“Dia lulusan apa, sih?”, tanya seorang ibu tukang rumpi sambil melihat ke arah ibu muda 25 tahun nan modis yang barusan keluar rumah dengan mobilnya.

“Kayanya perawat deh Jeng, tapi aku koq ga pernah lihat dia pakai baju seragam kerja”, jawab ibu pengikut Lambe Turah.


“Iya, aku juga ga pernah. Tapi sering wira-wiri pakai Jazz-nya tuh, pasti dibelikan suaminya yang dokter itu deh, Jeng”, timpal ibu lain yang kerjaannya suka nonton infotaiment.


“Enak ya suaminya dokter ga usah kerja, tinggal minta belikan doank, besoknya nangkring Jazz di garasi. Kerjaan jalan-jalan melulu”, kata ibu pertama yang diamini 2 teman se-genknya.


Tidak lama mereka bubar setelah anak-anak mereka teriak dari rumah masing-masing minta dimandikan.


Ibu-ibu kompleks itu ga tau kalo yang mereka gosipkan itu punya followers instagram ratusan ribu. Penghasilannya? Ga sampai setahun pun dia bisa beli mobil yang di-ghibahin ibu-ibu tadi.


Memang dia bukan perawat, tapi dia jadi MUA alias penata rias pengantin hits di kotanya sekarang.


Lulusan perawat kerjanya penata rias? 


Kalian sering tidak mendengar fakta senada? Lulusannya apa, kerjanya apa. Jurusan kuliah dimana, kerjanya dimana.






***

Pendidikan Sekolah dan Luar Sekolah

Wah, bahasannya agak serius nih kali ini.

Iya, tumben (((tumben))). Karena saya yakin yang membaca semua orang ber-pendidikan jadi why not kita menengok balik makna pendidikan😉. 


Berdasarkan institusinya, pendidikan dibagi menjadi 2 besar, pendidikan sekokah dan pendidikan luar sekolah.


Pendidikan sekolah atau biasanya diistilahkan dengan pendidikan formal sudah jamak kita lihat sehari-hari, bahkan kita pun menjalaninya. TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah di perguruan tinggi adalah jenjang saklek dari pendidikan formal.


Ini pasti saya yalin sudah pada paham ya karena 99% dari kita hasil pendidikan formal. 


Sedangkan pendidikan di luar sekolah biasanya lekat dengan istilah pendidikan non formal.


Sudjana, mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut


Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan, diselenggarakan di luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi diri berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, lembaga, bangsa, dan negara


Coba kita sama-sama kita perhatikan kalimat yang saya pertebal: aktualisasi potensi diri. Di sini lah saya pikir benang merah pentingnya pendidikan di luar sekolah.


Aktualisasi potensi diri? Maksudnya? 


Saya dulu punya teman, saat di kuliah dia biasa-biasa saja. Tapi ketika lulus sekolah dia mampu melampaui teman-temannya dalam hal pekerjaan dan materi. Sekarang, bersama suaminya yang juga teman sekelasnya, dia sudah punya rumah pribadi tingkat 2 plus kantor dan pegawai di dalamnya di saat temannya yang lain masih berstatus honoran di sekolah.


Ternyata, usut punya usut dia punya skill lain di luar pendidikan formalnya yang dia asah sewaktu kuliah dan dia kembangkan sewaktu lulus.


Ya, benar. Ini mungkin tepat sekali kalau kita hubungkan dengan pembahasan passion, the real aktualisasi diri


Di saat sekolah formal tidak bisa menyalurkan bakatnya karena terkungkung dengan keajekan kurikulum, maka dengan adanya pendidikan di luar sekolah dia bisa menyalurkan bakat terpendamnya. 


Apa Sih Contohnya Pendidikan di Luar Sekolah?


Banyak sekali contoh pendidikan di luar sekolah, ada yang sifatnya substitusi (mengganti fungsi pendidikan formal), komplemen (melengkapi), dan ada yang suplemen (menambah). Dan 2 fungsi terakhir adalah yang ingin saya bahas lebih lanjut.


Jadi, apa saja contohnya?


Kursus, pelatihan, les, dan seminar adalah contoh pendidikan di luar sekolah yang berfungsi sebagai komplemen dan suplemen. 


Apa Pentingnya Pendidikan di Luar Sekolah?


Data dari Kemenristek per Maret 2018 menyatakan bahwa ada 7 juta pengangguran di Indonesia, 8.8% nya adalah sarjana,


Dan saat penjaringan PNS 2018 lalu, ada 4 juta calon yang memperebutkan 238.000 kursi.


Nyaris 1:20. 


Apa artinya? Artinya masih banyak lulusan sekolah yang mengandalkan ijazah kampusnya dan terpaku pada jurusan yang dia tempuh. Padahal seandainya mereka bisa mengembangkan skill mereka di luar jurusan tidak menutup kemungkinan mereka akan membuka lowongan kerja bagi orang lain. Seperti contoh kawan saya di atas.


Ada juga contoh lainnya dari teman saya sendiri juga. Kalian mau dengar? 


Saya punya 2 orang teman beda kampus yang sekarang berjodoh. Keduanya pengusaha sukses di usia under 30. Satunya pengusaha properti syariah dan satunya lagi owner gamis syari dengan brand sendiri.


Sukses di bawah usia 30 tahun, wow! 


Couple-young-preneur ini apakah dulunya kuliah di jurusan business?? Oh, jauh sekali. Bahkan jurusan ekonomi pun juga tidak. Yang pengusaha properti lulusan teknik kimia, sedangkan istrinya yang owner gamis syari lulusan keguruan fisika seperti saya.


Dari mana mereka belajar menjadi pengusaha? Dari seminar-seminar yang mereka ikuti saat kuliah dulu.


Jadi, apa pentingnya pendidikan di luar sekolah?


Jelas, yang pertama bisa menyalurkan passion atau bakat yang tidak tersalurkan lewat pendidikan formal. 


Yang kedua, membuka lapangan kerja dan menyerap SDM seperti yang dilakukan 2 couple-young-preneur yang saya ceritakan di atas.


Yang ketiga, (jikapun tidak bisa membuka lapangan kerja) bisa menambah income.


Yang ketiga contohnya adalah sahabat saya sendiri, seorang dokter umum. 


Sebagai seorang dokter umum dia sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Orang-orang lebih senang mendatangi dokter spesialis untuk penyakit yang dideritanya. Sehingga tempat prakteknya sepi karena berbagi dengan dokter umum yang lain. Di sisi lain untuk menuju “spesialis” biaya sekolahnya juga tidak main-main sedangkan dia sudah jadi kepala keluarga.


Apa yang dilakukan sahabat saya itu? Dia mengikuti pelatihan akupunktur di luar jam kerjanya. Ilmu akupunktur itu digunakannya untuk memperkaya fasilitas pengobatan di praktek mandirinya. Dan imbasnya dia punya nilai lebih di mata pasien-pasiennya because he is more than just of a general doctor. 


Dan sekarang contoh terakhir seorang master blogger perintis komunitas blogger daerahnya, sebut saja namanya Bang Jimmy (Eh, maaf Bang kesebut 😁).


Sebelumnya dia adalah mahasiswa jurusan farmasi yang kemudian lulus dan menjadi apoteker penanggung jawab PBF (Pedagang Besar Farmasi)  plus kepala logistik salah satu BUMN.


Tapi, sekitar 3 tahun lalu dia melepaskan “atribut” itu semua demi passion-nya, menjadi ahli IT tapi juga tetap bisa dekat dengan istri dan anak-anaknya. 


Anyway, tentang IT memang sekarang zamannya revolusi industri 4.0 yang berbasis teknologi internet. Jadi, semacam hal wajib jika SDM Indonesia melek IT karena persaingan hidup di era sekarang lebih ketat dan lebih canggih.


Lah,  bagaimana tidak ketat dan canggih kalau apa-apa sekarang mainnya media sosial. Para MUA alias penata rias zaman now promosinya lewat Instagram.


Dokter  sekarang juga banyak yang merambah Instagram dan website untuk mengenalkan prakteknya sekaligus mengedukasi netizen seperti dr. Apin Aprianto.


Online shop berbagai produk sudah jangan ditanya lagi. Intinya, yang ga melek IT zaman sekarang bakal susah bersaing. Hiks…


Nah, sekarang pertanyaannya di mana belajar IT yang recomended.


Tau ga, untuk mencari dan yakin menuliskan ini saya sampai membaca review-review tentang kursus IT. Salah satu yang saya baca adalah salah satu thread di forum komunitas maya, sebut saja Kaskus. 


Jadi, ada yang “di mana yang bagus belajar web design?”, dan jawaban-jawabannya beraneka ragam, yah namanya review jujur ya. Dan satu nama yang bisa ditarik karena banyak yang mengarahkan ke sana ialah Dumet School. 


Tentang DUMET School

Sekarang kenalan sama Dumet School, yuk?! 

DUMET School adalah lembaga kursus yang bergerak di bidang pendidikan khususnya kursus website, digital marketing, dan desain grafis. 
Dibangun pada tahun 2013 sampai saat ini DUMET School sudah memiliki lulusan lebih dari 8000 orang dari berbagai status dan profesi. Selama 5 tahun ini juga DUMET School sudah punya 5 cabang yang berlokasi di Kelapa Gading, Grogol, Tebet, Srengseng, dan Depok.
Pada saat ini Dumet School telah memiliki 9 pilihan paket kursus yang diperbarui, yang tahun sebelumnya ada CMS Master, Video Editing, dan Flash Animation diganti dengan Motion Graphic, Design dan Coding for Kids. 

Jadi, paket terbaru kursus DUMET School tersebut antara lain :


1. Kursus Web Master

Di sini kita belajar membuat website untuk perusahaan, portal berita, blog, katalog online, dan e-commerce dari nol


2. Kursus Web Programming
Di sini kita akan belajar membuat website E-Commerce / toko online dengan PHP Framework Codeigniter

3. Kursus Digital Marketing

Belajar cara mendapatkan customer di internet dengan cepat, mudah dan efektif

Sehingga meningkatkan profit bisnis anda dengan Digital Marketing

4. Kursus Graphic Design

Di sini kita diajari untuk bisa membuat desain logo, brosur, majalah, edit foto, spanduk, kartu nama, poster, banner, branding, character, 



5. Kursus Mobile Apps

Kita akan diajari membuat aplikasi android dan iOS dengan menggunakan Angular dan Ionic Framework.


6. Kursus Web Design 

Di sini kita akan diajari bagaimana membuat template website untuk perusahaan, portal berita, blog, katalog online, dan e-commerce dari nol.


7. Kursus Motion Graphic 
Belajar membuat Bumper Opening Video, Media Promosi berbasis Video yang bisa ditampilkan di media sosial dan atau youtube, Membuat CV Interaktif, dan Menggabungkan video dengan foto menjadi satu, membuat logo, brosur, packaging, dll.

8. Kursus Design for Kids

Untuk anak 6-12 tahun yang punya antusias terhadap desain web bisa ikut kursus ini. 

9. Kursus Coding for Kids

Nah, kalau anak 6-12 tahun yang punya ketertarikan terhadap coding atau pemrograman komputer bisa diikutkan di sini. 

Jadi, anak kecil sekarang sudah punya tempat untuk belajar pemrograman dan desain? Keren! 




Kenapa di DUMET School? 


Karena mereka berani mengklaim garansi untuk;

  1. Belajar kapan saja dengan jadwal fleksibel
  2. Belajar semi private karena tidak menunggu kelas penuh baru belajar, bahkan jika 1 orang saja muridnya yang hadir kelas tetap berjalan. 
  3. Belajar sampai bisa dengan periode kursus unlimited time. Walaupun ada estimasi waktu kursus (biasanya sudah ditentukan diawal, estimasi belajar dalam 1-3 bulan) tapi kalau merasa tidak menguasai boleh diulang tanpa dikenakan biaya lagi. 
  4. Belajar dengan garansi konsultasi setelah lulus, seumur hidup. 



Hasil Kreativitas Anak DUMET School 


Anak didik DUMET School terdiri dari berbagai kalangan. Ada yang sudah bekerja, ada yang masih sekolah (SMA, SMP, bahkan ada yang SD), juga ada yang berasal dari luar negeri. 

Berikut hasil kreativitas dan testimoni anak didik DUMET School dari berbagai kursus yang tersedia. 


Kreativitas murid kursus Web Master


Kreativitas murid kursus web design


Kreativitas murid kursus graphic design yang bahkan katanya sudah bisa menerima pesanan dari klien
Testimoni murid digital marketing


Hasil karya murid graphic design


Berapa Biayanya? 


Biayanya terperinci jelas di websitenya DUMET School. Setiap kursus terbagi atas 3 level; Premium, Pro, Ultimate. 

Berikut contoh biaya untuk kursus digital marketing untuk level premium dan rincian kelas yang akan didapatkan.



Penasaran biaya kursus lainnya. Cek aja di website resmi DUMET School, di situ lengkap banget informasinya. Bahkan kalian bisa coba kelas gratisnya juga kalau mau. 






***


Jadi, kalau melihat seseorang “Lulusan apa – tapi kerjanya apa” tidak ada yang salah ya. Ilmu di dunia ini banyak, tidak akan habis kita pelajari dan tidak akan rugi kita pahami. Setidaknya otak kita sudah terbiasa bekerja karena masuknya ilmu-ilmu itu.


Justru semakin banyak ilmu yang didapat kita bisa tau kemampuan dan bakat apa yang ada dalam diri kita. Caranya? Gampang, kalau kalian begitu semangat mempelajari suatu hal tanpa dipaksa tanpa diminta dan progres kalian cepat dalam menguasai, that’s absolutely your passion.


Jika ilmu di sekolah kurang membuat kalian bersemangat, why not menambahnya di luar sekolah dengan kursus, pelatihan, dan semisalnya. 


21 Komentar

Cici Desri · April 11, 2019 pada 7:29 pm

aku juga gitu mba, lulusan apa eh kerjanya apa, tapi yaudah jalanin aja hehehe passion nya memang disini…

Aminnatul Widyana · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Aku lulusan pendidikan guru sekolah dasar tapi sekarang profesinya sebagai blogger. Sering kali orang lain mengira aku kuliahnya jurusan IT. Padahal bukan

Bintang · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Sering banget denger "lulusan apa kerjanya apa". Fiuhhh… Pdhal merrka gak ngasih nafkah. Gak ngurusin juga, tapi rumpi mah urusan pertama …. Dasar rempong ya gtu hihii

Dwi Puspita Nurmalinda · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Hahaha… Ya seperti saya sekarang ini. Kerjanya apa lulusannya apa. Wkwkwkw… Salut sama bang Jimmy yang rela melepas atributnya. Tidak semua orang bisa seperti bang Jimmy.

Anggraeni Septi · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Ini artikel menohok banget haha. Seneng ya kalo misal dari awal udah ngerti passionnya. Tapi gpp deh dijalani aja yang sekarang. Masih ada pendidikan non formal untuk mengasah skill yang sesuai passion. Btw Dumet kogh keren banget ternyata. Aku langsung kepoin akunnya mbak. 🙂 makasih infonya ya,

fenni bungsu · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Kalau menurut daku mah nggak apa-apa, sekolah nya apa akhirnya kerjanya dimana, karena daku kek gitu, wkkwkw

Wiwin Pratiwanggini · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Wow.. kelas kursusnya keren-keren.
Btw ini kursus online ataukah harus tatap muka?

Bety Kristianto · April 11, 2019 pada 7:29 pm

hehehe saya juga suka kezel mba, ditanyain lulusan mana? Pas dijawab lulusan politik, ditanyain kok kerja di bank? sekarang jadi irt plus bloggger ditanyain kok nganggur? jadi pengen nimpuk hehehe..

padahal kerja kan di mana aja, asal punya keahlian ya mba. Salah satu cara ningkatin keahlian ya dengan kursus seperti ini. keren deh Dumet

April · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Ahahaha pertanyaan awal menohok.
Berbahagialah org yang sejak awal punya passion mau jd apa yaaa. Shg saat dewasa gak bingung mutusin jd apa. Lha yg swinger gini kyk aku haha aduh jd malu.
Zaman skrng sih tp kyknya dah lumrah ya lulusan apa kerjaan apa, yg dibutuhkan emang skill yg mumpuni gak sekadar nilai2 akademis.
Aku jd penasaran sama Dumet school ini, yg emak2 boleh belajar gk ya hehe

Dian Restu Agustina · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Lulusan apa-kerjanya apa..? kwkw, jaka sembung yak! Inget banget waktu suami dapat beasiswa MBA ke Amerika, ada 6 mahasiswa asal Indonesia di programnya. Dari keenam itu cuma suamiku yang lulusan FE. Sementara kelima temannya (pegawai 2 Bank BUMN di Indonesia) yang 2 dari Faperta yang 3 dari Teknik. Nah…
Jadi menurutku sih apapun nanti pilihan profesi yang penting dijalani dengan sepenuh hati jadi hasil akan optimal.Dan kalau perlu memang selain sekolah kita punya tambahan dari luar sekolah seperti Dumet School ini.
Kayaknya pas juga ada kelas buat usia anakku ini:)

Bunda Erysha (yenisovia.com) · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Aih-aihh-aihhhh aku paling males ama ibu-ibu tukang gosip begitu. Tapi nyatanya ibu-ibu yang begitu itu banyakkkkk ya. Miris. Ngomongin soal bakat, passion, pendidikan formal dan non formal, bikin aku sebagai orang tua betapa pentingnya kita sebagai orang tua mengamati anak kita, mengobservasi meraka, dan memberikan mereka bereksplorasi sebebas mungkin sehingga mereka bisa menemukan apa yang mereka sukai, apa yang mereka minati. Hingga kita bisa mengarahkan bakat mereka dan masuk pendidikan formal yang mendukung bakat mereka. Misalnya anaknya suka gambar bangunan gitu, bisa kita arahkan masuk jurusan arsitek dll. Dan ini penting menurut aku.

Nah, kalau kita ingin mengembangkan bakat mereka dengan ikutan kelas pendidikan non formal dan anaknya suka. Itu bagus menurut aku. Karena tidak semua pendidikan formal bisa memberikan secara optimal apa yang anak butuhkan juga ya.

Siti Faridah · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Kalau aku sekolahnya jurusan SMK RPL dan pernah kerja di pabrik mebel. Harusnya aku dulu pas SMK aku sekolah di SMK jurusan perkayuan ya. Banyak sih memang yang sekolahnya dimana kerjanya dimana. Sebagai lulusan RPL, aku pengen banget bisa kursus di Dumet School soalnya kadang pengen belajar web desain lagi. Hehehehe.

Natra Rahmani Salim · April 11, 2019 pada 7:29 pm

saya apalagi mom fika, kuliah di teknik informatika, kerjanya sekarang ngeblog.aku kepengen banget nih belajar desain grafis soalnya sekarang kebutuhan itu lagi meningkat.

Reyne Raea (Rey) · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Banyak yang kayak gini ya.
Saya jugaaa..
sekolahnya di manaaaa..
kerjanya di mana..

kalau sekarang sih oke2 saja, karena jauh dari keluarga.
Jadi ga banyak dengar celutukan yang bikin baper.
Btw Dumet School itu keren ya.

Okti Li · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Anak anak yang sudah ada bakat design atau ngotak ngatik elektro sebaiknya memang disalurkan ke sekolah atau kursus yg cocok ya. Sehingga kemamokem mereka lebih terasah dan sesuai dengan bakat dan minatnya

Afrilentin · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Gak masalah sih sekolah jurusan apa kerjanya dimana yang penting halal dan barokah😊

antung apriana · April 11, 2019 pada 7:29 pm

kayaknya banyak ya kasus yang latar belakang pendidikannya ternyata berbeda dengan profesinya entah karena passion atau hal lainnya. pastinya sih kita sebaiknya selalu menggali potensi diri biar lebih maju

Elva Susanti · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Kalau menurut saya sih gak slah ya mbak, apapun jurusannya kl ternyata dia bisa kerjain ya kenapa tidak. Namun, itulah ya mbak banyak yg mencibir akhirnya

Irra Octaviany · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Padahal pada akhirnya manusia akan menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi yang memungkinkan. Susah kalau punya pemikiran harus idealis. Jurusan ini kerja itu. Dan merekapun hanya bis komentar aja, sedangkan keluarga ga akan kenyang kalau cuma makan komentar. ��

Inka Paramita · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Mba.. menarik sekali tulisannyaa.. Setuju sih pendidikan luar sekolah yang awalnya dipandang sebelah mata ternyata justru bisa jadi pengubah taraf hidup seseorang yaaa… emang ga boleh ga gaul, harus update dan open mind belajar sana sini. Tertarik juga nih sama Dumet Shcool. Buat emak emak juga bisa kan yaa .. ? haha asal sesuai minat pastinya yaa…

Fanny Fristhika Nila · April 11, 2019 pada 7:29 pm

kalo aku mungkin msh ada hubungan yaaa, kuliah bisnis tp kerja di bank.. Cuma aku sempet takjub ama beberapa anak buahku, yg lulusan hukum, kimia, pertanian, dan makanan ternak, malah kerja di bank juga :D.. tapi yaaa udh ga heran lah skr.. toh yg dicari juga penghasilan.. yg ptg kalo aku sih, mau kerja.. ga peduli lulusan apa, asal anaknya mau belajar, aku bakal terima biasanya..

bagus yaa dumet school ini.. kalo nanti anakku udh rada gedean mungkin mau aku masukin utk kursus di sana.. anak2 zaman skr hrsnya memang menguasai IT yaa :). segalanya udah zaman IT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *