Kalau anak lagi malas belajar kita harus bagaimana? Dipaksa atau dibiarkan sambil bilang “Ah, nanti bisa sendiri” ? 

 

Assalamu’alaikum.

Bonjour everyone? Ga kerasa kita sudah di hari-hari terakhir bulan pertama 2020.

Gimana kabarnya, Ma? Semoga masih tetap strong menghadapi kenyataan uang masuk sekolah anak yang tiap tahun bikin pengen ngurut dada. Sesek euy.

Kami sendiri masih dalam tahap pencarian dan menimbang-nimbang, pasalnya anak sulung kami tahun ini masuk SD. Kami, sama halnya dengan orangtua lainnya, tidak mungkin memasukkan anak tanpa perencanaan matang karena gimanapun SD adalah fase sekolah formal terlama yang akan dihadapinya. Selain ikhtiar, kami juga banyak berdoa semoga dimudahkan mendapatkan sekolah yang sesuai dan cocok lahir batin.

Hmmm, prolog yang bermodus curcol ini. Wkwkwkwk. 

Belajar Apa Bermain?

Ramai para pakar parenting sekarang menghimbau agar tidak ada kata belajar dalam kamus anak-anak di bawah 7 tahun. I can’t agree more karena secara Islam pun usia 7 tahun adalah usia dimana anak harus mulai diajari sholat, artinya usia 7 tahun hubungan sinaps dalam otaknya sudah cukup matang sehingga sudah mampu membedakan mana yang baik dan buruk (tamyiz).

Tetapi kemudian saya punya pandangan sendiri, agak berbeda, namun tidak sampai menyalahi konsep parenting di atas apalagi dalam sudut pandang Islam.

Dan Muthia, si sulungku praktis sudah mengenal istilah belajar sejak masuk TK. Belajar apa saja yang diberikan guru, mulai dari; belajar menggunting, belajar melipat, belajar mewarnai, belajar meronce, belajar antri, belajar menjadi pemimpin, sampai belajar calistung.

Jika sebelum masuk TK itu semua dipelajari di rumah tanpa ada embel-embel “belajar”, maka setelah masuk TK secara pribadi saya menekankan aktivitas “belajar” untuk setiap hal yang dilakukan.

Ok, saya paham jika ada yang kurang suka dengan istilah “belajar” untuk anak TK karena menganggap usia segitu adalah usia bermain dan bukan belajar. Tapi, bukankah definisi belajar juga tidak melulu soal duduk manis depan meja menghadap guru?

Bagi saya definisi belajar itu sangat luas. Bahkan anak yang sedang main panjat-panjatan atau loncat-loncatan sebenarnya sedang belajar: belajar mengkoordinasikan mata, tangan dan kakinya agar seirama bergeraknya, belajar menguatkan otot-otot kaki dan tangannya. Untuk apa itu semua? Tak lain adalah insting alami untuk bekal masa depannya nanti, seperti yang ditulis secara gamblang oleh Ibu Ani Christina dalam buku beliau “Tuntas Motorik”.

Ok, sampai sini sepakat ya kalau pembahasan saya tidak melulu soal belajar yang duduk manis-depan-meja-menghadap-guru?

Jika kita sepakat, maka mudah bagi kita untuk memahami mengapa ada anak yang bolak-balik bermain dengan 1 permainan yang sama. Itu-itu saja. Bisa jadi ia sedang belajar, belajar dengan mengulang-ulang, memberi kesempatan sel syaraf otaknya untuk menebal, menguasai skill yang dia menaruh minat yang sangat dengannya. Di buku Montessori miliknya mba Vidya Paramitha hal itu pernah dijelaskan dengan sangat baik.

Kala Anak Malas Belajar

Ketika Muthia mulai masuk TK saya seakan lebih jelas melihat kekurangan dan kelebihannya karena sudut pandang yang juga semakin melebar. Dan khusus untuk kekurangannya saya mencoba untuk memperbaikinya, tentu dengan kerjasama bersama anak.

Misal, sejak di TK A saya baru ngeh kalau Muthia punya motorik kasar yang lemah, dia tidak bisa memanjat, tidak berani naik jembatan keseimbangan, dan kegiatan lain yang perlu kekuatan tangan dan kaki. Sangat jauh jika dibandingkan dengan teman-temannya.

Apa? Penakut? Iya, dia takut karena sadar jika tubuhnya tidak cukup kuat bergerak dan berkoordinasi dalam wilayah yang tidak biasa. Nah, itu yang mesti diperbaiki. Dia harus belajar mengkoordinasikan otot tangan, kaki, mata, dan otaknya. Maka sejak itu saya sering membawanya ke playground yang ada permainan keseimbangan, memanjat, dan apa saja yang menuntut kekuatan otot. 

Apa dia langsung berani? Jelas tidak. Awalnya terpaksa karena disuruh emak, malas-malasan, kemudian menangis karena stuck di atas ga bisa turun, akhirnya lama-lama dia bisa kontrol dirinya dan tau apa yang harus dilakukan. Sekarang malah suka menantang dirinya sendiri.

Begitu pula dengan mewarnai. Muthia adalah satu anak yang tidak punya cukup bakat dalam hal itu. Tapi karena saya melihat menggambar itu baik bagi otak dan akan bermanfaat sewaktu-waktu dia bosan dengan hal berbau kognisi (refreshing) akhirnya saya memutuskan untuk tetap mengenalkannya dengan kegiatan mewarna. 

Apa dia langsung suka? Jelas tidak. Awalnya terpaksa karena disuruh emak, malas-malasan, beragam alat mewarna sudah dicoba, mewarnai acakadut semaunya, tidak pernah selesai, selalu mengeluh capek, dan drama-drama lainnya. Tapi akhirnya sekarang dia sangat menyukai kegiatan ini. Tidak sampai menang lomba (karena memang tidak ada bakat), hanya sekarang sudah bisa bermain-main dengan warna. Kelak, nanti jika dia jenuh dengan pelajaran sekolah tidak bingung kemana pelariannya. Menurut pengalaman saya mewarnai cukup ampuh membuang kepenatan otak, asik sekali melihat warna-warna yang kontras tapi saling mendukung.

Refreshing banget mainin crayon warna warni

 

Hal apalagi yang awalnya dia malas untuk belajar? Banyak. Di antaranya belajar Iqra’ dan calistung. Saya berusaha untuk tidak memaksa tanpa ada kemauan sama sekali. No no, big no. Kalau bisa jangan membuat jejak trauma di pikirannya. Belajar harus dimaknai dengan hal positif.

Bahkan untuk calistung saya pernah menuliskan perjalanan belajar kami. Proses belajar ini akan semakin mudah jika dari pihak anak sudah open their mind

Baca juga tips dan trik belajar calistung secara menyenangkan.

Sejauh ini saya sangat bersyukur metode pancingan belajar yang saya berikan pada Muthia sejauh ini bisa mengubahnya dari yang malas menjadi (sangat) ingin belajar. Kuncinya bukan keterpaksaan, melainkan mengubah mindset anak sehingga muncul kesukarelaan.

Baiklah, ini dia tips dan trik ketika menghadapi anak yang sedang malas belajar. Kita bisa menerapkannya dalam hal apa saja, tidak melulu soal belajar pelajaran formal. 

1. Tujuan belajar

Hal yang paling krusial menurut saya sebagai orang yang pernah mengajari Fisika anak-anak SMA sebelum memulai belajar adalah APA TUJUAN KITA BELAJAR HARI INI? *capslock jeboll

You know lah ya Fisika adalah salah satu matpel killer. Sajian rumus-rumus yang mengular di setiap halaman tidak jarang membuat dahi murid berkerenyit sambil berteriak frustasi, “Apa manfaatnya ini semuaaaaaa cikguuuuuu???”. MuaahahahaMuaahahaha.

Sebagai guru Fisika yang dulu jadi murid saya tau persis jeritan hati anak didik saya. Oleh karena itu dulu sewaktu menyiapkan bahan ajar saya selalu mencari dulu apa kegunaan rumus ini dalam kehidupan. Dengan begini siswa lebih mudah menerima pelajaran karena mereka akhirnya ngeh ternyata rumus-rumus itu bersilweran dalam hidup mereka.

Naaah, sama dengan anak. Belajar mewarnai, memanjat tebing, meniti jembatan, dan apalagi belajar huruf hijaiyah serta latin adalah sama rumitnya dengan murid SMA yang belajar Fisika. Jika anak tidak tau tujuan mereka disuruh belajar apa, yaa jangan heran kalau motivasi belajar juga tidak ada. 

Seperti ketika saya ingin mengajarkan Iqra’ dan calistung, saya katakan pada Muthia “Alloh menyukai anak yang pintar dan berilmu.Gimana caranya supaya berilmu? Harus banyak-banyak baca buku. Nah, gimana mau bisa baca buku kalau belajar membaca aja malas?”.

Hingga akhirnya sekarang kalau ditanya apa cita-cita Muthia, maka dia akan menjawab “Mau jadi asisten yang bisa memintarkan orang-orang di seluruh dunia”. Hahaha, saya ga ngerti maksudnya asisten di sini apa. Saya tanya apakah itu guru, dia jawab bukan. Terus apa donk? 

2. Ceritakan Filosofi Otak dan Akar

Apakah ketika anak langsung berhasil ketika sekali belajar? Tidak mungkin (kecuali anak kita termasuk gifted child). Butuh berkali-kali pegulangan atau latihan agar bisa. Sebagai orang dewasa tentu kita sangat paham hal ini. Tapi bagi mereka anak kecil yang pengalaman hidupnya masih seujung kuku tentu hal ini tidak langsung dipahaminya. Maka, motivasi kedua adalah ceritakan filosofi otak dan akar.

Bagaimana itu? Yang sudah pernah membaca buku Ust. Felix Siauw “Master Your Habit” pasti sudah bisa menerka maksud saya.

Di dalam otak kita terdapat syaraf-syaraf yang sangat banyak. Jika otak aktif berpikir syaraf itu akan terlihat seperti percikan listrik yang menghantarkan informasi. Tapi syaraf itu ada yang tebal dan ada yang tipis, tergantung perulangan informasi yang diberikan padanya. Semakin sering terjadi perulangan semakin tebal syarafnya, sebaliknya jika jarang maka tipis saja syarafnya dan mudah hilang.

Ketika hal itu saya katakan pada Muthia, saya menggiring dia membayangkan aktivitas otak dengan lecutan-lecutan listrik kecil. Lalu, menjelaskan hal di atas dan kemudian memberi penawaran “Jadi Muthia mau syaraf di otaknya tebal apa tipis ya terserah. Kalau tipis ya belajarnya sekali dua kali aja, tapi terus hilang. Ya terserah”, kata saya seraya membuat garis menggunakan pensil dengan 1 garis tipis (sekali gores) dan 1 garis tebal (berulang-ulang gores). Lalu saya lanjutkan dengan menghapus 2 garis itu. Dia melihat garis tipis langsung terhapus sedangkan yang tebal hanya berkurang sedikit.

Analogi tersebut sepertinya membuat pikirannya semakin terbuka untuk tidak malas mengulang-ulang pelajaran. Apa saja, baik itu belajar keseimbangan otot, mewarnai atau calistung dan iqro’.

Akar yang sedikit akan muda tercerabut

Filosofi akar juga pernah saya ceritakan padanya ketika kami sedang membaca buku tentang tumbuhan. Biji yang ditanam sunatullohnya akan menumbuhkan akarnya terlebih dahulu dibanding daun. Jika akar sudah keluar cukup banyak baru menumbuhkan bakal daun. Tanaman muda yang akarnya masih sedikit dibanding tanaman yang sudah tua tentu lebih sulit mencabut yang tua karena akarnya sudah banyak dan terikat kuat dengan tanah. Naaahh, poin ini sama dengan ingatan manusia. Semakin dia mengulang terus pelajaran, syaraf semakin tebal, maka akan semakin menguasai dan (jika sudah menjadi habit) akan susah hilang.

Ada yang bisa cabut akar ini?

Senang sekali si sulungku mendapat cerita filosofi seperti itu sambil berkata, “Ohh gitu ya Mi. Baru tau Muthia. Makasih Mi sudah cerita”. 

3. Naikkan Dopamin

Dopamin adalah salah satu hormon pemicu kebahagiaan yang Alloh ciptakan dalam tubuh setiap manusia. Hormon ini akan keluar jika kita; berolaharga, dipuji, dan merasa disayang/dilindungi. Dan imbas dari dilepasnya hormon dopamin adalah munculnya rasa kepercayaan diri dan perilaku yang positif. 

Maka Mama, jangan segan memuji anak jika dia sudah berusaha belajar dan mengulang-ulangnya. Sungguh ternyata memuji bisa membawa kebaikan pada diri anak. Hanya saja sebagai orang Islam kita diajarkan untuk memuji sesuai dengan aturan, tidak belebihan dan pusatkan pada proses dan bukan hasil, serta jangan lupa libatkan Alloh. Misal “Wah Muthia sudah mau berusaha naik jembatan keseimbangan ya. Alhamdulillah”, atau memuji setiap Muthia berusaha melafalkan potongan kata di iqro’ walau terbata. Masya Alloh.

Muthia pertama kali berhasil naik panjat tebing

4. Apresiasi Nyata Hasil Belajar

Selain memuji, kita juga bisa memberikan hadiah pada anak. Tujuan pemberian hadiah itu agar menjadi kenangan bahwa dia pernah berusaha mencapai sesuatu dan dihargai oleh orangtuanya. Misal, kami membelikan jam tangan untuk Muthia saat dia sudah lancar membaca dan menulis. Setahun sudah dia membayangkan punya jam tangan belum jua kami kabulkan, padahal bukan jam tangan emo-emo juga yang diminta. Kalau kami mau bisa saja membelikan jam tangan kapan saja, tapi seringnya yang seperti itu tidak bernilai apa-apa.

Selain jam tangan kami juga ingin membuat mini playground di rumah (monkey bar plus panjat tebing) sebagai reward dia sudah berani memanjat dan meniti jembatan keseimbangan. Mungkin terkesan lebay ya, hehehe. Tapi buat saya yang melihat betapa lemahnya dulu dia di motorik kasar sekarang jadi bersyukur sekali melihat perkembangannya, maka hadiah playground mini semoga menjadi kenangan tersendiri atas usahanya.

 

Baiklah, jadi seperti itu tips dan trik nya jika menghadapi anak yang sedang malas belajar. Sesungguhnya mereka hanya ingin motivasi untuk tau apa tujuan mereka belajar dan bagaimana seharusnya agar bisa. Semoga kita dimampukan Alloh menemani mereka melangkah di setiap fase kehidupannya. Aamiin Ya Mujiib! Semoga bermanfaat yaa….

 


Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

28 Komentar

NurulRahma · Januari 27, 2020 pada 9:15 am

SIAP PRAKTIKKAN! :)))
Memang namanya anak2 itu unpredictable. kadang semangaaatt bgt belajar, kadang mogok udah kayak mobil kehabisan bensin 🙂

    Latifika Sumanti · Januari 31, 2020 pada 9:05 pm

    Iya Mah, kalo habis diisi lagi dengan bahan bakar motivasi ya

Sugi Siswiyanti · Januari 27, 2020 pada 9:26 am

Mutia mirip anak sulung saya,Mbak. Kemampuan motorik kasarnya lemah sehingga saya harus lebih telaten membujuknya bermain mengasah kemampuan motoriknya. Pun dengan urusan belajar, perlu energi batin luar biasa untuk membujuk dan mendampinginya. Saya sepakat dengan tiga teori yang dipaparkan di tulisan ini meski belum maksimal praktiknya 🙂

    Latifika Sumanti · Januari 31, 2020 pada 9:09 pm

    Iya Mah, motorik kasar ngaruh ke proses belajar di sekolah formal. Makanya harus dimatangkan motoriknya. Dengan apa? Ya belajar 🙂

Nchie Hanie · Januari 27, 2020 pada 2:51 pm

Aku setuju banget dengan filosofi akarnya.
Menghadapi anak yang sedang malas belajar ini akan ada masanya tersendiri, berbagai trik pasti dilakukan ya.
Kalo aku suka dikasih pilihan, kalo kamu malas belajar hasilnya begini, kalo rajin belajar begono. Bebas semua pilihanmu! hahahaa..langsung ga berkutik anakku.

    Latifika Sumanti · Januari 31, 2020 pada 9:10 pm

    Haha, teteh mah mantap yak

Mugniar · Januari 27, 2020 pada 7:35 pm

Menarik banget dan sangat bermanfaat. Ada filosofi belajar di sini.
Perlu buat para orang tua soalnya sepanjang hidup kita sebenarnya adalah belajar.

Armita Fibriyanti · Januari 28, 2020 pada 5:07 am

Filosofi akar dan daun ini sepertinya bisa saya terapkan buat anak-anak saya Mba, makasih sharingnya. Soalnya emang kadang anak-anak malas belajar

Tanti Amelia · Januari 28, 2020 pada 8:49 am

wah analogi akar ini akan aku share ke anak anakku
si kecil ini sekarang ngotoooot banget minta di sekolah swasta karena maunya ngaji dan belajar agama saja, aku juga bingung karena kakak-kakaknya kan di sekolah negeri, dan dia ga mau sama sekali

Dian Restu Agustina · Januari 28, 2020 pada 10:39 pm

Semoga Muthia dimudahkan belajar dan sekolah SD nya nanti ya Mbak. Tips yang bermanfaat untuk atasi anak malas belajar.
Kalau sulungku tahun ini masuk SMA, jadi aku nano-nano juga rasanya.
Punya anak remaja yang gitulah..kadar gangguan belajarnya tinggi 🙂

Rach Alida · Januari 29, 2020 pada 5:54 am

Halo mba. Aku sepakat banget kalau mau nggak mau kita harus memberikan apresiasi buat anak yang sudah belaajr dengan baik. Pelan pelan insyaAllah bisa 🙂

Dedew · Januari 29, 2020 pada 10:05 am

Wah tipsnya bagus mbak, terutama menceritakan filosofi akar itu, mau coba kuterapkan pada anak-anak, kalau di rumah kadang mereka tak belajar karena aku kasihan seharian sudah capek sekolah

RachmanitaA · Januari 29, 2020 pada 1:20 pm

Suka deh mom sama tips n triknya ini karena abis ini anakku juga mau sekolah pasti ada lah pertanyaan kayak gt

Larasati Neisia · Januari 29, 2020 pada 2:32 pm

Noted mba. Aku belum punya anak jadi bisa jadi bekal buatku nanti tips dan triknya. Dulu waktu kecil juga aku sebenernya malas belajar, karena aku lebih suka seni kayak praktek kerajianan, nyanyi, nari, dll daripada belajar buka buku. Tapi karena Ibuku galak jadinya tetep belajar juga sih.. Hahaha.

Diah Agustina Wulandari · Januari 29, 2020 pada 8:30 pm

MashaAllah, terimakasih kak motivasi nya. Sebentar lagi anakku juga mau masuk sekolah, jadi harus banyak sabar nih, kalau ketika suatu waktu dia malas belajar

Aswinda Utari · Januari 29, 2020 pada 8:47 pm

As always.. Ini tulisan yang panjang. Hahaha. Tapi aku membaca tanpa skip. Soal menumbuhkan cinta sama kegiatan belajar ini butuh peer emang. Yang lebih nyatanya butuh mood yg baik dan kreatifitas tanpa batas. Anak-anak memang suka sekali jenuh tapi belajar memang kadang mencapai titik itu. Sekreatif apapun medianya. Dan setuju banget sama konsep penguatan akar ini. Memang metode paling manjur itu kadang ketika kita berhasil membangkitkan semangatnya dari dalam.

Wiwied Widya · Januari 29, 2020 pada 10:32 pm

Menurutku hal yang perlu dimunculkan supaya anak mau belajar itu adalah rasa ingin tahu, kalau rasa ingin tahu dan ingin bisanya besar, maka sadar atau tidak dia akan termotivasi sendiri untuk belajar.

lendyagasshi · Januari 29, 2020 pada 10:44 pm

Persis banget sama anak keduaku. Yang bila melakukan sebuah aktivitas, harus tau dulu, “Apa untungnya untuk diriku?”
Kalo gak ada untungnya, anakku gakkan mau melakukan.
Jadi, Mama harus banyak belajar lagi…dan aku selalu menguatkan pentingnya belajar ilmu akhirat daripada ilmu duniawi, karena ada haditsnya.

**lalu mama juga harus keliatan belajar…
Jadi sama. Seusia mamanya juga masih belajar looh…

Lina W. Sasmita · Januari 29, 2020 pada 10:55 pm

Bagi saya, apapun aktifitas anak itu adalah belajar. Karena di sanalah proses pembelajaran dari alam, lingkungan dan masyarakat diserap. Belajar dari segala hal.

Wake wake · Januari 29, 2020 pada 11:05 pm

Gaaaa boleeh malas belajaaaaar, jawabnya
Tapi emang iya, masa masa ngajarin anak belajar begini memang sebentar ya mak
Tau-tau dah pada gede aja

elisabeth murni · Januari 30, 2020 pada 7:00 am

Ada suatu masa di mana anak saya bilang “ibuk aku hari ini nggak mau masuk sekolah?” saya tanya kok gitu? dia jawabnya lagi malas. Sebagai emak yaudah sih saya ijinin dia bolos. Seharian main dan senang-senang sama emaknya di rumah. Besoknya udah semangat lagi.

    Latifika Sumanti · Januari 31, 2020 pada 9:11 pm

    Refresing dia ya Mah, hehe

Hanifa · Januari 30, 2020 pada 10:20 am

Biasanya rasa malas timbul saat kita sedang suntuuuk banget. Kalau udah gitu, saya bakal alihkan energi saya ke hal lain yang juga tetap produktif tapi tetap dibatasi waktu biar fokusnya tetap terjaga 😀

    Latifika Sumanti · Januari 31, 2020 pada 9:08 pm

    Betul Mah… Selain itu juga karena tidak matang motoriknya

Ade UFi · Januari 31, 2020 pada 7:24 am

Waah filosofi otak dan akarnya keren banget, Mba. Kayaknya bakalan saya contek nih buat anak2. Ma kasih atas ilmu bermanfaatnya ya. Suka deh dpt ilmu baru

    Latifika Sumanti · Januari 31, 2020 pada 9:07 pm

    Alhamdulillah semoga bermanfaat Mah

Belajar Menulis dan Membaca Tanpa Mengeja Ala Latifika.com - Bonjour Fika · Mei 8, 2020 pada 1:59 pm

[…] Baca juga: Ma, Bolehkah Aku Malas Belajar? […]

Belajar Menulis dan Membaca Tanpa Mengeja - Bonjour Fika · Mei 9, 2020 pada 2:54 am

[…] Baca juga: Ma, Bolehkah Aku Malas Belajar? […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *