Bukan Penikmat Drakor. Tapi………..

Seingatku drakor (drama Korea) yang aku tonton pertama kali (dengan sadar) adalah Dream High tahun 2012, sekitar bulan Agustus – September. Momen yang sangat aku ingat karena dengan revisi skripsi yang dikerjakan di kost teman.

Dari Revisi Skripsi Jadi Drakoran

Jadi waktu itu berenam berkumpul di kamar seorang teman dalam rangka mengerjakan revisi skripsi. Walau mengerjakannya masing-masing juga ujung-ujungnya, tapi hawa kebersamaan bikin semangat mengerjakan. Maklum ya, perjalanan panjang bikin skripsi memang menguras tenaga, jadi aku paham banget kalo ada yang menyerah di tengah-tengah (karena aku hampir mengalami).

Sedikit flash back, saat semester akhir kuliah dulu aku memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga untuk membantu tante -kakaknya mama- yang punya usaha catering paska keluarganya tertimpa masalah keuangan. Aku pikir karena setelah ini aku akan balik ke kampung dan akan jarang ketemu beliau, jadi aku putuskan untuk keluar dari kost dan pindah ke rumah beliau untuk bantu-bantu sedikit. Awalnya yaa aku pikir karena mata kuliahku di semester akhir cuma sedikit jadi -kayaknya- gak masalah tinggal di rumah tante yang jauh dari kampus (10 km kurang lebih). Cincai lah ya, semester akhir cuma 8 SKS doank.

Awalnyaa…..

Ternyata perhitunganku SALAH BESAR. Nyatanya aku keteteran bimbingan skripsi. Skripsi yang dalam benakku akan aku kerjakan secara totalitas, ternyata berujung ambyar karena energi sudah terkuras. Sampai Dosen Pembimbing menanyakan aku ke teman kuliah yang rombongan konsul “Fika mana? Koq gak ikut bimbingan?”.

Apa yang terjadi? Ternyata aku kesusahan mengerjakan skripsi sambil bantu catering di rumah keluargaku itu, karena selain catering beliau juga jualan nasi kuning setiap pagi, which is aku harus bangun jam 3 pagi untuk bantu masak, lanjut jam 6 ikut melayani pembeli sampai nasi kuning habis. Siangnya beliau ke pasar mencari bahan masakan besok dan aku bantu persiapannya di rumah mulai dari menggoreng ikan untuk lauk nasi kuning, membersihkan cabe kering untuk bumbu merah, melap daun pisang untuk bungkusnya. Itu juga masih disambi dengan melayani pembeli bensin di muka rumahnya. Skripsi aku kerjakan di atas jam 9 malam saat persiapan buat jualan nasi kuning selesai. Jam 9 dapat apa sih? Hahaha, energi habis, Sis

Stress sih, jujur, di saat teman-teman lancar jaya mengerjakan skripsi di kost masing-masing aku harus berjibaku dengan urusan “cari uang”. Tapi mau gimana lagi, semua atas keputusanku sendiri. Aku yang salah koq, salah perhitungan, jadi memang gak mau menyalahkan siapapun.

Tapi dipikir-pikir lagi, mungkin karena itu ya, Allah SWT kasih aku kemudahan pada mata kuliah yang aku ambil termasuk matkul yang aku perbaiki. Fisika Modern dan Fisika Statistika yang materinya killer banget, percaya gak kalo saat ujian akhir aku selesaikan dengan sangat mudah. Nilai C dan D pun berganti dengan B+ di KHS. Masya Allah…. Aku sendiri -yang otak ngepas ini- masih takjub dengan tangan yang seakan bergerak sendiri menyelesaikan soal-soal itu. Padahal aku belajar di sisa waktu menjelang tidur malam.

Ok, terus apa hubungannya dengan drakor?

Di awal tadi kan aku sempat bilang aku sebenarnya stress banget mengerjakan skripsi dan revisinya sambil bantu-bantu keluarga sebagai konsekuensi aku tinggal di sana.

Jadi, pas revisi aku mau gak mau minta izin belajar ke kost teman. Jadi bahasa kasarnya aku kabur untuk sementara. Ya gimana lagi, kalo gak gitu masa revisian aku kerjakan dengan sembrono juga seperti skripsi aslinya. Kalo akhirnya dapat nilai C apa gak jatuh banget nilainya? Mana gak bisa diulang. Tunggu….siapa juga yang sudi mengulang skripsi yang ampun bukan maen ribetnya??? Siapaa Markonah? Siapa??? *ngegas

Jadilah akhirnya saat revisi aku beberapa kali menginap di kost teman untuk menguatkan tekad lulus revisi hanya sekali. (Halo teman-teman yang dulu kamarnya pernah aku malami, terimakasih banyak ya atas tumpangannya).

Dream High, First Drakor

Tersebutlah sekitar bulan Agustus 2012 aku mengerjakan revisi skripsi di kamar seorang teman. Aku awalnya gak sadar dengan tayangan di TV yang sedang ditonton teman-teman (eh, jadi nonton atau ngerjain revisi?). Setelah lamat-lamat aku perhatikan, eh seru juga jalan ceritanya, ini apa sih?

Setelah aku amati…….Hoalaah, itu toh yang namanya DRAKOR!!! Ckckckckck.

Dream High ini sangat berkesan karena selain momennya berbarengan dengan salah satu fase berat di hidup mahasiswa, juga karena Dream High ini berkisah kehidupan sekolah, tentang murid pilihan dan “buangan”, tentang menggapai mimpi di tengah kekurangan, bagaimana guru yang baik itu seharusnya memberi kesempatan yang sama kepada murid yang under-rate. Begitu klise, tapi entah kenapa ngena banget di aku.

Kecuali soal pergaulannya, aku sangat jatuh cinta dengan plot dan pelajaran yang bisa diambil dari series ini. Semacam terinspirasi ingin jadi guru seperti Guru Kang.

Ya, itu drakor pertamaku dan saking membiusnya aku gak bisa move on dari series itu selama setahun. Selama setahun itu aku kebayang-bayang setiap adegannya. Merinding terharu gimana gitu. Mungkin karena momennya juga saat itu aku di ambang kelulusan (bentar lagi mengabdi jadi guru), jadinya bener-bener terkesan dan yah itu tadi, gak bisa move on.

Jadi setelah merasakan efek drakor sengeri ini *hahaha, aku memutuskan untuk gak mengikuti perkembangan drakor lagi.

Sampai akhirnya ada drakor yang berhasil meruntuhkan pertahananku selama 8 tahun. Dia adalah….

The Second: Crash Landing on You

Aku sampai rewatch 5x dan menjadi salah satu manusia tidak produktif di muka bumi.

Series yang benar-benar perfect menurutku. Romance tidak berlebihan yang bikin males, komedi yang mood banget, tegang juga karena soal dua negara Korea, ada nangisnya juga, nangis sedih, nangis terharu, pokoknya dabest banget sampai bikin penonton seakan jadi bagian di setiap adegan. Tentang percintaan yang mustahil karena menyangkut 2 orang dari negara tetangga yang saling bermusuhan itu kan bikin penasaran yak endingnya gimana. Tapi ini tu gak melulu soal percintaan, ada soal keluarga juga, tetangga, politik, hukum, bisnis. Astaga, lengkap.

Tapi aku gak mau bahas banyak, karena aku sudah bikin artikel sinopsisnya dan panjang banget alias gak bisa merangkum dengan baik. Gkgkgkgk….

Dan setelah CLOY ini belum ada series yang bikin aku segila itu nonton. Malah akhir-akhir ini cenderung malas lagi mengikuti perkembangan K-drama semenjak mereka kentara sekali mengusung isu LGBT. Asli, bikin ilfeel.

Bukan Penikmat, Tapi….

Jadi aku memposisikan diriku bukan penikmat drakor karena aku drakor sekarang mulai menyusupi bahan-bahan LGBT itu. Aku notice sekali selama 2021 beberapa yang kutonton (mungkin 5 judul) 4 di antaranya ada.

Dan itu mengurangi peminatan aku untuk mengikuti perkembangan drakor.

Hanya saja aku akui memang drakor selalu bisa menjamin kalau penonton akan mendapat wawasan baru tentang sektor tertentu. Tim produksi mereka selalu melakukan riset bagaimana agar tema yang mereka angkat itu benar-benar fakta di lapangan yang tidak semua orang lain tahu.

Misalnya aja CLOY tadi, aku jadi tau sedikit banyak gambaran tentang masyarakat Korea Utara yang sosialis, sama rata sama rasa, bahkan gaya rambut juga diatur agar tidak ada yang lebih heboh daripada yang lain. Atau misalnya seperti Mouse dan Signal, aku jadi bisa membayangkan bagaimana polisi dan detektif bekerja menyelidiki kasus kriminal. Dan dari Start Up! aku paham bagaimana perusahaan itu berjalan. Dan tentu saja Dream High, yang banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil, salah satunya aku tidak pernah lagi memandang rendah siswa yang tidak bisa because every single student is a star, yang gak cuma aku tulis sekedar quote tapi memang benar-benar terpatri dalam diriku sebagai guru (segitunya Dream High mengubah mindset).

Aku sih sebenarnya masih berharap banyak drakor bisa banyak memproduksi series yang worth watching tanpa memasukkan ide-ide melenceng. Karena ya sayang banget karena setotalitas itu penyajiannya harus dikotori dengan hal-hal yang gak patut.

Ok, sampai di sini aja mungkin ya. Aku cuma mau mengeluarkan uneg-uneg yang aku simpan. Dan sambil memberi pesan kepada diriku, untuk gak usah mengidolakan artis korea, ya sewajarnya aja kalo suka, suka aktingnya. Karena kehidupan mereka di sana banyak yang tidak sesuai dengan idealisme-ku, takutnya pas ngefans, ternyata artisnya kena skandal kan apa gak makjleb banget?

Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

Leave a Comment