BLANTERWISDOM101

Dari Dapur untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Kamis, 28 Oktober 2021

 Bismillah….

Jika ada yang bertanya, “Apa satu hal yang berubah dari hidup kamu setelah menikah?” Maka saya akan menjawab: memasak. 

Dari sekian banyak yang berubah, satu hal tersebut yang paling membuat hidup saya sebagai ibu jadi lebih berharga (Ini bukan berarti jika seorang ibu tidak pandai memasak dia menjadi tidak berharga. Bukan seperti itu.)

Konteks berharga yang saya rasakan di sini lebih kepada proses belajarnya. 

Di mana saya yang dulu tidak bisa membedakan merica dan ketumbar, hanya karena merasa mereka kembar gara-gara keduanya ada huruf “m”. Atau kesulitan membedakan jahe dan kencur, hanya karena kulit mereka yang sama-sama warna cokelat tanah.

Saya semasa lajang memang sama sekali nihil soal pengetahuan dapur. Padahal memasak terlihat seperti aktivitas sepele. Tidak serumit mengerjakan soal fisika tentang kuantum dan energi yang “tak terukur”. 

Namun semuanya berubah ketika takdir mempertemukan saya dengan suami yang memiliki mama yang jago masak. Takdir yang kemudian memaksa saya untuk mempelajari keterampilan bertahan hidup ini. Bukan ingin mengimbangi mama, hanya berusaha agar tidak insecure berlama-lama.

Hobi Saya: Memasak

Kali pertama belajar memasak saya bertanya kepada teman lama yang pintar memasak. Patin rica-rica, adalah menu dengan bumbu yang lumayan “complicated” yang berhasil saya buat dengan mengikuti instruksinya. 

Mulai dari sana kemudian rasa percaya diri meningkat. Terlebih suami memang bukan tukang protes. Memasak pun jadi tanpa beban.

Lama-kelamaan saya memberanikan diri untuk mencoba resep masakan yang lain, mulai dari makanan berat hingga kudapan. 

Hampir 9 tahun berlalu, saya yang dulu selalu malu dan sungkan bertemu mama mertua karena takut gak nyambung, sekarang sudah mulai sedikit percaya diri. “Ma, mantu mama ini sudah bisa masak, udah bisa nyambung kalo ngomongin resep” 😀

(Pukpukpuk, terimakasih ya diriku sudah mau belajar).

Sayangnya, masalahnya belum selesai di sini.

Permasalahannya sekarang adalah: saya baru menyadari ternyata kegiatan masak-memasak saya ternyata memproduksi sampah baru. Dan sampahnya pun bukan sembarang sampah.

Memang saya sudah jarang beli masakan, sehingga jarang ada plastik atau bungkus kertas bekas makanan. Tapi, koq setelah masak sendiri koq juga tetap ada sampah. Loh, ternyata saya menghasilkan sampah, toh? (tanya sendiri, bingung sendiri).

Ternyata ya, apa saja yang saya pasti ada sampah, mulai dari kulit bawang, batang sayur, kulit buah, kulit telur, dan bahkan rak telurnya itu sendiri.

Saya sungguh terlambat menyadari. Karena saya pikir sampah dapur adalah sampah organik jadi tidak masalah jika membuang ke TPS umum. 

Toh akan hancur di tanah, kan? Akan terurai, kan? Bener, kan?

Tapi ternyata saya salah….

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim
Sebagian sampah dapur yang saya hasilkan setelah memasak cumi asam-manis

Berdasarkan data yang saya temukan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Komposisi Sampah di Indonesia tahun 2020, ternyata sampah rumah tangga menempati porsi terbanyak dibanding sektor lain, yaitu sebesar 37,3% (Grafik data ada di bawah).

Bahkan sampah rumah tangga 2x lebih banyak dari sampah pasar tradisional yang “hanya” sebesar 16,4%.

Tunggu, tunggu… jadi pasar tradisional yang orangnya berjibun itu sampahnya lebih sedikit daripada sampah rumah tangga??

Fakta ini seketika membuat saya, yang hobinya uprek-uprek dapur, merasa jadi tersangka penyumbang sampah terbesar. Apalagi ditambah isu climate change yang deras berhembus beberapa waktu belakangan ini. Lengkaplah sudah rasa berdosa saya.

Dan berikut adalah data Komposisi Sampah Indonesia tahun 2020 dari Kementrian LHK yang trekumpul dari total 67,8 juta ton sampah selama setahun kemarin. Silakan disimak.

Rumah tangga
37,3%
Pasar tradisional
16,4%
Kawasan
15,9%
Lainnya
14,6%
Perniagaan
7,29%
Fasilitas publik
5,25%
Perkantoran
3,22%
dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim
Gunungan sampah kabupaten Banyumas (Sumber: https://www.republika.co.id/berita/prfq1u291/atasi-sampah-pemkab-banyumas-masuh-butuh-tpa)

Dari data di atas, kemudian dipecah per jenis sampah. Ternyata didapatkan data sebagai berikut: 

(Sumber: https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/persentase-komposisi-sampah-indonesia-2020-1623403927)

Seesisa makanan ada di porsi pertama sebesar 39.74%. Lagi-lagi, sampah dari dapur kita menyumbang persentase tertinggi dibanding jenis sampah lainnya, bahkan plastik sekalipun.

Sampai di sini bagaimana? Sudah tersentak atau masih tetap denial dengan mengatakan “Tapi kan sisa makanan bisa hancur?”

Baiklah, saya ingin bercerita sedikit. Beberapa tahun lalu saya “bertemu” di dunia maya dengan seorang ibu yang giat melakukan zero waste. Saya saat itu hanya senang menonton, tapi tidak tergugah, “Untuk apa? Apa pentingnya?” dan kalimat semacam itu, karena yaa… wawasan saat itu memang belum sampai kepada kecemasan soal climate change.

Lalu, pandemi pun menyapa membuat kami terkurung di dalam rumah dalam waktu yang lama sehingga membuat konsumsi makanan pun meningkat. Saya jadi lebih terpacu lagi mencoba resep ini dan itu dan bisa ditebak, sampah pun bertambah.

Jujur, sebenarnya saat itu saya sudah resah memikirkan soal sampah ini tapi karena di daerah saya tidak banyak edukasi soal memilah dan mengolah sampah akhirnya saya juga jadi selow. 

Sampai akhirnya Juli tadi secara tiba-tiba saya ingin membuat Eco Enzyme untuk memanfaatkan limbah dapur saya, khususnya kulit buah.

Bahaya Sampah Dapur

Seriusan, sampah dapur a.k.a organik berbahaya? Bukannya bisa hancur lebur dan menyatu jadi tanah? Bukannya lebih berbahaya sampah plastik dan logam berat yang gak bisa hancur dengan mudah atau bahkan gak hancur sama sekali?

Saya pun berpikir demikian awalnya. 

Sampai kemudian data demi data menunjukkan kepada saya bahwa ternyata sampah organik juga seberbahaya sampah anorganik

Memicu Gas Metana

Mungkin belum sampai di telinga bahwa pernah terjadi tragedi 21 tahun silam di TPA Leuwigajah Bandung. Saat itu terjadi ledakan yang mengakibatkan 157 orang di sekitarnya tewas pada 21 Februari 2005 pukul 02.00 dinihari.

Ledakan itu berasal dari gunungan sampah setinggi 60 meter sepanjang 200 meter yang menyimpan konsentrasi gas metana yang sangat tinggi. Gas metana tersebut berasal dari sisa-sisa makhluk hidup (kulit buah, daun kering, batang sayur, ranting, sisa makanan, kotoran hewan) yang terkubur dalam kubangan sampah di TPA. Hingga saat ini, tanggal tersebut diperingati menjadi Hari Sampah Nasional.

Gas metana tersebut juga bisa menjadi pemicu kebakaran di lokasi TPA.

Lebih dari itu, penumpukan sampah organik yang lambat terurai -karena jumlahnya yang kian bertambah namun pengelolaannya di TPA tidak sebanding-, menyebabkan akumulasi gas metana yang sangat besar.

Gas metana tersebut naik ke atas merusak lapisan ozon dengan level kerusakan 21x lebih parah daripada karbondioksida. (Sumber: https://sustaination.id/bahaya-sampah-organik/). 

Dengan kata lain, gas metana adalah pemicu percepatan global warming dan climate change.

Sumber Penyakit

Dengan kondisi sampah yang menumpuk dan menggunung sudah pasti menjadi tempat yang empuk bagi berbagai macam kuman. Akhirnya, penduduk sekitar menjadi terancam. Diare, gatal-gatal, demam berdarah, infeksi bakteri, hepatitis sampai potensi keracunan makanan.

Sekali lagi, sampah organik memang benar bisa terurai. Namun ketika sampah yang datang dan diolah tidak sebanding, maka sampah organik akan menumpuk dan menyebabkan masalah demi masalah.

Maka, tidak ada cara lain dengan mengolah sampah kita sendiri di rumah. Ide ini jauh lebih praktis, lebih murah, dan lebih mudah daripada ide membuang sampah bumi ke planet lain, yang biaya sekali pemindahan mungkin sampai kuadriliun rupiah (ide ter-ekstrim yang pernah saya baca di IG :D).

Yuk, kita belajar mengurangi sampah dari rumah dengan cara yang mudah dan murah! Zero waste, zero problem, dari dapur kita bisa melakukan mitigasi perubahan lingkungan

Mengolah Sampah Dapur untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Eco Enzyme

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim

Yang belum tau apa itu Eco Enzyme, dia sebenarnya adalah hasil pemanfaatan limbah kulit buah yang difermentasi dengan gula merah aren / tebu dengan komposisi 1 bagian gula : 3 bagian kulit buah : 10 bagian air.

Misal, saya punya kulit nanas setelah memasak cumi asam-manis sebanyak 300 gram. Daripada saya buang, lebih baik saya buat Eco Enzyme. 

Dengan dengan rumus di atas, maka kita hanya perlu tambahkan: 100 gram gula merah aren / tebu dan 10 liter air. Lalu, setelah dicampur dalam satu wadah kita fermentasi selama 3 bulan. Setelah itu Eco Enzyme bisa kita panen.

Manfaat Eco Enzyme ini sangat banyak sekali, dari pupuk, sanitizer, deterjen alami, pembersih udara dan saluran pembuangan, sampai mengobati eksim dan masker kecantikan. 

Namun, saya pribadi hanya ingin memanfaatkan sebagai pupuk, pembersih udara dan saluran pembuangan (Maklum, yang nulis masih newbie, jadi belum berani eksplore terlalu banyak).

Saya sendiri, yang walaupun masih pemula, merasa Eco Enzyme adalah salah satu cara pengurangan limbah rumah tangga yang sangat highly recomended untuk dilakukan di setiap rumah. Karena Eco Enzyme ini adalah upaya kecil dari dapur namun berdampak besar bagi mitigasi perubahan ilklim, sebab;

  1. Kulit buah sisa makanan keluarga tidak akan berakhir di TPS dimana akan menggunung dan membusuk membentuk gas metana penyebab efek rumah kaca
  2. Kulit buah yang difermentasi akan terurai oleh bakteri baik dan siap menjadi pupuk bagi tanaman
  3. Air fermentasi Eco Enzyme kaya akan enzyme yang berasal dari kulit buah berkolaborasi dengan bakteri baik selama masa fermentasi, sehingga membantu manusia dalam banyak seperti pembersih udara dan saluran pembuangan.

Lubang Biopori

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim

Selain Eco Enzyme, sampah dapur juga bisa dialihkan ke lubang biopori.

Apa itu lubang biopori? 

Lubang biopori adalah lubang resapan yang dibuat dengan memasukkan pipa berlubang-lubang dengan bagian bawah terbuka. 

Sebenarnya lubang biopori yang pakem dibuat dari pipa air dengan panjang 40 – 100 cm dengan lubang -lubang di samping dan ditanam dalam tanah yang sudah dilubangi sebelumnya.

Namun, karena saya kesusahan mendapatkan pipa itu baik secara online maupun offline, akhirnya saya membuatnya dari botol mineral bekas.

Sampah dapur yang bisa dimasukkan termasuk kulit bawang, kulit telur, dan sisa makanan. Nanti sampah itu akan terurai dengan bantuan mikroogranisme tanah. Manfaatnya adalah;

  1. Mengurangi penumpukan sampah di TPS umum yang bisa sebabkan gas metana pembentuk gas rumah kaca.
  2. Menyuburkan tanah karena sampah organik yang dikubur dalam biopori akan menjadi makanan mikroorganisme tanah dan cacing.
  3. Menjadi pupuk organik bagi tanaman karena sampah organik yang membusuk.
  4. Mencegah terjadinya banjir dengan memperbesar daya serap tanah

Air Cucian Beras untuk Tanaman

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim

Selain membuat Eco Enzyme dan Biopori, zero waste bisa kita terapkan pada air cucian beras. 

Sering kita dengar, bukan, soal kebiasaan nenek moyang kita dulu yang merendam beras pada malam hari untuk dimasak keesokan harinya. 

Ternyata, cara tersebut baru dipahami sekarang lewat penelitian sains kesehatan. Bahwa di dalam beras (dan juga biji-bijian) terdapat zat anti-nutrient yang bisa mengikat nutrisi dalam tubuh kita. 

Asam fitat adalah zat antinutrisi yang dapat mengganggu penyerapan zat besi dan zinc. Kadar asam fitat dalam biji-bijan dan kacang-kacangan dapat dikurangi dengan merendamnya semalaman. 

(Sumber: SehatQ, portal online Kemenkes

Setelah direndam semalaman, air rendamannya ditampung saja. Kemudian beras dimasak dengan air bersih yang baru. Air bekas rendaman bisa kita manfaatkan untuk menyiram tanaman. Daripada menggunakan air baru lagi, lebih baik memanfaatkan limbah cucian beras, bukan? 

Jangan khawatir soal anti-nutrient nya. Kita tidak akan mendzolimi tanaman, karena metabolisme kita berbeda dengan tanaman. Justru air rendaman beras mengandung zat hara yang baik untuk tanaman. Biasanya tanaman cepat bertunas jika disiram dengan air bekas rendaman beras. Kita pun bisa menghemat penggunaan air.

Kompos

dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim
kompos kami memasukkan sampah rumah tangga mulai dari daun kering, cangkang telur, rak telur, batang sayur, dan sampah organik lain

Selain 3 hal tersebut, ada lagi ide zero waste yang bisa kita lakukan dengan memanfaatkan limbah dapur, yaitu kompos. Kompos sendiri adalah hasil pelapukan bahan organik baik yang disengaja (dibuat) atau tidak disengaja (terjadi begitu saja).

Sebenarnya memasukkan sampah ke dalam lubang biopori sudah termasuk ke dalam pembuatan kompos, namun skala kecil, sampah yang dimasukkan dalam ukuran kecil. 

Kalau kompos yang dibuat dengan sengaja, bisa dibuat dengan menggunakan wadah besar tertutup yang di dalamnya dimasukkan ranting pohon yang berjatuhan, daun kering, rak telur, cangkang telur, kulit buah dan sayur (yang tidak terolah menjadi Eco Enzyme), yang kemudian dicampur dengan tanah dan didiamkan dalam wadah tertutup selama 3 bulan.

Kompos bisa digunakan sebagai media tanam yang subur karena mengandung unsur hara dari sampah organik yang sudah mengalami pelapukan.

Bisa dibilang saya masih pemula untuk zero waste. Walaupun belum bisa 100% benar-benar, tapi setidaknya diri ini sudah tergerak untuk memulainya #UntukmuBumiku. Dengan begitu perasaan berdosa terhadap lingkungan agak sedikit berkurang.

Namun, seandainya sedari dulu saya paham hubungan sampah dapur dan perubahan iklim bumi tentu saya akan memulai #TimeforActionIndonesia sejak dini.

Karena saya seorang ibu dan istri, saya suka memasak, saya juga menghasilkan sampah dari kegiatan saya, tentu seharusnya saya bertanggung jawab atas sampah yang saya hasilkan.

Saat ini membuang sampah ke tempatnya bukan lagi slogan yang cocok untuk saat ini, karena kita harus terus memikirkan masa depan bumi. Sehingga, saya bersumpah untuk terus belajar zero waste dari dapur untuk mitigasi perubahan iklim untuk kemudian mengajarkannya kepada anak-anak menjadi #MudaMudiBumi agar mereka bisa hidup panjang melihat bumi jauh dari bahaya climate change.

Dengan kesadaran dari setiap ibu di setiap keluarga, semoga bisa dengan signifikan mengurangi bobot sampah yang saat ini setiap harinya terkumpul 175 ribu ton yang masuk ke TPA di seluruh Indonesia.

Semoga dengan langkah kecil kita, bisa mengurangi dampak global warming dan memperlambat climate change sehingga kita bisa mewariskan bumi yang bersih dan sehat untuk anak cucu kita. 


Daftar Referensi

  1. https://sustaination.id/bahaya-sampah-organik/
  2. https://katadata.co.id/timrisetdanpublikasi/analisisdata/5e9a57af981c1/kelola-sampah-mulai-dari-rumah
  3. https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/persentase-komposisi-sampah-indonesia-2020-1623403927
  4. https://humas.bandung.go.id/berita/tragedi-leuwigajah-kisah-kelam-bandung-lautan-sampah
  5. Foto dan video dokumen pribadi
Share This :

0 komentar