“Yah, di mana ya HP ku?”

“Coba telepon pake HP ku”

“Udah 3x tadi. Ga ada suaranya 😢”

“Iya, kebiasaan silent sih”

“Tapi, biasanya ada suara getarnya. Ini koq ga ada yaa”, jawabku kebingungan sambil mengingat-ingat terakhir di mana aku letakkan hp, bisa-bisanya sampai tak terdengar bunyinya. 

***

Assalamu’alaikum….

Bonjour everyone!

Siapa di antara kalian yang punya pengalaman servis handphone? Pasti rata-rata pernah mengalami handphone rusak dan harus diservis, kan? Nah, biaya servisnya pun beragam, yang dari hanya puluhan ribu sampai ratusan ribu bahkan sampai menyentuh jutaan.

Wuuttt? Jutaan?

Yaelaaaah, beli baru aja kali kalo servis sudah semahal itu!

Iya sih, aku juga mikirnya begitu. Tapi…..

Jadi, sebulan lalu, sekitar tanggal 14 November qadarulloh HP yang baru seumur jagung dibelikan suami sekaligus tempat nulis blog dan segala editing grafis ini terendam dalam mesin cuci .

(((mesin cuci))).

Koq bisa????

Iya, jadi subuh itu memang jadwal aku nyuci baju, HP aku taruh di atas rak piring besar yang menyekat ruangan dapur dan laundry room. Ternyata, pas aku merapikan jemuran (bentuk) payung, ga sadar ujungnya menyenggol HP tadi dan…..plung! HP itu mendarat empuk di tumpukan baju siap cuci tanpa kusadari. 

Cerita selanjutnya bisa kalian tebak lah ya, huahahaha. HP ku ikut tercuci bersama baju-baju itu. 

Baju yang mau dicuci memang ga dimasukkan satu-satu, tapi langsung aku tumpahkan ke dalam mesin cuci semua, karena yaa memang keranjangnya sudah dibedakan antara keranjang dewasa dan anak. Dan hari itu ga ada baju putih yang dicuci, jadi emak dengan gaya multi-tasking serba mau selesai secepat kilat akhirnya main masukkan aja semua baju anak. Dan betapa terkedjoetnya emak ketika mesin cucinya berputar terdengar bunyi gludak gluduk! Feeling tajam membuat tanganku otomatis mematikan putaran mesin dan mencari sumber suara itu.

Dapat!

Terimakasih mesin cuci, HP emak bersih lagi seperti baru beli 💔.

Sebenarnya aku sudah pernah membaca first aid alias pertolongan untuk HP yang terendam: tidak boleh langsung dinyalakan karena akan menyebabkan konsleting. Aku baca artikel itu pas SMA, artinya sudah 12 tahun yang lalu dan aku masih ingat -saking tidak inginnya punya pengalaman HP rusak total karena terendam seperti punya kawan. Tapi, teori tinggal teori. Saat di hadapkan pada kenyataan toh tetap panik yang terdepan. Huhuhu. Mana ada artikel itu muncul lagi di kepala, yang ada malah keduluan jari yang berusaha memastikan kabar si HP.

Gimana? Gimana?

Nyala? Yes!

Tapi, tidak lama kemudian padam🥀.

Yaa jelas laah konslet sirkuitnya kemasukan listrik dan air dalam waktu bersamaan.

Ini rasanya semacam emak-emak yang udah ikut kelas hypnobirthing dan belajar tarik napas, yoga, gym ball dan senam kegel, tetapi ketika waktunya kontraksi adekuat panik bukan kepalang. Lantas lupa dengan teori hypnobirthing bahkan untuk semudah atur tarik nafas dan akhirnya ga sengaja dia angkat p*nt*t dan……………………..episss. 

Yah, 11 12 lah, hihi. Walau level paniknya tentu jauh beda.

Jadi, gimana HP yang sukses terendam tadi? Masih berusaha kami keringkan dengan kipas angin dan ternyata itu sia-sia. Kemudian suami coba charge, ga berhasil juga. Kemudian baterai dilepas dan dimasukkan ke dalam toples beras. “Ngapain sih, Yah?”, suami bilang itu cara untuk menyerap air dari dalam baterai. Tapi aku koq horor juga sama toxin yang keluar dari baterai. Boleh percaya boleh tidak, beras yang dipakai untuk merendam itu ketika dimasak nasinya cepat basi dan berubah jadi kuning. Lantas sisa berasnya kami buang semua

(Di situ rasanya emak pengen pelihara 🐔).

Akhirnya, kami angkat tangan juga dan lari ke tempat reparasi HP.

Handphone rusak. Sumber pixabay

3 hari….4 hari….5 hari….

Tik tok.. tik tok… tik tok….

🙄

Hari pertama sampai ketiga jujur gelisah banget ngettt 🙈 Gimana donk, tiap hari pegang HP buat ini itu tiba-tiba sekarang ga pegang barang sedetikpun. Kalau orang bilang “sakau” HP, ya boleh jadi memang saat itu lagi sakau. Aku kangen WhatsApp -an, Gengs!

Baca juga: 5 Hal yang Terjadi Ketika ada WhatsApp

Hari keempat kelima sudah mulai terbiasa tanpa HP, ga terlalu gelisah lagi (lagian siapa juga yang cariin emak, wkwkwk), tapi teteup yaa nyuruh suami buat memastikan kabar. Dan pihak servis bilang belum selesai karena kerusakan sangat parah. Huhuhu, di sini aku mulai pasrah. Suami menawarkan beli baru tapi aku masih bilang tunggu dulu. Masih berharap sembuh HP nya karena foto-foto anak banyak di sana dan aku termasuk yang jarang membagikan momen di medsos. 

Hari keenam, datang kabar kalau sirkuitnya sudah diperbaiki tapi layarnya ga bisa disentuh. Kalau mau beli ganti harganya Rp 375.00 ditambah biaya servis Rp 500.000.

Alamaaaaaaakkkk! Mahal kali, Bang 😭

Jujur, saat itu merasa bersalah banget sama suami. Entah HP itu HP keberapa sejak menikah. Rusak, beli baru. Gitu mulu, ya Alloh 🙈. Untungnya suami ga pake ngomel, cuman ya tetep aja diingatkan “apik-apik donk istriku”. Hahahaha. Aku juga bingung kenapa semenjak jadi emak HP jadi cepat rusak, wkwkwk. Mungkin benar kata penelitian, multitasking membuat IQ dan fokus makin turun 💔.

Kalau ga mikirin foto-foto anak di dalam HP itu udah pasti lah aku pilih beli baru lagi karena ditotal-total biaya servisnya nyaris sejuta! Lebih dari setengah harga HP nya.

Iya, iya….tau. Harganya ga mahal mahal banget karena bujet buat beli HP ga mau di atas 2 juta. Alasannya simple: aku masih punya anak kecil 🙈.

Setelah ganti LCD di hari ke-8 kami dapat kabar lagi. Mereka bilang IC charge juga rusak, ga bisa diisi baterainya. Onde mandeee. Nambah lagi biayanya donk. Luar biasa *geleng-geleng kepala sambil urut dada.

Dari awal insiden aku sudah mulai introspeksi diri. Apa salahku jadi Alloh perkenankan HP ku terendam. Pasti lah aku banyak salah. Memang benar kata orang, HP kadang bisa menjelma jadi syetan gepeng, melenakan, bikin lalai. Astaghfirullah!

Hikmah 10 Hari Tanpa HP

Walaupun jujur sempat kelimpungan saat HP diservis tapi beneran deh aku menikmati saat-saat ga pegang HP. Apa ya….

✅Alhamdulillah jadi introspeksi, mungkin itu cara Alloh negur aku yak. Hiks. Karena nanti di yaumil hisab pasti semua manusia ditanya kemana dan bagaimana dia menghabiskan waktunya di dunia. Jadi mikir lagi, banyakin pegang HP apa pegang amanah yg Alloh kasih??? *self PLAK!

✅ Aku jadi lebih intens menulis blog sekaligus mengurangi kemunculan di medsos yang setelah aku timbang-timbang ternyata tidak lebih berfaedah dari sebelumnya. Manajemen waktu untuk pekerjaan domestik juga lebih baik. Dan yang terpenting aku jadi sangat lebih banyak main sama anak, ngobrol dengan mereka, dan lebih perhatian ke suami. Ga ada distraksi-distraksi lagi. Kalau tiba-tiba kangen nengok medsos atau pengen nulis kudu buka komputer. Waktunya juga terbatas sekali, saat jam tidur anak. Otomatis membuat aku pilah-pilih informasi yang masuk sekaligus menempatkan mana yang lebih penting dikerjakan dengan waktu seefisien mungkin. 

✅ Jadi punya waktu lebih buat maintenance blog. Selama ini aku cuma taunya nulis doank. Building blog juga baru sedikit-sedikit bisa, karena aku ga mau terdistraksi ke masalah teknis, yang mana pasti bikin semangat nulis turun. Tapi, sebagai blogger yang ga punya backingan yang bisa dimintai tolong sewaktu-waktu jadi tetap kudu belajar masalah teknis yak. Hiks. Alhamdulillah selama 10 hari itu aku melakukan apa yang aku hindari. Receh doank sih, kek optimasi gambar biar ga menghabiskan space hosting, memperbaiki page loading time (dari D ke B/A), pasang plugin pengamanan, dll. Yaah receh gitu lah.

✅ Menyelesaikan 2 novel dalam 10 hari. Ini rekor dalam setahun terakhir. Sejak aku kehabisan novel penulis favorit aku jadi malas baca buku. Soalnya gimana yaa, aku tipe tipe yang kalau baca buku ga mau yang sekedar rame aja (karena bakal menganggap aku sudah washing time). Tapi 2 buku yang terakhir kubaca, walau bukan penulis favorit, tapi alhamdulillah sungguh banyak hikmahnya ❤.

 

Wah, ternyata tanpa HP hidupku baik-baik saja yaa. Hahaha. 😳😶 Malah aku merasa kualitas hidup jadi lebih baik, waktuku juga berasa banget jadi termanfaatkan dengan benar karena distraksi terbesar adalah dari HP, seriously.

Sekarang HP ku sudah baik. Di satu sisi aku bersyukur, ga mesti beli baru walau harga servisnya lebih dari separoh beli baru. Dan di luar dugaan, ternyata pengaturan masih sama dengan sebelum rusak. Artinya foto-foto terselamatkan. Waaaah, senangnya. Karena aku pikir bakal mulai dari nol lagi termasuk install aplikasi.

Baca juga: 11 Things Make Me Happy

Tapi, hmmm…. Jujur walau 10 hari tanpa HP itu terasa hampa, tapi saat-saat itu ngangenin loh. Mau bersikap seolah-olah HP ini ga ada tapi susah betul, huhuhu. Aku takut nanti ditanya Alloh tentang waktuku. Sebelum terlambat semoga bisa berubah jadi lebih baik. Sekarang waktu pegang HP berkurang drastis, dari 4 – 6 jam (termasuk nulis blog, silaturahim, ikut kulwap, dan medsos) ke 3 jam sehari. 

Sekian chit chat ku kali ini. Semoga ada manfaatnya.

***

When we face a trouble, it is annoying. But if we see closer we will get the reason.

 

 

 

Kategori: Chit Chat

Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *