InstagramYouTube

Bunga yang Cantik, Duluan Dipetik

“Kamu tahu Mba I?”, tanya mamaku suatu hari”

Itu yang di PTP (menyebut nama kompleks perumahan kami dulu), kemarin kan kuliah kedokteran, sudah selesai, mau nikah tinggal nunggu hari aja”, lanjut mamaku.

Aku yang tiba-tiba diajak ngobrol mama -tanpa basa-basi- masih loading mencerna, antara mengingat-ingat Mba I dan menghubungkan semua informasi yang mama berikan secara mendadak.

“Meninggal kemarin, Fik, leukimia, udah lama tapi gak pernah bilang ke orang, mama bapaknya juga gak tau”

Deg. Innalillahi…

Sempurna sudah aku terkaget-kaget.

Aku pernah berkunjung ke rumah Mba I yang cuma terpisah beberapa gang. Bahkan aku juga pernah sekali masuk ke kamarnya, dulu, waktu aku masih TK mungkin.

Sebenarnya aku gak akrab, gak banyak tau soal beliau. Ternyata selain kalem, beliau juga cerdas. Aku baru tau.

Tapi sedihnya, beliau juga penyakit yang disembunyikan. Ini jangankan aku, orang tuanya juga baru tahu. Gak kebayang sedih dan hancurnya hati mereka, kalau aku yang nun jauh di sini saja gak karuan mendengar ceritanya -apalagi yang mengalami langsung.

Walau gak kenal secara dekat, tapi gak tau kenapa rasanya koq sediih banget gitu. Manusia baik, cerdas, kalem, gak neko-neko harus duluan meninggalkan dunia. Potensinya baik.

Di antara perasaan sedih mendengar kabar itu, sempat tebersit dalam hati “Kasihan, sudah habis berapa uang ya buat sekolahin tinggi-tinggi, pas sudah jadi malah berpulang”

Pernah juga sebelum itu aku mendengar berita di TV seorang anak S2 yang meninggal sebelum sempat menyelesaikan studinya.

Lagi-lagi aku berpikir seperti itu. “Kasihan, orang tuanya sudah menaruh harapan besar anaknya bisa mengangkat taraf hidup keluarga ternyata berpulang”.

Setiap kali menemukan kabar yang serupa, begitu yang ada di pikiranku. Kapitalis? Memang. Aku akui dulu sempat menilai apa-apa dengan materi. Padahal aku sendiri bukan sosok perempuan matre yang suka mlorotin cowoknya. Eh gimana mau matrein cowok, dulu pacar aja gak punya 🤪

Time flies, dan aku sekarang menjadi seorang ibu. Datang kabar seorang pemuda 22 tahun yang meninggal karena tenggelam di sungai.

Perasaan “kasihan” itu datang serta merta, tapi tidak persis seperti dulu. Padahal anak itu berasal dari anak kalangan terpandang, bapaknya seorang gubernur. Iya, aku sedang membicarakan sosok (alm) Eril.

Sebagai anak pertama, lelaki pula, tentu bapak ibunya menyematkan harapan besar bahwa anaknya bisa meneruskan perjuangan. Terlebih punya adik perempuan yang harus dijaga olehnya. Aku membayangkan gimana terpuruk nya Pak Ridwan Kamil dan Bu Atha.

Tapi lihat, sebulan paska meninggalnya anaknya mereka sudah bisa tersenyum. Secepat itu kah move-on dari kehilangan anak harapan? Kematian alm Eril membawa perubahan dalam pola pikirku terhadap peristiwa serupa yang sudah aku ceritakan di awal.

Tidak lagi aku berpikir “Kasihan, sudah sekolah mahal-mahal, pas sudah mau jadi eh berpulang”.

Memang rugi jika sudut pandang berpikir kita adalah duniawi. Tapi coba lah ganti sudut pandang akhirat. Dari sini kemudian aku (mungkin) paham alasan Pak Ridwan dan Bu Atha bisa secepat itu mengikhlaskan anak sulung harapannya.

Di akhir zaman ini, ujian kehidupan semakin berat, bencana datang silih berganti, entah karena alam yang mulai lelah atau karena ulah manusia. Ulama-ulama pun mulai banyak yang berpulang. Membuat “pasak bumi” satu per satu terangkat.

Ada yang bilang “Bunga cantik duluan dipetik”

Allah SWT ingin menjaga hamba-hamba nya yang bersih agar selamat dari fitnah akhir zaman. Tidak ada lagi alasan untuk bersedih bagi orang tua yang ditinggalkan anaknya yang hampir sukses.

Tidak rugi, sungguh, justru Allah menyelamatkan mereka dari kotornya dunia. Terlebih jika anaknya sudah menyiapkan bekal pulangnya. Jadi seperti mereka, orang tua yang ditinggalkan, memastikan anaknya meninggalkan dunia dengan keadaan baik.

Sebaliknya, jika orang tua yang duluan berpulang, bisakah mereka memastikan itu? Hanya Allah SWT sebaik-baik penjaga. Sungguh, tidak ada rugi bagi anak yang berpulang meski belum sukses di dunia.

Sejatinya Allah telah mengambil kalian, bunga cantik, agar tidak terjamah dengan ujian akhir zaman yang sungguh berat. Hisab kalian pun mudah karena sebentar di dunia. Semoga kami yang masih tertinggal di sini bisa selamat sebab kasih sayang Allah SWT.

4 thoughts on “Bunga yang Cantik, Duluan Dipetik”

  1. Jadi inget quote Soe Hok Gie.
    “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

    Reply
  2. AQ terharu bacanya mbak. Setuju bgt, sami Dewi orang yang baik sekali, sangat sangat terkenal baik. Dan beliau meninggal mendadak, sdh setahun ini beliau kembali ke Allah SWT. Semoga orang2 tercinta yg baik, yg telah dipetik bagai bunga I nd ah duluan sll ditempatkan terbaik disisi Allah SWT, Aamiin…

    Reply

Leave a Comment