4 Trend di Masa Pandemi – Pandemi Covid-19 sudah berjalan 7 bulan tapi aku sama sekali belum pernah membuat tulisannya secara khusus. Ada sih, tapi hanya menyinggung sedikit di beberapa tulisan. Yang benar-benar jadi bahasan utama belum ada. Padahal blogger-blogger lain udah banyak yang cerita dengan berbagai judul dengan keyword pandemi.

Biar ada kenang-kenangannya, seperti film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini, jadi yah….. mari kita tulis sebuah artikel dengan pandemi sebagai bahasan utamanya. Ga yang berat-berat ah, udah banyak curcol-curcol kesalnya di status WhatsApp dan Facebook soalnya, huahahah. Jadi, aku mau membahas yang ringan-ringan aja, seperti trend selama pandemi ini.

Aku pikir itu ya, Indonesia bakal kek negara-negara Eropa gitu yang jalanan sunyi senyap, keluar rumah harus pakai surat tanda emergency. Tapi, WOW ternyata di sini jauh banget. Orang-orang sudah mondar-mandir sejak bulan Mei tadi.

Jalanan juga rame, sudah ga ada aura kecemasan seperti Maret-April, saat awal-awal pandemi merebak. Orang-orang sudah bekerja seperti biasa. Jika di luar negeri jalanan sepi, setiap masyarakat patuh untuk mengisolasi diri, adalah hal yang wajar karena negaranya punya cadangan uang negara untuk menafkahi rakyatnya. Rakyatnya juga punya tabungan. Negara yang pejabatnya ga bermental korup memang mudah sejahtera.

Sementara di negara kita, ekonomi yang dari awal sudah ga stabil, kena badai Corona pula, makin oleng kapalnya, Kapten!

Sedih banget kalo udah dengar berita PHK dimana-mana. Yang kehidupan normal aja pendapatan sulit, ibarat kerja hari ini untuk makan besok, bener-bener ga ada sisa buat ditabung. Ga cuma kalangan grass-root tapi sekelas CEO juga dibuat pusing bukan kepalang.

Bener-bener tahun tersulit bagi kita semua. 

Tapi, anehnya di kehidupan yang tampaknya serba sulit seperti sekarang ada saja trend baru di masyarakat kita. Trend yang membuat krisis ekonomi saat ini tidak terlihat nyata karena…… yah, namanya trend selalu ada bujet khusus untuk itu. Dan trend ini seperti sanggup membuat kita teralihkan dari isu resesi di depan mata.

trend selama pandemi

Disclaimer: tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyindir siapapun, ini murni hanya sekedar tulisan hasil observasi.

Naah, trend apa sajakah itu? Kalian pasti sudah bisa menebak. Tapi, mari baca tulisan ini secara lengkap, siapa tau kita bisa saling sharing di kolom komentar nanti.

 

Trend Gowes

Sebenarnya trend gowes ini sudah lama ada. Sejak masyarakat urban mulai sadar dengan lifestyle nya yang kebanyakan memicu penyakit degeneratif, mulai muncul lah sekelompok pegowes dalam bentuk komunitas. Bahkan beberapa pejabat juga ikut aktif meng-kampanyekan berangkat ke kantor dengan sepeda. tentunya sebelum pandemi, seperti Pak Anies Baswedan misal. Bahkan kalo tidak salah sampai dibuatkan jalur khusus untuk pesepeda.

Tapi, saat negara api menyerang, eh pandemi muncul di awal, jangankan pegowes, orang jualan di toko aja sepi.

Krik….krik….kriikkk….. 

Namun, sejak pandemi ini mulai masuk ke- new normal -an dan aturan mulai longgar, trend itu semakin menjadi-jadi. Jumlah pe-gowes semakin banyak di jalan. Sepedanya pun bukan yang kaleng-kaleng. Berkisar antara ratusan ribu sampai 25 juta rupiah. Bahkan mungkin ada yang lebih.

((((25 JUTA))))

Di saat banyak keluarga yang semakin mengencangkan ikat pinggang, ada beberapa orang yang tampaknya tidak terpengaruh. Ancaman resesi global karena pandemi sepertinya tidak membuat mereka takut mengikuti trend, karena konon kata mereka “corona akan kalah dengan ke-bike-an”.

Wkwk, sa ae lu, Bang! 

trend selama pandemi

Sumber: channelmuslim.com

Kalau aku sendiri ga masalah sama sekali dengan harga sepeda yang mereka beli. Tidak peduli juga apakah sepedanya akan tetap dipakai walau trend sudah hilang atau justru jadi penghuni gudang. Yang aku khawatirkan hanya satu: muncul kluster baru, kluster gowes, mengingat adaptasi virus ini yang semakin tak terprediksi (yang terbaru adalah dari droplet ke airborne).

Pirtinyiinyi, apakah ke-bike-an secara nyata bisa mengalahkan ganasnya severe acute respiratory syndrome cov-2 aka covid-19? Aku tidak tau. Yang jelas cluster gowes memang sudah muncul, setidaknya dari berita ini.

Ih, kamu ya…nyinyir aja. Bilang aja ga punya sepeda, ga bisa gowes, makanya juwlid.

Bukan begitu, Felgusoh! Kan kusudah bilang, aku ga peduli dengan harga sepeda bahkan yang ga sanggup aku beli, Aku juga ga peduli nasib sepeda-sepeda itu nantinya kalau trend sudah menurun, aku cuma cemas 1 hal; kluster baru pesepeda karena kebanyakan tidak taat pada protokol (jaga jarak dan perkumpulan tidak lebih dari 5).

Tapi, jika ada pegowes yang masih menjaga protokol dengan baik, two thumbs up for you.

Kalau kalian tim yang mana? taat atau mengabaikan protokol?

Trend Tanaman Hias

4 trend selama pandemi

Selama pandemi, anjuran #dirumahaja yang sudah berjalan lebih dari setengah tahun memang bisa bikin kita jadi; bosan atau tambah kreatif.

Bagi kaum traveler dan ekstrovert tentu selama pandemi seperti tali yang mengekang erat tubuh mereka. Jenuh to the max, ampe ubun-ubun!

Eits, tapi ga sedikit yang kemudian merasa jadi lebih kreatif, entah belajar membuat konten, infografik, mendekor rumah, mencoba menu masakan baru atau malah banting stir berjualan.

No Probs at all. Everything gonna be alright kalau kita bisa memanfaatkan peluang dengan baik.

Dan akhir-akhir ini tanaman hias muncul lagi menjadi sebuah trend dengan Aglonema dan Monstera sebagai bintangnya. Semakin banyak di rumah aja, memang membuat kita sengaja atau tidak, ingin membuat suasana rumah menjadi lebih nyaman. Salah satunya dengan tanaman hias. 

Sebenarnya bukan cuma trend tanaman hias, tapi juga urban farming seperti hidroponik sekarang makin dilirik, tapi memang yang terasa banget adalah trend tanaman hias. Tanaman Aglonema, Monstera, Keladi-Keladian, Lidah Mertua adalah jenis tanaman yang lagi naik daun. Yang dulu dipandang sebelah mata sekarang harganya membuat mata terbelalak.

Aku jujur ga terlalu ngerti, apakah ini benar monkey business seperti yang ditulis oleh Pak Saptuari, tapi yang jelas harga tanaman yang ga masuk akal emang mau ga mau bikin kita mikir.

4 trend selama pandemi

Harganya bikin istighfar

Masih ingat kan fenomena tanaman Gelombang Cinta 13 tahunan yang lalu? Saat aku kelas 2 SMA tanaman hias juga sempat menjadi trend. Harganya tidak lagi per pot, melainkan per daun. Weleh!

Waktu itu aku bahkan terkaget-kaget melihat tetangga berburu tanaman, padahal (maaf) sebelumnya dia bukan penyuka tanaman dan juga terlihat tidak punya bakat di sana. Beda sama bapak yang memang suka tanaman sejak aku masih kecil. Dan benar saja, seiring trend tanaman hias itu menurun orang-orang yang hanya mengikuti trend itu tidak lagi peduli dengan tanaman yang dibelinya. Bapak? Ga peduli lagi trend apa ga, beliau tetap merawat tanamannya dengan baik. (Sayangnya, bakat itu tidak terlihat menurun pada anak perempuannya. Wahahaha…..)

Tapi memang tidak bisa dipungkiri, mempunyai tanaman hijau di rumah itu jadi refreshing tersendiri setelah kita berjibaku dengan urusan rumah dan sekolah daring. Mengurusnya juga punya kebahagiaan tersendiri karena melihat tanaman tumbuh subur tu kek ada yang berbunga-bunga di hati. Eaaaaaa….

Aku sendiri memang punya minat pada tanaman hias jauh sebelum pandemi, namun karena merasa tidak ada bakat jadi tidak berani mengumpulkan tanaman hias dalam jumlah banyak. Aku lebih tertarik menanam tanaman mint, strawberry (sudah mati, huhu), bayam (masih kicik), dll yang intinya bisa dikonsumsi.

Kembali lagi, aku sama sekali tidak bermaksud juwlid. Tapi ingin mengajak berpikir, bagaimana kalau trend ini menurun? Masihkah kita merawat tanaman-tanaman itu dengan baik? Apa tidak sayang dengan uang yang dikeluarkan untuk membeli tanaman dengan harga yang tidak masuk akal? Tidak kah kita belajar dari trend “batu akik” dan “Gelombang Cinta”?

Trend LM

LM alias Logam Mulia yang dimaksud adalah emas murni 24 karat dengan kadar 99,99%. Yup, selama pandemi LM emas semakin diminati. Padahal harganya naik gila-gilaan sejak Februari 2020. Tapi, nyatanya LM malah jadi sebuah trend sekarang.trend selama pandemi

Apakah LM naik karena peminatnya banyak, seperti halnya trend tanaman hias?

Sepertinya tidak juga. Harga LM dipengaruhi oleh 2 faktor mayor, yaitu; harga spot emas dunia dan nilai kurs rupiah. Tahun ini, tepatnya Juli tadi adalah rekor sepanjang masa untuk harga spot emas dunia, yang mencapai 2000 US$ / troy ounce. Bahkan sekarang lebih.

Nilai yang tinggi ini pertanda keadaan dunia sedang tidak stabil. Jika ditambah dengan nilai kurs rupiah yang melemah, maka kenaikan LM semakin menjadi-jadi.

Ada yang tau berapa harga emas murni sekarang? Sudah sampai level 1 juta rupiah untuk 1 gram.

Warbiasah.

Coba lihat grafik di bawah, ini adalah record 20 tahun harga emas Indonesia. Tahun 2020 paling menukik, bukan?

trend selama pandemi

Sumber: goldprice.com

Anehnya, harga emas yang makin menggila justru peminatnya semakin banyak, membuat ancaman resesi seakan tidak ada taringnya. Fenomena apakah ini?

Sebagian teman mengatakan hal ini karena masyarakat banyak yang sudah melek LM. Sebagian lain mengatakan ini terlihat seperti trend belaka. Tapi, jika mengamati postingan member sebuah grup LM di Facebook, aku jadi ikut berpikir bahwa ini seperti sebuah trend saja.

Banyak di antara member yang secara impulsif membeli LM tanpa membekali diri dengan edukasi. Menganggap punya LM bisa untung dalam sekejap, padahal itu adalah sebuah pikiran yang menjebak. Akhirnya tidak sedikit yang kemudian menjual kembali LM nya karena keperluan mendesak. Akhirnya merugi karena buybcak masih di bawah harga LM yang dibeli kemarin.

Baca juga: Pengalaman Beli Emas di Pegadaian Secara Tunai 

Aku sama sekali ga mau nyinyir, tapi memang fenomena ini lumayan mengkhawatirkan jika tidak dibarengi dengan edukasi yang cukup. Sudah beberapa kali aku menemukan postingan atau member yang berkomentar “Sejak kenal LM, kalo liat dapur selalu berpikir apa lagi yang dijual ya buat bisa beli LM” dan komentar lain yang sejenis.

Bagiku ini terdengar seperti “Semua dijual, receh pun tak apa, asal jadi emas“.

Padahal ga begitu juga. Memang benar emas bisa menahan uang kita dari gerusan inflasi -yang membuat uang kita semakin tak berharga-, tapi kita juga harus berpikir untuk sedia cash saving di saat kondisi dunia yang sedang labil in.

Iya, aku paham banget koq dengan apa yang dirasakan mereka. Menyimpan tabungan dalam bentuk uang dan dalam bentuk emas itu berbeda. Punya emas walau sedikit itu kek ada rasa nagih-nagihnya pengen nambah. Entah karena logam yang punya nama kimia AU itu punya aura magis atau memang fitrahnya demikian, I dunno.

Tapi, jangan sampai beli LM tanpa menyisakan emergency fund alias dana darurat sama sekali. Karena pada dasarnya membeli LM itu adalah dari uang dingin (tabungan mengendap) dan bukan dari cashflow (uang dapur). Kalo tidak, yaa siap-siap rugi bandar kau, Malih!

Perhitungan dana darurat (EF) pun bermacam-macam. Ada yang bilang EF = 10 x outcome + 10 juta, ada juga yang bilang EF = 4-6 bulan gaji. Yang mana aja boleh, asal pastikan sebelum membeli LM kita sudah punya dana darurat.

Baca juga: Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Membeli LM

Trend Drakor

Uhuukk! Hari gini siapa yang belum pernah nge-drakor?

Drama Korea selama pandemi memang laris banget. Ga heran syuting di sana pun tetap jalan walau Korea Selatan sempat masuk negara tertinggi di dunia dengan kasus positif covid-19. Bahkan ada artisnya yang tetap syuting di Jordan demi menuntaskan filmnya.

Ga cuma laku di Asia, drakor juga merambah sampai Amerika dan Eropa. Selain faktor visual, juga konsep drama mereka juga apik. Ga bisa dipungkiri, pandemi membuat orang-orang yang dulunya ga nonton drakor, sekarang jadi melek drakor ((((MELEK)))). Hahahahahah!

Memang rata-rata drakor itu relate banget sama kehidupan sehari-hari (yaelah, kek sering nonton aja). Ada banyak pesan kehidupan yang bisa diambil, salah satunya yang aku suka Sky Castle, yang begitu aku nonton sepanjang episodenya cuma kepikiran ayat Quran tentang anak, salah satunya di Surah At-Taghabun; 14 “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu“. Atau di Surah Al-Kahfi; 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

(Ukhti, dirimu ingin mengaji atau ngedrakor? Wkwkwk)

Trend drakor selama pandemi ini memang punya magnet kuat menarik siapa aja dan aku termasuk salah satunya. Jadi selama 8 tahun terakhir ini aku sama sekali ga tertarik untuk menonton lagi setelah susahnya move on dari drakor pertama di 2012. Nah, bulan April tadi akhirnya keratjoenan juga dan jadi momen perdanaku untuk nonton lagi. Crash Landing On You, jadi drakor pertama setelah hiatus 8 tahun. 

Gara-garanya aku baca tulisan travel blogger yang baru balik dari Korea Utara, lalu penasaran lah aku gimana dramanya. Apalagi Korsel dan Korut ga damai kan, begimane bisa bikin cerita di Korut? Asli penasaranku berlapis-lapis dan akhirnya nonton marathon.

Ebuset, rame banget donk, sampai hapal OST nya. Astagfirullah, Ukhti -.- 

Hahahahaha….

Tapi, setelah mengikuti beberapa judul yang katanya masuk nominasi rating tertinggi, nyatanya aku sempat didera rasa bosan dan kalo sudah selesai episodenya kadang nyeletuk “loh koq gituu endingnya”. Akhirnya sampai sekarang, drakor yang masih berkesan cuman 3; Dream High (kisah guru dan murid buangan), CLOY (kisah tentara Korea Utara dan CEO Korea Selatan), dan Sky Castle (kisah ambisi orangtua).

Baca juga: Crash Landing On You, Drama Pertama Setelah Hiatus 8 Tahun

Entah aku yang ketinggian pasang standar atau gimana. Jadi selain konsepnya, drama yang bagus menurutku itu harus menyelesaikan semua cabang masalah yang dimunculkan. Ga hanya sekedar fokus ke pemain utamanya.

Drama yang baru kuselesaikan juga biasa aja, padahal di luar sana rang-orang pada bilang baguss (pake banget). Aku yang tadinya pengen ngasih nilai 6 dari 10, akhirnya ciut juga melihat komentar netizen. Jangan-jangan nanti aku dibully bala pasukannya. Wkwkwkwk.

Intinya mah, ternyata drakor pun tergantung selera masing-masing yah.

Dan keknya  memang aku ditakdirkan untuk tidak terlalu menyukai drama, film dan sejenisnya. Mungkin juga bawaan dari ortu karena dulu waktu kecil disuruh baca buku melulu, alhasil sekarang lebih suka baca novel ketimbang nonton. Ditambah suami yang sebenarnya ga terlalu suka bininya nonton drakor, hahahah.

Eh, gimana sih, padahal mau ngebahas soal trend drakor, yang ada malah curcol.

Intinya sama, yang memang bakat nonton, mau itu lagi trend atau ga akan selalu nonton, dan yang ga bakat memang akan cepat bosan atau malah ga tertarik sama sekali.

(Bentar, emang ada yang bakat-menonton??) 😀

OK, keknya sampai di sini aja chit-chat kali ini tentang trend selama masa pandemi. Ga kerasa udah 2000 kata cuma ngalor ngidul doank, ahahahah. Tapi, aku berharap semoga tetap ada manfaatnya ya. Atau ada yang mau menambahkan trend apa saja yang muncul selama pandemi? Sharing yuk….

Kategori: Chit Chat

Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

6 Komentar

Aswinda Utari · Agustus 19, 2020 pada 7:29 am

Uhuk, banyakin tulisan begini2 mba fik blognya. Aku lbh suka tulisan retceh nan beropini asik dibanding tulisan ribet n byk mikir. *eh gimana..

Aku sendiri masuk 2 golongan trend nih. Trend drakor n trend gowes. Wkwk..

Tp trend beli se

Aswinda Utari · Agustus 19, 2020 pada 7:32 am

Et dah kepencet langsung.. Wkkw

Jd trend ngikit gowes krn kepaksa beli krn sepeda anak rusak. Awalnya mau ngajarin anak aja di depan halaman. Dan akhirnya emaknya malah sesekali minjem buat keliling komplek di pagi hari. Haha. Tp beneran nyenengin n nyegarin kepala sii..

    Latifika Sumanti · Agustus 21, 2020 pada 5:36 am

    Olahraga emang nyenengin dan bikin refreshing ya… Sebenarnya keliling kompleks masih Ok karena ga bergerombol

duniamasak · Agustus 25, 2020 pada 9:36 am

seneng banget sekarang makin banyak yang suka korea, jadi makin banyak temen yang bisa sharing cerita 😀

Santi Suhermina · Agustus 31, 2020 pada 6:43 pm

Aku nih baru beli sepeda baru buat gantian ma si kakak. Keliling kompleks bareng2 keringetan bikin sehat. Padahal dulu sepeda dibiarin ndoprok dipojokan. Sekarang dipegangin terus kek orang pacaran. Hehe..

Andy Hardiyanti · Agustus 31, 2020 pada 7:59 pm

Saya masuk ke dalam kalangan yang kena tren drakor nih. Setelah lama bertahan gak ngedrakor, akhirnya nonton juga untuk pertama kalinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *