaca no 1 saat karhutla besar-besaran tahun 1997, 2015, dan 2019 lalu.

Penurunan luas tanah gambut di Indonesia menjadi salah satu yang paling cepat di dunia. Terdapat 1,5 juta hektar penurunan luas lahan gambut dari 2011 - 1019.

The fun fact: Praktek mengeringkan 1 hektar lahan gambut di wilayah tropis akan mengeluarkan 55 metrik ton karbondioksida yang setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin!

Hanya soal waktu, surga karbon kita berubah menjadi neraka karbondioksida. Mengerikan memang, saat gambut berada di ujung tanduk.

Gambut dan Masa Depan Bumi

Gambut, hanya 3% dari luas daratan dunia. Gambut, tanahnya memang tidak subur untuk pertanian. Tapi gambut bukan lahan gabut yang bisa dialihfungsikan seenaknya. Ada masa depan bumi di sana.

Pencemaran Tanah dan Air

Jika gambut dirusak, akan terjadi pencemaran tanah karena pirit yang terkandung di dalam gambut akan teroksidasi menjadi senyawa beracun dengan kandungan besi dan aluminium. Ini akan meracuni perairan di daerah gambut, menjadi ikan-ikan dan hewan air lainny mati karena keracunan.

Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Kebakaran hutan di Kalimantan tahun 2015 dan 2019 menyebabkan banyaknya hewan yang mati terpanggang ataupun kehabisan oksigen. Padahal keberadaan mereka memperkaya biodiversity Indonesia yang menjadi terkaya di dunia no.2. Selain itu, berkurangnya flora dan fauna jelas akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan merusak rantai makanan.

Bencana Ekologis

Tidak percaya? Sini, tengok Kalimantan yang sekarang hujan dikit banjir karena spons alam kami sudah cacat. Coba sana tengok sesekali cuitan ahli BMKG yang sudah bilang perubahan iklim di Indonesia melaju lebih cepat daripada yang diperkirakan ahli klimatologi.

Kalian pernah menghirup asap bakaran sampah? Sesak bukan? Kami bahkan pernah berbulan-bulan tanpa henti menghirup asap karbondioksida dan metana hasil karhutla tahun 2015 dan 2019. Gambut ketika terjadi kebakaran memang akan sangat lama tertangani karena api hidup di atas dan di dalam lapisan tanah. Api atas dipadamkan, tapi api bawah tidak bisa kecuali api itu mati sendiri.

Asap kuning pekat yang terpaksa kami hirup sudah pasti berisi gas beracun. Parahnya lagi, gas tersebut mengangkasa, menambah tebal gas rumah kaca di atmosfer, membuat panas matahari terperangkap. Ujung-ujungnya terjadi pemanasan global yang berlanjut pada perubahan iklim (cuaca ekstrem, cuaca yang tidak bisa diprediksi lagi) dan jika tidak ada usaha untuk menahan laju perubahan iklim maka akan berakhir pada krisis iklim. Krisis iklim artinya krisis di semua sektor kehidupan.

Sekarang Bagaimana?

Melihat urgensitas gambut, rasanya gemes sekali bukan jika ada praktek pembukaan lahan gambut. Sudah terbayang-bayang karbon di dalamnya yang terkubur ribuan tahun akan rusak dalam sekejap, siap membentuk karbondioksida dan metana, mengirimkannya ke atmosfer.

Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Yang bisa kita lakukan dengan kapasitas sebagai rakyat adalah mendorong pemerintah agar serius dengan komitmen yang sudah dibuatnya sendiri untuk melindyngi dan mengelola lahan gambut yang berkelanjutan, seperti pada PP No.57 tahun 2016, PP No.71 tahun 2014 tentang Perlindungan Total pada Hutan Alam, Lahan Gambut, dan Daerah Pesisir dan juga Inpres No.5 tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Sebagai blogger yang sudah paham soal daruratnya fungsi gambut saya pun mempersembahkan tulisan ini untuk teman-teman pembaca. Semoga literasi tentang gambut dan perubahan iklim menjadi bertambah dan gerakan untuk mencegah perubahan iklim bisa bertambah masif. Ingat, Teman, perubahan iklim yang kini sedang terjadi tidak bisa diperbaiki ke kondisi semula. Namun kita bisa menahan laju perubahan iklim tersebut.

Butuh waktu ribuan tahun untuk membentuknya. Namun, hanya sesaat untuk merusaknya

Peatland is not wasted land

(Pantau Gambut)

Share This :

0 komentar