www.latifika.com
Chit Chat Resensi

Pertama Kali Ikut Lomba Resensi: Aku Ga Mau Menang

Assalamu’alaikum….

Bonjour everyone!

Beberapa waktu lalu, tepatnya  20 Oktober 2019 aku merampungkan tulisan terpanjang yang pernah aku muat di blog ini. Tulisan itu bukan sembarang tulisan, tulisan itu dalam rangka mengikuti lomba resensi yang diadakan Republika dan….. Tere Liye! (Boleh teriak ga?qiqiqiqi)

Hmmm, as you know that he’s my most-favorite-author!

Bukan tanpa sebab aku menyukai karya-karyanya. Novel-novelnya, karakter-karakter di dalamnya, hikmah kehidupan yang mengalir deras di setiap cerita adalah alasan kuat aku memburu 30 judulnya dalam 2 3 tahun belakangan ini. They are -the books- really make me to have another new insight about live and beyond.

Dan sekarang, pemilik nama asli Darwis ini mengadakan lomba untuk novel terbarunya, Si Anak Badai. Apakah aku ikut? Oh, tentu saja. Kapan lagi tulisanku dibaca beliau. Apakah aku ikut karena mau menang? Oh, tentu saja…..tidak donk, Dijah! Tujuan utamaku ikut hanya satu, agar tulisanku dibaca Tere Liye.

Just it, trust me!

Kata orang Tere Liye adalah penulis kontroversial, dimana penggemar fanatiknya sangat banyak, tapi haters-nya juga tumpah ruah apalagi kalau bukan karena status-statusnya yang dianggap nyinyir, apa saja, tentang selfie, pamer, sampai korupsi. Tapi, aku tak ambil pusing. Yah, walau kadang tersinggung juga sih sedikit, hihihi. Tapi, semakin kau baca novel-novelnya semakin kau tau bagaimana karakter penulis yang lahir di kampung petani ini. Bagaimana tingkat literasinya, bagaimana sifat low profile-nya, seberapa besar ketidaksukaannya terhadap exposure media sosial terhadap dirinya dan keluarganya. Oi, apakah kalian pernah  melihat foto-foto Tere Liye  berselfie  dengan penggemarnya saat meet and greet atau kuliah kepenulisan???

Buku-bukunya selalu menjadi best-seller dengan rata-rata puluhan cetak ulang. Dan, akhir-akhir ini beliau suka membuat judul berseri yang akhirnya membuat kami tak bisa apa-apa selain menunggu dengan gemay…eh gemas. Sedangkan aku pribadi lebih suka membaca novel semua genre, kecuali romance, sehingga dari 34 judul karyanya, tersisa 4 yang belum aku baca. Yah, kalian tentu bisa menebak judul yang seperti apa yang aku skip.

Hanya saja aku merasa ada sedikit yang berubah di novel beliau akhir-akhir ini. Sesuatu yang aku sendiri bingung menjelaskannya bagaimana tapi kalau dipaksa menjelaskan akan sangat panjang, sepanjang tulisan 2.921 kata pada postingan yang aku ikutsertakan dalam lomba resensi kemarin.

Hampir 3.000 kata kan, hmm…. benar-benar postingan terpanjang.

 

Intinya aku ingin menyampaikan uneg-unegku sebagai pembaca fanatiknya yang menghabiskan hampir semua judul kurang dari 36 bulan. Kalian tau maksudku? Aku melahap karya-karya yang sudah diciptakannya selama 12 tahun dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun, sehingga aku sangat notice akan perubahan sekecil apapun. Yup, introduce me, a sensing-feeling introvert.

www.latifika.com

Dan memang benar adanya ketika  tempo itu aku terbersit  untuk ikutan, sama sekali  tidak  menargetkan untuk menang. Aku ikut  bukan untuk  hadiah, bukan  sekedar jadi  pom-pom cheers alias meramaikan belaka, aku ikut hanya karena ingin Tere Liye membaca tulisanku sebagai penggemar fanatik karyanya. Beliau harus tau bahwa ada yang berbeda dari karyanya yang sekarang, sesuatu yang sangat dirindukan seperti karya-karyanya yang dulu.

Ohya, jadi ingat setahun lalu aku juga ‘kebetulan’ menang lomba menulis yang diselenggarakan Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB) dan DivaPress. Saat proses menulis itu aku sama sekali tidak memikirkan hadiahnya, aku hanya ingin stress-healing sekalian bentuk ‘kafarat’ -‘penebusan dosa’- masa lalu.

Kalian tau lombanya tentang apa? Tentang mom war. Whahahaha, aku selaku pelaku mom war pada masanya sekaligus sudah bertobat rasanya ingiiiiiinnnnn sekali membagi pengalamanku terjebak dalam ‘perang’ itu. Di sana aku menuliskan situasi hati saat terjerembab dalam kubangan perang antar mama, bagaimana kerasnya hati men-judge ‘aku pasti benar dan kamu sudah pasti salah’, bagaimana kemudian Alloh seperti menghukumku atas itu, membuatku makin terperosok jauh ke dalam, sampai bagaimana akhirnya aku keluar dari kubangan itu dengan tersuruk-suruk kepayahan.

Sebenarnya aku malu menuliskan itu, apa-apaan sih koq malah buka aib sendiri?. Tapi bagiku saat itu yang terpenting adalah  mengeluarkan  uneg-uneg. Semacam beban yang akhirnya rilis dari badan setelah aku menamatkan tulisanku. Dan benar saja, setelah itu perasaan ringan dan plong mendominasi. Tapi, tidak lama setelah itu pengumuman pemenang dan aku terkedjoet bukan kepalang. Ada namaku terpampang di sana! Artinya ceritaku akan dibukukan dan ditaruh di toko buku. Astagaaa, aibku bakal tersebar seantero Indonesia! wkwkwkwkwkwkwk. Kini, antara senang -karena sudah berbagi pengalaman, meluapkan beban pikiran, berharap orang lain memetik hikmah- dan juga malu mendera berbaur jadi satu. Karena itu aku ga pernah berani secara eksplisit mempromosikan bukuku di saat penulis yang lain sangat PD untuk itu. Yakali ada yang bangga nyebar aib, qiqiqiqiqi.lomba menulis stop mom war

Dan seperti mengulang kejadian setahun itu, saat selesai menulis resensi Si Anak Badai perasaanku lebih plong. Akhirnya aku bisa menyampaikan keluhanku selama 6 bulan ini kepada yang bersangkutan karena beliau adalah jurinya. Jika hanya menulis resensi biasa (tanpa rangka lomba) mustahil bin impossible tulisan blogger misqueen ini akan dibaca penulis kelas super badas (((badas))).

Jadi, memang benar adanya menulis adalah self-therapy yang bisa kita andalkan. Saat tidak ada manusia yang kita percaya untuk menampung luapan ‘sampah’ emosi kita, maka menulis adalah tempat terbaik untuk menampungnya. And dont forget to remember that Alloh is besides us. Thee (alone) we worship, Thee (alone) we ask for help (1:5).

 

Jadi, kembali ke judul tulisan ini, Pertama Kali Ikut Lomba Resensi: Aku Ga Mau Menang, sebenarnya memang bukan hadiah yang aku inginkan tapi lebih dari itu,terhubung dengan penulis favoritku menyampaikan uneg-unegku. That’s it.

 

1 thought on “Pertama Kali Ikut Lomba Resensi: Aku Ga Mau Menang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *