Kapan Indonesia Merdeka dari Karhutla?

Kapan Indonesia Merdeka dari Karhutla? – Bismillah….

Kemarin aku dan dua orang teman lainnya membahas berita kebakaran lahan terbaru di Bati-Bati, yang mana lokasinya berdekatan dengan kampung halaman kami bertiga. Walaupun itu bukan hal baru tapi tetap saja melihat api berkobar dan asap membumbung tinggi -seakan ingin melahap kampung tersebut- rasanya tetap saja masygul.

Kemudian salah seorang dari mereka menyeletuk,

“Kenapa ya kebakaran hutan selalu dekat-dekat Agustusan (red: 17 Agustus)”.

Ingatanku seketika melambung ke 8 tahun silam, 18 Agustus 2015, hari pertama di momen pertama kali dalam hidupku menghadapi bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalteng.

“Karena Agustus bertepatan puncak musim kemarau”, jawabku.

Jika hujan identik dengan banjir. Maka kemarau identik dengan kebakaran.

Tapi ini bukan tentang sunatullah. Ini kerusakan.

Sebuah Lingkaran Setan

Kalian tahu, kan, istilah lingkaran setan? Itu adalah sebuah penyebutan untuk situasi yang malah diperburuk oleh upaya yang dilakukan untuk menyelesaikannya. Akhirnya upaya itu hanya berakhir menjadi masalah yang lebih berat dan berulang-ulang.

Maka, dalam konteks ini lingkaran setan itu dimulai dari intervensi manusia yang berlebihan dengan mengalih-fungsikan lahan gambut. Seperti yang kita tahu bahwa lahan gambut adalah tempat dimana harta karbon bumi seharusnya tetap terpendam. Namun jika kegiatan pengalih-fungsian gambut dilakukan (dengan membuka, mengeringkan, dan membakarnya), maka yang akan terjadi adalah pelepasan karbon ke atmosfer yang akan menambah selimut polusi alias gas rumah kaca. Selanjutnya akan memicu dan memperparah pemanasan global yang ditandai dengan anomali cuaca, intensitas hujan yang berlebihan namun di tempat lain kemarau panjang dan kering. Dan yah, apa yang terjadi ketika kemarau kering bertemu dengan gambut rusak dengan karbon yang terangkat? Kebakaran. Siklus pun berputar lagi dan semakin memperparah kondisi yang sudah ada.

alih fungsi lahan gambut

Gambut Sepenting Apa?

Apa itu gambut dan kenapa dia sepenting itu, sebenarnya sudah aku tulis lengkap di artikel tahun lalu, waktu kami, EEcoBloggerSquad 2022 mengadakan online meeting bersama Pantau Gambut.

Baca juga: Dari Ribuan Tahun Silam Hingga Nasib Bumi Masa Depan, Inilah 7 Fakta tentang Gambut

Jadi, intinya gambut itu terbentuk dari bahan organik (serasah daun, kayu lapuk, jasad hewan) yang tidak terurai dengan sempurna karena terendam air dan terjadi selama ribuan tahun, membentuk endapan tebal (kubah gambut). Semakin tebal lapisan, maka semakin banyak kandungan karbonnya (yang harus dijaga tetap di dalam tanah).

Sayangnya, gambut ini disamaratakan dengan lahan biasa, sehingga beberapa oknum membuka dan mengeringkan gambut seenaknya, yang berdampak pada kerusakan struktur gambut yang membuatnya kering. Gambut harus tetap basah, Teman. Karena jika kering dia akan cepat terbakar dan susah dipadamkan.

Sejarah Karhutla di Indonesia

Ternyata pernah terjadi kebakaran hutan dan lahan besar-besaran di Indonesia sebelum tahun 2000. Waktu itu mungkin aku masih kelas 1 SD dan belum terdampak saat itu. Berikut karhutla besar di Indonesia yang akan tercatat sepanjang sejarah.

1. Karhutla 1997

Karhutla di era orde baru ini sebagai dampak dari program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah dengan membuka lahan di Sumatera dan Kalimantan, dimana lahan gambut Indonesia berada. Akibatnya, kebakaran besar-besaran pertama yang terekam sejarah.

  • Luas hutan terbakar 11.7 juta hectare, kerugian akibat kebakarannya saja USD 1.62-27M
  • Kerugian akibat kabut asap: USD 674-799 juta
  • Kerugian terkait emisi karbon: USD 2.8M
  • Pesawat Garuda GA 152 jatuh di Sibolangit karena kabut asap
  • Korban 234-jiwa 20 juta orang terkena polusi udara dan pencemaran air, secara langsung dan tidak langsung
  • Di Papua, ratusan warga meninggal karena transportasi untuk makanan dan keperluan suplai lainnya di pedalaman terhenti akibat asap
  • Jumlah Ernisi 0.81-2.7 gigaton setara CO2 Asap sampai ke negara-negara sebelah, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam jugo Thailand, Fillipina serta Australia
Pesawat Garuda yang jatuh di Sibolangit, September 1997 karena asap. 234 tewas
(Sumber: Tribun Medan)

2. Karhutla 2015

  • Kebakaran hutan dan lahan gambut seluas lebih dari 2,6 juta ha (33% di lahan gambut) terjadi di 32 provinsi, yang terbesar di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Papua Hilangnya kayu atau produk non-kayu, serta habitat satwa.
  • Kerugian lingkungan terkait keanekaragaman hayati diperkirakan sekitar $295 juta
  • Ribuan hektar habitat orangutan dan hewan yang hampir punah lainnya pun ikut hancur. Kabut asap terjadi di hampir 80% wilayah Indonesia. Asap yang dihasilkan dari karhutla turut dirasakan hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Sebanyak 120 ribu titik api dipadamkan lewat waterbombing, hujan buatan, dan pemadaman darat. Untungnya ada hujan besar di Oktober 2015 yang berhasil menurunkan jumlah titik api secara drastis.
  • Sejumlah 28 juta jiwa terdampak, 19 orang meninggal, dan hampir 500 ribu orang mengalami gangguan pernapasan atau ISPA. Racun yang dibawa oleh asap menyebabkan gangguan pernafasan, mata dan kulit, serta terutama sangat berbahaya bagi balita dan kaum lanjut usia, udara yang beracun tersebut mengandung karbondioksida, sianido dan amonium.
  • Sekitar 5 juta siswa kehilangan waktu belajar akibat penutupan sekolah pada tahun 2015
  • Jumlah Emisi 11GigaTon CO2
Karhutla 2015 di Jambi

Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 disebabkan oleh aktivitas membuka lahan, terutama di kawasan rawa gambut, di sekitar perusahaan bubur kayu (pulp), minyak sawit, karet, atau peternakan dan diperparah oleh El Nino.

3. Karhutla 2019

Empat tahun berikutnya datang karhutla 2019 dengan emisi karbon yang lebih banyak daripada 2015. Bahkan yang aku rasakan, karhutla 2019 datang lebih cepat. Jika 2015 asap mulai tercium sejak pertengahan Agustus, maka di tahun 2019 asap tipis mulai muncul sejak bulan Juni, dan puncaknya asap kuning nan pekat di bulan September.

Bukan editing saturasi. Benar adanya asap sekuning dan sepekat ini di karhutla 2019
(Sumber: CNN Indonesia)

Waspada Karhutla 2023

Ketika membaca tabel ini rasanya seperti sesak. Lagi-lagi Kalteng punya potensi tinggi untuk karhutla di tahun ini. Ya, bagaimana tidak, aku akui kalteng memang punya lahan gambut yang sangat luas. Bahkan di sepanjang jalan raya antar provinsi terbentang lahan gambut sepanjang mata memandang.

KHG = Kesatuan Hidrologis Gambut
Sumber: Pantau Gambut

Apa penyebab karhutla?

Penyebabnya adalah pembukaan lahan besar-besaran yang didominasi oleh perkebunan sawit.

Upaya Pengendalian Karhutla

Pencegahan

Penanganan kebakaran hutan dan lahan yang paling efektif adalah dengan melakukan pencegahan sebelum terjadinya kebakaran. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan sosialisasi terkait bahayanya kebakaran hutan, merevisi peraturan perundangan yang berkaitan dengan pemberian perizinan di lahan gambut, serta pengamatan titik rawan kebakaran yang lebih intensif.

Pemadaman

Proses pemadaman dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  • Pembuatan sekat bakar, yakni jalur yang dibersihkan dari bahan bakaran yang sengaja dibuat di wilayah yang rawan terjadi kebakaran untuk mencegah penyebaran api apabila terjadi kebakaran
  • Pemadaman manual dengan mobil pemadam kebakaran dan tangki air
  • Water bombing, yakni menjatuhkan bom air dari helikopter untuk memadamkan api
  • Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan cara penyemaian garam untuk menciptakan awan hujan di atas area yang terbakar.
Water bombing, biaya yang dikeluarkan untuk 1 jam pemadaman setara Rp 200 juta
(Sumber gambar: AntaraNews)

Penanganan Paska Kebakaran

Penanganan pasca kebakaran adalah semua usaha, tindakan atau kegiatan yang meliputi inventarisasi, monitoring dan evaluasi serta koordinasi dalam rangka menangani suatu areal setelah terbakar. Penanganan pasca kebakaran dapat dilakukan dengan pembuatan kebijakan mengenai restorasi gambut, melakukan restorasi gambut (rewetting, revegetation, revitalitation) yang telah terdegradasi serta monitoring.

Penutup

Ada banyak lagi fakta lain yang disampaikan Kak Ola Abas dari Pantau Gambut. Setelah 3 tahun berturut-turut kita menghdaapi kemarau basah karen La Nina, tahun ini kita akan H2C memasuki musim kemarau yang kebagian fase El Nino yang kering dan panjang, sehingga kerentanan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia juga makin meningkat. Ingat, kan, lingkaran setan yang di awal?

“Karhutla tahun 2023 lebih masif lagi dari tahun sebelumnya bila tindakan pencegahan tidak dilakukan,” sebut Kak Iola.

Ketika sudah sadar dengan gentingnya nasib bumi di masa depan, tentu saja kita pasti merasa harus berbuat sesuatu. Apa ya hal sederhana yang bisa kita lakukan?

Coba ikutan #TeamUpForImpact Challenge #UntukmuBumiku dengan masuk ke website berikut dan ikut tantangan setiap hari. Ada puluhan tantangan yang bisa kamu lakukan menyelamatkan bumi. Bergabunglah dengan 1000 lebih peserta di sini. Oh ya, setiap orang yang mengikuti tantangan ini akan memperoleh poin. Kalau kamu berhasil mencapai 1.400 poin, kamu bisa punya sebuah pohon atas nama kamu.

Kapan lagi ya kan? Jangan lupa ikutan challenge-nya ya.

Leave a Comment