BLANTERWISDOM101

Komik, Hobi Baru Kakak yang Menarik

Minggu, 16 Januari 2022

 Hobi Baru Kakak - Bismillah....

Akhir 2021 tadi saya dikejutkan oleh "ulah" anak pertama saya, Muthia. Saya terkejut karena dia -yang tidak pandai menggambar, ternyata sekarang punya hobi baru: membuat komik. Duh, jangankan menggambar, mewarnai saja perlu effort yang sungguh aduhai.

Hobi baru di kelas 2

Saat PTM jalan beberapa pekan, dia bilang mau membuat komik untuk tugas sekolah -yang ternyata tidak wajib. Dan itu hanya dia gambar di selembar kertas saja dengan Among Us sebagai karakternya. Saya lontarkan pujian atas usahanya, supaya dia percaya diri dengan hasilnya.

Ternyata, beberapa hari kemudian dia bilang mau membuat buku komik.

Hmmmmmmm......ok lah.

Karena anak saya gak terlalu bisa gambar, saya tahu itu, jadi buku komik yang sekarang pun karakter utamanya dia ambil yang gampang-gampang, dan kali ini ikan. Kebetulan dia sedang concern juga tentang lingkungan, jadi ceritanya berkisar tentang ikan yang kesusahan hidup di laut tercemar.

Boleh juga....

Proses menggambar di lembar pertama selesai. Tapi kali ini dia gak bilang "Duh, jeleknya gambar aku, gak jadi deh!".

Gak, dia gak bilang itu (lagi), justru dia bangga dia bisa punya ide dan menghasilkan komik sendiri, walau sederhana. Ternyata dia sudah mulai bisa mengapresiasi diri sendiri. Maka, berlanjutlah komik itu sampai lembar kedua, ketiga, dst. (Ketika saya menulis, komiknya belum selesai, xixixi)

Dulu, dia suka tiba-tiba berhenti menyelesaikan pekerjaannya karena merasa gak bagus. Misuh-misuh sendiri. Mungkin dia terbayang karya sepupunya yang bagus, yang memang berbakat dan ada keturunan.

Emaknya bilang bahwa itu wajar, namanya baru pertama kali belum bisa langsung bagus. Yang Muthia lihat punya orang bagus-bagus itu bukan simsalabim, itu perlu proses juga. Lalu saya mengingatkan lagi soal syaraf otak yang semakin tebal jika terjadi repetisi dan akhirnya membuat orang jadi mahir.

(Saya pernah menulisnya di sini.)

Saya dan suami tidak punya gen yang bisa diturunkan ke anak-anak soal menggambar. Jiwa seni saya nol besar. Saya gak suka mewarnai apalagi menggambar sejak dulu. Jadi, wajar kan saya merasa hobi kakak sekarang adalah sesuatu yang menarik. Koq bisa?

Iya, koq bisa?

The Power of Book

Buku lah penyebab utamanya. Walau saya terhitung telat mengenalkan buku di usia 2 tahun, tapi karena memaksakan diri menghadirkan buku di rumah, anak-anak jadi terbiasa dengan buku.

Dan salah satu buku favorit kakak adalah komik.

Komik Pertama

Pertama kali mengenalkan komik sebenarnya gak sengaja. Saya minta belikan buku anak di Jakarta sebagai oleh-oleh pak suami. Akhirnya beliau belikan buku komik Sahabiyah dan Pahlawan Islam. Dua buku itu dari penerbit yang sama.

Gak berat tu anak balita dikasih buku perjuangan Islam?

Gak koq, gak sama sekali. Buku-buku yang dibelikan suami ternyata berbentuk komik, full warna. Surprisingly, kakak suka banget. Ceritanya pun kocak, tapi di sisi lain mampu membuat saya menangis membayangkan gigihnya keislaman para Sahabat kala itu.

Jangan salah, walau ada cerita perangnya tapi tidak ada darah di sana dan musuh Islam pun digambarkan matinya itu konyol sekali. Seperti pingsan dalam bentuk kartun. Jadi, walau ceritanya berdasarkan sejarah tapi ketika dibaca sama sekali gak berat dan menakutkan, apalagi bikin ngantuk *Eh.

Komik Kedua

Selesai mengulang cerita 2 buku itu bolak-balik (ditandai dengan fasadnya lecek-lecek walau sudah dilakban sisinya), saya berpikir untuk menambah komik lagi tapi beda genre: gimana kalo sains?

Komik edusains yang saya beli pertama adalah buku obralan. Waktu itu juga tahu nya karena seorang teman blogger menawarkan jastip beli buku anak yang sedang cuci gudang. Saya nitip 3 komik. Karena "beli buta" alias saya gak tahu dalamnya gimana (saya percayakan ke temen aja) jadi saya pasrah kalo bukunya nanti B aja.

Ndilalah, ternyata bukunya bagus. Sampai di akhir setiap buku, si kakak melengos karena kadung penasaran. Ternyata bukunya bersambung, Guys. Gkgkgkgk. Mana saya beli 3, ketiganya gak satu judul. Akhirnya penasaran sama kelanjutannya dan merengek minta belikan kelanjutannya.

Tapi sayang, ternyata susah banget cari seri berikutnya. Mungkin sudah sold lama dan gak diterbitkan lagi, makanya sisanya di-sale setengah harga.

Alhasil, saya cari komik edusains yang sejenis dengan penerbit sama. Komik edusains yang dari Korea Selatan itu lho, kan ceritanya seru ya. Kakak bisa habis 2 hari komik setebal itu karena saking menikmatinya.

Project Buku Komik

Dan 25 Desember 2021 kemarin, Muthia memulai project buku pertamanya yang berjudul "Nemo", hahahaha. Masih terlalu mainstream, tapi sekali lagi gak apa-apa. Learn by doing.

komik, hobi baru kakak yang menarik

Siapa nyana, anak yang gak punya gen menggambar sekarang jadi hobi bikin komik? Ternyata pengaruh buku sangat besar. Masya Allah, luar biasa. Benar kata orang buku jendela ilmu, dengan buku orang jadi terinspirasi dan mengubah diri.

Kami sangat membatasi gadget selama weekdays, TV sudah lama rusak dan tidak kunjung kami perbaiki. Akhirnya kakak mencari kegiatan selain membaca buku. Seperti emaknya yang menulis juga karena suka membaca *eaaaa (membaca status maksudnya?)

Ohya, ada hal lucu tentang komik ini. Ini cerita yang dibawa Muthia dari sekolah.

Jadi, hari itu dia bertanya kepada teman-temannya, Alifa dan Saliha, tentang idenya menjual buku komik miliknya di Syopi, sebuah marketplace yang sering dia lihat di smarthpone emaknya.

"Aku jual 10.000 aja gimana? Kemahalan gak ya?"
"Apaa?? Kamu jual 10.000? Murah banget! 20.000 donk"

Jawaban teman-temannya itu berhasil membuat dia GR sekali, pemirsaa. Hahahaha. Ya Allah, saya kebayang masukin komik dia di etalase Syopi gimana ya?

Share This :

0 komentar