Assalamu’alaikum….

Setelah melahirkan anak kedua saya memutuskan untuk memakai KB secepatnya. Tapi, oleh suami hanya dibolehkan IUD atau mini pil. Mini pil itu semacam Yasmin kalo merk patennya, masih masuk KB hormonal tapi dengan kandungan hormon dosis rendah.

Sayangnya di saya minipil itu ga cocok, pernah haid sebulanan, sambung menyambung ga selesai selesai. Kulelah temans.

Jadi, hanya tersisa 1 kemungkinan yang bisa dan dibolehkan, yaitu….OMG ๐Ÿ˜ฑ IUD ๐Ÿ˜ฅ

Dilema banget lah ini kemaren mau masang apa ga. Pertama, konon katanya pasangnya sakit. Kedua, alatnya bisa melenceng kemana-mana bahkan ada yang harus dioperasi karena nyangkut di usus. Ketiga, diriku belum haid 18 bulan lamanya, gimana mau bisa dipasangkan?

Lengkaplah galaunya. Karena ga mau menambah kegalauan lagi, demi melihat perut yang semakin buncit, entah karena tekdung atau lemak, saya putuskan untuk ke dokter kandungan langganan secepatnya.

Hallo, mak. Kamu yang ga haid dan pengen haid bisa baca tulisan saya sebelumnya ya tentang rekayasa hormon.

Jadi, tulisan ini adalah sambungan dari tulisan saya sebelumnya.

Setelah menghabiskan tablet Norelut 1 strip akhirnya saya haid. Lumayan banyak keluar darahnya dan itu cukup bikin saya kliyengan karena anemia akut. Segera saya minum suplemen penambah darah.

Sudah haid kan nih. Tapi keragu-raguan kembali muncul lagi, antara pasang IUD atau ga. Propaganda positif dan negatif tentang IUD banyakan negatifnya, jadilah sayanya ketar-ketir memutuskan. Duh mama, kenapa anakmu plin-plan sekali sih, huhu.

Setelah hari ketiga saya mendapati darah haid tiba-tiba berkurang drastis, hampir selesai ini, waduh! Panik lah, sementara saya belum memutuskan untuk pasang IUD atau minum pil KB aja. FYI, kalo mau pasang IUD kudu haid dulu karena saat itu mulut rahim membuka, jadi masangnya ga sakit.

Akhirnya, entah kekuatan dari mana, 9 Februari 2018 kemaren ujug-ujug saya daftar via WhatsApp dan saya ajak suami ke dokter spesialis. Semua resah dan propaganda negatif saya halau. Bismillah…
(lebay amat yak, kaya mau perang aja, buk ๐Ÿ˜›)

Saat menunggu antrian…

Saat masuk ke dalam ruangan periksa….

Saat basa-basi sedikit dengan dokter….

Saat disuruh berbaring….tiba-tiba

“Bentar, dok. (Hoeekk)”, kata saya sambil menahan mual yang kedua.

“Gugup dok, bentar”, lanjut saya,ย  dokternya sambil menahan ketawa mempersiapkan alat-alat.

Ya ampuun, ih malu-maluuiin. Ketahuan nervous banget kan, huahaha.

Karena dokternya perempuanlah saya akhirnya nekat untuk pasang IUD. Dengan posisi mengangkang ketika proses pemasangan tentunya alangkah nyamannya kalo sesama perempuan saja yang melakukannya. Alhamdulillah, terimakasih Ya Alloh sudah menghadirkan dr. Menik di 2 tahun terakhir ini di kota kami. So thankfull.

Long story short. Akhirnya alatnya berhasil dipasang dan saya diresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi. Pulang ke rumah akhirnya dengan keadaan lega karena yang saya takutkan tidak kejadian. Yeah, it’s not like my imagination.

Sumber: mediskus.com

Kalau kalian ingin pasang IUD tapi masih takut, mungkin beberapa poin di bawah bisa membantu sedikit menepis kegalauan kalian, isinya berdasarkan pengalaman dan jawaban dokter atas pertanyaan-pertanyaan saya.

1. Timing yang paling pas untuk pasang IUD adalah saat haid kita sudah mau habis. Jadi, jangan pas banyak-banyaknya ya karena pasti risih. Saat mau selesai masa haid itu darah sudah sisa sedikiiit saja dan mulut rahim masih lunak sehingga mudah eksekusinya. Jadi, sebenarnya saya sudah tepat mengajukan diri waktu itu, saat haid sudah mau selesai.

2. Sebelum kalian memutuskan untuk KB IUD pastikan rahim kalian tidak rendah, dengan USG tentunya. Rahim yang rendah dikhawatirkan akan membuat alatnya mudah keluar sewaktu-waktu. Ini kejadian sama ipar saya, pas sudah mau masang tiba-tiba dokternya mengeluarkan alatnya lagi dan bilang rahimnya rendah sehingga ga bisa dipasangi alat. Melayanglah duitย  500 ribu untuk IUD yang tidak terpasang itu. Hiks, sayang ya.

3. Pastikan area kewanitaan sudah dibersihkan ya, hihihi.

4. Rileks, jangan tegang, lemaskan seluruh anggota badan walau hati dag-dig-dug ga karuan. Kirim afirmasi positif ke diri kalo ini ga akan sakit, just inhale-exhale, santai sesantai-santainya. Kalo saya boleh bilang pasang IUD ini ga sakit koq! Kalo kalian sudah pernah merasakan kontraksi adekuat saat lahiran, beuuuh dijamin sakitnya ga ada 1/10 nya! *SWEAR

5. Prosesnya agak lama tapi ga sampai 5 menit koq. Berawal dengan merebahkan posisi ala melahirkan, kaki diangkang, lalu dokter memasukkan alat bernama spekulum ke mulut rahim untuk menjaganya agar tetap terbuka selama pemasangan. Tak lupa dioles cairan antiseptik beberapa kali. Selanjutnya, akan dimasukkan alat ‘penjepit rahim’ bernama tenakulum.

Sakit ga dijepit? Saya sih ga ada merasa apa-apa ya. Atau karena pikiran saya sibuk menenangkan hati kali ya, jadi ga fokus sama prosesnya ๐Ÿ˜…. Setelah itu dimasukkan alat bernama sonde uterus yang berfungsi mengetahui kedalaman rahim dan arah tuba fallopi. Ok, dari situ saya dapatkan informasi bahwa tinggi rahim saya 6-7cm, sesuai dengan hasil USG 2 pekan lalu sebelum memutuskan untuk KB IUD.

Kemudian baru deh dipasang IUD nya.

Sudah, selesai maaaak ๐Ÿค—

Kalian pasti sering dengar cerita tentang sakitnya pasang IUD, nah mungkin ketika alat spekulum ini masuk si ibu-ibu itu tegang, mengeraslah semua otot-ototnya termasuk otot daerah vagina, dan ini yang bikin sakit karena dokternya juga agak susah kan mau masuk. Rileks aja, katakan pada diri sendiri bahwa ini ga akan sakit. Terbukti, dr. Menik bilang kemaren smooth banget pas masangnya ke saya. Hehe, just doing positive afirmative, dears!

Spekulum untuk membuka “pintu masuk”. Please, don’t be scare
Sumber: alatkesehatan.id

6. Minum obat antibiotik yang diresepkan. Walaupun dalam prosesnya menggunakan alat-alat yang steril dan dengan no touch technique, and then dokternya juga pakai sarung tangan tapi tetap tetap ada kemungkinan infeksi walau 0.001%, dan atas nama SOP makanya diresepkanlah AB. “Yah, namanya juga masukin alat dari luar ke dalam, peluang infeksi pasti ada”, kata dokternya menjelaskan. AB diminum 2×1 hari selama 5 hari.

Kalo ga diminum gimana? Ya, terserah sih ya, cuma dokter kan pasti nyuruh cari aman. Nah, saya kan termasuk yang bandel bin mak dudul kalo disuruh minum obat, jadi AB nya saya anggurin 2 hari. Besoknya keputihan hijau dan gatal. Suami bilang kayanya saya ada infeksi sedikit. Huaa, langsung deh minum AB sampai 5 hari ke depan.

7. Pasti banyak yang kepo ya rasanya gimana habis dipasang? Kalo yang saya rasakan sih semacam gejala PMS seperti nyeri pinggang dan keputihan. Wajarlah namanya juga ada alat asing di rahim, pasti adaptasi dulu. Nyeri pinggangnya sih tipis aja, tapi lumayan bikin libido menurun. huaahaha *minta ditoyor. Bukan karena hormon terganggu sih, kalo ini lebih karena ga nyaman aja, eh belum nyaman. Yah, kalian bayangin ajah masa-masa PMS, ngilu pinggang, nyeri daerah pubis, de el el, pasti ngefek ke libido kan?? Ini berlangsung hingga kira-kira 3-7 hari.

8. Dokter bilang akan terjadi siklus menstruasi yang tidak teratur dalam jumlah darah yang lebih banyak dari sebelumnya. Itu semua bukan karena tidak cocok dengan alatnya, tapi lebih karena masa adaptasi uterus yang kemasukan alat asing. Dan itu akan terjadi dalam 3 bulan pertama. Jadi, siapkan suplemen zat besi, ya, mak!

9. Apakah boleh angkat-angkat setelah pasang IUD? No problemo kata dokter mah. Mau gendong anak bahkan angkat galon juga ga masalah, kata beliau. Ga geser gitu? Ga lah, kata dokternya. Kalo pasangnya sudah pas insya Alloh ga bakal geser. Kalo udah pasang dengan bener, dengan ahlinya pula, dipantau per 6 bulan sekali tapi tetap geser, ada??? Ada juga. Nah kalo itu faktor rahasia Illahi. Lain lagi ceritanya.

10. Setelah pasang IUD kapan boleh berhubungan? Naah, ini. Pas pasang IUD saya lupa nanya. Duh, pas saya baca-baca pengalaman ibu-ibu ber-IUD ada dokter yang menyarankan 3 pekan setelah pasang IUD baru boleh berhubungan rasanya saya langsung lemes deh *ketauaanย  hahaha. Jadi, pas konsultasi sepekan kemudian saya tanyakan perihal ini. Dokter jawab, “ga papa, ga masalah kalo langsung coitus, alatnya langsung efektif bekerja koq”. Oh, begituu, jadi seperti ituuu….ย  *yesss ๐Ÿ˜†

11. Mungkin ada spotting sewaktu-waktu antara masa haid. Spotting itu semacam flek, keluar darah tapi cuman sedikit. Jadi, jangan kaget ya. Wajar, normal.

12. Setelah terpasang, lakukan pengecekan berkala ya. Sepekan setelahnya dan 6 bulan berikutnya secara berkala. Ini untuk memastikan posisi alatnya.

Sekilas tentang IUD Nova T

Dari tadi ngomongin IUD mulu yak. Emang sudah pada tau singkatannya?? ๐Ÿ˜†

IUD adalah singkatan Intra Uterine Device atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dan biasa disebut emak-emak sebagai KB spiral. Koq spiral? Setau saya bentuknya T deh? ๐Ÿค”

Ternyata dulu IUD bentuknya spiral, sekarang kebanyakan sudah ga dipakai lagi. Gantinya ya yang bentuk T ini. Tetep aja tapi ya ngomongnya “KB spiral”, heheheh.

Sumber: doc.hadisome

KB IUD Nova T yang banyak dipakai ini diimpor dari Jerman, makanya harganya lumanyun alias bikin manyun ๐Ÿ˜….

Cara kerja IUD bagaimana?ย 

Alat ini berbahan plastik berbentuk huruf T dengan lilitan tembaga di bagian badannya dan juntaian benang di ujungnya. Dengan bentuk seperti itu praktis mencegah terjadinya sel sperma dan sel telur bertemu. Selain itu juga kandungan tembaganya membuat sel sperma tidak akan bertahan lama di dalam rahim. Dan jika sukses terjadi pembuahan pun, calon janin tidak bisa menempel di uterus.

IUD Penyebab Ca Serviks?
Hayoloh, pernah ga denger statement seperti itu??? Yang ngomong siapa? Ada background kebidanan atau ginekologi ga?? Atau cuma baca-baca doank tanpa telaah lebih lanjut?

Saya termasuk nih yang menelan mentah-mentah info ini. Lantas saya tanyakan pada dokter, benerkah? Beliau menegaskan IUD bukan pencetus kanker serviks. Jenis kanker itu hanya disebabkan oleh virus HPV, yang ditularkan melalui seks bebas.

Pros and Cons

Ok, dari panjang kali lebar nya tulisan saya ini, saya mau merangkum positif dan negatifnya KB IUD;

Positif
(+)ย  Tidak menganggu kerja hormon
(+)ย  Keluhannya hanya sebentar, sesaat setelah pasang, tidak sampai pusing-pusing, badan kurus atau malah gemuk
(+)ย  Tidak ribet karena mengingat jadwal harian seperti minum pil atau suntik bulanan
(+)ย  Relatif murah. Walaupun di awal sangat berat, tapi cukup sekali itu aja
(+)ย  Jika mau program anak lagi sangat mudah dan cepat karena tidak perlu penyesuaian hormon.

Negatif
(-)ย  Tidak cocok bagi yang alergi tembaga
(-)ย  Tidak cocok bagiย  yang rahimnya rendah
(-)ย  Alat bisa melenceng. Bisa diminalisir dengan rutin USG per 6 bulan, pasang dengan ahlinya, dan tawakal ‘alaLlohu

Walaupun tingkat keberhasilan KB ini cukup tinggi tapi tetap saja bisa’ kebobolan’. Kasih tanda petik ya. Maksudnya, walau kita maunya nanti dulu punya anak, tapi ketika Alloh berkata “jadilah” maka tidak ada yang tidak bisa.

Baiklaah, mungkin cukup sekian tulisan kali ini. Semua pilihan selalu ada resikonya sekalipun pilihan terbaik. Banyak-banyakin informasi aja supaya ga gamang dan tepat menentukan pilihan.

Jadi perempuan itu susah ya, udah hamilnya lelah, melahirkannya “nikmat” bener, eh harus ditambah lagi mikirin masalah KB. Gini amat yak jadi perempuan ๐Ÿ˜ฅ

No, no, no…. Beban berat tetap ada pengimbangnya. Alloh Maha Adil. Bukankah Alloh janjikan kemudahan di atas semua itu. Janji Alloh untuk para wanita, dimudahkan masuk syurga dari pintu manapun, tanpa jihad, tanpa susah payah cari nafkah seperti lelaki, tanpa harus selalu sholat tahajud di tengah malam, tanpa rutin puasa sunnah.ย  Hanya dengan “taat suami, sholat 5 waktu, dan puasa Ramadhan”, Alloh persilakan kita masuk syurga lewat pintu mana saja.

Semoga ikhtiar kita menjadi istri sholihah, ibu yang sabar dan pintar, pribadi yang sehat jiwa raga dimudahkan ya. Aamiin

Ok, sekian tulisan saya kali ini – yang isi dan penutupnya agak ga nyambung. Maapkaaan. Semoga bermanfaat ๐Ÿค—


24 Komentar

Latifika Sumanti · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Serem kebobolan kalo aku mah ๐Ÿ˜€

Latifika Sumanti · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Whaha, aku baca2 aja mba di blog orang, ada yg dokternya bilang gitu

Maya Siswadi · April 11, 2019 pada 7:28 pm

nah iyaaa, sakitnya ga seberapaaa dibanding sakitnya kontraksi mau lahiran, tapi bayangkan lah enaknya ga perlu stress mikrin bakal hamil atau engga tiap kali hubungan suami istri, hahaha. Btw, info di mana itu abis pasang iud trus jadi ga boleh berhubungan selama 3 minggu? keknya sesat banget *cmiiw

Anggraeni Septi · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku masih maju mundur mau pakai IUD hehe. Duh gambarnya serem aaaah, au aaah masalah per KB an. Pengen lariii aja ๐Ÿ˜€

Latifika Sumanti · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Kondom bisa mba, tapi mahal jatuhnya kalo setiap coitus pakai kondom. Dan katanya ga puas sih *ups. Kurang tau ya mba… Soalnya ga pernah samsek kondomh, hehe

beautyasti1 · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Setelah baca ini, aku kok jadi makin takut hehehe.. aku caesar mba, karena takut sakit ^^ kalau pake kondom aja bisa juga kan?

Latifika Sumanti · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Mentok karena tinggi rahimnya juga mentok panjang alatnya kali ya mba?? Makanya sebelum pasang biasanya diukur dulu panjang rahimnya, kalo rendah iya yg mentok itu dan sakit bawaannya.

Zulaeha · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku sebenarnya juga mau pakai IUD. Tapi… Tapi… Aku takut sakit pas HB. Karena aku nggak suka yg gaya yang slow, katanya kalau pakai IUD gabisa gaya macem-macem, bisa mentok alat. *Eh hahaha

Itu yg bikin aku lemes dan akhirnya menyerah minum pil aja, mbak. Kalau kata mba Fika gimana nih? ๐Ÿ˜›

Dessy Natalia · April 11, 2019 pada 7:28 pm

wah, ini informatif banget Mbak hahaha.
makasih lho infonya, aku yang masih penganten baru sangat terbantu untuk persiapan nanti hahaha,

Helenamantra · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Selamat, Mbak udah berani pasang IUD. Aku beluuuum. Huhu. Meski kata teman kalau udah kuat lahiran normal, ga ada apa-apanya lah pasang IUD.

Noe Traveler · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku malas KB krn pertinbangan mempengaruhi hormon sih, bkn krn takut yg lain2. Jd pakai cara lain aja ๐Ÿ˜€

Aswinda Utari · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku baca ini berasa inget kejadian bbrp tahun kmrn. Ngilu ah, hihi. Udah ngilu ga bisa dipake lagi. Heww.. Maklum lah zaman ga tll kepo sana sini liat google. Lgsg cuss. Haha. Sekarang udah jera gt.

Lendy Kurnia Reny · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Akuuu…aku juga #timIUD
hehehee…dan bulan ini atau bulan depan…sudah waktunya lepas, karena sudah 5 tahun.

Kata temen yang kemarin lepas IUD, sakiitt banget.
Oke,
Fixed.

Ku takut, mak.

Nchie Hanie · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku..aku alhamdulillah pake, udah 15 tahunan niy cucok, bongkar pasang terus..
harus tutup kuping, ga pernah dengerin omongan orang hahaa

Rach Alida Bahaweres · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku nggak pakai IUD mbaa. Dan aku pernah diceritain teman yang iud ilang. Trus aku jadi nyilu :p

Zeilla Mutia Devi · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Kebetulan aku sbntar lagi menikah, ini ilmu baru buat ku dan berharga banget bisa mampir ke artikel ini. Tapi, pas baca agak2 ngeri gitu bayanginnya ya mba haha. Memang jadi perempuan itu "istimewa" ya mba :p

Ratri Anugrah · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aduh. Aku merasa masih balita :)) Ngga tau apa2 mba.

April Hamsa · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Aku masih belum berani mbak hehehe, soalnya beberapa org yang kukenal pakai IUD ada aja masalahnya. Ya mungkin hanya mendengar sepihak cerita2nya tapi cukup membuatku keder. Makasih sharingnya bisa jd pertimbanganku yg selama ini maju mundur mau pasang ๐Ÿ˜€

antung apriana · April 11, 2019 pada 7:28 pm

aku termasuk yang takut pakai iud ini jadi akhirnya pakai kb suntik sih. padahal iud ini paling aman nggak mengganggu hormon. jadi kalau mau program lagi nggak harus nunggu lama katanya. heu

Irni Irmayani · April 11, 2019 pada 7:28 pm

aku pake IUD juga mbak. Tapi pasangnya pas melahirkan jadi gak terasa sama sekali. Ini kasusnya malah pas mau lepas buat program anak kedua aku rada parno. Hahahaha.

Zulaeha Achmad · April 11, 2019 pada 7:28 pm

Oh, gitu kali ya? Kayaknya emang harus teliti benar-benar dulu ya sebelum masangnya ๐Ÿ˜€

Jumariani Kimkyu · April 11, 2019 pada 7:29 pm

Liat adek aku udah pasang juga aku yg bru mo nikah jdi lega setelah dpt info sana sini. Termasum di artikel mbak ini. Mkasih infonya mbak ๐Ÿ™‚

Emak dan Rekayasa Hormon [Review Norelut] - Bonjour Fika · Mei 9, 2020 pada 3:05 am

[…] Baca juga: Pengalaman Pasang KB IUD […]

Pengalaman Memakai KB IUD Selama 2.5 Tahun · Agustus 21, 2020 pada 6:37 am

[…] Baca juga: Pengalaman Memasang KB IUD, Sakit Ga? […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *