Wisata di Pelaihari Tanah Laut (Akhirnya Mudik Kali Ini Saya Jalan-Jalan!)

Woylah, judul apaaaaan ini?? Lebay sangat.

Hahaha, tapi ya memang begitulah. Saya yang introvert ke-mageran-nya menjadi-jadi sejak setahun terakhir ini memang paling malas kalau sudah diajak jalan-jalan. Apalagi tinggal di kota mantan-kandidat-calon-ibukota-RI (baca: Palangka Raya) yang cuacanya lebih sering panas menyengat dan kurang bersahabat dengan kulit yang super cranky ini. Klop!

Mendekam di rumah aja sekian lama tanpa refreshing ke alam terbuka sejak pandemi, ditambah dengan cuaca yang vanass, makin membuat bakat rebahan saya semakin terasah. 

Jadi kalau saya tiba-tiba nulis soal traveling kayanya sebuah keajaiban. 

Baca juga:

Jatim Park 2 Malang

Sehari Jalan-Jalan ke Palangkaraya

Namun, beda cerita di mudik kali ini: saya terpaksa memaksakan diri untuk jalan-jalan. Dan mama mertua adalah orang yang paling besar andilnya mengangkat kemageran saya kali ini. *baiqh *sungkem mama mertua.

Kemana aja sih? Cuma ketiga tempat aja sebenarnya, karena memang nungguin mertua libur kerja Sabtu-Ahad. 

Iya, kemana ajaaa??

1. Pantai Takisung

Sebenarnya it’s so yesterday kalau ngomongin soal pantai ini -yang udah dari zaman baheula tapi pembangunannya gitu-gitu aja. Ditambah lagi sekarang banyak bermunculan pantai baru di sana. Tapi bagaimanapun pantaiTakisung selalu jadi alternatif pilihan wisata karena jaraknya yang paling dekat dengan kota. Hanya 22 km dari pusat ibukota kabupaten Tanah Laut.

Pantai Takisung

Sepanjang jalan menuju ke sana juga asri dan dipenuhi pepohonan (walau beberapa lokasi sudah jadi perumahan). Jalan menuju Pantai Takisung juga terdapat gunung-gunung yang memanjakan visual dengan pepohonan serba hijaunya, sebelum kita akan melihat pemandangan laut berwarna cokelat.

Iyaa.. cokelat. Pantai Takisung (dan hampir semua pantai di Tanah Laut) warna air lautnya cokelat, jauh sekali dengan pantai di luar sana. Kata orang warna pasir mempengaruhi air lautnya. Hmm, maybe yes. Jadi, untuk pemandangan sebenarnya B aja, tapi yang namanya pantai tetap enak dipakai main air terutama anak kecil.

Tiket masuknya Rp 5.000 untuk setiap dewasa, tidak termasuk parkir.

2. Taman Permana

Kenapa sudah tahu bakalan B aja tapi tetap ke pantai itu dan bukannya mencoba ke pantai baru? Itu karena kami mau singgah ke sini, Taman Permana.

Taman yang lagi viral ini emang baru dibuka. Penasaran donk tamannya gimana karena yang datang kebanyakan orang luar kota. Ternyata pas sampai di sana saya pun termangu, “Ini kan …………..belakang rumah temen akooh?!“.

taman permana

Iya kaget lah, ternyata taman yang lagi viral itu look so familiar. Waktu SMA lumayan sering main ke rumah teman yang rumahnya di seberangnya. Ya, mana tau kalau tempat sapi merumput dulu sekarang disulap jadi taman rekreasi.

Taman Permana ini milik pribadi, yang punya katanya sih namanya Pak Permana. Jadi, di sana ngapain aja? Gelar tikar, makan-makan, sambil menikmati angin sepoi-sepoi nan syahdu, sampai ketiduran (?). Tapi asli adem banget di sana, sejuk banget, hijau dimana-mana. Kontur tanahnya juga naik turun berbukit, ada beberapa tanah agak lapang, semuanya teduh. Karena kontur berbukit itu juga ada jurang landai di sebelah utara (yang bawa anak kudu dijagain ya).

Apalagi habis panas-panas di pantai, makan siang di taman, perut terisi, hawanya sepoi-sepoi jadinya pengen gegoleran aja. Tapi, sayangnya ga bisa. Karena bawa anak kecil yang energinya masih banyak. Mereka minta turun ke bawah karena ternyata di sana ada wahana permainan.

Tiket masuknya Rp 5.000 untuk dewasa dan free untuk anak kecil. Parkir bayarnya beda lagi. Rp 5.000 untuk setiap mobil dan Rp 2.000 untuk sepeda motor.

Buat yang mau ke sana, prefer weekdays kalau bisa ya. Karena ini tempat wisatanya baru jadi masih anget-anget, ramai terus. Jangan lupa maskernya jangan kendor dan selalu cuci tangan setelah selesai. 

3. Air Terjun Bajuin

Ini adalah destinasi yang paling membuat saya excited paripurna. Setelah 31 tahun hidup sekian lama hanya mendengar cerita dari orang, akhirnya 13 Juni 2021 kemarin saya menginjakkan kaki pertama kalinya di wisata Bajuin ini. Air terjun ini berada di Desa Sungai Bakar, 10 km dari pusat kabupaten, ga terlalu jauh dari rumah mama.

Kenapa saya excited? Karena selain memang ini kali pertama saya ke sini, juga pemandangannya membuat saya berdecak kagum melihat gunung yang semakin lama semakin dekat. Senang, excited, tapi juga terharu. 

Astagaa…. ada ya orang piknik malah terharu.

Ya, terharu melihat gunung yang masih hijau dengan hutannya yang cukup terjaga. Saya ga tau ya yang orang lain rasakan gimana, tapi beneran saya meleleh dibuatnya.

Air terjun Bajuin

Yeah, you know lah yaa di Kalimantan emang sedang happening gunung berubah jadi cokelat bahkan berubah jadi lubang raksasa. Sedih kalau ingat nasib mereka yang ga beruntung itu sekaligus terharu melihat gunung di hadapan saya berdiri gagah namun menyejukkan mata, rindang sangat. Masya Alloh.

Akses ke air terjun Bajuin sudah diaspal dengan lebar yang cukup membuat dua mobil bertegur sapa antar spionnya sedikit, hehehe. Ketika masuk ke area wisata akan ada kang karcis meminta uang masuk Rp 5.000 untuk setiap dewasa yang masuk, lagi-lagi anak kecil free 🙂 *mamak senang

Kita akan parkir di bagian bawah gunung. Tempatnya lapang dan teduh, ada beberapa warung makanan ringan dan lapak yang digelar penduduk dengan hasil kebun mereka yang kebanyakan pisang. Di belakang warung ada sungai yang mengalir dari air terjun. Sungai kecil yang penuh bebatuan mengingatkan saya seperti sungai tempat mandi bolang-bolang di TV :”) 

Selanjutnya untuk mencapai air terjun 1 kami harus naik sejauh 750 meter. Sanggup sih sanggup, tapi ngos-ngosan :D. Bagi kalian yang merasa ga kuat atau kebanyakan barang bawaan bisa pakai ojek motor yang ready to deliver di pintu masuk dekat tangga menuju air terjun. 

air terjun bajuin

Abah mertua di air terjun 1 Bajuin

Ohya, saya ke sini dengan mengajak 2 anak saya, 7 tahun dan 4 tahun. Alhamdulillah mereka pun sanggup naik turun tanpa mengeluh kelelahan, hanya si kaka mengeluh sepatunya ga nyaman, karena baru jadi memang belum dicoba. Catatan nih buat saya ke depannya, pastikan sepatunya sudah nyaman dipakai.

Setelah naik di air terjun pertama sejauh 750 meter, kita sudah bisa menikmati pemandangan bak di atas gunung. FYI, ternyata di sini tuh ada 3 air terjun. Yang pertama berjarak 750 meter dari parkiran. Yang kedua 1200 meter dari parkiran. Yang ketiga 1800 meter dari parkiran.

Kami termasuk pengunjung yang datang pagi. Beberapa pengunjung setelah kami malah membawa makan dan menggelar tikar. Mereka datang serombongan. 

Setelah naik ke air terjun kedua yang berjarak 450 meter dari air terjun pertama dan harus terhenti karena jalur pendakian sudah terhenti untuk wisatawan (tangga semennya tidak dilanjutkan lagi), kami langsung turun ke air terjun pertama yang sudah dipadati pengunjung. Bagi yang tidak kuat turunnya juga ada ojek motor yang siap membawa kalian turun. Mama dan mama mertua harus pakai ojek karena punya syaraf kejepit, qodarullah. Abah mertua masih sehat bugar alhamdulillah, bisa jalan bareng kami berempat.

Melihat banyak wisatawan di sana ditambah dengan masker mereka yang entah apa kabarnya 🙁 kami pun langsung turun ke tempat parkiran awal sejauh 750 meter. Turunnya lumayan cepat karena dibantu gaya gravitasi. Anak kedua saya malah sambil ketawa geli dipegangi suami, karena dia ga bisa mengerem kakinya yang seakan mau meluncur ke bawah.

Jadi, total PP dari parkiran sampai ke air terjun kedua dan balik lagi ke parkiran sekitar 2.400 m dengan jalan menanjak. Alhamdulillah………..gempor, Nyai 😀

air terjun bajuin

Di pintu masuk itu sebenarnya ada arena playground buat anak bertemakan keseimbangan. Jadi, Muthia, anak pertama saya menjajal permainan itu sebelum pulang. Ada beberapa papan yang patah sehingga permainannya ga bisa dipakai. Tidak juga terlihat petugas penjaganya. Jadilah kami masuk tanpa membayar *peace ^^v

Overall, wisata Air Terjun Bajuin ini sekarang sudah recomended untuk dikunjungi. Yang dulu katanya kumuh dan ga terawat, sekarang udah lumayan bagus lah. Yang dulu katanya banyak nyamuk, kemarin saya cuma notice 1 nyamuk pas berhenti di tangga turun, itupun karena saya pakai baju hitam-hitam 😀 *salah kostum, Bu?

Good job lah buat Dinas Pariwisata Tanah Laut, yang sudah berusaha membangkitkan pariwisata Air Terjun Bajuin, nama yang sudah saya dengar sejak SD tapi tidak ada minat ke sana karena akses yang tidak diperhatikan. 

Bagi yang mau ke sini, pastikan untuk punya kantong sampah sendiri ya. Jangan dibiasakan buang sampah sembarangan terutama yang punya agenda makan-makan di air terjun pertama.

***

Qodarullah, setelah menulis ini saya malah dapat kabar kasus positif melonjak tajam. Kita mulai masuk ke gelombang kedua covid. Melihat realita saat jalan-jalan memang wajar kasusnya meroket. Banyak sekali yang meremehkan protokol kesehatan kalau sudah ngumpul-ngumpul, kebablasan. Bahkan saya pribadi merasa kesulitan kalau sudah pulang kampung karena serba salah pakai masker di sana, takut sesepuh-sesepuh di sana tersinggung karena notabene saya datang dari kota.

Takut dibilang shombhong, “mentang-mentang dari kota pas ke kampung pake masker, emang kita bawa virus?” 😀 Sungguh rumit sekalih . Susah ya mengedukasi masyarakat. Two thumbs buat para nakes dan influencer yang ga berhenti untuk speak-up. 

Ok, cukup sekian cerita jalan-jalan saya hari ini. Lumayan refreshing setelah hampir 1,5 tahun di rumah aja. Semoga kami sekeluarga tetap sehat setelah jalan-jalan ini. Next jalan-jalan kita mungkin nunggu kasus mulai hilang perlahan. AAMIIN (yang keras). 

 

Kategori: Traveling

Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *