Assalamu’alaikum…

Kalian pernah terbersit pertanyaan ini ga? Saya sering nih, teramat sering malah. Apalagi pas sudah berkeluarga dan sudah menetapkan pilihan akan berdiam di mana (setelah 3 tahun pertama nomaden)  lalu mencari-cari rumah untuk kami tinggali untuk selawasan.

Dalam proses pencarian rumah itu mata saya kaya lebih tajam dari biasanya, memperhatikan lebih detil, dan akhirnya menyimpulkan sesuatu yang sebenarnya sudah lazim dilihat.

Koq rumah yang ditinggalkan lebih cepat rusak ya?

Padahal kalo dipikir-pikir, rumah yang ga berpenghuni kan berarti ga ada orang yang beraktivitas di dalamnya, ga ada bocil yang “berkreasi” dengan dinding dan segala perabotan, ga ada tangan yang suka pasang paku di mana-mana. Intinya, rumah kosong bebas dari segala aktivitas itu. Tapi koq justru lebih cepat rusak??

Pertanyaan ini makin menguat tatkala saya menyaksikan sendiri rumah di sebelah saya yang dibangun tidak sampai setahun sudah terkelupas catnya di bagian luar. Rumah itu ada pemiliknya, tapi hanya ditinggali sebulan 3 4 hari saja, jadi lebih banyak kosongnya.

Sedangkan rumah saya 2 tahun lebih dulu masih lumayan awet catnya (walaupun sudah menunjukkan kekusaman tapi tidak mengelupas). Padahal di rumah saya ada 2 balita yang sedang asyik-asyiknya eksplorasi sana sini, mencap dinding dengan tangan berwarna-warni, dll. Harusnya yang banyak aktivitas di dalamnya lebih cepat rusak, bukan?

Baru setahun udah kena catnya, nanti bertambah tahun makin banyak yang rusak, bisa pintu, bingkai jendela, plafon, wc bocor, pipa tersumbat, dll. Ada apa dengan rumah kosong?

Setelah saya coba telisik lebih dalam, akhirnya saya paham faktor-faktor penyebabnya dan di bawah adalah 3 faktor terbesarnya, antara lain;

1. Rumah kosong berarti rumah yang tidak ada orang yang tinggal di dalamnya, otomatis tidak ada yang merawat. Sehingga debu, kotoran, kuman, bakteri dan sebangsanya menempel di mana-mana dan menggerogoti material bangunan.

2. Rumah kosong berarti tidak pernah dibuka jendela dan pintunya. Bahkan beberapa rumah juga tidak ada ventilasinya. Alhasil panas matahari di siang hari dan masuk ke dalam rumah itu hanya terkumpul di dalam tidak bisa keluar dengan mudah. Akhirnya,  panas dan lembab menjadi satu keadaan dengan energi endoterm yang cukup tinggi,  membuat rumah cepat lapuk dan catnya mudah terkelupas.

Kalo boleh dibahas dari ilmu Fisika, ini berkaitan dengan hukum III Termodinamika, dimana jika terjadi pemanasan terus menerus akan mengakibatkan entropi naik, dan kenaikan entropi akan menyebabkan progres kerusakan barang lebih cepat. Saya pernah bahas sedikit di tulisan sebelumnya. Mangga

Baca juga: Barang-barang rumah yang bisa “basi” 

3. Genteng bocor saat hujan tidak lekas diperbaiki. Jika ada genteng bocor terlebih jika rumahnya ber- plafon, maka rembesan air di  akan cepat menjalar ke bagian plafon lain. Dengan keadaan basah dan lembab seperti itu, jamur akan mudah sekali tumbuh dan menyebar ke area lain. Dan lapuk berjamaah pun dimulai.

Ok, pembacaa, itulah 3 faktor yang menurut saya menyumbang peranan terbesar atas kerapuhan sebuah rumah.

 Jadi, semuanya karena ulah makhluk yang tak kasat mata, seperti kuman, bakteri, jamur, dan panas.  Eh, iya, bener kan?  mereka semua tak kasat mata kan? Ga cuman πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘» yang tak kasat mata loh.

Nah, itu kalo rumah ya. Kalo hati gimana? Bukan, bukan liver. Hati is qolbu I mean.

Iya, sama…  Kalo hati kita kosong ‘ga berpenghuni’ bisa banget lah rusak kaya rumah kosong tak berpenghuni. Rusak karena ga dirawat dengan kasih sayang, ga dibersihkan dengan wudhu, sholat, dan mengaji, ga diperbarui imannya dengan ilmu. Dibiarkan begitu saja, kosong melompong tanpa aktivitas ruhiyah.

Jadi, yuk, sama-sama isi rumah dan hati kita. Jangan biarkan kosong *mirror talk


21 Komentar

aya khairiah · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Bener banget nih mba Fika, aya pikir rumah kosong cepet rusak karena ada πŸ‘», ternyata ada faktor lain ya, mba Fika keren ih bahasa nya 😍. Aya udah lama ga belajar IPA , terakhir waktu SMP πŸ˜‚

Rach Alida Bahaweres · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Iya bener banget, mba. Rumah sebaiknya tetap ada penghuninya biar tak mudah rusak

Icha faizah · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Waaah iya ya, ga kepikiran πŸ˜€

Ruli retno · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Rumah kosong itu memberi kesempatan mahluk lain tinggal dengan bebas. Contohnya jamur, tikus, dan mahluk lainnya

Novarina DW · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Punya rumah tapi dibiarkan dihuni 'makhluk' lain kok rasanya sayang banget. Mending dikontrakin atau dijual aja deh ^^

Hisafu · April 11, 2019 pada 7:28 pm

haha salah fokus sama hati yang kosong…

April Hamsa · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Hehehe iya kalau org sini lbh percayanya krn suara itu membuat semua benda, dinding, kusen, atap itu jd lebih kuat katanya. Beda kalau rumah kosong gk ada aura/ hawa manusianya.

Ternyata gtu ya penjelasan logisnya πŸ˜€

TFS

Latifika Sumanti · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Kalo belum tertutup pintu dan jendelanya saya rasa masih mending mba, kan panasnya ga "tekuhum" di dalam (???)

Latifika Sumanti · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Ciee, yang mau S2 bentar lagi. Semangatnya masya Alloh. Iya ni, sembari mengulang pelajaran waktu kuliah mba, kalo ga gitu bakal tergerus oleh masa krn apa daya saya belum bekerja, hihi

Rindang Yuliani · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Makanya ya orang2 zaman dulu paling anti ninggalin rumah walau semalam kalau nggak ada yang nginapin. Waktu dulu saya berpikirnya karena mereka takut maling atau takutnya dihuni makhluk halus, sekarang sdh mulai paham kalau sebabnya antara lain ya 3 hal yang disebutkan mbak Fika di atas.

Antung apriana · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Jadi ingat calon rumah sendiri yang belum didiami karena belum selesai dapurnya. Nengok ke sana paling sebulan sekali. Semoga aja nggak banyak yang rusak

Ruli retno · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Termodinamika ini saat aku kuliah dapat sampai beberapa semester terbagi dalam matkul termo 1-2-3 dan kesemuanya ga dpt liat A. Paling tinggi B itu juga girang banget, see.. Tiap mba fika nulis berasa di ingatkan lagi betapa rumitnya itung2an saat itu tapi aku suka. Karena uda niat mau kuliah lagi, jd aku memang kudu belajar lagi, refresh.. Tapi aku memang mengalami sendiri, barang2ku yang di gudang jg cepet lapuk karena gudangku tertutup. Lembab

Little Deer's Blog · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Kalo gitu jangan dibiarin kosong ya, mending di sewain atau dikotrakin ya kan mba:D tapi kalo masalah hati ga bisa di sewa in hihihi

Anggraeni Septi · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Wah jdi keinget rumah sendiri yang belum dihuni karena belum ada air huhu

Elva Susanti · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Rumah tak berpenghuni cepat rusak dikarenakn tdk dirawat ya mbak, jauh berbeda dgn yg tak berpenghuni (kesannya serem)

kadinda aprilya · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Wah bener banget mba, rumah kosong itu cepet bgt rusak karena berbagai hal yg mba jelasin.. jadi lebih baik tetap dirawat

Rima Angel · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Waaa mbak fika kepikiran aja neh ide nulis beginian tp pasti banyak sih dibenak orang-orang yg penasaran mengenai rumah yg ga ditempati begini. Hihi

Aswinda Utari · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Kalau loteng rumah tak berpenghuni bisa jadi apa ya.. Hiiiy.. Hahaha..
Dulu y mikirnya rumah ga dihuni lama itu serem aja.. Liat keropos sana sini dikira yg ngeroposin makhluk gaib. Itu sih dulu.. Eaa

ernawati lilys · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku pengalaman rumah sendiri jadi banyak penghuninya kecoa, tikus dan semut rayap. Jadi cepat rusak.

Beautyasti1 · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Rumah kosong cepat rusak karena ga dirawat, tapi sebisa mungkin bikin rumah yang banyak ventilasinya ya mba biar ga pengap dan udara bisa terus segar

Kisah Horor di Rumah Dinas PTT - Bonjour Fika! · September 10, 2020 pada 12:00 pm

[…] Baca juga: Rumah Kosong Lebih Cepat Rusak. Tanya Kenapa? […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *