Ada angin apa tiba-tiba ni blog mau ngebahas kisah horor? Ups, iya nih, tumben kan? Hehehey……. jadi kemarin aku habis baca tulisan teman tentang kejadian di rumahnya yang kedatangan makhluk astral terus menganggu anaknya yang sedang belajar tidur sendiri. Habis baca akupun langsung teringat cerita waktu “itu”.

Aku yakin setiap orang pasti punya cerita mistis masing-masing. Ada yang memilih untuk dibagikan dan ada yang lebih suka disimpan dan diabaikan, maksudnya ga usah cerita-cerita gitu. Ada yang horor banget ada yang ringan-ringan aja. Aku mungkin termasuk yang ringan karena sejauh ini cerita yang aku baca lebih horor dibanding ceritaku (dan cuma mengalami hitungan jari selama hidup). Hanya saja karena aku pernah tinggal di rumah yang kawasannya “rawan” jadinya sempat juga mengalami kejadian yang ga ngenakin.

Ok, walaupun ini judulnya kisah horor tapi sebenarnya ga terlalu horor apalagi yang sudah punya pengalaman lebih dari ini. 

kisah horor di rumah dinas ptt

Jadi, waktu itu aku dan suami baru punya anak. Kami masih tinggal di pedalaman Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Waktu awal menikah suami baru lulus dan sempat menganggur beberapa bulan. Jadinya pas ada tawaran kerja kontrak daerah, istilahnya PTT, ya kami mau mau aja. Padahal tau bakal dapat di desa terpencil. Tapi pikir kami saat itu yang penting dapat kerja, punya penghasilan. Apalagi masih awal meniti karir ini, ga apa-apa banget lah dikasih yang susah dulu, hitung-hitung “belajar hidup”.

Begitu diterima, kami pun langsung menuju tempatnya dan ternyata…….ambooiiiii, menyedihkan sekali. Pengen nangis rasanya liat jalannya. Udah kaya off road aja, jalannya hampir separohnya lumpur. Masalahnya adalah: aku hamil muda! Masih rawan banget keguguran ;(

Aku menghibur diri bahwa yang di depan mata ini bukan sesuatu yang mesti dirutuki. That’s life. Suatu saat aku akan mengenang perjuangan hidup bersama suami dari bawah. Sedih, sakit dijalani sama-sama.

Baca juga: Untitled Story (Merekam Perjuangan Memulai Hidup)

Tapi, sebenarnya bukan ini yang mau diceritakan, melainkan rumah dinas yang kami tempati.

Rumah dinas yang kami tempati berada tepat di belakang puskesmas pembantu yang menjadi tempat kerja suami. Kalian tau, puskesmas pembantu ini ibarat RS kecil di daerah pedalaman yang jaraknya 1-2 jam ke kota kabupaten dengan kondisi jalan yang hancur, bahkan kalau musim hujan tidak jarang jadi “bubur”. Tentu, keberadaan puskesmas pembantu itu ibarat satu-satunya pertolongan pertama yang diharapkan oleh penduduk.

Karena jadi pusat kesehatan satu-satunya maka puskesmas pembantu ini harus lengkap, punya IGD, poli, dan rawat inap. Peristiwa kelahiran sampai kematian sudah jadi buku harian puskesmas itu. 

Nah, rumah dinas yang disediakan ini belakang dan sampingnya adalah hutan. Hutan kecil sebenarnya, karena itu lahan penduduk yang dibiarkan rimbun dan tidak diolah. Jadinya liar dan kesannya hutan. Depan rumah adalah rumah dinas yang diisi oleh salah satu pegawai puskes. Dari 4 rumah dinas yang ada, ada 1 yang kosong. Dibiarkan rusak dan tidak ada usaha perbaikan. Padahal kalau diperbaiki terus diisi pegawai juga kan jadi tambah rame. 

Baca juga: Rumah Kosong Lebih Cepat Rusak. Tanya Kenapa?

Tapi, yang horor di sini bukan rumah kosong itu. Melainkan rumah dinas yang kutempati. 

Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa kami sudah 1,5 tahun hidup di pelosok sana. Suami kemudian memutuskan pindah ke RS swasta setelah diinformasikan teman kuliahnya bahwa di tempatnya ada lowongan. Sebulan menimbang akhirnya jadi juga kami pindah.

Selama dua pekan terakhir di sana, aku jadi lebih banyak mengobrol dengan tetangga belakang rumah. Ketika mengatakan rencana kami ingin pindah mereka menyayangkannya. Mungkin karena sudah nyaman dengan keberadaan suami di sana dan agak skeptis dengan kehadiran penggantinya yang baru, mengingat orang yang menempati rumah itu sebelum kami kurang ramah dan berbaur kepada masyarakat.

