Detox Medsos Selama 2 Minggu, Apa Kabar Diriku?

Detox Medsos Selama 2 Minggu, Apa Kabar Diriku? – Bismillah…

14 hari sudah saya memutuskan untuk uninstall FB dan IG. Wacana sejak akhir tahun tadi, akhirnya bisa juga terealisasi di bulan Februari ini. Kenapa cuma 2 itu aja? Karena 2 aplikasi itu yang paling banyak menyita waktu hanya untuk scrolling for nothing.

Tapi awalnya hanya diniatkan untuk aplikasi yang washing my time karena saya sering lost control. Kalian gitu juga gak sih? scroll berita ini itu, jadi tsunami informasi dan otak udah kayak lelah banget. Yang awalnya hanya ingin mencoba sepekan, ternyata ketagihan jadi 2 pekan. Tiktok, Telegram dan Twitter pun kena imbasnya. Nyahahaha…..

Apa Urgensitasnya?

Mungkin bagi beberapa orang, tidak punya FB, IG, Twitter dan Tiktok itu bukan hal yang susah. Tapi beda halnya bagi orang yang memang kerjaannya sebagai content creator. Medsos adalah tempat mencari job adalah tempat kami mendapatkan koneksi, inspirasi dan tidak lupa personal branding.

Jadi, kalau dibilang susah ya susah-susah-gampang. Saya perlu memantapkan sampai sebulan untuk ini. Ketika momennya pas saya langsung take down aplikasi medsos. Jadi sekarang hanya berteman dengan WhatsApp saja.

Ohya, sedikit cerita, dulu saya juga sempat detox medsos 2x. Saat Hanzo, anak bungsu saya dinyatakan mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan saat HP saya harus direparasi karena masuk mesin cuci *wkakakak.

Bedanya saat itu kondisinya saya terpaksa menjauh dari medsos. Tapi sekarang saya yang butuh.

Tersebutlah, seorang psikolog yang saya ikuti akunnya di IG mengajak followersnya untuk detox medsos selama 5 hari saat akhir tahun kemarin. Beliau bilang detox yang dilakukan bertujuan untuk menekan dopamin yang sudah membajak otak si empunya sehingga susah mengontrol diri alias jadi kecanduan media sosial.

Psikolog itu juga menyertakan ciri-ciri orang yang kecanduan medsos. Dan, duh! Saya masuk!

Lupakan inspirasi, lupakan personal branding, lupakan job untuk sementara waktu. Saya sudah haqul yaqin untuk saat ini, sampai saya merasa sudah bisa mengontrol medsos dan bukan dikontrol medsos.

Apa Rasanya?

Detox medsos selama 2 minggu, apa kabar diriku?

Ternyata diriku baik-baik saja. Whahahaha. Karena ini sudah kali ketiga saya memereteli aplikasi medsos dari HP, jadi rasanya gak kaget-kaget banget.

Duluu awal-awal saya detox medsos, saya sempat sakau, iya sakau……heuu (Eh itu sih yang HP “koma” 10 hari, detox medsos, detox HP). Tiga hari gelisah minta ampun, saya kangen nyetatus di FB, kangen baca status temen *halah, pokoknya kangen berinteraksi. Ya, maklum ya, tinggal di perantauan, saudara gak ada, tetangga “limited edition” jadi lah temennya di dunia maya.

Tapi sakau-nya itu 3 hari aja, bener-bener cuma 3 hari, setelah itu lama-lama bisa enjoy dan dipikir-dipikir lagi koq malah nyaman gak ada rasa ketergantungan medsos dan juga HP.

Jadi yang kali ini saya sudah gak melewati fase sakau lagi, langsung ke fase menikmati. Toh masih ada YouTube yang bisa dibuka kalau ingin mencari informasi atau mendengar tausiyah.

Setelah lewat 1 pekan ini, saya jadi banyak mempertimbangkan, bagaimana kalau saya malah jadi keterusan menghilangkan medsos di HP saya? Di sisi lain, saya adalah pribadi yang mudah down jika merasa tidak punya value (read: karya). Sedangkan value saya saat ini -tentunya selain jadi ibu, adalah menjadi blogger dan vlogger. Dua hal yang membuat saya merasa bermanfaat untuk orang. (Heloo, apa kabar blogger tanpa medsos? Koq kayaknya mustahil ya. Hiks…..)

Filosofi Beras dan Jeruk

Emak-emak lulusan IIP (Institut Ibu Profesional) pasti tahu soal filosofi ini. Sebuah filosofi yang saya “dengar” langsung dari Ibu Septi Peni, founder IIP, sekitar tahun 2015 di grup WhatsApp IIP Kalimantan. Filosofi yang masih saya ingat bahkan ketika 7 tahun sudah berlalu: tentang managemen waktu, si pisau bermata dua.

Analoginyasangat sederhana menggunakan beras, jeruk dan toples. Tugas kita adalah memasukkan semuanya ke dalam toples. Jika kita memasukkan beras duluan baru kemudian jeruk kira-kira apa yang terjadi? Sebaliknya, jika memasukkan jeruk duluan baru kemudian beras apa yang terjadi?

Baiklah, mari kita bayangkan.

Yang pertama: beras dulu baru jeruk, maka yang terjadi apa? Kemungkinan toples tidak bisa ditutup karena kepenuhan oleh jeruk yang ditaruh di atas beras

Yang kedua: jeruk dulu baru beras, maka yang akan terjadi toples kemungkinan sangat bisa ditutup karena jeruk ada di dalam dan beras memenuhi rongga-rongga toples, tidak ada ruang kosong, sehingga toplesnya muat.

Apa maknanya?

Mungkin sudah bisa menebak. Yak, betul…. Jeruk dianalogikan sebagai pekerjaan besar alias utama, sedangkan beras dianalogikan sebagai pekerjaan kecil alias jika tidak dikerjakan tidak masalah.

Jadi, maknanya jika “toples” waktu 24 jam diberikan ke setiap orang, maka akan berbeda-beda hasilnya tergantung individu itu memanfaatkannya. Apakah memasukkan “beras” dulu atau “jeruk” dulu?

Yang memasukkan “beras” dulu berarti dia lebih memprioritaskan pekerjaan kecil-kecil alias having fun duluan. Sedangkan yang memasukkan “jeruk” duluan berarti dia akan memilih menyelesaikan pekerjaan wajib dulu baru kemudian jika ada sisa waktu baru having fun. Begitu….

Analogi yang sangat sederhana tapi mendalam. Saking sangat sederhananya sampai terngiang-ngiang bertahun-tahun di kepala. Sayangnya saya sering “los dol”. Kecanduan yang negatif.

Apa Saja yang Dilakukan di Hari Tanpa Medsos

Wah, ini yang saya senang banget, ternyata saya bisa melakukan banyak hal tanpa mudah terdistraksi. Saya akhirnya bisa membersihkan email dan mengurangi space nya hingga 90%. Sekarang tidak ada lagi peringatan email penuh. *Muehehehe.

Ohya, pekan kedua tadi saya sempat pulkam dan meet-up dengan teman-teman SMA, entah terbiasa tanpa medsos atau memang obrolannya kelewat seru jadi HP tidak laku di sana, wkakakak. HP pada di atas meja tapi cuma dibuka sesekali. Kami mengobrol tanpa gangguan, sesekali melirik WA karena memang minta dijemput paksu. Iyaalah, ketemuan 5 tahun sekali, sekali ketemu ya manfaatin sebaik-baiknya.

Selain itu, saya juga banyak main sama anak. Main dakon dan main teka-teki apa aja yang dibuat sulung saya.

Saya tu sering kesel sama orangtua yang lebih banyak pegang HP daripada anaknya. Kesel banget liatnya. Tapi kenapa saya juga sering melakukannya? Hei, Anda! T_T Iya, nih.. di satu sisi saya merasa HP ini ada sihirnya, di satu sisi saya sebagai pembuat konten sangat tergantung dengan HP. Jadi jalan keluarnya adalah dengan detox medsos untuk memutuskan kecanduan dari hormon dopamin yang dibajak.

Baca juga:

Mengapa Kita Merasa Lapar Saat Hujan?

Pengalaman Membuat Sabun Natural Homemade

Leave a Comment