BLANTERWISDOM101

Smart Agriculture, Kemajuan Teknologi Digital untuk Mitigasi Krisis Pangan dan Iklim

Rabu, 12 Oktober 2022

 Smart Agriculture, Kemajuan Teknologi Digital untuk Mitigasi Krisis Pangan dan Krisis Iklim -Bismillah....

Saat itu, di tahun 2067, 45 tahun dari sekarang, profesi dokter dan engineering tidak lagi dibutuhkan. Adalah petani, profesi yang paling ingin dicetak di planet ini. Petani yang hebat yang bisa mengeluarkan penduduk bumi dari krisis pangan saat itu.

Badai debu hebat terjadi di mana-mana disusul gagal panen karena infeksi penyakit, membuat bumi pada tahun tidak layak huni lagi. Kekurangan makanan dan bencana alam menghantui. Jalan keluar satu-satunya adalah menjalankan misi luar angkasa demi mencari planet yang layak untuk ditinggali.

Perjalanan ratusan tahun cahaya dengan pesawat antariksa pun akhirnya dilakukan untuk menemukan planet kembaran bumi di galaksi seberang, entah dimana. Perjalanan menjadi sangat dramatis sampai-sampai harus (terhisap) masuk ke black hole untuk menyingkat perjalanan dan pada akhirnya terjebak pada dimensi antah berantah. Melelahkan dan nyawa taruhannya. Sandi pun dikirimkan dari astronot masa depan agar mereka yang saat itu terpilih tidak mengikuti misi itu.

Kalian sudah pernah nonton film Interstellar yang saya ceritakan tadi? Untuk film dengan visual effect terbaik di penghargaan Oscar 2015 kalian mesti nonton, sih.

Walaupun bukan film yang bisa bikin kita jadi refreshing otak, tapi film ini ngasih insight banyak, terlebih soal masa depan bumi. Walaupun film bukan peramal, tapi masalah masa depan planet bumi memang ditentukan hari ini. Ya, film science-fiction garapan Cristhoper Nolan yang rilis 2014 lalu mau tidak mau membuat saya cemas akan planet biru ini.

Simalakama

Kalian tahu berapa jumlah manusia di bumi sekarang? 8 Milyar populasi. Dan akan bertambah 500 juta orang lagi pada tahun 2030 dan total akan ada 9.7 milyar pada tahun 2050.

Lalu kebutuhan apa yang selanjutnya pasti bertambah? Ya, pangan. Prediksi ledakan populasi di tahun 2050 membuat sektor pertanian menjadi sektor yang mau tidak mau menjadi perhatian khusus dari sekarang.

Namun, sayangnya hal itu tidak berbanding lurus dengan jumlah pertanian. Lahan pertanian semakin menyusut tergerus oleh perumahan, pertambangan, dan industri.

Tapi sekali meluaskan lahan pertanian, eh, koq membabat hutan?

"Sudah puluhan tahun tinggal di sini, baru ini kami kena banjir"

(Warga Desa Tewai Baru, Gunung Mas)

Sejak 2021 ada fenomena baru di banyak kabupaten di Kalimantan Tengah: banjir. Sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya -atau paling tidak terjadi hanya di sebagian kecil wilayah. Tapi, tahun lalu tercatat 2x banjir parah di sini. Tahun ini sudah tidak tercatat lagi. Dari jalan provinsi hingga jalan tikus berlobang sana-sini, rusak dimakan banjir.

Kalimantan banjir? Koq bisa? Kan banyak hutan?

Bisa banget, apalagi terjadi setelah hutan rimba mengalami deforestasi, entah karena perkebunan sawit, pertambangan, dan bahkan food estate.

Food estate? Bukannya bagus?

Secara definisi Food Estate adalah sebuah program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah dengan penanaman tanaman pangan skala luas. Secara konsepnya food estate sangat patut untuk didukung karena program ini bermuara pada swasembada pangan nasional. Artinya jika program ini sukses kita tidak banyak lagi bergantung pada hasil impor, kita bisa tercukupi dari hasil panen di negeri sendiri.

Ditambah lagi kita adalah sebuah negara dengan predikat gemah ripah loh jinawi alias tanah surga.

Ever wet, ever green.

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Posisi di daerah tropis yang menerima panas dan hujan sepanjang tahun adalah potensi yang sangat besar untuk membesarkan sektor pertanian, karena jelas, kita tidak perlu bekejaran dengan musim salju yang membuat tanaman hibernasi. Pun, tanah kita bukan tanah gersang, tapi tanah subur yang lembab dan disukai mikroorganisme tanah.

Tapi sebagus-bagusnya potensi jika tidak dimanfaatkan dengan tepat, yang terjadi bukan berkah melainkan musibah. Yang perlu kita ketahui, Indonesia yang berada di wilayah tropis ini juga punya tanah gambut yang tidak begitu subur untuk dijadikan lahan pertanian.

Ya, ini tentang food estate yang bermasalah di Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Food estate yang direncanakan akan dilaksanakan seluas 1 juta hektar di Kalimantan Tengah ini salah satu program pemerintah agar Indonesia tidak tergantung pada gandum impor lagi. Sayangnya, jauh panggang dari api. Alih-alih swasembada pangan, singkong tidak bisa tumbuh di sana karena tanahnya tidak mendukung.

Lalu, apa yang terjadi? Belum lagi membuka 1 juta hektar, 634 hektar hutan yang sudah dikorbankan untuk program food estate menjadi sia-sia, karena percobaan menanami singkong seluas 32 hektar tidak berhasil. Ya, singkong gagal tumbuh, hutan ratusan hektar pun sudah terlanjur dibabat.

Akibatnya pun berefek panjang. Kalian tau, Gunung Mas yang notabene daerah hulu sekarang berubah gundul dan siap mengirimkan air setiap kali hujan datang. Imbasnya, wilayah yang tidak pernah banjir seumur-umur sekarang jadi langganan banjir. Sekarang dalam setahun bisa 1-3x.

Belum lagi jika bicara soal dampaknya pada perubahan iklim. Yap, deforestasi mengirim 20% emisi karbondioksida ke atmosfer. Membuat perubahan iklim (dan juga krisis iklim) menjadi kian parah.

Ternyata sektor pertanian dampaknya luas. Tidak hanya soal ketahanan pangan, tapi juga sampai ke masalah perubahan iklim. Maka, mengelola sektor ini perlu kebijakan yang memperhatikan banyak hal.

Kemajuan Teknologi Digital di Bidang Pangan untuk Efisiensi

Berbicara masalah pangan berarti berbicara soal pertanian.

Seperti sedang berkejaran dengan waktu, kita dihadapkan pada masalah pangan yang terdampak karena perubahan iklim. Perubahan iklim membuat cuaca tidak menentu dan datang secara esktrem. Jika panas, panas sampai kekeringan dan kebakaran hutan (seperti yang terjadi di Eropa, Turki, dan Australia), dan jika hujan, hujan sampai datang air bah dan merendam seluruh kota (seperti Indonesia, Korea, Cina).

Maka, memanfaatkan teknologi digital saya pikir adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mencapai target efisiensi di bidang pertanian dan pangan.

Mungkin kita bisa belajar banyak dari negara Jepang, Korea, dan negara Timur Tengah yang kini berhasil menumbuhkan lahan pertanian di negara mereka dengan kondisi serba terbatas dengan pemanfaatan kemajuan teknologi digital yang dikenal dengan Smart Agriculture.

Pertanian Presisi

Pertanian presisi adalah konsep pertanian yang bertujuan untuk menciptakan sistem pertanian yang mengoptimalkan penggunaan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan juga mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Percepatan pengembangan pertanian presisi di Indonesia juga sangat bergantung pada pemanfaatan teknologi modern saat ini. Teknologi yang diaplikasikan harus mampu dalam: mendeteksi apa yang ada di lahan, memutuskan apa yang akan dilakukan, dan memberikan perlakuan yang sesuai dengan keputusan yang telah dibuat.

analisa smart agriculture
Kemajuan teknologi digital bidang pangan bisa mendeteksi kesehatan tanaman dan faktor lingkungan yang mendukungnya

Mengutip dari website Smart Farming UGM, bahwa saat ini berbagai jenis teknologi yang mendukung implementasi pertanian presisi sudah banyak dikembangkan, walaupun penggunaannya masih terbatas pada tataran riset dan uji coba.

Jadi bisa dikatakan bahwa transisi menuju pertanian presisi di Indonesia sudah melalui jalur yang benar. Apalagi jika didukung oleh internet murah untuk mengakses sistem pertanian presisi tersebut.

Berikut beberapa jenis teknologi dalam pertanian presisi yang bisa dicontohkan, antara lain; (i) Geographical Position System (GPS), (ii) Geographic Information System (GIS), (iii) Variable Rate Application (VRA), (iv) Remote Sensing System, (v) Yield Mapping, (vi) Database Management System (DBMS), Spatial Variability.

GIS pada pertanian
(Sumber: https://gis-university.com/gis-in-agriculture/)

Saat pengambilan sample tanah GPS akan mengirimkan data untuk menentukan jenis tanah tersebut ideal untuk tanaman apa. GPS juga membantu petani mengetahui ketersediaan air, pemetaan tanaman yang sudah siap dipanen dan menentukan estimasi hasil panen.

Teknik Drone untuk Mengecek Kesehatan Tanah dan Tanaman

Kita belajar banyak dari kegagalan food estate di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Sudah seharusnya pihak yang berwenang sebelum memutuskan untuk membuka lahan (yang artinya sama dengan membabat hutan) menganalisa bagaimana struktur tanah di sana. Jika sudah mengetahui struktur tanahnya dengan baik, prediksi perawatannya akan lebih tergambar.

drone untuk smart agriculture

Teknologi untuk menganalisa lahan pertanian tersebut sudah banyak dipakai di negara luar. Di Indonesia sendiri sudah ada yang namanya teknologi Drone Precision Farming. Drone untuk tujuan ini ternyata sedang dikembangkan oleh LAPAN pada proyek food estate di Agam dan Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, baru-baru ini.

Foto udara yang diambil dari drone akan dilakukan untuk mengumpulkan data lapangan yang kemudian yang berupa hasil pengujian smart sensor yang diaplikasikan pada drone smart farming.

Ini adalah hasil uji coba drone yang dilakukan Pustekbang LAPAN di areal pertanian Humbang Hasundutan, Sumatera Utara untuk mendukung program ketahanan pangan (food estate) yang dilaksanakan oleh Pemerintah.

Kemudian data tersebut akan menjadi 2 bagian, yaitu: Data NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), merupakan indeks yang menggambarkan tingkat kehijauan suatu tanaman, dan data NDRE (Normalized Difference Red Edge), yaitu indeks yang menganalisa apakah vegetasi tersebut sehat atau tidak.

Contoh hasil olah foto melalui drone pada kebun Jeruk
(Sumber: http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/drone-untuk-petakan-kondisi-tanaman/)

Dengan begini petani tidak lagi perlu mengecek satu per satu buah mana yang sehat, sakit atau mati. Cukup memantau hasil drone dan temukan titik koordinat pohon yang perlu perawatan ekstra.

Selain penganalisaan wilayah, drone juga digunakan untuk penyebaran benih, penyemprotan pupuk dan pestisida. Ini lebih efektif dan efisien karena drone berkapasitas 5 liter bisa menyemprot seluas 0.4 hektar dalam waktu 10 menit.

Bandingkan dengan metode konvensional dengan semprot manual. Teknologi drone jelas sangat menghemat waktu dan tenaga.

Smart Green House

Rumah kaca cerdas adalah salah satu bagian dari kemajuan teknologi digital bidang pertanian. Dengan bantuan internet, rumah kaca cerdas dirancang untuk mengamati pertumbuhan dan mengendalikan iklim. Smart green house ini nantinya akan dikendalikan menggunakan sensor elektrik sesuai dengan kebutuhan. Menggunakan server berbasis Cloud para petani bisa mengakses sistem dari jarak jauh.

Jadi nantinya petani akan bisa mengatur suhu, kelembaban dan pencahayaan yang ada di smart green house hanya dengan menggunakan aplikasi yang ada di gadget.

Canggih, beud, pak tani!

https://agrozine.id/smart-green-house-polbangtan-yoma-segera-dibangun-untuk-tingkatkan/

Jika semua terintegrasi dengan jaringan internet begini apa jadi gak boros listrik?

Bisa ya, bisa tidak.

Mungkin kita bisa mencontoh negara Timur Tengah yang membuat panel surya untuk kebutuhan listrik pertanian mereka. Dengan begini smart green house benar-benar menjadi "rumah pintar yang go green".

Smart Livestock Farming

Peternakan-pintar dengan menggunakan internet juga bertujuan meningkatkan efisiensi usaha peternakan.

Misalnya pada Smart Beef cattle management yang sudah diterapkan di luar negeri. Konsepnya pada ternak sapi dilengkapi dengan dua macam perangkat yaitu sensor yang mencatat kondisi sapi dan perangkat untuk identitas sapi (misalnya chip untuk nomor sapi). Pada sensor dilengkapi pengirim pesan data dan indentitas sapi, yang dapat diterima oleh stasiun GPRS, diteruskan ke sistem internet (cloud) yang kemudian bisa diterima oleh laptop atau HP (misalnya sistem Android) melalui online.

Lalu akan dianalisis status nutrisi ternak, body condition score (BCS), status reproduksi, keberhasilan perkawinan, bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan (berat dan tinggi badan), konformasi tubuh (rasio daging dan tulang), warna tubuh, dan status kesehatan.

smart farming pada kecanggihan teknologi digital pertanian
Konsep smart farming
(Sumber: https://www.innovaspain.com/los-ganaderos-de-america-latina-y-ee-uu-se-conectan-al-iot-con-telefonica-y-cattle-watch/)

Teknik ini tentu saja memudahkan monitoring peternak pada setiap sapi ternaknya. Data yang dikirimkan akan memberikan gambaran bagaimana kondisi kesehatan setiap hewan bahkan bisa mengetahui sapi mana yang perlu dikawinkan.

Tentang Internet of Things (IoT)

IoT adalah hal yang melekat pada era industri 4.0. Terlebih prediksi ledakan populasi manusia pada 2050 akan membawa dampak pada sektor pertanian. Jika tidak disiapkan dari sekarang, bagaimana ketercukupan pangan di masa datang?

Konsep IoT pada bidang pertanian didasarkan pada penggabungan berbagai proses, dari identifikasi masalah lahan dan tanaman (serta hewan ternak) sampai pembuatan jaringan berbasis komputasi untuk menyelesaikan masalah pertanian dan peternakan.

Populasi dunia yang diprediksi mencapai angka 9,6 milyar pada tahun 2050 tentu harus diimbangi dengan akselerasi teknologi di bidang pertanian dan peternakan dan juga internet murah sebagai pendukung utama IoT pada smart agriculture. Mengingat kita bekejaran dengan perubahan iklim dan semakin terbatasnya lahan.

Dengan bantuan IoT penggunaan pupuk dan pestisida pun menjadi hemat dan efektif yang akan mengurangi limbah pupuk dan pestisida yang merusak lingkungan. Tapi saya tetap menaruh harapan besar untuk pengembangan teknologi pupuk dan pestisida secara organik agar pertanian kita berkelanjutan dan tidak menambah parah climate change yang sudah terjadi.

Karena bagaimanapun sistem Smart Agriculture berkonsep sistem efisien dengan teknologi tinggi untuk membudidayakan tanaman pangan secara berkelanjutan.

android untuk teknologi digital pertanian

IndiHome Membantu Kemajuan Teknologi Digital Bidang Pertanian

Sistem pertanian dan peternakan cerdas berbasis IoT ini dalam pelaksanaannya punya hardware tersebut didukung oleh akses internet berkecepatan tinggi, perangkat seluler, dan satelit untuk melakukan pencitraan dan penentuan posisi.

Jika merujuk pada konsep awal Smart Agriculture yang bertujuan untuk menyediakan bahan pangan dengan low-cost maka diperlukan sebuah sistem yang mendukung untuk itu. Dan salah satu support utama nya adalah pada internet murah. Petani dan peternak biasanya mendapatkan perangkat hardware dan software dari pemerintah.

Berarti tinggal kuota internet saja yang diperlukan oleh petani kita. Tentu kemajuan teknologi pertanian secara digital tidak akan dirasa mudah jika biaya internetnya mahal. Oleh karena itu internet murah menjadi bagian wajib dari keberhasilan smart agriculture and farming.

Salah satu penyedia internet di Indonesia adalah IndiHome yang ikut mendukung penyediaan internet murah yang bisa dirasakan hingga bagian pelosok tanah air. Petani dan peternak di bawah gunung sampai dekat pantai pun bisa mengakses aplikasi dengan mudah dan tanpa khawatir terbentur biaya internet karena IndiHome berkomitmen menyediakan internet murah untuk pengembangan teknologi pertanian cerdas Indonesia.

Ditambah lagi jaringan infrastruktur Telkom di Indonesia yang sudah memiliki serat optik sepanjang 170.885 km, 251.116 BTS dan 14,1 juta optical port telah membantu 8,6 juta pelanggan IndiHome tersambung dengan dunia melalui internet.

Tahun ini 57 tahun sudah umur Telkom Grup, pastilah ada andil mereka pada angka literasi digital masyarakat negeri ini yang mencapai indeks 3,49 dari 5. Sebuah angka yang menandakan bahwa masyarakat kita sudah cukup matang menuju era society 5.0. Semoga angka itupun berbanding lurus dengan tingkat produktivitas, agar manfaat internet selalu menuju pada kebaikan.

Tahun 2022 ini pula Telkom Group mendapatkan penghargaan 17 emas, 3 perak, 3 perunggu dalam Grand Stevie® Award Asia-Pasific, mengalahkan 900 nominasi dari puluhan perusahaan teknologi dari 29 negara di Asia Pasifik. Luar biasa. 

Semoga prestasi ini membuat IndiHome semakin bersemangat menyediakan internet murah bagi rakyat Indonesia, khususnya para petani dan peternak, pahlawan pangan kita.

Kesimpulan

Untuk mitigasi krisis iklim dan krisis pangan, smart agriculture adalah salah satu solusi untuk menciptakan pertanian yang efisien dan ramah lingkungan serta memaksimalkan hasil produksi dengan teknologi digital. Maka dari itu perlu support dari semua pihak, baik petani, pemerintah, masyarakat dan juga penyedia internet murah untuk pertanian kita agar smart agriculture bisa segera dicapai dan berdampak masif.

Referensi

https://smart-farming.tp.ugm.ac.id/2020/09/13/pengembangan-konsep-pertanian-presisi-di-indonesia/
https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/index-berita/teknologi-smart-greenhouse
https://agrozine.id/smart-green-house-polbangtan-yoma-segera-dibangun-untuk-tingkatkan/
https://eduwara.com/canggih-drone-lapan-bisa-deteksi-kesehatan-tanaman
https://fapet.ub.ac.id/iot-dan-smart-livestock-farming-untuk-tingkatkan-efisiensi-usaha-peternakan/

Share This :

0 komentar