Pengalaman Membuat Kimchi Sendiri– Alohaaa…… Apa kabar semuanya? Aku? Aku lagi sibuk beradaptasi dengan kegiatan baru: juwalan, Guys. Jadi ya mohon maaf blognya sedikit kurang terurus, padahal yang mau ditulis buuanyaak banget. Halah, lagu lama.  Akhirnya dari sekian ide, tulisan yang pengen banget direalisasikan kali ini ialah tentang KIMCHI.

Kalau kalian mengira aku membuat kimchi karena terpicu drakor, hoho….. monmaap ya kalian salah besar. Yang sering mampir ke sini pasti ngeh kalau blog ini sering membahas kesehatan dan authornya punya antusiasme yang besar dalam hal kesehatan. Yaa, anggap aja si author pengen kuliah di jurusan kesehatan tapi ga kesampaian.

Terus apa donk yang bikin aku pengen makan kimchi??

Jadi, awal tahun tadi aku ikut kelas Naturophaty nya Nabila Ayumi. Lumayan lah ilmunya, bikin melek soal kesehatan perut. Ditambah lagi aku termasuk pemilik pencernaan kurang sehat. Jadi, pembahasan soal probiotik-prebiotik itu macam gayung bersambut. Akhirnya sekarang aku pengen mencicip makanan yang ga jauh-jauh dengan bakteri baik.

Karena Yak*lt dan Yoghurt sudah terlalu mainstream, jadi aku pengen nyoba yang lain, seperti; susu kefir, sauerkraut (baca: sa-uer-kra-ut) dan yaa kimchi tentu saja.

Susu kefir sudah aku coba buat sejak Februari 2020 tadi. Waktu itu aku beli baby grains nya alias bibit kefirnya (masih) seharga 70.000 untuk 50 gram (jangan tanya sekarang berapa, 2x lipat!). Grains itu kemudian jadi bibit untuk fermentasi susu murni (aku pakenya UHT plain aja karena ga ada raw milk di kotaku). Iya, jadi susu kefir = susu fermentasi yang isinya bakteri baik.

Yaah, mirip-mirip Yak*lt dan Yogurt lah ya, tapi beda jumlah strainnya. Susu kefir punya 4-20x lebih banyak jenis bakterinya dibanding Yak*lt dan Yogurt. Jadinya? Lebih sehat, lebih uaseeeeemmmm juga tapi. Sampai merinding bulu kuduk kalo minum. Wkwkwkw

Laaah, jadi minum susu berbakteri?

Iya, bakteri baik tapi

Ga basi ada bakterinya? Katanya aseeeeeem 

Ga laah, kan bukan bakteri jahat, Cin, tapi BAKTERI BAIK, yang justru diperlukan usus untuk kesehatan pencernaan. Baca tulisanku tentang kesehatan usus biar nambah wawasan, yuk!

Baca juga: Naturophaty dan Kesehatan Pencernaan

Sudah? Sudah baca? Ada 2 part lo itu. Kalau udah baca bisa deh nyambung lagi ke sini.

Iya, jadi pokoknya tahun ini adalah tahun petualangan makanan probiotik bagiku. Pengen nyoba susu kefir sudah keturutan (masih rutin sampai sekarang), sauerkraut sudah juga tapi baru sekali nyoba (FYI, sauerkraut itu adalah fermentasi asinan kol, resep dari Jerman), dan terakhir adalah kimchi yang notabene dari Korea.

Kimchi, Sayuran dengan Bakteri Lactobacillus

Yap, jadi penasaranku terhadap kimchi bukan karena ke-triger drakor. Sama sekali ga. Lagian aku aslinya bukan tipe sufi banget (suka film). Wkwkwk. Yang bikin aku terpicu sebenarnya karena klaim sebagai makanan tersehat di dunia yang disematkan kepada kimchi.

 

Eh, kenapa kimchi? Bukan oncom, bukan acar, tape, atau tempe? Ih, kamu ga cinta ploduk-ploduk Indonesiah.

Yaa…mana aku TAHU, Maemunah! Yang ngasih “gelar” kan bukan aku ;(

 

Memang sih, Indonesia punya beragam makanan fermentasi, seperti yang aku sebutkan di atas, tapi kenapa tidak disebut-sebut sebagai salah satu makanan tersehat di dunia?

Entah, aku ga tau secara pastinya, tapi sependek yang aku tau strain bakteri yang dihasilkan berbeda, dan fermented food yang paling menghasilkan bakteri yang sangat nyambung dengan pencernaan manusia adalah si kimchi ini. 

 

Kimchi, kimchi, kimchii melulu ngomongnya mulai tadi? Emang kimchi makanan apose??

Laah, ada yang belum tau kimchi? Ok, ok, maafkan….nulisnya loncat-loncat kek kangguru ya, jadi bingung yang baca.

 

Jadi, kimchi adalah makanan yang berasal dari sayuran semacam lobak, sawi putih, timun, daun bawang (sawi putih yang paling populer) yang difermentasi dengan bumbu dalam ruangan tertutup sehingga menghasilkan bakteri asam laktat bernama Lactobacillus kimchi. Kimchi sendiri adalah makanan wajib di Korea (Utara dan Selatan).

 

membuat kimchi di rumah

Sayur utama: sawi putih

Apa Rasanya Kimchi?

Sebelumnya, aku mau cerita dulu ya pengalaman pertama kali makan si kim-kim ini. Waktu itu 2015 aku pindah rumah, boyongan gitu deh karena beda provinsi, yang tadinya tinggal di pedalaman (Tanah Bumbu) jadi pindah ke kota (Palangkaraya). Jadi, waktu itu awal-awal pindah kami nyetok makanan banyak ke supermarket. Terus lihat si kim-kim ini di rak makanan kemasan. Berbekal (hanya) informasi “makanan tersehat di dunia” tanpa ngerti “sehat” nya itu di bagian mana, akhirnya aku beli 1.

Sampai di rumah kami coba deh icip-icip. 

Dan kami SHOCK! Kaget dengan rasanya.

ASTAGAAA….INI MAKANAN AVAAAAN???

Rasanya itu ya benar-benar di luar ekpektasi. Mungkin karena aku ngebayangin “makanan terenak di dunia” pas lagi di hadapan “makanan tersehat di dunia”. Jadinya yaa kebanting Gess!!

Ya iyalaah, yang di kepala bayangin rendang, di mulut dapatnya asam, pedas, dan aroma lain yang asing, ah ga jelas lagi. 

Akhirnya karena di antara kami berdua ga ada yang mau ngabisin. si kim-kim itu berakhir di tempat sampah. Ya Alloh, maapin hamba 🙁

Time flies….

Sekarang 2020, sudah beda lagi ceritanya. Aku yang sekarang sudah punya pengetahuan soal kesehatan pencernaan, jadi punya reframing yang berbeda terhadap makanan ini. 

Sekarang ahku shiaaap…..ahku shiaaaappp…ahkuu shiaaaaaap

(pake nada Spongebob)

Bulan Agustus kemarin akhirnya aku eksekusi resep kimchi untuk yang pertama kali dan makan sampai habis kimchi yang aku buat. Hehehei….

Rasanya?

Yaa, masih sama seperti dulu. Untuk lidah Indonesia tulen, ini makanan rasanya aduhai campur aduk banget. Kalo boleh aku bilang, maaf, kacau banget lah. Padahal sebenarnya ada aroma umaminya dari bawang putih + ebi. Tapi karena difermentasi jadi ya aromanya asem-asem gemana getoo.

Bahkan, kalo aku pengen makan kimchi, aku harus menyepi sendiri, karena di rumah ga ada yang mau mentolerir aromanya, bahkan si dedek sempet muntah pas pertama kali aku buka fermentasinya. 

MUNTAH, COBA!

Asli pengen ngakak setiap ingat momen itu.

Muntah cium kimchi? Emangnya emak makan makanan apaan sih, Dek 🙁

Itu kesan pertama saat makan kimchi. Unforgetable!!

Tapi akhirnya aku nemu cara makan yang enak: makan pakai nasi dan udang goreng tepung. Duh, ini enak banget menurutku. Ini jadi satu-satunya trik aku banget buat bisa menghabiskan kimchi. Soalnya belum bisa makan yang dicampur sup, nasi goreng atau pancake. Ga bisa ngebayangin kan? Sama. Wkwkwkwk

Gimana, gimana? Ada yang tertantang bikin kimchi di rumah?

Ini dia resepnya….

Resep Kimchi

Sebelumnya aku mau say thanks buat temen SD ku, Arif Susiliyawati. Sesungguhnya dari dia lah akhirnya aku mau memberanikan diri mencoba resepnya dan tentunya mau memakannya.

Bahan-bahannya ini ukuran resep asli punya teman ya. Aku pakai setengahnya. Kalian yang pengen nyoba bikin juga mungkin hanya perlu seperempatnya, hihihi.

Here we go….

Bahan-Bahan

Bahan sayur:

1. Sawi putih 1,5 ukuran besar, dicuci, tiriskan, garami

2. Lobak putih 1 buah, dicuci, dipotong korek api

3. Daun bawang 6 helai

membuat kimchi di rumah

Bisa pake lobak putih atau wortel. Iris jangan terlalu kecil ya, biar masih dapat tekstur “kress” nya

Bahan bumbu:

1. Bawang putih 4 siung besar

2. Bawang bombay 1/2 ukuran sedang

3. Ebi kering 3 sdm 

4. Jahe 1 ruas

Bahan 1-4 dihaluskan

5. Kecap ikan 6 sdm

6. Saus tiram 2 sdm

7. Gula pasir 4 sdm

8. Bubuk cabe 4-8 sdm (disesuaikan)

Bahan 5-7 dicampur ke bahan halus

membuat kimchi di rumah

Saus Ikan Kikkoman yang kupakai

Pasta:

1. Tepung beras 3 sdm

2. Air secukupnya

Cara Membuat

Siapkan sayur

1. Cuci sawi putih, lalu rendam dengan air garam hangat ke seluruh permukaan, diamkan selama 2 jam. Lalu cuci bersih, iris, tiriskan sampai benar-benar kering (penting, agar ketika mulai fermentasi nantinya tidak muncul air bekas mencuci sawi)

2. Cuci bersih lobak dan potong korek api. Saran agar tidak terlalu kecil memotongnya agar tetap berasa teksturnya (setelah fermentasi semua sayur tidak sesegar lalapan ya). Daun bawang iris sesuai selera 

Membuat pasta kimchi

3. Campur tepung beras dengan air, tidak terlalu kental. 

4. Panaskan air matang, masukkan tepung beras cair tadi. Aduk terus hingga mengental seperti pasta

5. Lalu, campur pasta dengan bumbu halus. 

6. Koreksi rasa, jika kurang pedas tambahkan bubuk cabe, jika kurang asin tambahkan kecap, dst. Taraaa…pasta kimchi sudah jadi!

membuat kimchi di rumah

Pasta kimchi eksekusi kali kedua

Fun time! Mix sayur dan pasta

7. Kemudian campurkan pasta kimchi yang sudah jadi itu ke seluruh permukaan sayur. Di sini menurutku step yang paling asyik. Bumbu pasta yang aromanya umami tapi masih aneh di indera penciuman berbaur dengan sayur segar sampai ke sisi terdalam.

8. Simpan di toples tertutup selama 2 hari suhu ruang

9. Kimchi siap dikonsumsi

10. Ga habis? Masukkan kimchi dalam kulkas, bisa dimakan sewaktu-waktu.

Kandungan Nutrisi dalam Kimchi

Banyak jurnal ilmiah yang membahas tentang kimchi and how to kimchi improve digestive health. Salah satunya dalam penelitian di PubMed ini. 

Dikatakan di sana bahwa bakteri asam laktat dan penggaraman pada sayuran akan menekan produksi bakteri pembusuk. Fermentasi yang terjadi kemudian akan menambah nilai gizi pada sayuran tersebut. 

Dikutip dari kanal Kemenkes, kimchi mengandung vitamin A dan C sebagai antioksidan alami. Fungsinya untuk mencegah perkembangnya radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu juga vitamin C bagus untuk pembentukan kolagen baru untuk regenerasi sel kulit dalam tubuh. Juga untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Selain itu juga, kimchi juga mengandung bakteri lactobacillus yang menjadi sahabat usus besar. Menjauhkan dari resiko kanker kolon (usus besar) karena ikut menjaga keseimbangan populasi bakteri baik di dalam tubuh.

 

***

Yeay, akhirnya sampai di penghujung tulisan. Jadi, pengalaman pertama mengeksekusi resep kimchi adalah sangat tidak terlupakan karena yaah, ini makanan asing dengan bau makanan yang aneh. Tapi, setelah aku mencobanya dan….well, aku ketagihan! Yaaa, walaupun kalau mau makan tetap harus mengungsi dulu ;( 

Bahkan suamiku sendiri mengatakan kimchi adalah makanan yang mengerikan. HAHAHAHAHA. Padahal ngomongnya pas aku lagi bikin pasta kimchi, Untung aku ga nangisan anaknya sudah kebal, udah membekali diri dengan pengetahuan soal fermentasi. Jadi aku maklum kenapa rasanya begitu. Sekarang mah mikirnya di dalamnya sehat gitu aja. Lactobacillus kimchi sepertinya juga bereaksi positif dengan ususku. Jadwal ke toilet jadi lebih lancar kalo pas makan itu. 

Gimana, gimana? Ada yang berani buat??


Latifika Sumanti

Mom of two, long life learner. Part time blogger, full time mother. Beauty, health, and parenting enthusiast

8 Komentar

Mbak Avy · September 10, 2020 pada 12:48 pm

sejak terjerumus ke lembah drakor, ini salah satu makanan yg bikin saya penasaran
kalau cuman lihat, kayaknya mbayangin makan capjay gitu wkwkwk
tapi setelah baca artikel mbak fika duh jadi mbayangin sawi kecut gitu ya
penasaran juga nih mau bikin sendiri

Jihan · September 10, 2020 pada 7:44 pm

Wah mau nyoba juga aahh bikin kimchi. Selama ini kalau pengin selalu beli, kadang ada yang pas rasanya kadang ada juga yg engga pas hihi. jadi penasaran gimana rasanya kalau bikin sendiri

Dyah Kusuma Susanti · September 10, 2020 pada 9:48 pm

Belum pernah makan, jadi belum kebayang rasanya juga hehe. Tapi kayaknya jadi pengen coba deh

diane · September 10, 2020 pada 11:43 pm

Wah aku pengen cobain nih bikin kimchi…anakku udah request tapi kok belum kebayang gemana makanannya dan cara bikinnya. Ternyata gampang ya…

Kak Niken · September 11, 2020 pada 5:28 am

Seperti yang pernah aku bilang di grup, kayaknya aku doang yang gak pernah makan kimchi dan kawan2nya. Pernah makan-makanan korean lainnya tapi sekali aja pas review tempat makan.

Ida Tahmidah · September 11, 2020 pada 9:04 am

Jadi pengen nyoba juga nih, anak-anak yang sudah ribut duluan nih jadi pengen juga bikin sendiri, Alhamdulillah ternyata engga terlalu sulit ya hehe..

Yanti Ani · September 11, 2020 pada 1:10 pm

Aku dari kemarin kepikiran mau beli kimci yang dijual online itu, Nemu gini malah mau buat sendiri aja deh

Andy Hardiyanti · September 11, 2020 pada 4:33 pm

Saya belum pernah nih cobain yang namanya Kimchi. Masih takut mau nyobain, hahahah (((takut))). Takut rasanya gak sesuai di lidah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *