Beauty Talk Skincare Tips

Dari Lemon Sampai Akupunktur, Inilah Perjalananku Berdamai dengan Si Acne Prone (2)

Mengatasi Jerawat dengan bahan natural. Yay or Bhay?

Bertahun-tahun punya masalah wajah yang ga pernah selesai membuat aku makin stress. Eh, ternyata makin stress jerawat juga makin parah. Gituuu aja muternya. Pusing akutu. Mau ke klinik dokter juga berat (sobat missqueen pasti tau rasanya). Mama juga ga kasih saran apa-apa buat wajah anak perempuannya ini. Huhu. Bingung kali ya mama karena ga pernah jerawatan.

Justru malah ibunya teman yang β€˜kasih perhatian’. Ketika baliau melihat wajahku yang penuh jerawat di sana sini dengan raut sedih beliau menyarankan bawang putih ditempelkan ke jerawat itu (((bawang putih))).

Baru tau khan bawang putih ga cuma buat masak, tapi juga Skincare 🀣

Aku? Sudah pasti dengan polosnya menurut karena memang udah bingung mau diapain. Dan dipikir saat itu, mungkin emang bisa karena bawang putih kan ada senyawa anti bakterinya. Lalu, aku praktekkanlah si bawang putih saat jerawat meradang.

Sukses? OMG. Cukup sekali itu aku pakai bawang putih buat jerawat. Ga lagi lagi. SUMPAH! Jerawatnya memang kempis, tapi tidak dengan ikhlas. Selain itu juga bikin flek hitam yang luas, flek bekas jerawat yang paling luas yang pernah aku lihat.

Ini sih kaya….melepuh?!

Ya Tuhaaan 😭

Kek mau nangis rasanya. Karena melepuhnya itu kek gosong yang sifatnya semi-permanen. Perlu bertahun-tahun untuk memudarkannya tau πŸ’”

Selain bawang putih, aku juga pernah mengaplikasikan irisan lemon ke wajah. Jangan ditanya rasanya. Perih, jenderal! Clekit clekit, gatal, panas. Pikirku saat itu, makin perih makin bagus karena itu artinya lemonnya sedang bereaksi dengan jerawatnya. Sukses? Ga sama sekali. Muka malah jadi merah-merah iritasi.

Selain itu, aku juga pernah pakai peeling baking soda untuk mengangkat sel kulit mati. Huhuhu.

Ya Tuhan, kalo ingat masa-masa perjuangan itu aku merasa bersalah banget sama wajahku. Takut banget skin barrier satu-satunya rusak karena perlakuan yang sembrono itu.

Coba-coba DIY skincare ga berhasil, coba-coba pakai skincare pabrikan juga ga banyak menolong. Hopeless? Of course. Udah nyerah banget liat wajah kek parutan kelapa. Yang ngeliat juga aku tau pasti jijay. Hiks…

Bahkan saking hopeless-nya dulu waktu SMA sempat terbesit gumaman, β€œSekalian aja sih kecelakaan kena wajah, biar mampus sekalian jerawatnya. Kan nanti ada perbaikan kulit, bisa mulus lagi kan”.

I am serious πŸ™„

Iya, iyaa tauuuuu. Kalian pasti horor kan dengarnya 😭 Maafin yaa. Aku ga tau pas IQ berapa itu bisa-bisanya ngomong begitu 😭. Ya Alloh, syukur alhamdulillah Engkau tidak mengabulkan doa semprulku itu 😭.

***

Long story short, akhirnya aku lulus kuliah lalu bekerja. Kondisi wajah masih segitu-gitu aja. Kemudian tidak lama aku menikah. Alhamdulillah, ternyata ada yang mau sama aku. Hahahahahaha. Siapa? Bhambhank? Bukaaaaannn 😝.

Jadi, setelah menikah wajahku mulai kalem jerawatnya. Tapi, bekasnya masih eksis bertahan kaya kenangan mantan, yaelah kaya punya aja sih, Sist.

Keinginan untuk merawat wajah juga menurun drastis. β€œUdah laku ini”, adalah contoh ungkapan yang tydac boleh ditiru kalian ya, wahai perempuan yang sudah laku menikah.

Justru ketika sudah nikah harus gencar merawat diri karena ada mata lelaki halal yang harus dimanjakan oleh kita, para istri sholihah. Uwuwuwuwuw…. (((sholihah))).

Memulai Skincare untuk Pemula

Selama 2.5 tahun berkenalan dengan skincare, banyak sekali yang ilmu yang aku dapat. Sumbernya dari mana saja tapi aku prefer dari siapa saja yang bahasannya ingredients-based. Jadi, aku bisa sekalian belajar kandungan skincare.

Dan berikut adalah pengalaman berharga singkat tentang skincare yang aku dapat selama ini.

1. Kenali dulu tipe kulitmu

Very first time , you have to know your skin well. Cara mengenalinya sudah aku tulis sebelumnya ya. Supaya kamu benar-benar tau dan juga sekalian belajar mengenali bahan skincare yang cocok dan tidak cocok, serta yang dibutuhkan oleh kulitmu.

2. Kalo kamu pemula, ga usah muluk-muluk beli skincare ini itu, mulai aja dulu skincare dari yang basic.

Jadi, skincare itu ada 3 tahapan; beginner, intermediate, advance. Kalo kalian sebelumnya buta sama sekali dengan skincare jangan ujug-ujug langsung ke tahapan intermediate atau advance. Jangan langsung negborong skincare demi 10 step ala Korea. Udah pasti kulitmu akan berontak karena; kebanyakan, kebingungan, dan mendadak dangdut, eh skincare.

Jadi, untuk pemula sebaiknya memulai dengan basic skincare, yaitu CTMP; Cleanser (double), Toner, Moisturizer, Protector.

Udah, 5 dulu aja ya Dijah, anak baru ga bole maruk.

Ahsyiaaaapp…

Nah, kalo udah basic skincare rutin, pelan-pelan bisa naik kelas, tambahin essensce, serum, ampoule, dan anti aging kalo perlu.

3. Yang bisa dimakan pasti aman buat kulit (?)

Skincare β€œnatural” atau alami sempat menjadi idealisme skincare ku di awal-awal, dengan alibi; lemon bagus buat tubuh kan? Bawang putih juga bagus kan? Mereka ga beracun kan? Why not buat skincare? Malah ada vitamin dan senyawa atsiri. Kalo bagus untuk tubuh, di wajah so pasti aman donk. Daripada pakai yang bahan kimia kimia gitu kan. Alami lebih baik.

Bhaique,

And now I feel sorry for this after know the truth.

Iya, iya tauuu, lemon, bawang putih dan juga soda kue itu aman banget dimakan. Tapi sayangnya mereka berbahaya untuk wajah. Why o why? Karena wajah kita punya skin barrier yang bisa rusak karena pH yang terlalu asam dan terlalu basa dari bahan makanan tersebut.

Kalian tau skin barrier? Itu adalah lapisan pertahanan kulit untuk menangkal sinar UV, debu, asap, dan kuman yang bergentayangan di udara. Kalo skin barrier rusak? Selamat menjadi tua sebelum waktunya.

Jadi, yang alami belum tentu baik dan bermanfaat buat wajah. Ok lah, kalo yang mild kaya madu, minyak zaitun, susu, masih ga masalah. Paling bruntusan atau koemedoan kalo ga cocok. Tapi, kalo udah yang harsh?

Hmmmm, takut akutu bayanginnya.

Jadi, aku sekarang ambil posisi di tengah-tengah, bukan yang β€œnatural” garis keras dan bukan yang menolak 100% juga (karena kalo ngomongin natural, masih agak agak absurd, karena kodok pun juga natural, kan? *EH).

4. Mencoba akupunktur untuk acne and the scar

Menginjak 2.5 tahun ber-skincare ria memang membuat kulitku terasa semakin sehat walaupun kadang masih ada jerawat dan, teteup bopeng. Sampai akhirnya aku mendapati bopeng yang entah kenapa semakin dalam.

Agak shock. Koq bisaa?!

Sempat mencoba skincare lendir siput yang katanya bisa memperbaiki tekstur kulit, tapi ternyata bikin breakout.

Coba laser? Emmmm, enngggg……. Banyak pertimbangan untuk tidak melakukan treatment ini.

Sampai akhirnya aku iseng minta akupunktur untuk acne and the scar dengan dokter akupunktur di kotaku. Memang aku belum baca review sama sekali tentang treatment ini. Kebetulan juga aku pasien pertamanya untuk keluhan ini, jadi ya ga bisa juga tanya tanya testimoni nya gimana.

Hasilnya? Eng ing eeeengg. Memuaskan ternyata. Sangat memuaskan bahkan kalo boleh kubilang. Karena dengan akupunktur aku bisa melakukan 3 hal sekaligus; menyembuhkan acne, memperbaiki tekstur kulit untuk scar dan mengencangkan wajah. Ulalalaaaaa…..

Saat menulis ini, aku masih 5x treatment dari 12x treatment idealnya. Tapi, perbaikan sudah terlihat sejak treatment yang pertama. Yang aku rasakan jerawat cepat kering, kulit bopeng naik walau masih ada cekungannya, tapi trust me ini udah menipis banget.

Alhamdulillah. Dan yang kerasa juga adalah kulit tambah kencang dan imbasnya kaya hidung juga tambah maju. Aih. Hahahaha. Total jarum ada 8 setiap kali treatment untuk acne and the scar.

***

Ok, teman-teman. Seperti itulah kisah perjalanan kulitku dan usaha untuk berdamai dengan si acne prone. Ambil baiknya dan buang yang buruknya yaa. Semoga bermanfaat untuk kalian yang sedang mencari jati diri kulit kalian. Semoga lekas berjodoh dengan skincare yang cocok ya.

3 thoughts on “Dari Lemon Sampai Akupunktur, Inilah Perjalananku Berdamai dengan Si Acne Prone (2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *