Terimakasih Sudah Membuat Menangis

Sudah 2 tahun rasanya tidak menangis. Padahal sebelumnya aku sering menangis, mulai SMA. Dulu aku menangis karena takut dengan masa depan dan itu hampir tiap hari. Menangis sedih melihat bapak yang tiap malam pergi memenuhi panggilan “kerja” sebagai tukang urut. Menangis karena tidak tahu apakah aku bisa sukses membahagiakan orangtua nanti di masa depan.

Aku memang dominan perasaan, melankolis kata orang. Kalo kata Alodokter, “melankolis tergolong individu yang sensitif, lebih sering diam, dan memiliki empati yang tinggi. Orang dengan kepribadian ini lebih sering mengingat, merasakan, dan mengeksplorasi untuk memahami sebuah kondisi.

Cengeng ya, iya..aku memang cengeng, sensitif, mudah nangis. Aku juga bingung ada orang segarang aku tapi juga nangisan. Ih, sungguh perpaduan yang gak banget, kan?

Setelah menikah pun ternyata sama saja. Aku masih cengeng. Masa-masa adaptasi pernikahan, berkonflik dengan mertua, soal komunikasi dengan suami, melihat tumbang anak, sampai berbaur dengan sosial, semua pernah membuat aku meneteskan air mata.

Setelah sekian lama aku (merasa) tahan banting, ternyata sekarang jebol juga. Dalam sebulan sudah 3x aku gak bisa membendung air mata. Mengalir gitu aja, manifestasi dari rasa sedih, marah, dan kecewa yang gak bisa diungkapkan. Aku gak bisa cerita ke stroy IG seperti orang atau di FB. Eh, pernah dulu di FB, tapi yang baca cuma dapat negative vibes dari aku. Kasihan…dan aku gak mau lagi. Aku memang gak pandai mengolah kata-kata seperti orang. Terlalu lugas.

Sekarang, aku gak tahan. Boleh lah ya ditulis di sini, rumah keduaku. Toh tidak ada yang baca. Aku sendiri gak ingin menyebarkannya, aku cuma mau menulis, merilis emosiku, healing for the end.

Untuk setiap kata-kata “mereka” yang menghujam di telinga, semoga bisa jadi pengingatku untuk berkata lebih baik. Untuk setiap rasa sedih dan kecewaku yang “mereka” ciptakan, semoga bisa jadi penghiburku karena sesungguhnya kita sedang bertransfer pahala.

Sekarang, aku sedang tidak ingin curhat pada siapa pun. Karena curhat pada orang yang aku anggap awalnya bisa memahami, tapi ternyata? Hahaha, gimana rasanya dikacangin di saat begini? Sudah jatuh tertimpa tangga.

Ohya, aku jadi ingat quote yang paling aku sukai di dunia ini? 🙂

Don’t feel alone, Allah SWT is with you

Itu kalimat saktiku ketika harus menghibur diri sendiri. Kalimat saktiku ketika di dunia ini gak ada yang sudi mendengarkan ceritaku. Kalimat saktiku yang bisa membuatku setelah menangis jadi sedikit lebih kuat.

Saat begini memang rentan merasa sendiri, “perasaan sendiri” itu aku akui gak enak banget. Rasanya beban yang dibawa gak bisa dibagikan karena gak punya orang yang paham dengan diriku. Sahabat baikku sejak SD ada, tapi dia sudah sibuk dengan tanggung jawabnya sebagai ibu dan istri. Tidak bisa segamblang dulu lagi bila berserita. Seperti ada pagar tinggi.

Jadi, hei…terimakasih ya sudah membuatku menangis. Aku jadi diingatkan kembali bahwa aku gak sendirian walau gak punya teman karib lagi.

Semoga Allah perkenankan hatiku melembut karenanya. Aku ingin sekali menumpahkan semuanya di sini, tapi gak bisa juga ternyata. Hehehe. Baiklah, mari kita lanjutkan ngobrol dengan Yang Gak Pernah Meninggalkanku Sendirian. Allah gak akan mengubah yang sudah terjadi, tapi dengan percaya power-Nya aku bisa lebih baik.

 

1 thought on “Terimakasih Sudah Membuat Menangis”

  1. saya juga melankolis mbak, sebagai cowo saya merasa aneh karena sensitif dan punya empati yang tinggi. tapi yang namanya karakter, pasti setiap orang punya dan unik.

    semoga lekas melewati semua ini ya mbak.. Semoga pundak semakin kuat untuk memikul beban yang diberikan.

    Reply

Leave a Comment