Ada Jejak Karbon dalam Piring Kita

Ada Jejak Karbon dalam Piring Kita – Bismillah….

Makanan yang kita makan adalah hasil bumi yang ditumbuhkan oleh Sang Khalik. Untuk itulah ada doa yang kita selipkan di setiap makanan yang kita makan. Doa sebagai rasa syukur dan doa untuk keberkahan pada makanan kita. Bagaimanapun, makanan lah yang menegakkan tulang punggung kita agar bisa bekerja.

Sayangnya, layaknya mata pisau, makanan juga punya sisi lain yang berdampak negatif. Banyak yang tidak menyadari bahwa sektor agrikultur dan farming tempat makanan itu berasal adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca. Gas rumah kaca yang makin tahun makin tebal itu menyebabkan pemanasan global hingga perubahan iklim yang sekarang dampaknya terpampang nyata.

Mari kita lihat berapa emisi karbon yang dihasilkan dari setiap bahan pangan berikut.

Jejak karbon dari yang kita makan

Wow!

Aku terhenyak melihat ini. Bagaimana bisa makanan yang tidak bersalah ini bisa dianggap pengemisi karbon?

Jejak Karbon

Tunggu dulu. Semoga kalian tidak salah menyimpulkan. Kita adalah makhluk hidup dan perlu makan. Itu benar. Tapi, makanan yang kita makan juga meninggalkan jejak karbon. Itu juga benar.

Apa pula itu jejak karbon? Mari kita bahas sebentar.

Jejak karbon adalah ukuran emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan manusia. Dan dalam konteks ini berarti semua kegiatan yang berkaitan dengan makanan menghasilkan emisi karbon, dari proses penanaman (menggunakan traktor), perawatan (pupuk kimia pabrikan), panen (menggunakan mesin dan traktor), manufaktur (jika produk kemasan), sampai distribusi (mobil pengangkut). Makin jauh jaraknya ke tangan konsumen, makin panjang jejak karbonnya.

Contoh jejak karbon dari 1kg kopi
Sumber: Sustaination

Jadi, sikap yang bijak terhadap makanan adalah makan secukupnya saja agar tidak ada yang terbuang percuma (food waste). Selain membuat panjang jejak karbon makanan, food waste juga punya ancaman lain: emisi metana.

Fakta Food Waste

Untuk urusan food waste ternyata Indonesia ada di peringkat kedua dunia, tentu bukan prestasi yang bisa dibanggakan Indonesia.

SUmber: The Economist Intelligence Unit

Data yang diambil dari The Economist Intelligence Unit menyatakan bahwa Indonesia merupakan penghasil food waste kedua terbesar di dunia. Data ini juga memaparkan bahwa setiap masyarakat Indonesia menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahun. Ini sama saja tiap hari, tiap orang membuang 1 kg makanan! Entah itu makanan yang tidak habis dimakan, makanan yang basi atau bahan pangan yang membusuk di penyimpanan.

Dari KataData, dengan banjir sampah sebanyak itu di Indonesia sama saja kita kehilangan Rp 550 trilyun atau setara dengan memberi makan 60-125 juta penduduk. Di sisi lain, tingat kelaparan di Indonesia peringkat ketiga se-Asia Tenggara. Ironis ya…

Selain itu, food waste (food loss) juga menghasilkan emisi metana sebagai salah satu gas rumah kaca. Makanan, sejak awal produksi sampai ke piring kita saja sudah meninggalkan jejak karbon. Pas kebuang, eh, meninggalkan gas metana pula. Ckckck. Sedih ya. Tapi gimanapun juga kita gak bisa gak makan, kan, untuk tetap bisa hidup? Terus gimana donk?

Yuk, simak tips berikut!

Tips Mengurangi Jejak Karbon Makanan

Tandaskan makananmu

Pernah gak dengar restoran AYCE alias All You Can Eat yang memasang aturan denda bagi setiap pelanggan yang tidak menghabiskan makanan yang sudah diambil? Aku jelas setuju sekali dengan konsep ini. Restoran memang salah satu tempat di mana food waste sering terjadi. Memberikan denda pada orang yang seenaknya menyisakan makanannya adalah cara terbaik.

Sumber: Cleanplateri

Terlepas dari konsep restoran ini, kita memang seharusnya tidak bermudah-mudahan untuk membuang makanan kita begitu saja. Apalagi sekarang kita tahu bahwa setiap inci makanan yang terhidang sudah melewati proses yang melibatkan emisi karbon. Makin panjang prosesnya, makin panjang jejak karbonnya.

Beli bahan pangan lokal

Membeli bahan pangan lokal juga satu tips yang ampuh untuk mengurangi jejak karbon pada makanan. Sebab apa?

Bahan pangan lokal artinya bahan pangan yang tersedia di dekat tempat tinggal kita, di sekitaran kita. Jika ingin buah, pilih buah lokal. Tidak perlu durian impor Thailand, cukup durian Katingan saja sudah manis legit. Pun sayur-sayuran, seperti lebih memilih beli seledri lokal walaupun kecil-kecil daripada seledri impor yang besar-besar.

Membeli bahan pangan lokal juga ikut membantu para petani di sekitar kita agar berdaya dan mengurangi potensi food loss pada rantai distribusi.

Tanam makananmu sendiri

Ada beberapa jenis sayur yang bisa kita manfaatkan sisa batangnya setelah proses memasak, misalnya; kangkung, bayam, katuk. Aku sering melakukan ini dengan mencoba konsep permakultur. Jadi, permakultur ini adalah proses berkebun / bertani dengan menanam tanaman yang biasa dimakan sehari-hari dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dengan menanam sendiri, jelas sudah kita bisa mengurangi jejak karbon secara signifikan, terlebih pada rantai distribusi. Selain itu, kita juga bisa memastikan hasilnya 100% organik. Pun kita juga bisa turut menghidupkan tanah zaman now yang menurut penelitian sudah sangat jauh keseburannya dibanding seratus juta tahun lalu. Yap, dengan memastikan hasil pekarangan kita organik, itu sama saja dengan menghidupkan kembali tanah kita dengan siklus nutrisi alam.

“From garden to table” can reduce carbon fingerprint

Kurangi makanan kemasan ultra proses

Makanan kemasan punya beberapa masalah. Pertama, makanan kemasan melewati perjalanan yang panjang sejak dari bahan baku, manufaktur sampai distribusi. Jejak karbon mereka sangat terpampang nyata. Kedua, makanan kemasan selalu dibungkus plastik yang mana akan menghasilkan sampah plastik yang sulit diurai. Ini baru soal lingkungan, belum lagi kalau membahas soal kesehatan.

Bikin kompos dan eco enzyme

Membuat kompos dan eco enzyme adalah langkah terakhir untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan makanan. Adakalanya memang kita tidak bisa mengonsumsi makanan secara keseluruhan, misal kulit buah atau buah yang terlihat baik saat dibeli tapi ternyata berulat di dalam (misal jambu atau mangga).

Maka langkah yang paling tepat adalah mengubah mereka menjadi kompos dan eco enzyme. Jika kompos adalah menggunakan sisa bahan organik yang cenderung busuk, maka eco enzyme menggunakan sisa bahan organik (kulit buah) yang segar. Kompos ini nantinya bisa kita gunakan untuk menyuburkan tanah sekaligus menutrisi tanaman. Kompos membuat siklus nutrisi alam terjaga dan tidak meninggalkan residu seperti pupuk sintetis yang berpotensi desertifikasi dalam jangka waktu lama. Lalu, eco enzyme digunakan sebagai bahan pembersih alami yang ramah lingkungan dan kesehatan.

Mengikuti akun pegiat kebun organik dan zero waste

Sudah dua tahun ini aku mengikuti akun Instagram pekebun organik dan organisasi filantropi yang mengampanyekan zero waste. Mba @britaniasari dan Mba Andini @021suarasampah adalah salah dua inspiratorku. Dengan mengikuti semua kegiatan mereka di Instagram, aku jadi lebih semangat mencontoh dan menambah wawasan baru.

Ikut challenge Team Up for Impact

Apa tuh challenge Team Up for Impact (TUFI)?

Jadi ini adalah tantangan untuk kita bisa mengurangi jejak karbon di setiap kegiatan kita sehari-hari. Di website TUFI ini kalian bisa dapat insight baru bagaimana memulai langkah hidup berkelanjutan. Gak hanya soal sektor transportasi dan makanan, bahkan ada juga sektor digital yang belum banyak kita sadari. Yup, ternyata ranah digital juga menghasilkan emisi karbon.

Gimana caranya?

1. Masuk ke website TUFI di https://teamupforimpact.org/team-up-everyday/play

2. Lalu akan muncul kotak dan klik “Ikuti Tantangan”. Klik juga “Mulai Bermain

3. Setelah muncul gambar pohon, klik yang ada tulisan di bawahnya “Team Up For Impact Everyday.

4. Akan muncul list tantangan yang direkomendasikan hari ini. Kita bisa pilih salah satunya yang paling bisa dilakukan hari ini.

5. Scroll ke bawah, akan ada challenge Team Up For Impact berdasarkan enam kategori; sampah, makanan, digital, energy, bisnis hijau, aktivisme

6. Pilih kategori kalian dan masuk ke dalam challenge-nya.

Yuk, ikutan!

Kalian juga bisa ikutan dan pilih challenge #BersamaBergerakBerdaya yang kamu banget alias yang paling dekat dan bisa dikerjakan dengan mudah. Kalian juga bisa ikutan giveaway sambil bikin reels. Biar makin banyak yang mendukung dan ikut kampanye peduli lingkungan mulai dapur kita sendiri.

8 thoughts on “Ada Jejak Karbon dalam Piring Kita”

  1. Aku sekarang juga belajar, mengutamakan pembelian pangan lokal. Terutama buah-buahan tuh. Karena buah lokal tuh sebenarnya banyak banget.

    Reply
  2. Agak syok lho waktu tahu Indonesia merupakan penghasil food waste kedua terbesar di dunia. Lebih ke miris sii tepatnya. Jadi emang bener banget sosialisasi gerakan #HabiskanMakananmu biar ngga ada lagi food waste. Atau kalaupun ada yang sisa, kita pribadi wajib bertanggung jawab dengan melakukan pengolahan kaya bikin EE atau kompos gituu yhaa.

    Reply
  3. Zaman dulu, kalo makanan gak abis, katanya ayamnya bisa mati.
    Kadang kalo dipikir-pikir, kenapa anak dulu nurut-nurut yaa..
    Mungkin terletak di pengolahan makanan yang zaman dulu jarang ada makanan instan kaya sekarang.
    Jadi selain mengolah makanan dengan penuh cinta, jangan lupa untuk menghabiskannya hingga bersih. Ternyata hal sesimple ini bisa bantu jaga bumi kita tetap lestari.

    Reply
  4. ternyata selama proses penanaman tanaman sampai jadi sajian makanan di atas piring pun ada jejak karbonnya ya. beli bahan makanan real food, minim proses pengolahan, selain lebih sehat lebih minim jejak karbon yaaa.

    Reply

Leave a Comment