disclaimer: Tulisan baper seorang ibu. Jangan diteruskan kalau dari awal kalian merasa ini lebay karena kebawahnya bakal lebay pangkat 3.

Assalamu’alaikum….

5 tahun umurmu, Nak. Tidak terasa….

5 Februari 5 tahun lalu, jam 2 dini hari kamu lahir. Perjuangan merasakan kontraksi ade-kuat mulai ashar hari sebelumnya dan berakhir di jam 2 malam biidznillah dengan hanya beberapa tarikan napas untuk mengejan, mengeluarkanmu dari tempat ternyamanmu, di rahim nan hangat dan gelap.

9 bulan dalam perut mama, kita berjuang bersama bertiga bersama ayah. Ekonomi belum kuat, kitapun harus ikhlas di”lempar” ke pelosok Kalimantan, melewati jalan tidak beraspal yang ketika hujan berubah menjadi “bubur” tanah, membuat mobil apapun menyerah melewatinya.

Waktu itu kamu masih 3 bulan usianya dalam perut mama, masih sebesar kacang tanah mungkin. Tapi kamu kuat, tidak lemah, tidak menyerah, tetap mau bertahan di rahim mama.

6 bulan selanjutnya kita lalui dengan menemani ayah mengabdi untuk masyarakat pelosok itu.

Setiap momen di sana selalu membekas, bahkan setelah 6 tahun berlalu.

Mama pernah jam 2 dini hari menemani ayah melewati hutan menuju puskesmas perawatan tempatnya bekerja karena ada yang melahirkan tengah malam.  Hingga menunggui ayah yang dibawa polisi untuk visum mayat korban pengeroyokan 2 desa yang tidak pernah akur.

Bayangkan Nak… Saat itu kita tidak ada saudara di sana. Ayah baru 2 minggu bekerja dan sudah dapat kasus yang mengerikan di tempat yang sinyal pun tidak ada. Tengah malam.

4 jam menunggu dari jam 10 sampai jam 2 malam, keluar rumah menanti ayah di pelataran puskesmas yang berjarak 200m dari rumah kontrakan. Mana mama bisa tidur. Seribu pikiran menghantui malam itu. Bagaimanalah kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena daerahnya rawan konflik dan ada sungai yang mungkin ada buayanya di sana.

Tapi kamu berani…  Padahal mama takut sebenarnya waktu itu, tapi entah kenapa mama tidak menangis. Pasti kamu dari dalam menguatkan mama, ya?

Ingat tidak kita pernah mengalami itu semua, Nak? Jangan pernah lupa yaa.  Walau sakit dan tidak nyaman tapi dari sanalah ayahmu mendapatkan pengalaman kerja yang luar biasa.

Sekarang, 5 tahun sudah umurmu. Berarti kita sudah melewati 5 tahun 9 bulan kehidupan bersama.

Bagaimana perasaanmu, Sayang? Apakah 5 tahun bersama mama menyenangkan bagimu? Jujur, mama takut jika bertanya ini padamu, takut jika jawabanmu…..tidak menyenangkan. Tapi, bukankah kita lebih baik bermuhasabah di awal daripada mendapat “muhasabah” di akhirat?

Baiklah, mama di sini akan memberanikan diri mengintrospeksi diri mama sendiri.

Maaf ya sayang, mama belum benar-benar jadi orangtua yang baik dan sabar. Tidak kunjung menjadi ibu yang memahami setiap perilaku anak. Tidak kunjung menjadi ibu yang bertobat dan lebih baik, padahal setiap malam menyesal atas apa yang dilakukan hari itu.

Untuk anakku yang istimewa, Muthia, yang namanya diambil dari nama bidadari syurga. Mama janji akan selalu belajar menjadi orangtua yang baik dan sabar, walau terseok-seok. Mama janji akan selalu berprogress menjadi ibu dambaanmu, walau tertatih-tatih.

Biarlah mama harus menelan puluhan buku-buku parenting di saat mama-mama yang lain dengan mudahnya menguasai ilmu sabar.

Biarlah mama masih harus terseok-seok menata diri di saat mama-mama yang lain dengan gampangnya menjadi idola anak-anaknya.

Mama janji akan berusaha penuh untuk mengurangi omelan dan menggantinya dengan negosiasi. Mama janji akan berusaha memahami perasaan dan pikiranmu. Mama janji akan menemanimu melewati suka duka sekolah, menyaksikanmu bangkit dan belajar dari kepayahan, mengingatkan untuk selalu bersandar dan bersyukur pada Alloh.

Mama janji akan berusaha sekuat tenaga menyelesaikan inner-child mama yang sampai sekarang masih membututi, merapikan manajemen pribadi yang masih kusut, dan mengalahkan ego demi kepentingan anak.

Mama janji, Sayang….

Biarlah Alloh saja yang tau. Semoga Dia selalu menyertai usaha mama dan mengizinkan mama menjadi ibu yang baik dan sabar, menggoreskan kenangan indah pada memorimu. Semoga nanti saat mama sudah terbujur kaku di dalam tanah, Muthia berkenan menerangi “rumah” mama dengan doa dan amal yang mengalir. Aamiin…

Salam sayang, teramat sayang yang tidak bisa diwakilkan dengan apapun kecuali doa dan tetesan air mata.

Mama sayang Muthia……..


3 Komentar

ajeng pujianti lestari · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Mbak, aku tegang bacanya. Profesi suamimu sungguh terhormat, barakallah untuk kalian berdua ya. Selamat juga untuk Mutia, dia anak yang kuat tentu karena ayah bundanya juga luar biasa.

Tinggal di pelosok, yang pulau Jawa saja rasanya masya Allah, apalaigi ini di pelosok Kalimantan. Tangguh luar biasa.

Terima kasih atas tulisan yang indah ini, aku terharu bacanya

abang ichal · April 11, 2019 pada 7:29 pm

nice curhat.

Fanny Fristhika Nila · April 11, 2019 pada 7:29 pm

terharu bacanya :).Muthia pasti bangga ama ortunya, trutama mba mamanya yg selalu berusaha utk jadi ibu terbaik :').. Semoga si adek tumbuh sehat, jadi anak yg selalu bisa jd kebanggan ortunya ya mba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *