Cerita Semangkuk Bakso

Hari itu aku yang sedang dikuasai PMS sedang mood swing parah. Seharian tidak terhitung lagi sudah beberapa kali aku ngomel-ngomel ke anak dan pak suami. Lebih mutung lagi saat aku yang berharap di-ademin, malah ditinggal tidur siang sama pak suami. (Halo bukibuk, ada yang sama? Tos dulu! Mangkel bianget, kan? Wkwkwkwk)

PMS bulan itu memang rada nyesek dari biasanya. Aku ring-uringan oleh hal kecil, hormon bener-bener gak stabil. Ditambah lagi pening kepala. Combo!

Pokoknya hari itu semua salah aja kayaknya di mataku. Anak-anak dan pak suami bikin salah kecil, di mataku salahnya jadi fatal sekali. Ckckckck….

Di saat seeprti itu, tiba-tiba terbesit keinginan untuk “kabur” sejenak dari rumah saat anak-anak dan pak suami tidur siang. Yang ada di kepala saat itu hanya aku pengen makan bakso sambil minum air kelapa dingin sirup marjan cocopandan, sendirian, tanpa bawa anak-anak.

Healing kalo kata orang zaman nowdays mah.

Pengen kabur makan bakso sendirian. Titik. Tapi, hari itu hujan gerimis bikin jadi maju mundur. Akhirnya aku terjang gerimis syahdu itu demi me time karena kalo PMS bawaannya laperan juga, pengen makan orang.

Berbekal uang Rp 30.000 aku yang sedang di jalan sudah membayangkan depot bakso yang sepi buat aku makan sendirian dengan semangkuk bakso hangat dan segelas air kelapa dingin lengkap dengan sirup marjan cocopandan. Tak lupa juga sambil membayangkan saat masih single dulu makan bakso dengan sahabat karib. Ah, sudah terbayangkan sekali cerita-cerita nostalgia itu.

Hmmm…… please, me time sekaliii aja yang benar-benar me time. Setengah memohon dalam hati aku melajukan sepeda motor di tengah gerimis yang awet ini.

Sampailah pada depot bakso yang ingin aku tuju. Ternyata, ah kenapa tutup! Aku berputar mencari yang buka tapi yang juga sekiranya sepi. Kemudian saya tersadar, mana ada warung bakso sepi pas hujan. Yang ada malah makin rame.

Tepok jidat.

Bayangan me time pun pelan-pekan musnah dari kepala.

Lalu, saya memutuskan untuk mendatangi warung bakso gerobakan, masih berharap tidak ada pembeli. Ah, ternyata lagi-lagi saya kurang beruntung. Ada 2 pembeli laki-laki di sana. Mau cari yang lain koq khawatir kesorean sampai rumah.

Baiklaaaah, mari katakan “Bye-bye me time”.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk membeli 3 porsi bakso di warung gerobakan itu untuk dibawa pulang dan makan bersama anak di rumah.

Rasanya pengen noyor kepala sendiri. Sudah lah capek hari itu, rungsing pula seharian, mau me time juga ternyata gak bisa. Hahaha… Pengen noyor kepala sendiri biar sadar “Woii, belaga me time segala, udah punya buntut juga! Ya gak bisa lah disamakan”.

Saya langsung menghela napas panjang, begini amat jadi perantauan. Serasa berjuang sendiri.

***

Sebenarnya sih lebay sekali ya kenapa segitu amatnya, hahaha. Tapi aku maklum. karena itu terjadi saat PMS -pre Menstrual Syndrome-, periode sepekan sebelum haid itu memang lazim bikin perempuan mood swing dan gampang baper. Padahal kalau disikapi pada saat bukan PMS, niscaya kita akan mengernyitkan dahi. How come, baby? Hahahaha.

Lalu, kenapa bakso?

Karena bakso adalah makanan spesial yang punya banyak cerita di sana. Dulu masa kuliah dan kerja, aku dan sohibku itu sering mencuri waktu untuk janjian di warung bakso. Di sana kami mengobrol ngalor ngidul. Apa saja bisa jadi bahasan kami dan gak pernah basi.

Ya, kami menumpahkan banyak cerita dalam sebuah mangkuk bakso.

Aku bukan tipe “peneman”, aku tidak bisa dengan mudah akrab dengan seseorang. Bukan juga orang yang ramah dan bisa menjaga perasaan orang dengan baik. Temanku sedikit, apalagi yang mau jadi sahabatku. Cuma dia yang mau bertahan untuk berteman denganku dari SD sampai sekarang.

Yang membuat aku dan dia bersahabat selain -tentu saja- karena frekuensi kita sama, ditambah lagi dia punya keluarga yang begitu hangat, saling mendukung tanpa canggung. Dengan hatinya yang hangat seperti itu, dia bisa selalu menggandeng aku yang sering labil ini.

10 tahun lalu, saat kami di usia mapan, makan bakso berubah menjadi ajang curhat lawan jenis. Aku yang tidak biasa lagi menceritakan tentang seseorang, hari-hari itu selalu dipenuhi tentang cerita orang itu. Ketika aku sebut siapa orangnya, dia terkejut bukan main karena ternyata orangnya ada dalam circle-nya. Astaga.

Lantas, apakah direstui sahabatku? Ternyata tidak. Hahaha. Baiklah……. Tapi aku ingin terus berusaha meyakinkan diri sampai mana perasaanku. Jadilah aku terus menghubungi teman laki-laki itu dan memastikan sikapnya.

Dan akhirnya kami -He and I- memutuskan untuk ta’aruf dan membicarakan ihwal pernikahan.

Sampai sini mulai muncul perasaan-perasaan aneh yang sudah aku prediksi sejak awal. Sebuah perasaan yang susah dideskripsikan, tapi sahabatku sudah paham “kebiasaanku” yang itu. Aku ilfeel. Ya, ilfeel dengan teman laki-laki yang sedang dekat itu.

Sabtu itu kami janji ketemuan lagi, kali ini menyempatkan diri mengunjungi guru SMP ku. Awalnya kami janji ketemuan langsung di rumah guru, tapi ternyata dia ada kerjaan yang gak bisa ditinggal. Saat mengunjungi guru itu aku sempat izin untuk mengakses e-mail di komputer beliau, saat ditinggal beliau ngajar les.

Apa yang aku lakukan, kalian tahu? Aku mengirim e-mail kepada si teman laki-laki itu sebuah Pdf buku pernikahan islami.

Di antara perasaan aneh yang muncul itu aku nekat mengirimkannya. Seakan-akan aku betul-betul sudah yakin. Nyatanya ini adalah usaha untuk denial dengan perasaan aneh itu. Siapa tahu bisa hilang kalau aku bersikeras, pikirku saat itu.

Mungkin bagi orang lain nampaknya aku terkesan agresif. Padahal dalamnya kebalikan. Hahaha. Aku bilang juga apa, aneh.

Kami batal mengunjungi guru bersama. Tapi kami tidak batal makan bakso berdua. Karena hari Sabtu sore, depot bakso rame dimana-mana, kami memutuskan untuk mencoba depot yang baru buka, dekat sekali dengan rumahku.

Sepi. Kami pun bisa asyik mengobrol.

Di sanalah kemudian aku mengutarakan perasaan aneh yang muncul itu. Bisa ditebak, sohibku sudah tidak kaget lagi. Tapi kali ini dia tidak memberi support karena memang dari awal dia tidak mendukung. Jadi, semacam “Ya udah, gak jadi gpp”. Huahaha

Lalu aku bilang “Aku gak tau harus gimana ini. Apa ini perasaan dari jin yang menghalangi pernikahan manusia atau ini dari hati kecilku yang membuat aku selalu menjaga jarak dengan laki-laki”.

Aku susah sekali mendeskripsikan perasaan ini. Perasaan yang muncul tiba-tiba, pelan tapi pasti, semakin besar tatkala kami mulai membicarakan soal pernikahan. Perasaan ilfeel yang bikin aku sebenarnya ingin menyudahi percakapan kami di chat.

Aku bilang aneh karena perasaan itu muncul setelah kami saling tertarik, lalu setelah intens membahas soal pernikahan (masih dalam batas norma agama ya, aku gak pernah nyaman jika ada yang menjurus) aku dengan tiba-tiba punya perasaan gak suka yang teramat sangat, padahal saat itu dia belum melakukan kesalahan apapun.

Seperti sudah jadi kebiasaan sejak SD jika didekati lawan jenis, sohibku sudah paham betul soal perasaan aneh ini.

Di tengah kebingungan dia menjawab kegelisahanku tiba-tiba mama nelpon. Wah, aku sudah berpikir akan disuruh pulang karena udah lama di luar. Tapi, ketika aku angkat telpon mama, hmmm…dahiku malah mengernyit. Wah, wah, wah…mama tumben sekali nada suaranya riang begini, biasanya mama datar banget kalo ngomong, aku sudah bayangin bakal disuruh pulang dengan nada flat beliau. Dan. apa kata mama tadi? Disuruh pulang secepatnya kalau sudah selesai? Duh, begimane pulang secepatnya, bakso aja baru disiapkan, sekarung uneg-uneg juga belum ditumpahkan, koq disuruh udahan??

Yaa..begitulah. Kami tetap makan santai menghabiskan bakso dan cerita-ceritanya. Sampai bakso tandas pun aku belum dapat sebuah pencerahan harus bagaimana.

Akhirnya, aku pulang ke rumah yang cuma berjarak 200 m dari rumah. Hmmmm…..mobil siapa ini? Ada tamu rupanya. Apa kata mama tadi, temenku? Temenku sudah ada yang sukses bawa mobil? Loh, siapa??

(Bersambung ……)

1 thought on “Cerita Semangkuk Bakso”

Leave a Comment