Lalu, ketika kami asyik mengobrol tidak terasa keluarlah cerita-cerita yang selama ini seperti dirahasiakan kepada kami.

Mereka berkisah bahwa rumah dinas yang kami tempati itu sering terlihat ada p*c*ng yang mengelilingi sekitaran rumah. Ada juga yang sempat terlihat di belakang puskes. Dan orang sebelum kami sempat melakukan ritual-ritual pengusiran karena katanya dia sering diganggu makhluk halus. 

Aku terkaget-kaget bukan kepalang. Kenapa diceritakan semua sekarang? Apa karena tau aku mau pindah??? Walaupun kaget tapi aku bersyukur, setidaknya aku tidak harus mendengar kisah itu sejak awal tinggal.

Tapi, apa katanya tadi? P*c*ng?? Tapi kami tidak pernah sekalipun melihat.

Namun, cerita dari tetangga itu lantas membuat aku teringat kejadian beberapa bulan sebelumnya.

Siang hari itu suami sedang membeli stok obat di kota kabupaten. Karena berangkat ke kota selepas pulang kerja, selesai belanjanya pun menjelang magrib. Qodarullah pas mau pulang mesin mobil rusak. Bermalam lah akhirnya suami di kota. Satu-satunya momen di mana aku menyesal telah membeli mobil bekas. Akhirnya tinggallah aku berdua dengan si bayi yang baru 2 bulanan umurnya.

Sepanjang malam itu rasanya lambaaat sekali waktu berjalan. Aku sama sekali tidak bisa tidur. Ini pertama kalinya ditinggal suami berdua dengan bayi. FYI, di daerah tersebut sering sekali mati lampu, dalam sehari bisa 3x. Itu mati lampu apa minum obat? 🙁

Anehnya penduduk juga ga ada yang protes. Seperti sudah pasrah menerima takdir mereka yang terpelosok. 

Aku yang sudah gelisah sejak mendapat kabar dari suami, harus pula berjaga-jaga kalau mati listrik. Dan akhirnya yang ditakuti kejadian: mati listrik malam malam, Sodara-Sodara! 

Suasanapun jadi tambah senyap. Mungkin kalau rumah di perkampungan aku masih mendengar suara bapak-bapak nongkrong di warung sambil minum kopi. Tapi ini di rumah dinas, yang rumahnya cuma ada 2 yang berpenghuni, di belakang puskes lagi, di samping hutan pula. Lengkap lah kesendirianku malam itu.

Pintu kamar pun aku kunci. Sebisa mungkin aku memerintah otak supaya tidak mengeluarkan sinyal ingin BAK. Aku cuma bisa diam dalam kelambu, berbaring di sebelah bayiku. Pikiran sudah kemana-mana mengingat belakang dan samping kamar adalah hutan. Sudah gelap, makin gelap.

Aku tidak ingat berapa lama matlisnya, padahal aku sepanjang malam berjaga.

Lalu, setelahnya aku mendengar suara seperti ada kegiatan di dapur, seperti piring atau gelas yang diambil. Berdenting. Seperti ada aktivitas. Suara itu jelas sangat mengganggu tapi aku juga ga bernyali untuk memastikannya.  Aku cemen emang.

Perasaanku sudah tidak menentu, tapi aku putuskan untuk tidak menceritakan ke suami. Ohya, walau hati tak karuan tapi aku masih beruntung saat itu karena si bayi sama sekali ga rewel, pulas aja dia bobo. Hal yang sangat aku syukuri saat itu. 

Besoknya aku sudah melupakan kejadian tadi malam dan beraktivitas tanpa memikirkan kejadian janggal malam itu. Akhirnya sampai suatu hari ART yang bekerja di rumahku menemukan ada lalat daging terbang saat dia melipat jemuran. Eh, darimana? Aku ga lagi masak daging atau nyimpan daging. Mungkin lalat buah, sanggahku. Kata beliau bukan, itu bukan lalat buah.

FYI, walau dulu baru punya anak 1 dan rumah dinas kecil tapi aku belum bisa melakukan pekerjaan domestik karena setelah melahirkan lututku terkena radang sendi (osteoarthtritis). Jangankan mencuci, menyapu, mengepel, sholat saja rasanya kesakitan. Jadi mau tidak mau hire ART.

Kamar tempat melipat baju itu ada di samping dan berhadapan dengan puskesmas bagian ruang inap pasien. Aku lupa ART tadi bilang apa tepatnya, tapi omongannya menjurus ke sesuatu yang ga mengenakkan bagiku. Ohya, beliau ini khas ibu-ibu di kampung. Tau kan ya, kalau di kampung itu banyak mitos ini itu, yang mana mitosnya kadang kejadian.

