www.latifika.com
Education Parenting Tumbuh Kembang

Belajar Calistung Usia Dini? Yay or Nay?

Assalamualaikum….

Bonjour everyone, semoga dalam keadaan sehat wal afiat semua yaa….

Kali ini aku mau sharing parenting khususnya terkait dengan pengajaran calistung (membaca-menulis-berhitung) secara mandiri di rumah.

Loh Mak, anakmu sudah diajarin calistung sejak TK?

Sudah, Buk. Muthia bahkan sudah bisa penjumlahan sebelum TK. Tapi membaca menulis baru bisa setelah masuk TK B.

Wuih, kamu maksa anakmu belajar?

Hah? Makanya baca tulisanku dulu, ya Buk…๐Ÿ˜€

Tapi anakku udah bisa sih, belajar di Kumon

(*Orang kayah mah bebaassss ๐Ÿคฃ)

*percakapan di atas hanyalah ilustrasi ilusi semata, harap jangan diambil hati apalagi jantung . ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ˜„

Calistung Usia Dini? Yay or Nay?

Sebelumnya aku termasuk ibu yang masih galau antara mengajarkan calistung usia dini atau nanti ketika usianya 7 tahun. Landasan pengajaran calistung usia 7 tahun ini make a sense, karena syaraf otak anak sudah terhubung baik sehingga mudah mencerna sesuatu yang abstrak (FYI, huruf dan angka itu termasuk benda abstrak ya). Di Indonesia pegiat “no calistung before 7 years old” yang sering kita dengar petuahnya adalah Ayah Edi dan Bu Elly Risman.

Tetapi, landasan pengajaran calistung usia dini juga make a sense, apalagi kalau meninjaunya pakai metode Montessori.

Terlebih setelah aku menamatkan buku Jatuh Hati pada Montessori punya mba Vidya Dwina Paramita, seperti langsung yakin gitu untuk mengajarkan calistung saat usianya masih TK. Apalagi lingkungan SD di sini masih menganut paham konvensional: tes masuk harus bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Hmmmmm, kan kan…kan๐Ÿ˜Œ

Ok, Baiklaaah…. sekarang emak mulai ga abu-abu lagi, sepertinya pilihan mengajari calistung usia dini lebih pas untuk kondisi saat ini. Ohya, sejujurnya sejak Muthia bayi aku sempat ragu-ragu, bagaimana caranya aku yang bukan lulusan guru TK ini mengajarkan calistung kepada anak sendiri dengan menyenangkan dan tanpa paksaan. Bahkan saking ragunya aku sempat terpikirkan untuk me-leskan anak nanti saat menjelang SD.

Tapi setelah membaca buku dan teori parenting yang berseliweran di media sosial sekaligus memperhatikan minat dan kesiapan anak, akhirnya aku berani memulai. Terlebih ketika ingat motivasi ukhrawi, Ibu adalah madrasah pertama anak, aku semakin yakin untuk mengajarinya sendiri. Bismillah aja lah pokoknya๐Ÿ˜‡.

Nah, sekarang alhamdulillah Muthia sudah mulai lancar calistung, jadi aku mau berbagi pengalaman mengenalkan anak dengan calistung selama ini. Semoga bisa menginspirasi ya…

๐ŸŒบ 1. Jangan dipaksa

Nomor satu banget ini, jangan dipaksa Buk, please. Karena usia di bawah 7 tahun memang masih suka bermain, itu naluri alamiah mereka untuk mematangkan motorik kasarnya. Kematangan motorik akan berdampak besar karena berpengaruh pada keseimbangan tubuh, memori, dan rentang konsentrasi anak di masa depan.

Jadi usia di bawah 7 tahun tidak perlu dituntut untuk duduk manis menerima pelajaran.

Aku pernah melihat cara salah satu keluarga jauhku mengajari anaknya. Waktu itu usia anaknya masih 3 tahun dan ayahnya sudah mengajari menulis angka. Si anak disuruh menyelesaikan lembaran latihan dengan duduk manis. Karena takut dengan ayahnya (yang otoriter menurutku), si anak ya manut-manut aja. Terpaksa dia menyelesaikan “tugasnya” menyambungkan titik-titik membentuk angka 3. Padahal dari sorot matanya sudah tergambar kalau dia ga suka, ingin berontak dan bilang “Ini apa sih Yah, aku ga ngertii, huhuhu!”. Tapi apa daya dia lebih takut ayahnya murka.

Umur 3 tahun adalah usianya bermain. Memaksakan anak belajar dengan duduk manis itu melanggar fitrahnya yang suka eksplor kesana kemari (kata memaksanya aku bold ya, itu maksudnya menyuruh dengan keras tanpa kompromi, kalau menyuruh dengan kompromi bukan memaksa, menurutku).

Apakah dengan memaksakan anak belajar akan membuat dia terbiasa belajar saat besar nanti? Nope… Justru anak yang dipaksa belajar akan merasa belajar itu ternyata SANGAT TIDAK MENYENANGKAN.

Jadi, kalau mau anak suka calistung no.1 jangan dipaksa ya, Buk โค.

Terus, kalau ga dipaksa gimana mau bisa?๐Ÿค” Nah, jawaban ada di nomor selanjutnya ๐Ÿ‘Œ.

๐ŸŒบ 2. Berikan contoh

Sebelum menyuruh anak belajar calistung, kita sebagai orangtua harus memberikan contoh dulu.

Maksudnya kita belajar menjumlahkan atau pura-pura mengeja di hadapan mereka, begitu?

Aish, ga sekaku itu juga kali ๐Ÿ˜Œ. Memberikan contoh di sini maksudnya memperlihatkan ke anak bahwa sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita sangat dekat dengan angka dan huruf, sehingga bisa membaca menulis dan berhitung menjadi sangat penting dikuasai.

Gimana contoh real-nya?

Misal, sejak 2 tahun terakhir aku sedang demam membaca novel penulis favoritku. Bukunya yang berjumlah 34 itu aku buru satu persatu membuat rak novel di rumah penuh. Inilah kenapa aku sengaja beli buku: agar bisa membuat suasana ramah buku di rumah. Padahal sebenarnya bisa aja sih kalau mau pinjam atau nyewa untuk menghemat duit.

Jadi selain kita beli buku untuk anak, kita juga harus menunjukkan minat dalam hal membaca. Dengan kata lain orangtua harus suka baca demi memberikan contoh kepada anak (tapi kalau ga suka baca yaa minimal pura-pura suka deh, wkwkwkk)

Setelah dibeli bukunya terus apa lagi? Ya dibaca donk, Buk, masa dipajang๐Ÿ˜Œ. Baca buku selain ampuh mengurangi intensitas pegang smartphone juga memberi contoh kepada anak. Anak jadi melihat ibunya dan bisa saja berkata dalam hati “Wah keren, mamaku rajin baca buku, kayanya asik ya kalo bisa baca ๐Ÿ˜”. Bukan Nak, ini pencitraan.

Selain sengaja beli dan baca buku di hadapan anak, aku juga sesekali sengaja menulis di blog ketika ada Muthia. Sehingga kalau ditanya mamanya lagi apa, aku jawab sedang menulis. Bisa saja dia berkata dalam hati, “Wah, mamaku keren. Sudah suka baca suka nulis juga, kayanya asik bisa baca dan tulis ๐Ÿ˜๐Ÿ˜”. Padahal emaknya lagi nulis status, update stories, merapikan feed IG, muahahaha.

Selain mencontohkan membaca dan menulis aku juga mencontohkan hitung-hitungan.

Dengan cara apa?

Misal, biasa ibu-ibu habis dari pasar totalan belanja kan? Atau mencatat pengeluaran sehari-hari. Kadang-kadamg aku menghitungnya pakai oret-oretan di kertas. Dia selalu penasaran mamanya lagi ngapain, ya sudah jelaskan saja “Nak, hemat pangkal kaya. Ingat itu”.

(Eh, kaya ga nyambung…)

Yang begini emang receh dan sederhana yaa, tapi kalau dipikirkan justru dari yang sederhana ini kita bisa mengenalkan dan men-trigger minat anak terhadap calistung.

Calistung itu dimana-mana Nak, dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Mempelajarinya tak akan rugi.

๐ŸŒบ 3. Bacakan anak buku

Belikan buku anak sudah, sekarang saatnya membacakan untuk mereka. Membacakan buku selain bagus untuk bonding anak-ibu dan menyampaikan pelajaran hidup yang ada di setiap cerita, juga membantu anak berkenalan dengan huru, kata, dan kalimat. Jadi, jangan berharap anak cepat bisa membaca kalau masih minim kebiasaan membacakan buku di rumah (kecuali anak dengan jenis autis savant, autis dengan IQ jenius, yang bisa ‘tiba-tiba’ membaca tanpa diajari).

๐ŸŒบ 4. Perhatikan kesiapan anak

Setelah kita sudah memulai dengan lingkungan rumah yang ramah calistung, jangan buru-buru mengajari. Observasi saja dulu kesiapan anak. Kalau belum siap, usaha yang kita keluarkan akan lebih besar, akhirnya emak stress anaknya lebih stress lagi ๐Ÿ’”.

Jadi, mesti dipastikan kesiapannya dulu yaa. Dengan cara apa?

Dengan cara bermain. Itu satu-satunya cara yang bisa kita gunakan. Bermain adalah dunia mereka. Jadi kalau mau tau kesiapan mereka ya masuk ke dalam dunia mereka alias ikut bermain.

Ketika usianya 3 tahunan Muthia saya kasih mainan bebikinan sendiri yang ada angka-angkanya. Ga disangka dia nyamber banget. Dari situ saya tau kalau dia suka hitung-hitungan. Saya coba tes mainan penjumlahan, eh dia mau ngikutin dan bisa dan….ternyata suka banget. Agak amaze sendiri sebetulnya. Tapi mungkin ada turunan kali ya, kan emaknya juga suka hitung-hitungan pas kuliah, sampai kecepatan apel jatuh dari pohon yang tingginya 5 meter aja dihitung. (((Ngapain))) *cuma anak fisika yang tau rasanya.

Tapi, ketika saya mencoba observasi untuk permainan huruf ternyata dia ga seantusias itu. Jadilah dari sana saya tau dia siap untuk hitungan tapi belum siap untuk baca tulis. No matter, darling๐Ÿ‘Œ.

Kemudian aku observasi lagi setelah dia masuk TK. Aku kira bakal siap di momen ini, eeh ternyata di kelas TK A kami sibuk menata hatinya yang jatuh bangun dibully teman-temannya. Menangis di sekolah hampir tiap hari, tidak punya teman karena diintimidasi sampai mogok sekolah 7 hari. Benar-benar drama masuk sekolah yang begitu ‘indah’.

Saat itu aku mengenyahkan keinginan untuk mengajari baca tulis. Bagiku yang terpenting adalah mengajari bagaimana dia beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Baru setelah naik ke TK B, saat kondisi mentalnya mulai bagus aku menawarkan bermain huruf ala Montessori. Jadi, di dalam Montessori ketika ingin mengajarkan calistung (yang notabene adalah sesuatu yang abstrak bagi anak) kita harus menghadirkannya dalam bentuk konkret (nyata) dulu, sesuai dengan tahapan pola pikirnya.

Jadi, ada tahapannya dan benar-benar make a sense, masuk akal, karena disesuaikan dengan tahapan pikiran manusia tadi. Dimulai dari full konkret – adaptasi setengah konkret setengah abstrak – hingga bisa full abstrak alias lancar membaca tulisan di buku.

Lebih jelasnya aku tulis di postingan khusus sharing tahapan mengajarkan anak membaca ya.ย 

ย 

๐ŸŒบ 5. Jangan lupa kasih apresiasi

Ketika anak sudah mau belajar tidak ada salahnya menjanjikan reward. Mungkin ada yang ga setuju ya karena takut jadi kebiasaan dan pamrih, tapi aku punya alasan kuat kenapa harus dikasih reward dan bagaimana batasan reward agar tidak kebablasan menjadi pamrih.

Kebetulan Muthia pengen punya jam tangan sejak Oktober tahun lalu. Tapi, aku bilang belum boleh punya lagi karena yang sebelumnya dibelikan cepat rusak. Lalu aku katakan lagi kalau dia mau jam tangan nanti kalau sudah lancar baca tulis. Alasannya agar dia bisa “membaca” jam (padahal anaknya sudah ngerti angka, tapi emang belum ngerti “baca” jam sih).

Jadi, sejak TK A semester 1 sudah diiming-imingi hadiah jam tangan sesuai keinginannya. Tapi, yang namanya anaknya belum siap emang ga bisa dipaksa. Jadilah iming-iming tinggal iming-iming tanpa progress apa-apa.

Ndilalah, pas semester 1 TK B ditawarin lagi responnya positif, walaupun di awal males-malesan. Tapi lama kelamaan dia sendiri yang minta belajar. Alhamdulillah sekarang sudah bisa calistung dan yeay, jam tangan ini sudah sah jadi miliknyaโค.

 

Harapannya sih ketika dia dibelikan sesuatu dia akan menjaga barangnya karena dia sudah merasakan bahwa mendapatkan barang keinginannya tidak semudah menengadahkan telapak tangan โ˜บ.

Jadi, intinya

….aku termasuk yang setuju untuk calistung usia dini asal anak tidak terpaksa dan mengajarinya bertahap mulai dari fase konkret, adaptasi konkret-abstrak sampai akhirnya full abstrak.

1 thought on “Belajar Calistung Usia Dini? Yay or Nay?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *