Hari Ini Akhirnya Aku Ceritakan

Hari Ini Akhirnya Aku Ceritakan – Sebagai ibu yang memiliki 2 anak, aku harus berusaha adil kepada keduanya. Jika ibu dengan anak banyak masih bisa dimaklumi, beda halnya dengan anak dua (saja), karena perilaku ketidakadilan akan kentara sekali.

Sayangnya itu terjadi padaku sekarang. Aku lebih dekat dengan anak kedua daripada anak sulung. Pelukan dan ciuman sering mendarat pada anak laki-lakiku itu (walaupun soal ngomel-ngomel aku adil ya, hahaha, keduanya sama-sama dapat omelan emaknya). Hanya memang anak kedua lebih manja. Jika dia khusyuk bermain dengan mobil-mobilan, beberapa menit kemudian dia bisa tiba-tiba mendatangiku minta peluk dan cium. Aku tentu saja menyambutnya, apalagi dengan postur tubuh gempal, membuat emaknya jadi makin gemash!

Anak pertama sebaliknya, dia jarang dipeluk dan dicium. Aku juga sebenarnya tidak bermaksud timpang kasih sayang. Tapi anak pertama punya jiwa sensitif dan pengingat yang handal -bahkan dia masih ingat detik-detik aku melahirkan adiknya saat dia berumur 22 bulan.

Seringkali dia protes kenapa adiknya saja yang sering dipeluk, sedangkan dia tidak. Padahal sebenarnya dia sering saja dipeluk ayahnya, tapi dia kurang suka karena ayah terlalu erat sampai sesak nafas katanya, hahaha.

Ketika protesnya melayang, akupun refleks memeluk. Tapi dia protes lagi, kenapa peluknya saat dia bilang begitu saja (minta peluk). Akupun bingung menjelaskan. Aku mau menjelaskan tapi rasanya aku belum paham bagaimana cara menyampaikannya.

Sampai akhirnya malam tadi aku dapat momen deep talk dengan si sulung. Aku bukan anak yang terlahir denga kebiasan deep talk dengan orangtua, sehingga momen deep talk terasa menyulitkan buatku karena aku tidak pernah merasakan sebelumnya.

Karena aku merasa aneh jika harus bicara dua mata plus dengan kontak mata erat, jadi aku ingin melakukan dengan santai dan tanpa membuat situasinya serius.

Tadi malam, ketika kami membereskan mainan bersama, sulungku tiba-tiba ingin melihat album fotonya sewaktu bayi -yang rumahnya berbeda dengan yang kami tempati sekarang. Dia menanyakan banyak hal, seperti; kenapa rumahnnya berbeda, apakah di rumah dulu ada hutan, bagaimana kita bisa tinggal di situ

Aku mulai menjelaskan pertanyaan demi pertanyaan sambil rebahan di kasur dan pandangan menghadap langit-langit.

Muthia: “Kita dulu kenapa rumahnya di sana, Mi?”
Me: “Iya, karena ayah dulu kerjanya di pedalaman, jadi pemerintah kasih rumah buat siapa yang mau kerja di sana, rumah dinas namanya”
Me: “Muthia dulu gendut banget masih bayi, ada kan fotonya di rumah sana? kayak roti gembung tangannya” (dia ngakak). Kalo Hanzo kurus, lahirnya beda sama Muthia”
Muthia: “Kenapa Mi?”
Me: “Iya karena hamilnya juga beda. Dulu hamil Muthia umi happy sekali, tiap hari Muthia dalam perut diajak ngobrol “Halo baby ngapain? baca buku yuk, ngaji yuk, ini umi”, gitu gitu deh, makanan umi juga sehat-sehat dulu, sayur, buah, ikan tiap hari. Makanya Muthia lahirnya dulu sehat, montok, cepat ngomong, pintar juga (masya Allah). Waktu bayi dulu banyak yang sayang sama Muthia, menggemaskan.
Muthia: (masih mendengarkan)


Me: “Beda sama Hanzo. Dulu hamil Hanzo umi kecapekan. Tiap hari harus bikin kue buat diantar ke warung-warung. Tabungan ayah lagi sedikit karena baru punya rumah”
Muthia: “Kenapa ayah mau pindah ke sini?”
Me: “Karena ayah perlu ruang kerja sendiri dan menatanya supaya kemampuan ayah bisa berkembang. Kalo rumah dinas gak bisa diatur-atur karena punya orang…..Jadi umi bantu-bantu ayah buat nambah uang makan. Bangun jam 2 pagi supaya bisa antar kue jam 6. Keliling-keliling cari warung sama Muthia dan Hanzo (masih dalam perut). Jadi umi gak ada waktu buat ngajak ngobrol Hanzo. Kalo rebahan umi cuma fokus ke pinggang dan punggung umi yang sakit, mau istirahat aja bawaannya. Gak sempat ngajak ngobrol Hanzo, bacakan buku Hanzo, sama sekali Hanzo umi biarkan aja dalam perut”
Muthia: “Umi gak ngaji juga pas itu?”

Me: “Gak Muthia. Gak sempat lagi Umi. Itulah salah Umi, pas hamil Hanzo umi gak menyempatkan baca Quran. Umi sedih banget kenapa gak berusaha disempetin. Padahal Allah pasti kasih kekuatan. Muthia jangan kayak umi ya”
Muthia: (masih mendengarkan)
Me: “Umi makannya juga sembarangan, asala bisa makan, gak peduli ada sayur atau buah. Makanya Hanzo pas lahir sakit-sakitan; sudah batuk bahkan pas 0 bulan, kulit merah-merah bersisik, badannya kecil juga (2,7 kg) dan pas udah lahir jadi gak paham diajak ngomong dan lambat bicara kan?”
Muthia: “(angguk-angguk, diam)
Me: “Makanya umi merasa bersalah sama Hanzo sekarang. Pelukan dan ciuman umi jadi kayak permintaan maaf umi ke Hanzo. Umi minta maaf dulu Hanzo dalam perut umi cuekin, gak dipeduliin, gak disayangin. Umi minta maaf banyak salah sama Hanzo. Umi sekarang mau menebus kesalahan umi waktu hamil Hanzo dulu. Alhamdulillah kan sekarang Hanzo banyak perkembangan”

Me: Jadi bukan karena umi gak sayang sama Muthia ya. Gimana, Muthia paham kan sekarang?”

Yang ditanya malah sudah menghadap tembok membelakangi saya sambil meluk guling, menutupi mukanya. Aku tahu dia sedang apa, tapi pura-pura gak tau sajalah. Ha……

Aku yang saat itu sudah kehabisan kata-kata -tapi merasa lega, akhirnya cuma mengajak mereka gosok gigi, sholat dan baca doa tidur. Tapi ada satu hal yang belum kusampaikan karena menurutku belum pantas didengar Muthia. Bahwa kehamilan Hanzo saat itu sebenarnya mendapat penolakan batin dari ibunya sendiri. Ya, aku merasa belum siap mental. Bahkan keinginan jahat untuk menggugurkan pernah terbesit. Astaghfirullah. Sungguh, aku ibu yang jahat. Semoga Allah SWT berkenan memaafkan. Aku sudah sangat menyesali ini sejak mendapati ke-anomali-an anak kedua. Sampai sekarang pun bila teringat rasanya ingin memukul diriku sendiri. Maafkan Ya Allah, maafkan ya anakku.

***

Besok paginya, aku menemani Hanzo menggunting gambar mobil, padahal menurutku ini sangat sulit untuk ukuran Hanzo yang belum lama mengenal gunting. Setiap perkembangan kecilnya selalu membuatku terharu. Alhamdulillah, ikhtiar demi ikhtiar mulai kelihatan hasilnya.

Kemudian datang Muthia dan tiba-tiba bilang:
“Muthia tadi malam nangis dengar cerita Umi. Ternyata begitu ya yang sebenarnya. Berarti Allah itu memberikan ujian untuk ibu yang hebat”, sambil menahan tangis dia berkata itu.

Sekarang giliran emaknya yang nge-freeze……………………………….

Aku menulis ini untuk dibaca anak-anakku nanti. Semoga mereka termasuk orang pandai dan cerdas dalam mengambil hikmah kehidupan. Semoga mereka mau memaafkan uminya yang tidak pernah kunjung belajar sabar. Semoga mereka selalu dalam lindungan Allah, Sang Pemilik Kehidupan, di akhir zaman seperti ini.



Leave a Comment