Mempunyai blog dan menjadi seorang blogger bukan untuk sekedar gaya-gayaan sama sekali apalagi untuk mendulang popularitas. 

Assalamu’alaikum….

Blog yang kalian baca ini adalah blog yang baru berusia 15 bulan dengan pencapaian traffic biasa aja, DA/PA yang biasa juga, dan skill blogging si empunya yang juga biasa (banget).

Iya, biasa aja terlebih jika dibandingkan dengan blogger newbie lain yang trafficnya sudah hampir mneyentuh 10.000 pageviews perbulan, yang DA nya sudah 30 walau belum genap setahun nge-blog, dan skill lainnya yang kalau saya jabarin di sini makin bikin blog saya kaya butiran debu di algoritma search engine.

Tapi saya tidak sedang merendahkan diri sendiri. No just no.

Karena bagaimanapun pencapaian saya di 15 bulan bersama blog ini tetap patut mendapatkan apresiasi dari saya sendiri karena, honestly, ada banyak perubahan hidup yang saya rasakan setelah terjun ke dunia blogging.

Baca juga: ABCD blogging

Dan kali ini saya ingin berbagi rasa dan mengajak kalian menyelami my 3 strong reasons why I must have a blog. You wanna read?

alasan kenapa harus punya blog
 

1. As my self-healing

Akhir 2016 saya kebagian “rezeki” post partum depression, 5 bulan melawan tanpa bantuan siapapun kecuali Zat Pemilik Kehidupan, akhirnya tertatih-tatih saya keluar dari “lubang hitam” itu. Ada banyak aliran rasa yang ingin saya bagi saat itu tapi bingung kemana harus menyalurkan. Di perantauan tempat saya sekarang jangan tanyakan di mana teman dan keluarga saya.

Akhirnya muncul ide untuk menulis di blog karena memang menulis adalah hobi saya, tepatnya passion yang tidak disadari. Saya dulu berpikir menulis itu sekedar menyatakan rasa dan meluapkan emosi semata. Saya memang ketagihan menulis diary sejak kelas 1 SMP.

Tapi sekarang bagi saya menulis lebih dari sekedar itu. Ketika saya menulis saya sadar sepenuhnya saya sedang men-terapi jiwa saya dengan menguraikan benang kusut emosi menjadi rangkaian kata yang bisa diterjemahkan oleh pembaca.

And it’s work!

2. As my proofing

Menjadi IRT seringkali dianggap hanya ongkang-ongkang kaki, santai kaya di pantai. Padahal nyatanya jauh panggang dari api. Saya pernah tersudut dengan anggapan sebelah mata orang sekitar terhadap pilihan saya ini. Dan dengan nge-blog saya telah dan akan membuktikan bahwa saya, walaupun di rumah, tetap produktif dan berusaha untuk menebarkan kebaikan sebanyak yang saya bisa.

And, it’s work! Kini mereka mereka yang memicingkan mata sebelumnya melihat bahwa saya bisa berkarya dan menghasilkan  walau hanya di rumah.

Baca juga: 11.11 When Mama Become (Like) Single

3. As manifestation of my passion

Setiap manusia saya yakin ada passion yang ada dalam dirinya, sebuah anugerah dari-Nya Sang Pemilik Jiwa. Passion adalah sesuatu yang – entah bagaimana- memikirkannya membuat kita semangat dan mengerjakannya membuat kita tambah “hidup”.

Dan ada 2 passion saya yang saya sadari; mengajar dan menulis.

Ketika saya masih mengajar dan setiap kali menyelesaikan pembelajaran dengan siswa itu rasanya saya bahagia sekali. Membuat saya selalu merasa punya energi walau lelah otak dan fisik, tapi ya bahagia.

But, it’s a past. Sekarang sikon tidak memungkinkan untuk saya kembali mengajar.

Akhirnya, menulis lah satu-satunya passion yang bisa saya gali sekarang. Alhamdulillah, semakin digali semakin menyenangkan. Terlebih saya memang bukan manusia verbal yang bisa menarik perhatian lawan bicara ketika ngobrol (kecuali ketika mengajar). Saya juga punya masalah dalam mengutarakan pendapat hingga kerap memicu salah tanggap dengan orang lain. Padahal di sisi lain saya punya banyak ide untuk dibicarakan.

Kalian tau rasanya? Hmmm, itu sedih sekali, Sergio….

Dan dengan adanya blog ini saya bisa leluasa menulis apa yang ada di benak saya, mengutarakan apa yang tidak sempat lisan utarakan.

Dan lebih dari itu semua saya berharap sekali blog saya bisa menjadi pengganti amal jariyah saya yang hilang karena saya berhenti mengajar, yang entah sementara atau selamanya. Amal jariyah dari ilmu yang bermanfaat itu sebenarnya goal dari passion mengajar saya, yang tidak tertandingi harganya dibanding hal lain. Apakah blog saya bisa melakukannya? Saya tak tau, saya hanya bisa berusaha menulis sesuatu yang ada faedahnya untuk orang banyak.


4 Komentar

Nike Dwiyanti · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Sama mbak. Saya suka sedih IRT dipandang sebelah mata apalagi kalo sarjana terus jadi IRT dicap-nya 'males" 🙁 padahal nyatanya IRT adalah pekerjaan yang gak ada abisnya ya

Yas Marina Dewi · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Blog lama juga Kalau jarang diisi tetap saja DA nya rendah, Mba. Kayak punya saya waktu kemarin-kemarin vacum dulu.

Cara Menaikkan Domain Authority dalam Sebulan untuk Pemula - Bonjour Fika · Mei 30, 2020 pada 1:17 am

[…] Baca juga: 3 Strong-Reasons I Have A Blog […]

3 Cara Menaikkan Domain Authority dalam Sebulan - Bonjour Fika · Mei 31, 2020 pada 3:41 am

[…] Baca juga: 3 Strong-Reasons I Have A Blog […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *