Hallo March, I’m Back

Bismillah….

“Blognya kalo gak update, setidaknya plugin jangan lupa di-update ya, Mba.”

Aku langsung tergelak lalu bilang kalau aku bahkan sudah lupa blogku sudah gak update tulisan sebulanan ini. Terakhir tulisan tentang aplikasi Intermittent Fasting awal Februari. Itupun belum selesai, masih ada part 2. Mau diterusin ternyata setelah itu aku off IF karena PMS yang mana gak bisa nahan nafsu makanku. Paling mentok cuma bisa 12 – 12 (12 jam puasa, 12 jam makan) yang mana menurutku itu seperti gak puasa, cuma telat dikit sarapan. Gkgkgk.

Terus, di bulan Februari itu lumayan keteteran juga karena ditinggal suami umroh 15 hari. Karena di rumah terbiasa dengan pembagian tugas, aku bersih-bersih, masak dan ngurusin kebun sedangkan paksuami bagian laundry dari nyuci, jemur dan melipat, jadi saat ditinggal itu semua kerjaan numplek jadi satu. Makanya, salut banget dah buat para istri yang well-handling semua kerjaan domestik. Aku padamuu, Buibuk.

Tanggal 24 Februari suami datang apakah aku langsung santuy? Hohoho, tidak semudah itu ternyata. Karena aku ada komitmen untuk ikut lomba fiksi, jadi mau tidak mau harus ngebut karena deadline nya tersisa 9 hari. Salahnya waktu itu aku sempat mengira bulan Februari itu sampai tanggal 30 31. Wkwkwkw. Alhasil pas tanggal 28 Februari aku baru nyadar ternyata besoknya udah tanggal 1 Maret. Makin pendek lah tenggat waktunya.

Ngebut.

Fiksi 20 bab harus dirampungkan sebelum tanggal 8 Maret. Konyolnya, fiksi itu aku buat tanpa outline sama sekali. Bisa dibilang proses pengembangan cerita itu sekaligus proses bikin outline-nya di kepala. Ckckckck. Ya itulah kalo cuma modal nekat, pasti persiapan juga minus.

Untungnya (sedikit) aku suka baca novel dan suka mengamati konflik kalau nonton drakor, jadi sedikit banyak terinspirasi dari sana. Tapi, soal diksi, sayangnya aku merasa kesulitan karena ternyata kantong diksi-ku kosong melompong. Di fiksi online yang aku buat itu terasa sekali kalau ada kata yang terlalu sering berulang, huhuhu.

Walaupun sama-sama menulis, tapi aku sebagai penulis blog non fiksi merasa fiksi punya tantangan tersendiri. Kalau non fiksi itu aku lebih banyak riset, dicampur dengan sedikit self experience, lalu menuangkannya dalam bahasaku, maka kalau fiksi aku merasa tidak hanya harus bisa nulis cerita, tapi juga kudu kuat nge-halu dan of course (teryata) kudu riset juga.

Tapi aku gak akan banyak ngomongin masalah ini, karena newbie banget ini. Gak ada ilmu yang bisa dibagi karena juga ternyata aku semiskin itu. Aku juga gak kepikiran mau serius di fiksi, karena aku gak pinter bikin outline (bahkan) blog ini juga terbiasa ditulis tanpa outline makanya kalau lomba seringnya kalah, gkgkgkgk. Fiksi yang aku ceritakan itu juga sebenarnya terpaksa ditulis karena sudah komit ke diri sendiri mau nulis fiksi untuk Star Writing Contest, lomba fiksi untuk pemula di sebuah aplikasi menulis.

Dan sekarang mari katakan……..

Halomarsch, ich bin zurück!

Leave a Comment