www.latifika.com Parasol
Beauty Talk Health Talk Review Skincare

Review Parasol Lotion SPF 30 dan PA++ : Karena Premature Aging itu Nyata

Assalamu’alaikum….

Welcome back to my beauty talk corner. Walaupun saya bukan beauty blogger tapi sebagai skincare-addict saya selalu antusias membahas hal yang berkaitan dengan skincare. Ga juga sih se-expert beauty blogger yang fokus sampai ke ingredientnya, tapi paling ga saya ada ketertarikan ke arah sana, ya bolehlah kalo dianggap level paud nya mereka, hahaha.

Setelah menemukan serangkaian perawatan anti aging (krim –  pelembab – masker) yang cocok saya sekarang sedang tertarik dengan satu makhluk yang selama ini saya abaikan keberadaannya.

Iyak, sun protection wajah pernah saya skip dalam perhitungan skincare saya. Alasannya klasik, kan setiap krim dan BB/DD cream rata-rata sudah ber-SPF, apa perlu lagi sun protection khusus?

Jawaban dari pertanyaan klasik di atas sudah pernah saya bahas di tulisan saya sebelumnya, termasuk apa bedanya sunscreen dan sunblock? Apakah tetap dipakai jika di rumah saja atau harinya sedang mendung? Apa maksud SPF 30,40, dan 50?

Mampir ya….

Review Sunscreen Parasol Cream

Nah, sekarang saya akan bahas kakanya (karena duluan lahir dari Parasol cream dan saya tau ini produk udah jadul banget alias telat mampus buat direview wkwkwk, tapi it’s so worth to write buat saya yang masih terseok-seok merawat diri) and this is it…

Review Parasol Lotion with SPF 30 dan PA ++
 
Informasi produk
 
 
Nama produk: Parasol Sunscreen Lotion SPF 30 dan PA ++
Netto: 50 gr
Harga: Rp. 52.000
Cocok untuk: Semua jenis kulit 

Packaging

Packaging atau kemasan Parasol lotion ini sama seperti Parasol cream, berupa tube, tapi bedanya kemasan lotion lebih bulky alias gembung sehingga kurang travel friendly.

Walaupun bulky tapi tutupnya fliptop jadi lebih efisien. Kemasan didominasi warna kuning dan biru yang mewakili warna matahari dan pelindungnya.

Oya, yang saya agak kaget pas beli ini ga ada dus nya sama sekali, cuma dikasih tube ini doank. Saya yang parnoan ini langsung mikir macam-macam (maap orangnya suka su’udzon, hahaha). Tapi pas dibuka tutup fliptopnya ada aluminium foilnya yang menutup lubang.

Hufh! Agak lega, tapi saya tetap prefer kalo ada dusnya. Kan rentan terpapar sinar matahari yah dalam proses distribusinya, sedangkan kalo kena sinar matahari zat-zat di dalamnya akan bereaksi dan ketika akan dipakai sunscreennya sudah ga maksimal lagi perlindungannya 😥💔.

Aroma, tekstur, warna
Ga seperti varian cream yang nyaris tanpa aroma apapun, lotion ini aromanya ada walaupun soft floral, jelas karena di ingredientnya tertera fragrance. Walaupun sebenarnya saya lebih suka yang ga ada aroma sama sekali.

Teksturnya lebih encer dari yang versi cream. Karena teksturnya yang encer inilah dia jadi agak lama meresapnya, tapi kalo dibandingkan sama produk sunscreen lotion dengan brand yang berbeda, Skin Aqua misalnya, Parasol lotion ini terbilang cepat (baca review orang juga sih, belum nyoba sendiri).

Warna lotion ini putih, seperti lotion pada umumnya. Oya, karena teksturnya encer dan lubangnya cukup besar jadi hati-hati kebanyakan ya.

Ok, kebalik ya gambarnya, hahaha
Sunscreen ini lama meresapnya dan ada kesan berminyaknya di awal, tapi setelah meresap enakan deh
Btw, Item banget itu yak tangannya?😂

Klaim
Di kemasannya tertulis produk ini mengklaim bisa:
1. Sebagai UV guardian alias pelindung UV A dan UV B
2. Non sticky alias ga lengket
3. Melembabkan
4. Bisa sebagai alas bedak

Performa
Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, Parasol ini teksturnya encer sehingga lumayan lama meresapnya. Perlu kipas-kipas dulu kalo kalian mau cepat lanjut ke step berikutnya.

Walaupun encer tapi ada cooling sensationnya jadi cocok banget kemaren belinya pas cuacanya terik membakar. Bisa jadi penetralisir wajah yang kepanasan.

Setelah diaplikasikan ada white cast alias berkas putihnya sedikit dan rada berminyak. Tapi, setelah meresap dengan baik akan meninggalkan kesan dewy karena emang sunscreennya adem dan melembabkan banget.

Seperti di kemasannya yang tertulis “Non sticky”  memang terbukti sunscreen ini ga lengket. Sama seperti versi creamnya, sunscreen ini ga bikin kusam, ga bikin komedoan, ga lengket, ga panas, dan malah melembabkan karena memang diperkaya dengan lidah buaya dan vitamin E.

Tapi, sayangnya….. Setelah saya coba sebulan ternyata saya ga cocok sama Parasol lotion ini karena bikin bruntusan. Apa karena bentuknya yang lotion ya? Entahlah.

Pros and Cons

Pros
(+) Ada logo halal MUI
(+) Terdaftar di BPOM
(+) Ada sensasi dingin dan sejuk pas apply di wajah, cocok banget dipakai di siang yang terik
(+) Murah banget
(+) Lengkap UV guardiannya, ada SPF 30 dan PA++
(+) Ga panas, ga gerah, ga lengket, ga bikin kusam, dan ga bikin komedoan
(+) Melembabkan karena ada aloe vera dan vitamin E
(+) Waterproof, cocok buat yang mau berenang
(+) Bisa sebagai alas make-up

Cons
(-)  Ada parfumnya, beberapa orang ga mempermasalahkan, jadi ini subjektif sih ya
(-)  Ga dikemas dalam dus padahal sunscreen harus terhindar dari paparan sinar matahari langsung (alasannya scroll up please)
(-) Lumayan lambat terserap ke dalam kulit
(-) Kemasan bulky dan ga eye-cathcy
(-) Di saya bikin bruntusan

Dan maaf banget untuk final verdict I give 3.75 out of 5 for this sunscreen. Repurchase? Ga deh kayanya saya ga cocok. Tapi saya akan tetap pakai sunscreen dan tetap berburu sunscreen yang cocok. Karena apa? Karena sunscreen is a must, babe!

FAQ About Sunscreen part 2

Frequently Asking Question ini lanjutan dari tulisan sebelumnya. Saya akan membahas sedikit perihal UV guardian and UV it’s self.

1. Apa fungsi spesifik dari SPF dan PA ?

SPF atau Sun Protection Factor adalah formula chemical pelindung kulit dari bahaya sinar UV B. Sedangkan PA adalah Protection grade of UVA alias pelindung kulit dari UV A.

2. Jadi, SPF saja ga cukup?

Iya, karena SPF hanya bisa menangkal UV B saja, sedangkan UV A tetap bisa masuk melintas ke dalam kulit kita.

3. Apa bedanya UV A dan UV B?

Jadi, sebenarnya sinar matahari punya 3 sinar ultra violet, yaitu UV A, UV B, dan UV C (bahkan ada yang bilang UV D juga ada).

UV A adalah sinar yang panjang-gelombangnya paling panjang sedangkan UV C yang paling pendek. Secara hukum fisika, semakin pendek panjang-gelombangnya maka energi radiasinya akan semakin besar, artinya UV C adalah yang paling berbahaya karena radiasi atau daya rusaknya paling besar, hanya saja lapisan ozon kita masih bisa menangkalnya, sedangkan UV A dan UV B lolos ke permukaan bumi karena ozon yang semakin tipis tak cukup kuat menghalau sinar dua sinar UV itu.

Ok, paham ya sampai sini? Ini baru dari perbedaan panjang gelombang nya. Kalo efeknya?

UV A dan UV B yang berhasil menerjang ozon ini mempunyai dampak yang berbeda. UV B adalah yang dampaknya paling kelihatan dan langsung, dialah yang menyebabkan sunburn atau rasa terbakar karena sinar matahari, kulit kemerahan, mengaktifkan melanin dan berujung pada penggelapan warna kulit.

UV B di lapisan epidermis, UV A masuk sampai lapisan dermis merusak fibroblast tempatnya kolagen
Sumber: insta story Agustine Gozalie

Sedangkan UV A, karena dia yang paling panjang panjang-gelombangnya maka dia yang paling bisa menyebabkan aging alias efek penuaan karena bisa merusak struktur kulit bagian dalam, memecah kolagen yang merupakan sumber elastisitas kulit, dan akibatnya kulit akan menjadi kusam dan cepat keriput karena kekurangan sumber penyokong kekenyalannya.

Between of UV Aging and UV Burning
Sumber: Journal Sociolla

Jadi, UV B itu efeknya langsung saat itu juga. Saat kita terpapar matahari dalam waktu lama kulit kita akan ada mengalami sunburn atau sensasi kulit terbakar dan akan menggelap karena aktivitas melatonin si pembuat pigmen melanin tambah aktif.

Sedangkan UV A menembus ke lapisan paling dalam merusak kolagen, dan yang paling buruk menyebabkan kanker kulit, efeknya memang tidak langsung, tapi beberapa tahun kemudian.

Ok, masih paham ya sampai sini?

Perbedaan panjang gelombang sudah, efeknya juga sudah, sekarang sifatnya.

Perbedaan antara UV A dan B yang lain adalah: sifat UV B tidak bisa menembus kaca dan kalo mendung akan terhalang radiasinya, tapi tidak dengan UV A. Sinar ini bisa menembus kaca dan dalam keadaan mendung sekalipun, yah apalagi kalo bukan karena panjang-gelombang yang dimilikinya.

Oleh karenanya walau di dalam rumah kita juga tetap harus pakai tabir surya. Ok, gurls?! 👌

4. Jika SPF ada angkanya, Kenapa PA ga ada angkanya?

Well, tentang SPF dan angka di belakangnya sudah saya kupas tuntas di tulisan sebelumnya ya. Yang penasaran bisa mampir dulu.

Kalo Protection grade of UV A alias PA tingkat perlindungannya ditandai dengan nilai + di belakangnya. Semakin banyak + di belakangnya maka akan semakin bagus proteksinya terhadap UV A.

PA adalah istilah proteksi UV untuk daerah Asia, dikemukakan pertama kali di Jepang. Sedangkan proteksi UV yang lebih dulu dikenal adalah PPD, yang dipakai di Eropa. Jadi, nilai PA ini acuannya adalah PPD.

Sumber: female daily

PPD adalah singkatan dari Persistent Pigmented Darkening. Dimana sunscreen dengan klaim PPD 8 mempunyai arti >> kulit akan terkena dampak buruk UV A dalam waktu 8x lebih lama dibandingkan jika tidak pakai sunscreen dengan PPD 8 dan PPD 8 sama dengan PA ++, misal Parasol lotion yang saya review ini.

5. Apakah matahari itu selalu jahat? 

Oya, dari kemarin rasa-rasanya kita gibahin matahari mulu yak ((gibah??)) 😂 yang jelek-jeleknya aja diumbar, padahal sinar matahari ada bagusnya juga koq. Tapi, karena kita ga berfotosintesis seperti tanaman jadi kita ga akan bahas manfaat matahari yang dalam proses fotosintesis,  hahaha.

*krikkrikkrikkrikkrik 😒

Sudah lazim kita ketahui bahwa vitamin D yang terdapat pada matahari bersinergis dengan kalsium tubuh membantu pertumbuhan tulang dan gigi. Sinar matahari juga membantu menaikkan kadar serotonin, salah satu zat neurotransmitter pembawa kebahagiaan. Berada di ruangan yang tertutup atau berada pada musim yang tidak ada mataharinya akan menurunkan kadar serotonin secara drastis dan itu sangat mempengaruhi kestabilan mood seseorang. Jadi, matahari itu penting juga, gurls.

Saya sudah pernah bahas tentang si serotonin itu ya, termasuk kenapa saat hujan jadi cepat lapar, kenapa habis berenang juga maunya cari makan. Yang mau nambah wawasan monggo pinarak….

Kenapa Saat Hujan jadi Cepat Lapar?

Maka, berjemurlah seperlunya di bawah sinar matahari pagi dan keluarlah pada siang dan sore hari dengan menggunakan tabir surya.  Berjemur terlalu lama juga tidak disarankan karena ketika tubuh sudah tercukupi vitamin D nya saat itu maka aktivitas pemecahan pro vitamin D dalam tubuh akan berhenti tapi tidak dengan pigmen gelap yang ada di tubuhmu, mereka akan terus mengaktifkan diri, hihihi.

Eits, tapi jangan salah, menjadi gelap memang tidak kita sukai tapi sadar atau ga itulah cara tubuh melindungi diri dari efek yang lebih ganas lagi. Dan percaya atau tidak, orang-orang dengan kadar melanin yang tinggi alias berkulit gelap beresiko lebih kecil terkena kanker kulit dibanding orang kulit putih.

Tapi untuk ciwi-ciwi mainstream kaya kita (yang kalo bisa maunya jangan gelap 😆)  memakai tabir surya yang menghalau UV A dan B adalah pilihan yang tepat selain menutupi kulit kita dengan tabir surya terbaik (pakaian tertutup).

Ok sekian dulu tulisan dari saya, memang asalnya cuma mau review Parasol Lotion ini tapi karena klaimnya UV guardian jadilah pembahasannya sampai meluber kemana-mana. Semoga bisa dipahami yak gengs!  Semoga bermanfaat 🤗

0 thoughts on “Review Parasol Lotion SPF 30 dan PA++ : Karena Premature Aging itu Nyata”

  1. Iniikah produk yg ditawarin fika kmrn yaa.. Hehe.. Telat sih udh tljr beli merk lain meskipub makenya males2.. Hmm.. Pertanyaan emak, ini aman buat bumil? Kayaknya aman ya liat bahannya. To skrg beneran males make2 begini. Heu. Udh seminggu lebih ninggalin krim malam krn takut. Oalah jd curcol.. ��

  2. Ini merk lama banget kan yaaa.. Dulu aku inget packagingnya jaduuul banget, wrnanya juga ga secerah sekarang :). Aku sendiri ga rutin juga pake protection uv gini. Sring lupanya malah :(. Pdhl memang ptg sih.. Mikirnya, krn aku prgi kantor jam 5.45 pagi, pulangnya juga jam 8 malam ke atas, ga ada nemu matahari samasekali. Tp ternyata dlm ruangan aja bisa tembus yaaa.

  3. Eh iya ya bener juga, pasti didistribusikan dengan dus yang besar ya mba, tapi tetep prefer pakai dus masing2 deh aku.

    Yess, ga komedoan mba, komedoku adem anyem banget dipakain ini, peeling jadi hemat

  4. Meskipun dia ga punya box tersendiri,pasti dia punya dus besar juga mba untuk pelindung.setau aku pas kuliah dulu belajar, selama tidak ada bentuk kemasan yg berubah, penyok, lecet dsb. Itu tidak akan terjadi oksidasi/perubahan dalam struktur produknya.jd mungkin kekhawatirannya bisa sedikit berkurang yak. Hihihi..
    Oia.. Aku Jd pengen coba juga. Soalnya ga komedoan ya? Aku gampang bgt komedoan nih

  5. Aku paling alergi sama yg ada parfum nya mba,kemaren sempat penasaran sama parasol yg ini.karena dl pake parasol yg bentuk odol itu..xixii..

    Manfaat banget kalo mau beli2 itu baca review dl yakk..

  6. Hai mbak Fika, aku mampir lagi nih. Kebetulan emang entah kenapa kok pengen tahu lebih banyak tentang perawatan wajah karena kebanyakan cuma pake nature republic sama bersihin wajah aja. semenjak keluar dari LBC kulitku jadi sangat sensitif dan mudah berjerawat. sedih banget, hiks

  7. Nah iya kan, sama juga saya awalnya no probs. Setelah seminggu baru deh bruntusan plus jerawatan. Akhirnya balik lagi ke Parasol Cream. Saya ga bisa kasij rekomen karena saya baru nyoba 3 sunscreen ; parasol cream, parasol lotion dan emina. And da best is parasol cream, oil controlnya bagus, ga bikin purging sama sekali, dan muka saya berasa jauh lebih sehat sekarang

  8. Halo kak. Aku baru aja baca review kakak nih. Aku udah sekitar sebulanan pakai si ss parasol ini. Setelah pemakaian beberapa hari sih Oke2 aja, tapi kok sekarang wajahku ada bruntusan dan jerawat lumayan gedhe di dahi ya? Aku pakai ini cuma kalau mau keluar aja, dan Itupun gak lama berada di paparan sinar matahari. Apa jerawat dan bruntusan yang muncul itu karena gak cocok sama ss parasol ini ya? Soalnya bingung juga milih ss buat kulit berminyak, sensitif, dan berjerawat 🙁 kalau bisa tolong kasih rekomendasi ya kak. Terima kasih :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *