Hanzo's Story Parenting Tumbuh Kembang

Pengalaman Menitipkan Hanzo di Daycare

Assalamu’alaikum….

Tahun kemarin, persis di Februari 2019, pertama kalinya saya memasukkan anak ke sebuah daycare. Sebuah keputusan ‘aneh’ mengingat saya bukan ibu pekerja.

Daycare? Mungkin kalau ada tetangga atau teman yang mengetahui saya memasukkan Hanzo ke daycare akan berkerut keningnya, ‘Itu anaknya koq dititipin? Lah wong emaknya aja ga kerja? Males apa gimana‘.

Jegerrr…..

Walau telinga ini ga mendengar langsung, tapi sorot mata ga bisa berbohong. Monmaap, bukan hamba suudzon, tapi gimana ya kalau dianugerahi insting kuat. Kadang emang bikin down. Apa sih, wong aku bayarin daycare ga minta duit kamu, kamu dan kamu. Koq bisa-bisanya julid sama saya???

Tapi, yah seiring berjalannya waktu, lama-lama akhirnya bisa belajar santuy juga karena terbiasa. Biasaah, manusia mudah judging hanya melihat dari satu sisi. 

Padahal Hanzo kami masukkan ke daycare juga atas saran psikolog anak kami. Hanzo terdiagnosa ADD atau Attetion Defection Disorder. Sebuah gangguan pada fokus dan atensinya. ADD itu juga menyumbang porsi besar dalam keterlambatan bicaranya. Pertimbangan lain adalah di daycare Hanzo akan banyak bertemu dengan teman sebaya, sehingga diharapkan bisa memancing bicaranya. 

Loh, koq ga sama mamanya sendiri aja belajar bicaranya?

Kalau ikhtiar sendiri selama 2 tahun belum ada hasil, kenapa ga nyoba jalan lain. Bukan begitu, Kisanak?

Perkembangan Selama di Daycare

Dulu saat menginjak usia 1 tahunan, Hanzo adalah anak yang pasif (sedikit bersuara) dan cenderung hipoaktif (sedikit bergerak). Awalnya kami mengira postur tubuh yang gendut menyebabkan dia malas bergerak. Suara yang keluar juga hampir tidak ada. Pernah bubling “buah …buah” saat usia 6-10 bulan. Tapi menginjak ulang tahun pertama rasanya semua jadi senyap. Hampir tidak ada suara yang dikeluarkan.

Hal itu berlangsung sampai usia 2.5 tahun. Akhirnya kami membawa anak kedua kami itu kembali ke klinik tumbuh kembang Natalie, setelah sebelumnya pada usia 14 bulan ke sana pertama kali (namun tidak sampai disarankan terapi). 

Pada observasi yang kedua itu diawali oleh diagnosa dokter anak, kemudian lanjut ke psikolog anak, dan terakhir ke terapis. Jadi, selain dimasukkan ke daycare, anak lanang juga ikut beberapa kali terapi.

Awal masuk daycare gimana?

Whoaaah, jangan ditanya. Jejeritan banget. Nangis senangi-nangisnya. Padahal pas survey daycare di tempat yang sama di hari sebelumnya anaknya eksplor banget (kebetulan ada mainan rumah-rumahan di sana). Mungkin kaget, karena tiba-tiba ada yang gandeng dia selain emaknya kali ya. Hari kedua masih sama sampai satu pekan pertama. Kasian juga liatnya. Tapi lama-lama mulai adaptasi dan tidak lagi menangis. Alhamdulillah. Good job, boy!

Saya baru tau kalau daycare itu ternyata tidak hanya menitipkan anak terus dia bermain-main sepanjang hari dengan sesama teman sebayanya di sana. Tydack seperti itu.

Ternyata di daycare punya jadwal rutin setiap hari, mulai dari; berdoa, aktivitas fisik (motorik kasar dan halus), istirahat, dan bahkan dimandikan sebelum pulang. Jadi, walau dia keringetan banyak karena kegiatan hari itu tapi pulang-pulang dia wangiii. Wangi bayi, karena dipakaikan minyak telon sama caregivernya. 

Anak-anak sedang bersiap berdoa sebelum memulai kegiatan

 

Jadi, apa aja perubahan Hanzo yang dirasakan setelah masuk daycare?

📢Ada peningkatan vokal. 

Sebelumnya seperti yang saya bilang, dia sangat pasif dan nyaris tidak bersuara, bahkan sekedar bubling. Tapi setelah masuk daycare dia mulai mengeluarkan suara, kemudian muncul sedikit kata (walaupun belum jelas), dan mulai mengungkapkan keinginan secara verbal.

Puncaknya setelah 4 bulan di daycare dia bisa memanggilku dengan paggilan “Umiii”. Tak terbendung lagi rasanya mendengar dia akhirnya bisa memanggil emaknya, walaupun huruf “m” nya masih terdengar “w” alias belum tepat artikulasinya. Usianya saat itu 2 bulan menjelang 3 tahun. Sebelumnya dia memang bisa mengucapkan “mama mama”, tapi tidak spesifik.

Setelah itu peningkatan-peningkatan lain mulai muncul sampai akhirnya dia bisa mengucapkan kalimat dengan 3 kata, seperti “Umi, mau minum”. Walaupun lagi-lagi dengan artikulasi yang belum mapan tapi tetap alhamdulillah. Emak terharu dengan perkembanganmu, Dek. Pesat. Masya Alloh.

Baca juga: Halo, World! I’m Hanzo

💪Peningkatan Imunitas

Ini juga salah satu yang emak notice banget karena terlihat betul perubahannya. Pada usia antara 1 – 2.5 tahun Hanzo sangat mudah sakit.

Dibanding kakaknya, Hanzo bisa dibilang lebih rendah daya imunitasnya. Flu singapur saja sampai 3x terjangkit, batuk pilek sudah makanan sehari-harinya.

Ditambah lagi masalah intoleransi laktosa sapi yang membuatnya muntah-muntah sekalipun minum susu UHT. Sering ‘masuk angin’ juga. Sering terjaga kalau malam. 

Tapi, sejak masuk daycare yang saya perhatikan banget batuk pileknya mulai berkurang. Dua bulan pertama rasanya masih on off ya, masih sering sakit dan wajar, namanya juga ketemu beragam anak di sana. Tapi, setelah itu mulai ada perubahan seiring adaptasinya Hanzo. Tidak gampang batuk pilek lagi. Daaan, nafsu makannya membaik, alhasil badannya tambah montok.

Mungkin faktor banyak bergerak dan keceriaan dia ketemu teman-teman bikin imunitasnya bertambah. Alhamdulillah.

🎰 Peningkatan Pemahaman

Keadaan Hanzo sesaat sebelum masuk daycare sempat didiagnosis ASD (Autisme Spectrum Disorder) oleh terapisnya. Bukan autis murni, hanya ada bias-biasnya. Tapi, tetap aja rasanya tuh gimana gitu karena sebelumnya dia sudah ada ADD dan speech delayed. Ga, ga. Saya ga underestimated para penyandang autism. Agak picik ya kalau kita melihat autisme hanya dari sebelah mata. Autisme itu bukan keterbelakangan mental, mereka bahkan salah satu golongan dengan IQ genius. Hanya saja autisme ada kendala di jalur komunikasi dan sosialnya. Tapi, sekalipun ketebelakangan mental pun ga bisa dipandang sebelah mata, karena siapa tau golongan mereka akan masuk syurga lebih dulu daripada kita yang normal, karena tidak dibebankan hukum kepada mereka.

Loh, kog jadi kemana-mana, Mak. Hooh ni kebiasaan deh.

Wkwkwkwk, maafkan Mak, Dijah… Lanjut!

Jadi, karena dirsorder-disorder yang dialami Hanzo ini saya kesusahan mengajari di rumah, entah itu mengajari bicara, mengenalkan warna, mengenalkan bentuk, toilet training dan instruksi lainnya. 

Baca juga: Mom, Don’t be Ashamed of Me

Setelah 7 bulan dititipkan, selain bicaranya juga ada perkembangan, pemahaman dia juga ada peningkatan. Konsep bentuk yang diajarkan di rumah, mendapatkan pengulangan di daycare. Dan yang paling saya kagum adalah Hanzo sudah bisa mengidentifikasikan warna primer dan sekunder, dan (sedikit) tersier, seperti abu-abu, cokelat, pink. Umurnya saat itu persis 3 tahun.

Agak-agak takjub karena seusia dia, normal, ada juga yang belum mengerti warna. Ternyata anakku dengan disorder-disordernya bisa paham juga ya. Biidznillah. Terharu lagi emak, Dek. Masya Alloh.

***

Begitulah progres dari Hanzo selama saya titipkan di daycare. Alhamdulillah, sangat kelihatan sekali peningkatannya. 

Sampai sekarang masih daycare?

Tidak lagi sebenarnya, tepatnya mulai September 2019, saat saya harus bolak-balik pulkam karena orangtua naik haji plus bertepatan saat bencana asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan (dan Palangkaraya jadi salah satu kota dengan konsentrasi partikulat tertinggi).

Apalagi sejak 2 bulan terakhir itu Hanzo terus menolak diajak ke daycare, selalu menangis sambil bilang “(g)a (m)auuu!!”. Mungkin beberapa bulan terakhir itu teman-teman lamanya banyak yang keluar dan berganti dengan teman baru. Mungkin ya, saya cuma bisa menebak karena anaknya belum bisa diajak bercerita saat itu. Akhirnya dengan berat hati untuk berhenti. 

Begitulah progress Hanzo saat di daycare. Kelebihannya seperti yang saya sebutkan di atas; peningkatan bicara, peningkatan imunitas, dan peningkatan pemahaman.

Kelemahannya kira-kira ada ga? Ada juga sebenarnya. Kadang-kadang kita sebagai orangtua terlena dengan progress-progress yang dicapai anak di daycare atau sekolah sehingga meniadakan stimulasi di rumah, Honestly, itu yang saya rasakan sendiri.

Terlena.

erlebih ketika saya tau bahwa kontak mata dan kepatuhan instruksi Hanzo ke caregivernya ternyata jauh lebih bagus dibandingkan ke saya. Hufh, sedihnya.

Jadi, berhentinya Hanzo dari daycare karena asap dan kepulangan kami ke kampung dalam waktu cukup lama sekaligus ingin ‘menampar’ diri saya sendiri agar tidak terlena. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa saya memang harus berterimakasih kepada daycare tersebut karena membukakan jalan bagi saya dan memudahkan kami melanjutkan estafet perjuangan. 

Hanzo Hanzalah, Mari berjuang sama-sama lagi, Nak!

(1) Komentar

  1. […] Baca juga: Pengalaman Menitipkan Hanzo di Daycare […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *