Smart Agriculture, Kemajuan Teknologi Digital untuk Mitigasi Krisis Pangan dan Iklim

Smart Agriculture, Kemajuan Teknologi Digital untuk Mitigasi Krisis Pangan dan Krisis Iklim -Bismillah….

Saat itu, di tahun 2067, 45 tahun dari sekarang, profesi dokter dan engineering tidak lagi dibutuhkan. Adalah petani, profesi yang paling ingin dicetak di planet ini. Petani yang hebat yang bisa mengeluarkan penduduk bumi dari krisis pangan saat itu.

Badai debu hebat terjadi di mana-mana disusul gagal panen karena infeksi penyakit, membuat bumi pada tahun tidak layak huni lagi. Kekurangan makanan dan bencana alam menghantui. Jalan keluar satu-satunya adalah menjalankan misi luar angkasa demi mencari planet yang layak untuk ditinggali.

Perjalanan ratusan tahun cahaya dengan pesawat antariksa pun akhirnya dilakukan untuk menemukan planet kembaran bumi di galaksi seberang, entah dimana. Perjalanan menjadi sangat dramatis sampai-sampai harus (terhisap) masuk ke black hole untuk menyingkat perjalanan dan pada akhirnya terjebak pada dimensi antah berantah. Melelahkan dan nyawa taruhannya. Sandi pun dikirimkan dari astronot masa depan agar mereka yang saat itu terpilih tidak mengikuti misi itu.

Kalian sudah pernah nonton film Interstellar yang saya ceritakan tadi? Untuk film dengan visual effect terbaik di penghargaan Oscar 2015 kalian mesti nonton, sih.

Walaupun bukan film yang bisa bikin kita jadi refreshing otak, tapi film ini ngasih insight banyak, terlebih soal masa depan bumi. Walaupun film bukan peramal, tapi masalah masa depan planet bumi memang ditentukan hari ini. Ya, film science-fiction garapan Cristhoper Nolan yang rilis 2014 lalu mau tidak mau membuat saya cemas akan planet biru ini.

Simalakama

Kalian tahu berapa jumlah manusia di bumi sekarang? 8 Milyar populasi. Dan akan bertambah 500 juta orang lagi pada tahun 2030 dan total akan ada 9.7 milyar pada tahun 2050.

Lalu kebutuhan apa yang selanjutnya pasti bertambah? Ya, pangan. Prediksi ledakan populasi di tahun 2050 membuat sektor pertanian menjadi sektor yang mau tidak mau menjadi perhatian khusus dari sekarang.

Namun, sayangnya hal itu tidak berbanding lurus dengan jumlah pertanian. Lahan pertanian semakin menyusut tergerus oleh perumahan, pertambangan, dan industri.

Tapi sekali meluaskan lahan pertanian, eh, koq membabat hutan?

“Sudah puluhan tahun tinggal di sini, baru ini kami kena banjir”

(Warga Desa Tewai Baru, Gunung Mas)

Sejak 2021 ada fenomena baru di banyak kabupaten di Kalimantan Tengah: banjir. Sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya -atau paling tidak terjadi hanya di sebagian kecil wilayah. Tapi, tahun lalu tercatat 2x banjir parah di sini. Tahun ini sudah tidak tercatat lagi. Dari jalan provinsi hingga jalan tikus berlobang sana-sini, rusak dimakan banjir.

Kalimantan banjir? Koq bisa? Kan banyak hutan?

Bisa banget, apalagi terjadi setelah hutan rimba mengalami deforestasi, entah karena perkebunan sawit, pertambangan, dan bahkan food estate.

Food estate? Bukannya bagus?

Secara definisi Food Estate adalah sebuah program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah dengan penanaman tanaman pangan skala luas. Secara konsepnya food estate sangat patut untuk didukung karena program ini bermuara pada swasembada pangan nasional. Artinya jika program ini sukses kita tidak banyak lagi bergantung pada hasil impor, kita bisa tercukupi dari hasil panen di negeri sendiri.

Ditambah lagi kita adalah sebuah negara dengan predikat gemah ripah loh jinawi alias tanah surga.

Ever wet, ever green.

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Posisi di daerah tropis yang menerima panas dan hujan sepanjang tahun adalah potensi yang sangat besar untuk membesarkan sektor pertanian, karena jelas, kita tidak perlu bekejaran dengan musim salju yang membuat tanaman hibernasi. Pun, tanah kita bukan tanah gersang, tapi tanah subur yang lembab dan disukai mikroorganisme tanah.

Tapi sebagus-bagusnya potensi jika tidak dimanfaatkan dengan tepat, yang terjadi bukan berkah melainkan musibah. Yang perlu kita ketahui, Indonesia yang berada di wilayah tropis ini juga punya tanah gambut yang tidak begitu subur untuk dijadikan lahan pertanian.

Ya, ini tentang food estate yang bermasalah di Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Food estate yang direncanakan akan dilaksanakan seluas 1 juta hektar di Kalimantan Tengah ini salah satu program pemerintah agar Indonesia tidak tergantung pada gandum impor lagi. Sayangnya, jauh panggang dari api. Alih-alih swasembada pangan, singkong tidak bisa tumbuh di sana karena tanahnya tidak mendukung.

Lalu, apa yang terjadi? Belum lagi membuka 1 juta hektar, 634 hektar hutan yang sudah dikorbankan untuk program food estate menjadi sia-sia, karena percobaan menanami singkong seluas 32 hektar tidak berhasil. Ya, singkong gagal tumbuh, hutan ratusan hektar pun sudah terlanjur dibabat.

Akibatnya pun berefek panjang. Kalian tau, Gunung Mas yang notabene daerah hulu sekarang berubah gundul dan siap mengirimkan air setiap kali hujan datang. Imbasnya, wilayah yang tidak pernah banjir seumur-umur sekarang jadi langganan banjir. Sekarang dalam setahun bisa 1-3x.

Belum lagi jika bicara soal dampaknya pada perubahan iklim. Yap, deforestasi mengirim 20% emisi karbondioksida ke atmosfer. Membuat perubahan iklim (dan juga krisis iklim) menjadi kian parah.

Ternyata sektor pertanian dampaknya luas. Tidak hanya soal ketahanan pangan, tapi juga sampai ke masalah perubahan iklim. Maka, mengelola sektor ini perlu kebijakan yang memperhatikan banyak hal.

Kemajuan Teknologi Digital di Bidang Pangan untuk Efisiensi

Berbicara masalah pangan berarti berbicara soal pertanian.

Seperti sedang berkejaran dengan waktu, kita dihadapkan pada masalah pangan yang terdampak karena perubahan iklim. Perubahan iklim membuat cuaca tidak menentu dan datang secara esktrem. Jika panas, panas sampai kekeringan dan kebakaran hutan (seperti yang terjadi di Eropa, Turki, dan Australia), dan jika hujan, hujan sampai datang air bah dan merendam seluruh kota (seperti Indonesia, Korea, Cina).

Maka, memanfaatkan teknologi digital saya pikir adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mencapai target efisiensi di bidang pertanian dan pangan.

Mungkin kita bisa belajar banyak dari negara Jepang, Korea, dan negara Timur Tengah yang kini berhasil menumbuhkan lahan pertanian di negara mereka dengan kondisi serba terbatas dengan pemanfaatan kemajuan teknologi digital yang dikenal dengan Smart Agriculture.

Pertanian Presisi

Pertanian presisi adalah konsep pertanian yang bertujuan untuk menciptakan sistem pertanian yang mengoptimalkan penggunaan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan juga mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Percepatan pengembangan pertanian presisi di Indonesia juga sangat bergantung pada pemanfaatan teknologi modern saat ini. Teknologi yang diaplikasikan harus mampu dalam: mendeteksi apa yang ada di lahan, memutuskan apa yang akan dilakukan, dan memberikan perlakuan yang sesuai dengan keputusan yang telah dibuat.

analisa smart agriculture
Kemajuan teknologi digital bidang pangan bisa mendeteksi kesehatan tanaman dan faktor lingkungan yang mendukungnya

Mengutip dari website Smart Farming UGM, bahwa saat ini berbagai jenis teknologi yang mendukung implementasi pertanian presisi sudah banyak dikembangkan, walaupun penggunaannya masih terbatas pada tataran riset dan uji coba.

Jadi bisa dikatakan bahwa transisi menuju pertanian presisi di Indonesia sudah melalui jalur yang benar. Apalagi jika didukung oleh internet murah untuk mengakses sistem pertanian presisi tersebut.

Berikut beberapa jenis teknologi dalam pertanian presisi yang bisa dicontohkan, antara lain; (i) Geographical Position System (GPS), (ii) Geographic Information System (GIS), (iii) Variable Rate Application (VRA), (iv) Remote Sensing System, (v) Yield Mapping, (vi) Database Management System (DBMS), Spatial Variability.

GIS pada pertanian
(Sumber: https://gis-university.com/gis-in-agriculture/)

Saat pengambilan sample tanah GPS akan mengirimkan data untuk menentukan jenis tanah tersebut ideal untuk tanaman apa. GPS juga membantu petani mengetahui ketersediaan air, pemetaan tanaman yang sudah siap dipanen dan menentukan estimasi hasil panen.

Teknik Drone untuk Mengecek Kesehatan Tanah dan Tanaman

Kita belajar banyak dari kegagalan food estate di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Sudah seharusnya pihak yang berwenang sebelum memutuskan untuk membuka lahan (yang artinya sama dengan membabat hutan) menganalisa bagaimana struktur tanah di sana. Jika sudah mengetahui struktur tanahnya dengan baik, prediksi perawatannya akan lebih tergambar.

drone untuk smart agriculture

Teknologi untuk menganalisa lahan pertanian tersebut sudah banyak dipakai di negara luar. Di Indonesia sendiri sudah ada yang namanya teknologi Drone Precision Farming. Drone untuk tujuan ini ternyata sedang dikembangkan oleh LAPAN pada proyek food estate di Agam dan Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, baru-baru ini.

Foto udara yang diambil dari drone akan dilakukan untuk mengumpulkan data lapangan yang kemudian yang berupa hasil pengujian smart sensor yang diaplikasikan pada drone smart farming.

Ini adalah hasil uji coba drone yang dilakukan Pustekbang LAPAN di areal pertanian Humbang Hasundutan, Sumatera Utara untuk mendukung program ketahanan pangan (food estate) yang dilaksanakan oleh Pemerintah.

Kemudian data tersebut akan menjadi 2 bagian, yaitu: Data NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), merupakan indeks yang menggambarkan tingkat kehijauan suatu tanaman, dan data NDRE (Normalized Difference Red Edge), yaitu indeks yang menganalisa apakah vegetasi tersebut sehat atau tidak.

Contoh hasil olah foto melalui drone pada kebun Jeruk
(Sumber: http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/drone-untuk-petakan-kondisi-tanaman/)

Dengan begini petani tidak lagi perlu mengecek satu per satu buah mana yang sehat, sakit atau mati. Cukup memantau hasil drone dan temukan titik koordinat pohon yang perlu perawatan ekstra.

Selain penganalisaan wilayah, drone juga digunakan untuk penyebaran benih, penyemprotan pupuk dan pestisida. Ini lebih efektif dan efisien karena drone berkapasitas 5 liter bisa menyemprot seluas 0.4 hektar dalam waktu 10 menit.

Bandingkan dengan metode konvensional dengan semprot manual. Teknologi drone jelas sangat menghemat waktu dan tenaga.

Smart Green House

Rumah kaca cerdas adalah salah satu bagian dari kemajuan teknologi digital bidang pertanian. Dengan bantuan internet, rumah kaca cerdas dirancang untuk mengamati pertumbuhan dan mengendalikan iklim. Smart green house ini nantinya akan dikendalikan menggunakan sensor elektrik sesuai dengan kebutuhan. Menggunakan server berbasis Cloud para petani bisa mengakses sistem dari jarak jauh.

Jadi nantinya petani akan bisa mengatur suhu, kelembaban dan pencahayaan yang ada di smart green house hanya dengan menggunakan aplikasi yang ada di gadget.

Canggih, beud, pak tani!

https://agrozine.id/smart-green-house-polbangtan-yoma-segera-dibangun-untuk-tingkatkan/

Jika semua terintegrasi dengan jaringan internet begini apa jadi gak boros listrik?

Bisa ya, bisa tidak.

Mungkin kita bisa mencontoh negara Timur Tengah yang membuat panel surya untuk kebutuhan listrik pertanian mereka. Dengan begini smart green house benar-benar menjadi “rumah pintar yang go green”.

Smart Livestock Farming

Peternakan-pintar dengan menggunakan internet juga bertujuan meningkatkan efisiensi usaha peternakan.

Misalnya pada Smart Beef cattle management yang sudah diterapkan di luar negeri. Konsepnya pada ternak sapi dilengkapi dengan dua macam perangkat yaitu sensor yang mencatat kondisi sapi dan perangkat untuk identitas sapi (misalnya chip untuk nomor sapi). Pada sensor dilengkapi pengirim pesan data dan indentitas sapi, yang dapat diterima oleh stasiun GPRS, diteruskan ke sistem internet (cloud) yang kemudian bisa diterima oleh laptop atau HP (misalnya sistem Android) melalui online.

Lalu akan dianalisis status nutrisi ternak, body condition score (BCS), status reproduksi, keberhasilan perkawinan, bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan (berat dan tinggi badan), konformasi tubuh (rasio daging dan tulang), warna tubuh, dan status kesehatan.

smart farming pada kecanggihan teknologi digital pertanian
Konsep smart farming
(Sumber: https://www.innovaspain.com/los-ganaderos-de-america-latina-y-ee-uu-se-conectan-al-iot-con-telefonica-y-cattle-watch/)

Teknik ini tentu saja memudahkan monitoring peternak pada setiap sapi ternaknya. Data yang dikirimkan akan memberikan gambaran bagaimana kondisi kesehatan setiap hewan bahkan bisa mengetahui sapi mana yang perlu dikawinkan.

Tentang Internet of Things (IoT)

IoT adalah hal yang melekat pada era industri 4.0. Terlebih prediksi ledakan populasi manusia pada 2050 akan membawa dampak pada sektor pertanian. Jika tidak disiapkan dari sekarang, bagaimana ketercukupan pangan di masa datang?

Konsep IoT pada bidang pertanian didasarkan pada penggabungan berbagai proses, dari identifikasi masalah lahan dan tanaman (serta hewan ternak) sampai pembuatan jaringan berbasis komputasi untuk menyelesaikan masalah pertanian dan peternakan.

Populasi dunia yang diprediksi mencapai angka 9,6 milyar pada tahun 2050 tentu harus diimbangi dengan akselerasi teknologi di bidang pertanian dan peternakan dan juga internet murah sebagai pendukung utama IoT pada smart agriculture. Mengingat kita bekejaran dengan perubahan iklim dan semakin terbatasnya lahan.

Dengan bantuan IoT penggunaan pupuk dan pestisida pun menjadi hemat dan efektif yang akan mengurangi limbah pupuk dan pestisida yang merusak lingkungan. Tapi saya tetap menaruh harapan besar untuk pengembangan teknologi pupuk dan pestisida secara organik agar pertanian kita berkelanjutan dan tidak menambah parah climate change yang sudah terjadi.

Karena bagaimanapun sistem Smart Agriculture berkonsep sistem efisien dengan teknologi tinggi untuk membudidayakan tanaman pangan secara berkelanjutan.

android untuk teknologi digital pertanian

IndiHome Membantu Kemajuan Teknologi Digital Bidang Pertanian

Sistem pertanian dan peternakan cerdas berbasis IoT ini dalam pelaksanaannya punya hardware tersebut didukung oleh akses internet berkecepatan tinggi, perangkat seluler, dan satelit untuk melakukan pencitraan dan penentuan posisi.

Jika merujuk pada konsep awal Smart Agriculture yang bertujuan untuk menyediakan bahan pangan dengan low-cost maka diperlukan sebuah sistem yang mendukung untuk itu. Dan salah satu support utama nya adalah pada internet murah. Petani dan peternak biasanya mendapatkan perangkat hardware dan software dari pemerintah.

Berarti tinggal kuota internet saja yang diperlukan oleh petani kita. Tentu kemajuan teknologi pertanian secara digital tidak akan dirasa mudah jika biaya internetnya mahal. Oleh karena itu internet murah menjadi bagian wajib dari keberhasilan smart agriculture and farming.

Salah satu penyedia internet di Indonesia adalah IndiHome yang ikut mendukung penyediaan internet murah yang bisa dirasakan hingga bagian pelosok tanah air. Petani dan peternak di bawah gunung sampai dekat pantai pun bisa mengakses aplikasi dengan mudah dan tanpa khawatir terbentur biaya internet karena IndiHome berkomitmen menyediakan internet murah untuk pengembangan teknologi pertanian cerdas Indonesia.

Ditambah lagi jaringan infrastruktur Telkom di Indonesia yang sudah memiliki serat optik sepanjang 170.885 km, 251.116 BTS dan 14,1 juta optical port telah membantu 8,6 juta pelanggan IndiHome tersambung dengan dunia melalui internet.

Tahun ini 57 tahun sudah umur Telkom Grup, pastilah ada andil mereka pada angka literasi digital masyarakat negeri ini yang mencapai indeks 3,49 dari 5. Sebuah angka yang menandakan bahwa masyarakat kita sudah cukup matang menuju era society 5.0. Semoga angka itupun berbanding lurus dengan tingkat produktivitas, agar manfaat internet selalu menuju pada kebaikan.

Tahun 2022 ini pula Telkom Group mendapatkan penghargaan 17 emas, 3 perak, 3 perunggu dalam Grand Stevie® Award Asia-Pasific, mengalahkan 900 nominasi dari puluhan perusahaan teknologi dari 29 negara di Asia Pasifik. Luar biasa. 

Semoga prestasi ini membuat IndiHome semakin bersemangat menyediakan internet murah bagi rakyat Indonesia, khususnya para petani dan peternak, pahlawan pangan kita.

Kesimpulan

Untuk mitigasi krisis iklim dan krisis pangan, smart agriculture adalah salah satu solusi untuk menciptakan pertanian yang efisien dan ramah lingkungan serta memaksimalkan hasil produksi dengan teknologi digital. Maka dari itu perlu support dari semua pihak, baik petani, pemerintah, masyarakat dan juga penyedia internet murah untuk pertanian kita agar smart agriculture bisa segera dicapai dan berdampak masif.

Referensi

https://smart-farming.tp.ugm.ac.id/2020/09/13/pengembangan-konsep-pertanian-presisi-di-indonesia/
https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/index-berita/teknologi-smart-greenhouse
https://agrozine.id/smart-green-house-polbangtan-yoma-segera-dibangun-untuk-tingkatkan/
https://eduwara.com/canggih-drone-lapan-bisa-deteksi-kesehatan-tanaman
https://fapet.ub.ac.id/iot-dan-smart-livestock-farming-untuk-tingkatkan-efisiensi-usaha-peternakan/

27 thoughts on “Smart Agriculture, Kemajuan Teknologi Digital untuk Mitigasi Krisis Pangan dan Iklim”

  1. Kenapa ya anak2 sekarang ga mau jadi petani? Mungkin karena gak bergengsi dan hasilnya tidak bisa memenuhi ekspektasi. Pernah aku follow akun petani muda gtu, dia bilang susah juga bertani di Indonesia, karena penjualannya sangat murah, dan bahkan mungkin cenderung ga nutup modal. Peran pemerintah penting banget saat skrg, gimana caranya petani itu tidak kalah sejahtera dari profesi lainnya, dimulai dengan support system bagi petani.

    Reply
  2. Nyesek banget, udah buka hutan, eh gagal panen singkong karena tanahnya nggak cocok, apa nggak dicek dulu sebelum buka lahan. Teknologi smart green house bisa nggak ya untuk sekala kecil, bisa nih setiap desa pakai teknologi ini untuk ketahanan pangan

    Reply
  3. Semakin kesini jumlah populasi penduduk semakin meningkat, kaget banget prediksi populitas penghuni bumi sudah mencapai angka 9.7 M di tahun 2050 an. Huaaa makanya semakin ke sini peradaban pun semakin canggih begitu pun dengan teknologi pertanian yang pastinya membantu para petani untuk lebih mudah dalam menjalankan pekerjaannya, belum lagi rumah kaca yang hanya bisa dikendalikan melalui smartphone, jangan lupa selalu menyiapkan data untuk mempermudah akses internetnya ya.

    Reply
  4. Kemajuan teknologi tentu dapat meningkatkan kemajuan di bidang pertanian dan sebagainya. Penggunaan drone dan alat canggih lainnya mempermudah petani maupun warga bahkan pemerintah, untuk cek hasil kebun dan ladang, persawahan, sehingga hemat waktu, hewat biaya. Alhamdulillaah kehadiran IndiHome bermanfaat sekali bagi kehidupan manusia untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

    Reply
  5. Ya ampun, ternyata teknologi pangan sudah banyak ya! Duh, keren-keren pula. Semoga bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan nih teknologinya supaya bisa mandiri dalam bidang pangan ya, bahkan bisa jadi pengekspor utama untuk negara2 lainnya.

    Reply
  6. pemanfaatan teknologi digital untuk berbagai hal termasuk pertanian ya, setuju ini. Indonesia kan tanahnya subur cakep beda dgn yg lain2. Apalagi klo memanfaatkan teknologi untuk ngecek dari atas gitu kan, lebih efisien, nggak cuma keren. Dan udah waktunya percepatan hal2 yg kayak gini nih, trus listrik jg udah harusnya smart home kituuu yaa. Menanti2 kapan adanya yg merata.

    Reply
  7. Keren banget tulisannyaaaa.
    Eh justru Lapan masih mengembangkan di Sumatra ya? Yg di Jawa ada gak hehe
    Iya ya yang namanya pertanian kalau ketemu teknologi malah bisa melesat,, bagus hasilnya seperti yang di negara2 kek Jepang itu.
    Kehadiran inet yang bagus juga sangat menentukan keberhasilan pertanian dgn metode modern kyk begini.

    Reply
  8. Walah untuk memilah lahan pertanian pun sekarang bisa pake drone ya? Keren banget Indonesia, meskipun ya agak tertinggal dari negara lain, tapi kemajuan banget. Apalagi sampe menebar benih pun bisa pake drone. Salut nih

    Reply
  9. Sbg lulusan pertanian dua dekade lalu, trus ga nyemplung di dunia pertanian, aku terkesima lho baca tulisan ini.

    Keren banget kalau sekian persen dr petani Indonesia bisa mengaplikasikan ini. Rasanya akan mjd spt film interstellar bahwa petani adl karir yg dicari di masa depan. Lha kita mau semaju apapun dalam teknologi lain, tetap aja butuh makan ya…

    Reply
  10. Wah teryata drone juga memiliki manfaat ya jika digunakan sesuai dengan kepentingannya. Dan ini juga jadi tahu kondisi tanaman yang satu sisi jika susah terjangkau. Dengan teknologi, tentunya akan membuat pertanian makin maju dan berkembang

    Reply
  11. Kehadiran internet memang sangat membantu perkembangan berbagai sektor ya. Termasuk bidang pertanian di Indonesia yang masih sangat bisa dikembangkan. Secara Indonesia sudah punya modal tanah yang subur, hampir semua tanaman bisa tumbuh dengan baik. Can’t wait melihat perkembangan berbagai sektor beberapa tahun ke depan karena dukungan teknologi internet

    Reply
  12. Dirimu kalau nulis soal lingkungan tuh manteep Mbak, Mba Fika. Keren, sampai ngerti aku jadinya
    Baru tahu ada pertanian presisi adalah konsep pertanian yang bertujuan untuk menciptakan sistem pertanian yang mengoptimalkan penggunaan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Keren…perlu dukungan semua ini!

    Reply
  13. Miris yang terjadi pada Gunung Mas itu, terlanjur adanya pembukaan lahan jadi hutan pun berkurang luasnya.
    Nah aku pernah lihat di salah satu channel Youtube, ada transmigran yang baru 5 tahun tinggal di Kalimantan, ditempatkan di tanah gambut. Tapi dia salah seorang transmigran yang sukses menggarap lahan gambut untuk ditanami buah-buahan dari mangga, rambutan, apalagi ya, ada beberapa tanaman buah. Dia tekun menggarap lahannya meski teman-temannya banyak yang kembali ke Jawa.

    Untuk pertanian dengan smart green house pasti mahal biayanya, kecuali dengan menggunakan panel tenaga surya bisa lebih menghemat listrik. Keren banget tulisannya, aku seakan diajak memandang jauh ke depan. Dan ingat banget film Interstellar itu memang bikin kita berpikir selama nonton bahkan setelah selesai. Sampai di rumah malah jadi kepikiran yang bisa saja suatu saat beneran terjadi

    Reply
  14. Bagus banget tulisannya mbaa,aku suka banget,materinya juga lengkap,tapi mudah dicerna,sukaa hehehe. Apalagi di awal ada interstellar waa kesukaanku banget itu,seolah imajinasiku melayanggg ke galaxy semesta yang milyaran :). Yup setuju,semoga cucu dan cicit kita kelak,bisa bertahan dan berpadu baik dengan lingkungan ya..jangan sampai kejadian badai debu dan krisis pangan bumi kita,seperti cuplikan di interstellar.

    Reply
  15. Kalau dilihat-lihat, sekarang ini memang banyak yang suka bercocok tanam. Petani bisa manfaatin teknologi karena pengetahuan juga makin banyak. Ya tentunya memang butuh dukungan dari semua pihak karena ini bisa bantu menghadapi krisis iklim

    Reply
    • Banyak sekali upaya yang bisa kita lakukan dalam mengatasi perubahan iklim ini
      Lakukan hal sederhana namun bisa mengatasi perubahan iklim ya mbak
      Termasuk smart agriculture ini

      Reply
  16. Masya Allah canggih kereen biasanya aku lihat di pertanian luar negeri, ini di Indonesia semoga dengan teknologi yg semakin berkembang pertanian kita ikutan maju ya makk…

    Indihome hadir memberikan kemudahan akses layanan internet sampai pelosok negeri.

    Reply
  17. Keren banget. Sekarang bertani pun bisa terbantu berkat adanya internet. Luar biasa! Teknologi memang memudahkan kita.

    Reply
  18. Ya Allah kak Fikaaa..
    Aku bacanya jadi terpukau.. karena dunia pertanian itu kalau dipadukan dengan teknologi bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Aku jadi ingat salah satu aplikasi bagi nelayan yang diciptakan agar mereka mengetahui saatnya melaut kapan, gelombang, cuaca dan semuanya dipadu lengkap.

    Semoga dari tanah, kita makmur. Dari laut, kita jaya.
    Indonesiakuu..

    Reply
  19. Krisis pangan ini karena emang generasi penerus banyak yang ngga mau jadi petani. Rata-rata berkarier di kota, jadi yang jadi pertani itu yang lansia.
    PRnya pertanian di Indonesia ini banyak, khususnya harus memanfaatkan teknologi & internet.
    Makanya saya salut sama petani muda yang mau terjun ke lapangan & bantu pertanian dengan teknologi

    Reply

Leave a Comment