InstagramYouTube

Rawon Overthinking, untuk Pertama dan Terakhir

Suatu hari saya memasak rawon untuk pertama kalinya dengan menggunakan bumbu racikan sendiri, no bumbu instan. Saya pun berburu kluwek 2 biji di warung. Tapi setelah berkonsultasi dengan teman, saya kembali ke warung itu untuk menambah 3 kluwek lagi. Ternyata 2 biji itu kurang ya.

Setelah bumbu saya terkumpul lengkap, saya mulai mengeksekusinya, berharap jadi rawon yang lezat karena ini adalah menu favorit pak suami. “Krak!” Saya buka kluwek satu per satu. Warnanya hitam pekat, teksturnya kenyal, ada bau kurang nyaman karena kondisi tertutup rapat. Saya yang belum pernah pegang kluwek seumur hidup sudah pasti kebingungan: apakah ini kluwek bagus atau jelek?

Step demi step memasak saya jabani dan selama itu overthinking saya kambuh. Rempahnya banyak dan saya takut sekali gagal. Waktu itu saya juga memakai lidah sapi. Benar-benar semuanya pertama kali dalam hidup saya. Melihat dan membersihkan lidah sapi sampai mengerjakan bumbu rawon semua bikin saya mendadak stress. Alhasil ketika rawon sudah jadi saya tidak bernafsu menyantapnya.

Bukan tidak enak, bahkan suami sampai merayu dengan pujian “Ayo makan. Enak koq. Ini rawon terenak di kota kita yang pernah aku makan, bahkan lebih enak dari rawon xxxxx (dia sebut RM langganan kami yang rawonnya jadi favorit)”.

Setelah saya coba icip -walau dengan segunung keraguan-, suami saya gak bohong, ini enak, kuahnya kental. Sama sekali beda baunya dengan kluwek yang saya cium saat mentah. Agak takjub juga dengan diri ini “Woe, bisa juga bikin rawon ya, kamu, dan langsung enak”

Wkakakak…saya muji diri sendiri, jadi enak….

Tapi walau begitu, saya tetap tidak berniat untuk memasaknya lagi. Karena ngebayangin selama masak itu overthingking overnight (karena bumbunya saya masak sore dan besok paginya baru masak rawon lidah sapi), saya tidur pun sampai kepikiran nasib bumbu yang sudah saya bikin: akankah enak, akankah diminati, atau akankah bau, akankah terbuang di tempat sampah, akankah semua ini sia-sia dan hanya semu belaka.

Maaf Kak, ini tentang masakan atau yang lain?

Hahahaha…..

Begitulah pengalamanku. Mungkin kalian mikir “Ni orang absurd banget, masak rawon doank gak bisa tidur, dapur dapur sendiri”. Tapi buat orang yang apa-apa jadi beban pikiran, pasti paham banget deh. Sebenarnya bukan juga si paling perfect, sama sekali deh ya aku jauh banget dari emak-emak perfeksionis. Tapi kalau overthinking iya, apa-apa dijadiin beban pikiran padahal belum terjadi.

Seperti rawon yang kemarin aku buat, itu aku udah mikirnya bakal kebuang semua ke tempat sampah cuma gegara warna kluweknya bikin bumbu jadi item (Yaiyalah, kalo gak item ya bukan rawon, Markonah). Mana pas bawang lagi mahal-mahalnya, 100k/kg, jadi paripurna bukan overthinking nya. Hahaha

Selain rawon, ada lagi masakan yang bikin aku gak akan recook lagi: rendang. Gak tau ya, di lidahku, masakan terenak di dunia ini- cuma B aja. Bahkan aku sudah pernah makan di beberapa RM Padang di kotaku tetep aja biasa aja, nothing special, gak ada yang bikin aku setuju dengan prediket yang disematkan.

Itu beli. Kalo bikin sendiri? Apalagi. Perlu 2-4 jam untuk bisa merubah daging jadi rendang. Bagiku yang si kebanyakan mikir, akan menganggap ini masakan yang boros gas. Mungkin kalo pakai kayu bakar beda lagi.

Masakan Indonesia memang terkenal dengan banyak bumbu dan menghabiskan banyak waktu. Jadi untuk selanjutnya aku akan memilih masakan Indonesia yang simple bahan dan singkat waktu mmasaknya.

Selain masakan Indonesia yang simple, aku juga tertarik membuat masakan Asia sejak bisa membuat Tom Yum 4 tahun lalu. Bahannya simple tapi rasanya oishi! Sejak mencoba makanan khas Thailand itu aku jadi ingin bereksplorasi dengan menu-menu Asia lainnya. Menurutku mereka tipikel yang rasanya ringan, sederhana tapi lezat. Bermain di kaldu, seafood, saus dan sedikit rempah.

Leave a Comment