Selang beberapa hari, kampung kami dihebohkan dengan berita meninggalnya seorang perempuan paruh baya yang tersambar petir saat berteduh di gubuk pinggir sawah. Semoga almarhumah diampuni dosa-dosanya ;( 

Suamiku lalu diminta polisi untuk autopsi malam itu juga. Lama sekali rasanya setelah dijemput waktu itu. Mungkin karena lokasinya susah dijangkau karena jauh dari kampung kami. Eh pas sudah ditemukan mayatnya ternyata autopsinya di puskesmas. Laaaah, kenapa suami ga suruh tunggu di puskes aja mulai tadi yak. Suami jadi ikut-ikutan kesana kemari , wkwkwk.

Lalu, esoknya berita meninggalnya si ibu tadi berkembang menjadi cerita-cerita horor. Mulai dari cerita jasadnya yang gosong hingga cerita sesudah kematiannya. Salah satunya cerita yang berkembang adalah tentang suara perempuan memanggil-manggil minta tolong yang terdengar di gubuk TKP. Ceritanya waktu itu ada bapak-bapak pulang dari sawah jelang magrib dan mendengar suara perempuan memanggil-manggil.

Ditambah lagi cerita tentang penghuni kost tetangga perempuan itu yang pada pindah setelah kejadian itu. Kata ART ku yang meninggal karena tersambar petir biasanya masih penasaran karena ada yang belum diselesaikannya.

Duh, mana beliau ngomongnya spooky banget. Tapi ya salah aku juga sih, kenapa kepo, mau aja dengerin beliau bercerita panjang lebar *PLAK.

Padahal ya aku tau kalo ruh orang yang meninggal itu kembali ke Alloh. Kalau ada penampakan-penampakan menyerupai dia semasa hidup kemungkinan besar ulah jin jahat dan sebangsanya. Tapi tetap akhirnya terbawa suasana horornya. Apalagi kalau ingat lalat daging tempo hari *errrrrrrr.

Seminggu sebelum kepindahan, suami sering ke luar kota untuk mengurus berkas di tempat baru. Dua sampai tiga hari baru kembali. Aku? Jangan harap mau tinggal sendiri lagi setelah mendengar kisah-kisah tersebut. Hahaha.

Tetangga satu-satunya yang terdekat sering ke rumah orangtuanya. Lah, masa aku sendirian lagi? Tydak mauuu.

Akupun akhirnya memilih mengungsi, terpaksa banget nih. Kebetulan ada tetangga yang baiiiikkk banget, ramahh  pokoknya. Orangnya sudah sepuh dan memang terkenal akan kebaikannya. Kebetulan lagi cucunya seumuran bayiku dan anaknya sepantaran denganku. Heheheh *alibi.

Ketika aku mengutarakan niat untuk ikut menginap, wah luar biasa tanggapannya. Sebenarnya malu banget mau menginap, tapi apalah daya ditinggal 2 3 hari di rumah yang “rawan” rasanya kayak ditinggal 2 3 pekan. Hitung-hitung sekalian mempererat silaturahim sebelum meninggalkan tempat itu. Bagaimanapun, puskesmas itu, rumah dinas itu, daerah pelosok itu adalah awal kehidupan keluarga kecil kami. Setiap momennya masih teringat di kepala. Lasung memang berkesan. Penduduknya ramah terhadap kami, hanya saja aku yang kurang bisa bergaul.

Terimakasih kepada keluarga yang sudah mengizinkan menginap kemarin. Ikut sedih sekali ketika mendengar beliau yang super baik itu kemarin meninggal. Semoga Alloh menempatkannya di tempat terbaik.

***

Ok, Gengs. Itu kisah hororku di rumah dinas. Sepertinya rumah itu memang ada sesuatunya dari awal, secara dekat hutan kan ya. Pohon-pohonnya mana gede-gedee banget lagi, persis di samping-samping rumahku. Jadi ya, ehmm….begitulah. Untungnya dengan kami , “mereka” tidak pernah menampakkan diri, hahaha…jangan sampai T.T. Makanya menurutku ini kisah horor yang ga horor-horor amat. Wkwkwkw.

Kalau kata ustadz, mah….jangan sampai takut sama “mereka”, bagaimanapun kedudukan manusia lebih tinggi dibanding mereka. Sampai hari akhir pun tetap seperti itu, kecuali manusianya menghambakan diri pada “mereka”. Tsumma Naudzubillah.

Semoga kita terjaga dari gangguan golongan mereka ya, Gengs! Aamiin Ya Mujiib!

 

 


Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *