Dari Mama Mertua, Aku Belajar Makna Rumah

Setelah menikah, saya baru menyadari kalau saya dan suami banyak perbedaan. Dulu, saya terbiasa main sepulang sekolah: naik pohon, main di sawah, tangkap ikan segede jari, sampai berburu tanah liat di pekuburan untuk prakarya sekolah. Lalu, pulang sebentar untuk sholat, makan siang, dan tidur siang biar gak dimarahi mama.

Lanjut, sebelum ashar berangkat mengaji di mesjid sampai jelang magrib. Setelah isya dan selesai mengerjakan tugas rumah, saya main lagi karena mendengar riuh rendah teman-teman yang ikut berhamburan ke luar rumah saat bapak-bapak mereka berkumpul setelah bekerja seharian. 

Main lagi, main lagi. Begitulah kehidupan masa kecil di kompleks karyawan pabrik dulu. Maklum, dulu tidak ada gadget, hiburan saya adalah main dan main. Rumah hanya tempat istirahat sejenak. Apalagi kedua orangtua saya juga bekerja seharian. Dan saya tumbuh menjadi ekstrovert yang mendapat energi ketika berkumpul dengan orang banyak.

Ternyata seiring berjalannya waktu, saya bertemu jodoh yang punya sifat kebalikannya. Baginya, rumahnya adalah pusat energinya. Padahal mertua juga keduanya juga bekerja, tapi berbeda dengan kami, mereka tidak sering berkumpul dengan tetangga walau tetap berhubungan baik. Mungkin beda frekuensi.

Ketika menikah dan harus tinggal sementara di rumah mertua, saya membayangkan akan tidak betah seperti saya biasanya jika bermalam di rumah orang. Belum lagi kisah-kisah pengalaman mama mertua vs menantu perempuannya yang sering diceritakan kurang akur. 

Ujian pertama pun datang: Selamat Datang di Pondok Mertua Indah!

 

Kalian tau kenapa mertua perempuan dan menantu perempuan dikatakan sering tidak akur? Itu karena keduanya terlahir sebagai makhluk yang sama-sama didominasi perasaan. Bahkan ada yang bilang sebaiknya mertua dan menantu perempuan tidak bisa di bawah satu atap.
Bagaimana dengan kami? Tidak bisa dipungkiri, hidup dengan mertua memang tidak semudah hidup dengan orangtua sendiri. Ada banyak ranah yang sensitif ketika coba diutarakan. Tapi itu semua karena proses adaptasi karena masing-masing kita punya karakter yang dibawa. Dan anggap saja itulah bagian dari kehidupan, masalah datang untuk mendewasakan, walau terkadang dibayar dengan tangisan.
Tapi, tidak bisa dipungkiri juga bahwa banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mertua saya. Karena jujur, ketika pertama kali masuk ke rumah itu sebagai anggota keluarga mereka saya merasakan rumah ini homy, hangat, dan saya sebenarnya…..betah! 
Bahkan saya pernah menuliskannya di blog ini untuk mengundang semangat positif yang saya dapat dari rumah itu.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa mama mertua lebih senang di rumah ketika pulang kerja daripada menenangga. Alhasil beliau banyak berkutat dengan kegiatan rumah tangga. Rumah yang bersih, perabot yang tertata rapi, berkas-berkas yang tersimpan rapi, dan kegiatan domestik yang punya jadwal tetapnya. Untuk hal ini mama mertuaku bisa dibilang perfeksionis, apalagi jika dibandingkan dengan menantunya yang random ini.

Pada fitrahnya, sebenarnya manusia cenderung menyukai keteraturan, seperti kehidupan yang diciptakan teratur oleh Sang Pencipta

Ya, satu hal yang saya pelajari dari mertua bahwa kerapian rumah sangat mempengaruhi mood penghuni di dalamnya. Walau percikan konflik di awal itu selalu ada, tapi keteraturan yang menjadi aturan tak tertulis di rumah itu membuat saya cepat beradaptasi dengan ritme keluarga itu. 

Bahkan saya yang seorang stranger saat itu langsung hapal di mana letak piring makan, mangkok, panci, wajan, nampan, baskom, sendok sayur, sendok makan dan hampir semua printilan di dapur. Keteraturan itu yang membantu untuk mudah beradaptasi di keluarga baru ini. 

Rumah Tempat Mendidik Generasi

Selain soal kerapian dan keteraturan mengatur rumah, mama mertua juga berhasil mendidik ke-4 anaknya. Si bungsu kembar sudah hampir selesai kuliahnya di kedokteran umum dan kedokteran hewan. 

Apa rahasianya?

Saya coba meraba dari sedikit yang saya lihat. Mertua saya selalu menyempatkan mengobrol dengan anak-anaknya. Terkadang beliau menceritakan perjuangan hidup mereka di awal membangun rumah tangga, terkadang memberi petuah hidup, dan terkadang memberi contoh dari kehidupan masa lalu agar bisa kami ambil baik dan buang yang buruknya. 

Keluwesan berkomunikasi inilah yang kemudian membuat anak-anaknya pun tidak segan bercerita balik, tentang sekolah dan teman-temannya. 

Saling terbuka seperti ini membuat fungsi rumah dalam mendidik generasi menjadi lebih mudah dilakukan. Support yang diberikan mertua ke anak-anaknya juga tidak segan disampaikan. 

Dari sini saya melihat bahwa bonding antara orangtua dan anak yang baik akan membuat anak selalu dalam koridor yang benar karena anak-anak mendapat teladan dari rumah mereka. Bukankah jamak kita lihat sekarang, betapa banyak generasi muda yang limbung dan salah pergaulan. Saat butuh bantuan enggan pulang ke rumah karena bagi di rumahnya tidak ada support keluarga, lebih jauh lagi, tidak ada bonding mereka dengan orangtuanya.

Kalau begini, betul kata Ayah Edy bahwa mendidik generasi kuat berasal dari keluarga yang kuat, “Indonesia strong from home

Sudah seharusnya tempat ramah itu bernama rumah, karena anak belajar kuat menghadapi kehidupannya nanti darimana kalau bukan dari rumah yang menguatkan

Makna Rumah

Makna rumah yang dipahami masing-masing orang memang akan berdampak pada bagaimana orang tersebut memperlakukan rumah. Rumah, lebih dari definisi fisik, dia adalah definisi emosional. Ketika anak senantiasa ingin pulang, bagaimanapun fasad rumahnya, selama dia tertaut hubungan emosional yang baik, maka baginya rumah adalah pulang, bukan singgah.

Sebagai seorang ibu, menjadikan rumah tempat ternyaman untuk pulang adalah sebuah PR yang menurut saya tidak ada kata selesai. Bagaimana menjadikan rumah yang sudah dibangun oleh suami menjadi tempat bernaung yang di dalamnya ada kehangatan sekaligus kekuatan untuk bersinergi dalam kebaikan.

Belajar dari mama mertua, saya melihat rumah yang nyaman tidak hanya rumah yang bersih, teratur, dan tersusun rapi tapi juga hangat, selalu menjaga komunikasi, dan penuh pengajaran.

A husband gives a house, but a wife gives a home

Tentang Olymplast

Jika bicara soal kerapian rumah, pasti tidak jauh-jauh dari istilah estetik. Ya, rumah estetik. Kemunculan trend hunian estetik beberapa tahun ini semakin menjadi-jadi saat pandemi 3 tahun lalu. Setidaknya itu membuktikan bahwa rumah adalah tempat yang paling diusahakan untuk nyaman. Karena rumah yang nyaman akan bikin betah dan selalu memanggil untuk pulang.

Untuk memfasilitasi itu, Olymplast menghadirkan perabot rumah tangga berbahan plasti kuat dan tebal. Bukan perabot plastik yang bentuknya kaku, Olymplast justru menciptakan produk plastik yang estetik. Ada yang colorful, ada juga yang bernuansa woody yang hangat dengan menggunakan motif plastik serat kayu.

 

meja olymplast
OCT R Table, meja Olymplast dengan motif anyaman rotan, bisa dilipat dan dibawa-bawa
kursi olymplast
OL 212 Chair, kursi Olymplast dengan konsep cantik, unik, dan penuh gaya. Tekstur doff dan kaki anti slip
baby locker olymplast
OBL Baby Locker, penyimpanan yang luas dengan classic handle dan tekstur kayu
kitchen locker olymplast
OKL, Kitchen locker dengan classic handle dan penyimpanan alat dapur yang cukup luas
drawer olymplast
Drawer Olymplast di toko perabot di kota saya

Perusahaan yang sudah berdiri 7 tahun ini memang berkomitmen untuk membantu para keluarga yang ingin menciptakan rumah yang nyaman dengan konsep modern, berkelas dan berkualitas. Dengan melihat beragam produknya yang kebanyakan berfungsi sebagai organizer, tidak diragukan lagi kalau Olymplast juaranya rapikan rumah.

Sekarang perabot plastik berhamburan di marketplace dan ini membuat saya sempat bingung memilih produk yang baik. Kebanyakan sekarang produk impor tanpa brand dengan harga murah meriah namun tidak bertahan lama. 

Mama mertua mengajarkan bahwa membeli barang dengan membeli kualitas, bukan membeli harganya. Jadi tidak heran kalau di rumah mama mertua perabotnya awet-awet dengan umur belasan dan puluhan tahun. 

Dengan melihat visi perusahaan yang satu grup dengan Olympic ini, saya tahu bahwa mereka benar-benar memproduksi perabotan rumah tangga yang berkualitas dengan bahan tebal yang bisa dipakai dalam jangka waktu lama.

Rumah, tempat pulang yang nyaman melepas penat dan lelah, selalu menguatkan saat kita datang dalam kondisi lemah karena badai di luar sana. Tempat berbagi cerita, tempat berkontemplasi, tempat menghimpun energi. Karena rumah tempat pertama memulai kehidupan yang lebih baik, seperti suami dan istri yang punya ego masing-masing namun belajar bersinergi, seperti orangtua dan anak yang selalu berusaha saling memahami, dan seperti mertua dan menantu perempuan yang berusaha untuk menyamakan frekuensi.

Ingin kukatakan pada anak-anakku, “Betahlah di rumah, Nak. Jika kalian datang membawa sedih, marah dan kecewa karena di luar sana tidak selalu harus sesuai dengan ekspektasi, pulanglah dan uraikan dengan baik di rumah. Ada rumah yang selalu bisa jadi tempat pulang, alih-alih hanya singgah.


2 thoughts on “Dari Mama Mertua, Aku Belajar Makna Rumah”

Leave a Comment