Tertawan Hutan Karena Hutan Kita Sultan

Tertawan hutan karena hutan kita sultan – Bismillah…

Dulu, 14 tahun lalu, waktu kuliah saya punya seorang teman seangkatan yang namanya masih saya ingat. Berbeda dengan teman-teman lainnya yang penuh semangat belajar di semester 1 (Iya, karena masih baru), dia justru sudah menunjukkan tanda-tanda tidak semangat belajar sama sekali. Seperti salah ambil jurusan. Dan itu nampaknya juga terendus oleh dosen pengajar.

Tidak menunggu lama, semester depan dia sudah menghilang dari kelas. Datang kabar bahwa dia pindah prodi yang tidak seketat tugas-tugas kami yang harus keluar masuk laboratorium. Usut punya usut ternyata dia juga ikut komunitas Pecinta Alam.

Dulu saya yang “Hah, keluar jurusan (yang potensial saat itu)? Pindah cuman untuk bisa main-main ke gunung??”.

Wah, saya auto juli dalam hati, karena untuk masuk jurusan (yang saat itu masih langka) saya sampai rela tidak mengambil pilihan PMDK (salah satu seleksi masuk universitas negeri) yang saya sudah lulus di sana. Keputusan dia saat itu benar-benar can’t relate dengan semangat kuliah saya waktu itu.

Tapi, astaga! Apa yang saya lakukan hari ini? Saya justru mengikuti jalannya menjadi pecinta alam.

Pecinta alam versi saya tentu berbeda dengan teman saya itu. Dia mungkin mencintai alam dengan jiwa petualangnya. Sedangkan saya dengan kondisi seperti ini tidak mungkin naik turun gunung. Saya mencintai alam karena merasakan kondisi bumi yang semakin dekat dengan krisis iklim. Baru-baru saja memang, sejak kejadian karhutla 2015 dan 2019 membuka mata saya soal kegentingan ini. Memang terlambat. Jadi apapun itu, tidak ada salahnya dengan pemuda-pemudi pecinta alam sekalipun dia mahasiswa. Kuliah memang untuk masa depan seseorang, namun semangat mencintai alam efeknya jangka panjang.

#HutanKitaSultan

Seperti pepatah terkenal bilang “Tak kenal maka ta’aruf tak sayang”. Cobalah kenalan dulu biar bisa sayang dan jatuh cinta dengan alam Indonesia yang katanya gemah ripah loh jinawi. Yuk, kenalan!

Bila kau ada waktu, lihat aku di sini
Indah lukisan Tuhan, merintih ingin kau kembali
Beri cintamu lagi

Negara Tropis dengan Hutan Hujan Tropis

Jika kita melihat peta dunia, maka akan terlihat bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang berada di wilayah tropis. Secara definisi, negara tropis adalah negara dengan wilayah yang berada pada posisi tropic of cancer di utara (23.5o LU) dan tropic of capricorn di selatan (23.5o LS). Wilayah yang selalu hangat dan menerima sinar matahari konstan ini membuat pepohonan tumbuh dengan baik. Everwet and evergreen. Menyenangkan bukan punya negara yang hutannya selalu hijau?

Daerah tropis adalah daerah antara Tropic of Cancer dan Tropic of Capricorn

Kalian tau, di negara subtropis, jika sudah masuk musim salju ada syndrome yang namanya SAD, akronim dari Seasonal Affective Disorder. Ini adalah sebuah jenis depresi yang muncul pada seseorang ketika musim dingin tiba. Jadi penderitanya akan mengalami mood swing, sedih tidak jelas, tertekan, bingung, dan berujung depresi. Kita yang anak tropis pasti merasa aneh karena di bayangan kita musim salju itu seru karena bisa main salju. Ternyata tidak selalu seperti itu yang terjadi.

Kalau pandangan secara sains, munculnya SAD ini hal ini dipengaruhi karena kurangnya sinar matahari yang mereka dapat, karena ternyata sinar matahari membantu sekresi hormon dopamin dan serotonin serta sintesis vitamin D3 dalam tubuh yang bisa menekan stress. Jadi, kalau kalian suka mood swing bisa jadi karena kurang asupan sinar matahari. Nah, konon si SAD ini juga yang memicu salah seorang artis K-Pop melakukan suicide beberapa tahun lalu.

Maka, rasanya sudah sepatutnya kita bersyukur berada di negara tropis yang matahari selalu muncul sepanjang tahun. Lebih dari itu, bahkan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia ada di sini, ya di Indonesia. Mengutip dari CNN, yang bersumber dari World Resources Institute bahwa 3 negara dengan paru-paru dunia adalah; Brazil, R.D Kongo, dan Indonesia. #IndonesiaBikinBangga.

The Lungs of The Earth

Istilah hutan sebagai Paru-paru Dunia sudah bukan istilah asing, bahkan sejak SD kita sudah diperkenalkan itu. Bedanya jika paru-paru manusia menyerap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, maka pohon sebaliknya: menyerap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen. Itulah kenapa dia disebut paru-paru dunia.

Menurut LindungiHutan, hutan hujan tropis menyediakan 30% perputaran oksigen yang ada di bumi serta menyerap dan menyimpan 247 milyar ton karbon sebagai hasil fotosintesis.

Menjaga siklus air

Saat proses fotosintesis, pohon mengeluarkan uap air ke udara. Aktivitas itu membuat kelembaban udara terjaga. Uap air itu juga membantu terbentuknya awan mendung sehingga terjadi hujan. Hujan lalu jatuh ke tanah dan diserap akar pohon, menjadi bahan fotosintesis dan sebagian disimpan dalam akar dan batang untuk cadangan saat kemarau. Akar-akar pohon membantu air agar: tidak meluncur begitu saja, mengerosi tanah, lalu membuat banjir dataran rendah.

Menjaga Iklim Dan Cuaca

Pepohonan raksasa di hutan akan menyerap gas rumah kaca yang dihasilkan oleh kegiatan makhluk hidup. Gas rumah kaca seperti karbondioksida dan nitrogen dioksida diserap tanaman dan disaring untuk jadi nutrisi pertumbuhan mereka. Coba kita pikir, kurang baik apa Sang Pencipta sudah menciptakan hutan untuk manusia, polutan bagi kita disulap tanaman menjadi udara bersih untuk makhluk lainnya.

Saya membuat ilustrasi sederhana untuk menggambarkan bagaimana pentingnya hutan dalam menstabilkan bumi. Semoga kalian bisa tergambar dengan baik soal urgensitas hutan.

bumi yang sehat

Lalu, bagaimana bila hutan digunduli?

Betul. Tidak ada lagi yang menyerap panas matahari dan gas rumah kaca. Akibatnya, panas matahari akan terpantul-pantul kembali ke bumi, menaikkan suhu bumi dan booom! perubahan iklim.

Bisa kalian bayangkan sekarang bagamana kita tanpa hutan? Siapapun yang menyadari ini pasti akan tertawan dengan hutan karena dia sebegitu pentingnya untuk planet kita. Hutan menyediakan kita oksigen, hutan menjaga siklus air bumi, hutan menjaga suhu bumi tetap stabil. Semua fungsi vital kehidupan manusia disokong oleh hutan.

Jadi sejak mata dan pikiran terbuka tentang masa depan bumi, saya merasa tergerak untuk mengajak teman-teman untuk mencintai bumi dan memikirkan masa depan anak cucu kita, lewat tulisan di blog, vlog maupun postingan-postingan di medsos saya. Karena jujur saya takut sekali membayangkan seperti apa kehidupan anak cucu saya jika sekarang saja bumi sedang tidak baik-baik #UntukmuBumiku.

BiodiversityTerbesar di Dunia

Pandanglah indahnya biru yang menjingga
Simpanlah gawaimu, hirup dunia
Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada
Dengar alam bernyanyi

Biodiversity adalah bahasa lain dari keanekaragaman hayati. Walaupun hutan hujan tropis hanya menutupi 2% dari planet bumi, tapi ternyata dia sudah menjadi rumah yang nyaman untuk lebih dari 50% spesies bumi. Dan Indonesia, lagi-lagi menjadi bagian itu. Ya, hutan Indonesia adalah hutan dengan megabiodiversity terbesar kedua di dunia setelah hutan Amazone. #IndonesiaBikinBangga.

Data di atas diambil dari LIPI dan Antara News di atas membuat kita semakin bangga dan bersyukur bahwa alam kita ternyata menyimpan harta karun bumi.

Apa yang menyebabkan Indonesia punya biodiversity yang sangat tinggi?

  1. Berada di garis ekuator, daerah yang hangat dan basah adalah tempat ideal untuk makhluk hidup berkembang.
  2. Berada antara 2 benua sehingga memperkaya vaiasi dari gen, spesies dan ekosistem.
  3. Punya bentang alam yang beraneka ragam, mulai dari; laut, danau, sungai, lembah, dataran rendah, dataran tinggi, dan gunung sehingga semakin banyak flora fauna yang berkembang sesuai dengan habitatnya.

Masih ingat garis khayal Wallace dan Weber yang kita pelajari dulu di IPS saat SD? Garis tersebut membagi 3 wilayah Indonesia berdasarkan kemiripan flora dan faunanya yang berhasil diteliti oleh biologis asal Jerman, Max Carl Wilhelm Weber dan Alfred Russel Wallace dari Inggris pada akhir abad 19.

Flora dan fauna sebelah barat garis Weber bertipe asiatik, ditandai dengan banyaknya hewan mamalia bertubuh besar, seperti; beruang, gajah, badak, harimau, orang utan yang mirip dengan hewan benua Asia. Sedangkan di sebelah kiri garis Wallace adalah bertipe Australia yang berciri khas beragam burung dan mamalia bertubuh kecil, seperti; kanguru, kuskus,  biawak, burung nuri, hingga burung cenderawasih yang mirp hewan Benua Australia. 

Adapun daerah tengah-tengahnya antara garis Weber dan Wallace adalah daerah persebaran flora dan fauna endemik, seperti; babi rusa, anoa, komodo.

Jika dilihat dari data infografis di atas, spesies mamalia di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia. Wow! Untuk spesies lainnya menempati peringkat 2, 4 dan 5, berbagi dengan biodiversity yang ada di Amazone dan Lembah Kongo.

Coba masuk ke dalam hutan yang masih alami di tempat kalian dan #DengarAlamBernyanyi di sana. Relakah kita jika itu semua akan punah beberapa tahun lagi?

Hutan kita sultan, siapa yang tidak tertawan?

Hutan Gambut Tropis Terbesar Dunia

Selain hutan hujan tropis, Indonesia juga punya hutan gambut tropis. Namun, tidak seperti halnya hutan hujan tropis yang bertanah subur dan kaya mineral tanah, hutan gambut berada di lahan gambut yang di bawahnya selalu tergenang air dan membuat pH nya menjadi asam dan membuatnya miskin mineral.

Tanah gambut terbentuk dari material organik seperti daun kering, ranting yang berjatuhan serta kerangka hewan yang terpendam dalam tanah namun tidak mengalami penguraian sempurna karena kondisinya yang selalu terendam air. Dari wetlands.co.id disebutkan tanah gambut pedalaman di Indonesia terbentuk 10.000 tahun lalu.

Ciri khas lainnya adalah air sungai di lahan gambut berwarna merah kehitaman. Konon katanya karena pengaruh akar tanaman khas lahan gambut. Tapi ada juga yang bilang bahwa itu karena pengaruh jenis tanah yang ber-pH asam.

Air sungai di lahan gambut berwarna merah kehitaman
(dokpri)

Penyimpan Karbon Terbesar Bumi

Tidak subur tapi harus tetap dijaga. Itulah gambut. Keberadaannya punya misi penting untuk bumi. Proses terbentuknya gambut yang mencapai ribuan tahun itu membuat gambut mampu menyimpan cadangan karbon lebih banyak daripada hutan hujan tropis. Dalam publikasi tentang gambut oleh CIFOR (Centre for International Forestry Research) disebutkan bawah karbon pada tanah gambut terdapat pada; atas-permukaan, bawah-permukaan, serasah daun dan ranting, kayu mati, dan tanah.

Dan tahukah kalian 90% karbon tersebut tertanam di dalam tanah.

Itulah mengapa jika hutan gambut sudah terbakar, asapnya akan pekat dan lama dipadamkan karena walau atasnya sudah selesai tapi pembakaran masih terjadi di bawah tanah. Ini juga yang membuat grafik polusi air di IQ Air menjadi error saat karhutla 2015 dan 2019, karena saking tingginya polutan hingga tidak terdeteksi lagi.

Indonesia sebagai pemilik lahan gambut terbesar di dunia menyimpan 57 miliar ton karbon di dalamnya dan harus dijaga agar karbon tersebut tidak merusak atmosfer dan memicu pemanasan global.

Spons Alam

Ketebalan lapisan gambut bervariasi, yang paling tebal disebut “kubah gambut” mempunyai ketebalan hingga 10 meter. Apa fungsinya? lapisan gambut tersebut bertindak sebagai spons alam yang bisa menyerap air saat kelebihan air (musim hujan) dan mengeluarkannya saat kekurangan air (musim kemarau). Bahkan dikatakan bahwa gambut bisa menyerap air hingga 0.9 m3 dalam 1 m3 tanah. Hampir 1:1, bukan?

Spons alam ini kemudian berefek pada pengendalian banjir saat musim hujan dan cadangan air pada musim kemarau. Sehingga gambut sama pentingnya bagi kestabilan ekosistem bumi.

hutan kita sultan

Hutan Mangrove

Sebagai negara dengan pemilik garis pantai terpanjang kedua di dunia, juga membuka potensi kita punya hutan mangrove sebagai penjaga pesisir. Hutan mangrove sangat urgen untuk mengatasi abrasi air laut, juga sebagai habitat hewan-hewan pesisir.

Dan tahu tidak, siapa yang punya hutan mangrove terluas di dunia? Betul, Indonesia lagi.

Sebenarnya saya juga baru tahu, karena informasi tentang ini beragam versinya. Tapi setidaknya hal itu sudah disampaikan Presiden Jokowi dalam acara penanaman mangrove di Pantai Wisata Raja Kecik, Kabupaten Bengkalis, Riau pada September tahun lalu. Indonesia ternyata punya 3,36 juta hektar hutan mangrove yang harus dijaga (Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2021/09/28/19545381/jokowi-indonesia-punya-hutan-mangrove-terluas-di-dunia-wajib-kita-pelihara).

Ya, mangrove Indonesia adalah tempat bagi 1/4 mangrove dunia yang menyimpan milyaran karbon. Lagi-lagi #IndonesiaBikinBangga.

Blue Carbon

Ternyata tidak hanya hutan di daratan saja yang mampu menyerap karbon, tapi juga daerah pesisir dan laut. Mari kita kenalan dengan Blue Carbon.

Ada tiga macam blue carbon di bumi, yaitu; padang lamun, mangrove, dan payau. Deputi Bidang SDM, Iptek, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman Safri Burhanuddiin di Jakarta seperti yang dikutip Mongabay mengatakan blue carbon punya potensi menyimpan karbon 100x lebih banyak daripada hutan di daratan. Jadi, dengan adanya hutan mangrove bisa sangat membantu pengurangan emisi gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer.

Bahkan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-22 di Marrakesh, Maroko, karbon biru digaungkan sebagai salah satu kontribusi bagi target pengurangan emisi karbon di dunia. Hm… ternyata kita gak cuma punya paru-paru dunia di daratan saja, tapi juga laut. Masya Allah.

Dua paru-paru bumi yang harus dijaga

β€œSaat ini karbon yang tersimpan di hutan mangrove Indonesia mencapai 3,14 miliar ton. Dan, untuk bisa mengeluarkan karbon sebanyak itu, Indonesia perlu waktu hingga 20 tahun lamanya,”

Daniel Murdiyarso (Dosen Ilmu Atmosfer IPB sekaligus anggota IPCC)

Ancaman Hutan

Gimana, gimana? Sudah tahu kan sekarang tentang sultannya hutan kita? Bangga banget pasti. Ternyata ya kita punya posisi yang bisa dibilang penting banget untuk masa depan bumi. Ya gimana gak, hutan hujan tropis, hutan gambut tropis, hutan mangrove dan biodiversity terbesar ngumpul semua di mari. Ah, bangganya.

Tapi, itu semua bukan berarti aman tanpa masalah. Justru hutan-hutan kita sekarang dalam pusaran bencana. Ya, pusaran bencana. Kenapa?

Kita sudah paham bahwa salah satu fungsi urgensitas keberadaan hutan adalah sebagai penyerap gas rumah kaca. Dan yang terjadi sekarang adalah penggundulan hutan besar-besaran yang menyebabkan karbon yang harusnya tersimpan jadi lepas ke atmosfer. Akibatnya gas rumah kaca semakin banyak dan menghalangi panas matahari ke luar angkasa.

Kebakaran lahan dan hutan di Indonesia terjadi saat orde baru tahun 1997 menjadi awal petaka ini. Dengan dalih membuka lahan untuk transmigrasi, hutan dibakar hingga asap menyelimuti Indonesia selama 7 bulan, mengirim asap ke negara tetangga, penyebab jatuhnya pesawat Garuda saat itu sampai terganggunya kesehatan dan banyak sektor kehidupan.

Sejak itu Indonesia menjadi langganan karhutla setiap tahun hingga puncaknya pada 2015 dan 2019 lalu, dan menjadikannya salah satu negara dengan laju deforestasi terbesar di dunia dengan total deforestasi keseluruhan mencapai 3,13 juta hektar (Sumber: Pantau Gambut, Majalah Tempo).

Namun pemerintah lewat KLHK mengklaim bahwa selama periode 2014 – 2020 Indonesia berhasil menurunkan laju deforestasinya. Seharusnya ini menjadi kabar gembira. Namun, sayangnya akhir-akhir kita dapati justru terjadi peningkatan jumlah bencana alam, terutama pada tahun 2021 kemarin. Tahun itu, yang tidak pernah kebanjiran sepanjang hidup harus rela mengalaminya. Selain karena hutan yang berkurang drastis, juga efek dari perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem; curah hujan berlebih atau suhu yang sangat panas.

Berdasarkan data dari Badan Metereologi Dunia (WMO), suhu rata-rata global naik 1,11oC pada tahun 2021. Jangan bilang “Ah, cuma naik 1oC aja“. Segitu juga udah banyak yang mengeluh panas, gerah, kan? Hiks. Dan WMO mengatakan bahwa dekade 2011 – 2021 adalah dekade terpanas sepanjang sejarah. Apa yang terjadi? Cuaca ekstrem akan sering terjadi, seperti; hujan lebat, angin kencang, badai, petir, panas hingga kekeringan akan semakin sering terjadi dibanding sebelumnya.

Puncaknya pada 2021 lalu, di mana hujan dengan intensitas lebih dari 150 mm/hari semakin meningkat. Dan pada tahun itu saja ada 70 kejadian banjir di seluruh Indonesia. Hanya di Indonesia saja. Selain banjir, badai juga tercatat mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ada 32 badai siklon.

Kenapa terjadi begitu banyak bencana? Karena kenaikan suhu bumi di daratan dan lautan. Ibarat kita mau memanaskan air, dari suhu dingin tidak ada apa-apa, stabil, sampai akhirnya suhu naik pelan-pelan dan muncul gejolak-gejolakan air, molekul air menjadi tidak stabil karena pemanasan. Begitu juga dengan bumi dengan banyak komponen di dalamnya.

Selain bencana hidrometeorologi, perubahan iklim juga menyebabkan gagal panen dan krisis pangan. Juli 2022 ini, petani di Brebes salah satunya harus memanen bawang merah lebih awal karena prediksi mereka yang memperkirakan bulan Juli cuaca mulai kering karena akan masuk puncak musim kemarau di bulan Agustus ternyata salah total. Juli tadi intensitas hujan malah tinggi yang menyebabkan lahan mereka terendam air. Panen pun dipercepat untuk menghidari semua tanaman membusuk. Ini masih satu daerah, belum bicara lahan pertanian dan peternakan lain.

Diambil dari postingan IG @infobmkg (link tertera)

Bisa kita bayangkan bagaimana petani-petani lainnya, yang harusnya musim tanam perlu air ternyata hujan yang biasanya datang malah tidak turun, sebaliknya yang harusnya musim panen perlu sedikit air untuk mematangkan proses pembungaan dan pembuahan ternyata malah diguyur hujan habis-habisan? Maka, krisis pangan sulit untuk dihindari.

Bila kaujaga aku
Kujaga kau kembali
Berhentilah mengeluh
Ingat, kau yang pegang kendali
Kau yang mampu obati
Sudikah kau kembali?

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sudah seharusnya kita sadar dengan apa yang terjadi sekarang. Suhu panas yang di luar normal, cuaca yang sering berubah secara ekstrem, bencana banjir yang lebih sering datang, gagal panen dan kenaikan air laut seharusnya sudah menjadi warning keras untuk kita. Buat apa bercanggih-cangihan teknologi kalau alam rusak? Sia-sia semuanya, toh dinikmati juga tidak bisa.

Ayo, jaga hutan, ikut aktif menyerukan pentingnya hutan, dan jika memungkinkan ikut reboisasi hutan dan merawatnya seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu penjaga hutan Leuser Aceh.

Kita juga harus berterimakasih kepada masyarakat adat penjaga hutan, karena merekalah hutan-hutan kita masih banyak yang tersisa. Walau mereka tinggal di pedalaman, tapi harus kita akui mereka lebih bijak dan lebih menghargai alam dibanding manusia yang katanya berteknologi.

Ohya, kita juga bisa membantu para penjaga hutan itu dengan donasi lewat organisasi yang sering mengkampanyekan peduli hutan, salah satunya Hutan Itu Indonesia. Mereka juga ada program Adopsi Pohon di Hutan yang kita bisa berpartisipasi di dalamnya.

hutan kita sultan

Melestarikan kebudayaan juga bisa membantu hutan kita terjaga, seperti yang dilakukan pengrajin kain Sasirangan di Kalimantan Selatan yang sekarang mulai beralih pada pewarna alami yang diperoleh dari hutan gambut daripada pewarna sintetis yang berefek pada kerusakan lingkungan. Dengan cara seperti itu, masyarakat jadi semakin sadar untuk melestarikan hutan karena hidup mereka bergantung pada hutan.

Jika kalian bukan pengrajin apalagi masyarakat adat, tapi budjet pun juga terbatas, ada satu hal yang bisa kalian lakukan bahkan sambil rebahan atau mengerjakan aktivitas apapun. Yap, kita juga bisa berkontribusi dalam menjaga hutan dengan mendengarkan lagu dari Laleimanino yang berjudul Dengar Alam Bernyanyi di Spotify dan Apple Music yang nantinya royaltinya akan diberikan kepada program konservasi hutan di Kalimantan.

Ya, kita adalah #TeamUpformpact, karena kita semua adalah tim untuk menyelamatkan planet ini dari kebinasaan.

Referensi:

31 thoughts on “Tertawan Hutan Karena Hutan Kita Sultan”

  1. Keren banget kalau kak latifika sudah bersabda mengenai kelestarian alam. Luas banget ilmunya dan selalu banyak ilmu baru yang bisa aku ambil, meski banyak juga yang masih butuh perenungan seperti mengapa ketika gambut menyimpan banyak kandungan carbon ini justru bagus?
    Apakah ada hubungan carbon dengan daya serap tanah gambut tersebut?
    Plus minus berarti yaa.. Manfaatnya apakah bisa digantikan dengan konservasi alam dalam bentuk lain yang menyimpan energi yang lebih ramah dengan alam?

    Reply
    • Aku suka pertanyaan Mba Lendy. Karena beberapa bulan lalu aku juga punya pertanyaan yang sama. Sedikit yang bisa aku jawab ya Mba Lendy utk pertanyaannya πŸ‘‡

      Jadi karbon di dalam hutan dan lahan gambut itu terbentuk alami tanpa bisa kita hindari. Karbon kalo di dalam tanah itu gak bahaya, yang bahaya kalo karbon itu sampai terlepas ke udara dan membuat lapisan gas rumah kaca di atmosfer yang berakibat pada pemanasan global (karena lapisan gas rumah kaca menghalangi panas matahari yang diterima bumi terpantul ke luar angkasa)

      Maka, untuk menghindari itu, karbon yang ada di dalam hutan gambut itu harus dijaga, jangan sampai rusak, karena kalo rusak dia akan dengan mudah bereaksi dengan oksigen, membuatnya mudah terbakar dan akhirnya menghasilkan emisi karbon dioksida ke atmosfer.

      Jadi, pertanyaan terakhir itu otomatis terjawab ya Mba Lendy πŸ™πŸΌ

      Reply
      • Nuhun kak Fika.
        Jadi paham sekarang mengenai lahan gambut dan manfaatnya untuk alam.
        Ketika mereka ada di alam dan sesuai dengan daur hidupnya, maka akan bermanfaat. Namun ketika diusik oleh manusia, maka akan menjadi bencana.
        Relate banget.

        Kalau untuk deteksi fisik selain dari air yang ada di sekitaran lahan gambut, apalagi kak Fika yang menunjukkan bahwa tanah itu adalah lahan gambut?

        Dan kagum banget sama riset kak Fika mengenai hutan mangrove sebagai pengurangan emisi gas rumah kaca yang terlepas ke atmosfer. Jadi penasaran, apakah kita bisa menanam mangrove?

        Terimakasih kak Fika.
        Asik nih..ngobrol sama kak Fika yang ngakunya anak pecinta alam tanpa naik gunung.
        Hehhee~

        Reply
  2. Mungkin istilan gunakan alam seperlunya itu sudah mulai mencapai ambang batas. Kita uda mulai kelewat banyak mengambilnya meski Allah memang sediakan utk manusia. Mari berbenah, semoga lagu dengar alam bernyanyi ini bisa menggugah hati dan semangat semua orang utk menjaga Indonesia

    Reply
  3. Iya mbak bersyukur banget lahir dan tinggal di Indonesia, negara yang iklimnya sangat menyenangkan.
    Saya beberapa kali juga dapat cerita tentang Seasonal Affective Disorder ini. Beberapa senior saya pernah mengalami saat harus menjalani tugas belajar ke Jerman dan Swiss. Bahkan ada 2 yang akhirnya memilih pulang dengan biaya sendiri, demi kewarasan jiwa.

    Reply
  4. Hutan kita emang luar biasa ya.. Makanya perlu banget dijaga karena setiap kerusakan bisa mempengaruhi keseimbangan alam lainnya.. Sekarang kita udah mulai ngerasain kan cuaca yang gak menentu…bencana alam yang ekstrim juga

    Reply
  5. Kita patut bersyukur karena negeri ini dilimpahkan kekayaan alam yg melimpah
    Jgn hanya menikmati hak dari kebermanfaatan hutan saja
    Semua punya andil yg sama berkewajiban menjaga kelestarian alam, lingkungan dan hutan yg perannya pun menjadi paru-paru dunia

    Reply
  6. Bener banget hutan itu sponge Alam … Yang bermanfaat banget menyimpan air dan menghasilkan air sebenarnya ya apalg kalau dijaga makmur gk akan Ada yg kekeringan, longsor.. wajib bangt dijaga hutan kita

    Good luck y mba

    Reply
  7. Wah sekeren itu ya fakta tentang hutan Indonesia yang bikin hutan kita sultan, banyak kekayaaan di dalamnya, mulai dari hewan, tumbuhan langka terutama pohon yang menjadi paru-paru dunia, semoga bisa terus dijaga kondisinya. Karena untuk masa depan anak cucu kita nantinya. Jangan sampai kekayaan hutan yang seperti itu hanya sampai kita yang merasakan.

    Reply
  8. Mba..ulasanmu keren banget sih, ternganga aku membaca banyak data dan fakta tentang hutan Indonesia. Senangnya bisa jadi bagian tim untuk menyelamatkan planet ini dari kebinasaan dari langkah sederhana pun bisa. Tindakan sederhana di keseharian untuk dukung kelestarian bumi, berdonasi bahkan berkontribusi dalam menjaga hutan dengan mendengarkan lagu dari Laleimanino yang berjudul Dengar Alam Bernyanyi pun bisa juga.

    Reply
  9. Alhamdulillah tinggal di wilayah pedesaan yang masih berdampingan dengan hutan. Masih menikmati nyanyian burung, jeritan kera dan loncatan tupai sepanjang hari. Namun harus diakui semakin hari keberadaannya semakin terancam karena kebutuhan dan ketamakan manusia. Setiap waktu ada saja suara dentuman pohon tumbang sebagai pertanda luasan hutan terus berkurang setiap harinya. Entah sampai kapan dan siapa yang bisa menghentikan.

    Reply
  10. Bahasan tentang Hutan Sultan begitu panjang dan mampu menambah pengetahuan tentang alam. Patut bunda datangi lg utk membaca ulang tulisan ini. Bangga menjadi bangsa Indonesia dengan Negara yang termasuk satu diantara tiga negara di dunia yang memegang tampuk PARU-PARU DUNIA. Mak Latifika ini wlp part timr blogger namun begitu cerdik dan piawai merangkum inti sati darisome refetences menjadi sebuah tulisan berbobot dan memperkaya pengetahuan bagi pembacanya untuk menjaga dan melestarikan bumi yg kita pijak ini.

    Reply
  11. Tetiba merasa sedih Mak mebaca postingan ini. Sudah semuda ini masih belum bisa melakukan apa apa untuk menjaga hutan. Jaman masih kecil dulu sering ikut bapak ke hutan. Banyak hal menarik saat itu. Kicau burungnya, kokok ayam hutannya, monyet, kancil, dan banyak buah buahan hutan yang bisa dimakan. Masya Allah kebayang lagi keindahan itu semua.

    Reply
  12. Oh baru tau, kalau mereka tinggal di negara subtropis punya SAD syndrom, tapi emang iya loh kalau kita di rumah aja gak keluar keluar lihat matahari memang badan sakit semua nih, btw hutan memang penting nih buat pemasok oksigen kita

    Reply
  13. Miris juga sih negara kita punya hutan sultab, tapi masih banyak masyarakatnya yang gak mengenal hutan sedikit pun, padahal hutan Indonesia juga dikenal sebagai paru-oaru dunia ya.
    Bener-bener sultan ya, selain hutan tropis juga punya hutan gambut, kaya banget deh Indonesia

    Reply
  14. Masya Allah ilmunya kereen banget, banyak yang bisa di pelajari dari membaca ulasan mba Fika ini…

    Semogaa hutan kita tak lagi ada kebakaran, sedihh banget dengernya…Lagu dengarlah alam bernyanyi akuu sukaak banget beberapa kali aq putar dan aq jadikan video reels.

    Reply
  15. Sebenarnya kita beruntung dianugerahi kekayaan alam dan hutan yang berlimpah, bahkan hutan Indonesia yang berada di Kalimantan menjadi salah satu paru-paru dunia, karenanya wajib dan harus kita jaga kelestariannya. Semoga makin ke sini makin banyak masyarakat yang sadar untuk menjaga hutan agar manfaatnya masih bisa dirasakan hingga anak cucu kelak.

    Reply
  16. di sini hutan lindung gitu ada tapi jauh, banyaknya hutan bakauuu. tapi tetap kudu dijaga kelestariannya. karena kalau dipikir2 apalah manusia tanpa hutan
    semoga hutan tetap lestari

    Reply
  17. Setelah lihat Indonesia adalah salah satu negera yang stabil dapet sinar matahari, saya jadi terharu, keren sekali. Nggak ada tekanan alam buat kita karena semuanya yang kita dapatkan ini sudah sempurna. Harus mulai mikir kalau mau ngelakuin sesuatu yang bikin bumi rusak.

    Reply
    • Kalo infografis nya cepet aja Mba, emang kalo Canva kan demen kita ngutak-ngatiknya 🀭 yang berhari-hari justru nyelesain tulisannya, per paragraf bisa 3 jam karena nge-fix-in datanya yang beda2 tiap website

      Btw, terimakasih sudah mampir Mba Vicky

      Reply
  18. hutan kita memang perlu dijaga ya mak. kadang aku ngerasa negara ini memang kurang perhatian sama hutan yang ada. sedih aja malah yang ada dibuat area rekreasi hingga ngerusak
    padahal indonesia kayaaaa akan hutan

    Reply

Leave a Comment