Blog Contest Parenting product Review

Kala Anak yang Tidak Suka Mewarnai Bertemu dengan Faber-Castell Colour to Life

Mewarnai adalah salah satu aktivitas favorit anak-anak. Siapa yang tidak suka memainkan berbagai warna dan memadukannya hingga menjadi hasil yang membuat mata berdecak kagum? Siapa yang tidak suka melihat gambar yang sebelumnya hanyalah kertas putih lalu berubah menjadi berwarna-warni dengan gradasi menawan di sana-sini?

Aktivitas yang sungguh menyenangkan, bukan? Bahkan saking menyenangkannya, aktivitas ini bukan saja hak prerogatif anak kecil saja, orang dewasa juga banyak yang masih menjadikan kegiatan mewarnai sebagai hobi.

Apa yang Terjadi dengan Otak?

Pernah kah kalian terbesit pertanyaan ini? Apa yang sesungguhnya terjadi dengan otak saat kita mewarnai? Mengapa bisa begitu menyenangkan?

Seperti yang kita ketahui bahwa otak manusia terbagi atas 2 bagian, yaitu otak kanan dan kiri. Saat melakukan aktivitas mewarnai akan terjadi koneksi antara kedua otak ini, dengan kata lain terjadi keseimbangan antara keduanya. Selain itu juga, aktivitas memainkan warna-warni ini juga sering dikatakan oleh para psikolog bisa menurunkan aktivitas amygdala.

Apa itu aktivitas amygdala?

Amygdala ialah bagian otak yang bertanggung jawab terhadap emosi. Semakin aktif syaraf amygdala seseorang maka akan semakin rentan orang tersebut dengan stress. Dan salah satu yang bisa menurunkan aktivitas amygdala ialah mewarnai. Jadi, tidak heran mengapa ketika kita menggoreskan dan memadukan berbagai warna bisa membuat kita senang.

Selain itu mewarnai juga bisa melatih rentang fokus dan kekuatan motorik halusnya untuk bekal menulis nanti.

Dari sekian manfaat tersebut, sudah jelas mewarnai adalah kegiatan yang bermanfaat untuk anak-anak. Dan memang kebanyakan anak-anak sangat menyukainya. Tapi, tidak semua.

Sayangnya, Anakku Tidak Suka Mewarnai

Anak saya termasuk anak yang tidak suka mewarnai. Padahal dari pensil, crayon, spidol, sampai cat air sudah pernah saya berikan semata agar dia mau mewarnai.

Bukan hanya dari perangkat mewarnai, tapi juga dari segi penyusunan alat-alatnya. Yang pernah saya baca penempatan alat tulis dan alat mewarnai harus yang mudah dijangkau anak dan terpampang serta mudah dilihat, supaya anak mudah terangsang untuk mewarnai.

Ok, sudah juga. Tapi, hasilnya? Tetap nihil.

Rupanya dari semua fasilitas itu tidak ada yang nyantol sedikit pun dengannya.

Sudah banyak cara untuk memancingnya agar suka mewarnai. Selain memberikannya berbagai macam alat pewarna saya juga membelikan buku mewarnai. Hasilnya? Jarang sekali ada gambar yang selesai dia warnai.

Selalu begini…. 

Umurnya 4.5 tahun dan dia memang anak yang tidak bisa diam, badan dan mulutnya, keduanya, berbeda dengan sepupunya yang lebih anteng dan suka mewarnai.  Dia hanya bisa diam kalo sudah berstory telling dengan bonekanya (dan apa saja benda di rumah yang bisa dijadikan pretend play) atau menyusun puzzle.

Ya, dia sangat suka menyusun puzzle. Sejauh ini dia sudah mampu menyusun 50 pcs puzzle, belum sampai 100 pcs. Dan kalau sudah menemukan puzzle favoritnya dia akan betah berlama-lama menyelesaikannya.

Sebagai ibu, saya ingin memberikan bermacam stimulasi untuk perkembangan otaknya yang memang sedang pesat-pesatnya, agar khazanah otaknya semakin beragam dengan koneksi neuron-neuron baru. Termasuk tetap menawarkan aktivitas mewarnai ini.

Iya, saya sebagai ibunya akan memberinya pilihan dengan menawarkan semua kegiatan yang baik untuknya. Tetapi, tetap keputusannya untuk menyukai dan menekuni sesuatu ada di tangan anak.

Tidak, kali ini saya tidak menawarkan seperangkat alat mewarnai konvensional. Entah lah, apa mungkin baginya mewarnai itu adalah kegiatan yang monoton dan membosankan? Hingga hampir tidak ada gambar yang pernah dituntaskannya untuk diwarnai.

Monoton? Membosankan? Mungkin iya bagi Muthia. Tapi sungguh berbeda dengan perangkat mewarnai yang satu ini.

Sejak mengenalkan perangkat ini pertama kali pada Muthia, saya merasakan ada semburat antusiasme yang benar-benar berbeda. Semacam ada binar-binar di matanya apalagi saat dia tahu kalo objek yang diwarnai nanti akan “hidup dan bergerak”. Dan lebih lebih saat saya bilang nanti ada game nya dari gambaran yang diwarnai, semakin tak sabarlah dia mencobanya.

Ah, gen Z benar dia…..

Apa Saja Isi Faber-Castell Colour to Life?

Seperti namanya, Colour to Life, kali ini Faber-Castell membuat terobosan terbaru di dunia mengambar dan mewarnai dengan membuat apa yang sudah digambar dan diwarnai menjadi hidup. Yes, you colour to life. Keren, kan?!

Jadi, di seri teranyar ini perusahaan tertua di dunia dalam bidang ini mengangkat teknologi Augmented Reality.

Ada yang belum kenal dengan Augmented Reality (AR)? AR adalah teknologi yang menggabungkan antara 2 dimensi dan 3 dimensi. Penjelasan sederhananya adalah kita bisa mengubah gambar yang tadinya 2 dimensi, hanya tampak satu sisi dan diam, menjadi gambar 2 dimensi, tampak semua sisi dan bergerak.

Bergerak? Iyess, bergerak!

Dengan bergesernya zaman ke era yang semakin canggih, konsep mewarnai juga tidak melulu seputar gambar di atas kertas. Terlebih ini adalah zaman generasi Z yang melek gadget. Seperti melihat celah, Faber-Castell pun menelurkan produk yang memfasilitasi perkembangan zaman ini.

Ok, yang penasaran isi perangkat mewarnai yang diciptakan oleh perusahaan Jerman kelas dunia yang terkenal sejak 1761 ini, langsung simak ya detailnya.

Isi perangkat Colour to Life

Dikemas dalam sebuah box yang membuatnya terkesan lebih eksklusif, Faber-Castell Colour to Life, isinya terdiri dari;


1. Connector-pens dengan total 20 warna. Bagi yang belum tau connector pens, itu semacam spidol yang tutupnya terkoneksi antara satu warna dengan warna lain. Jadi, lebih rapi deh dilihat.

Muthia belajar gradasi warna dari connector-pen ini, menyusunnya sesuai tingkatan warna

2. Buku mewarnai dengan 15 halaman ber-Augmented Reality. Buku ini punya 5 tema; pangeran berkuda, pelukis, putri, anak kecil, dan pesawat, yang setiap temanya masing-masing ada 3 lembar dengan tokoh yang sama. Buku mewarnai ini sudah didesain agar bisa mengirim kode scan aplikasi AR. Jadi, setiap goresan gambarnya (yang sudah dibuat oleh pabrik) sudah ada kode tertentu yang akan terdeteksi saat kita membuka aplikasi AR di handphone. Jadi kalau kita ingin menambahkan gambar lain, misal nama kita, tidak akan muncul ya. Dan yan perlu jadi perhatian jangan mewarnai daerah bingkai atau frame ya, karena akan mengacaukan kode scan dan nanti AR nya tidak akan bekerja.

3. Buku petunjuk. Sebenarnya lebih mirip leaflet daripada buku, tapi isinya cukup untuk memberi informasi baru, seperti teknik mewarnai. Selama ini saya taunya cuma teknik gradasi, ternyata ada teknik contouring juga dan teknik-teknik lainnya (koq jadi langsung ingat video tutorial make-up ya *eh)

4. Box. Jangan disepelekan. Ternyata box nya lebih dari sekedar box. Di box nya tertulis cara menggunakan aplikasi AR pada produk ini. Kalian mau tahu juga? Lanjut bacanya ya….

Jadi, di Colour to Life ini Faber-Castell menawarkan aktivitas mewarnai yang lebih dari biasanya karena diperkaya oleh teknologi AR yang terdiri dari fitur; warnai dan scan, ber-selfie dengan hasil karya yang diubah ke 3D, berinteraksi dengan objek dan juga bisa sambil bermain games.

Sumber: akun resmi instagram Faber-Castell Indonesia

Kerennya Augmented Reality ala Faber-Castell

Masih penasaran kan dengan teknologinya dan cara menggunakannya? Caranya mudah koq, berikut saya akan urutkan langkah-langkahnya;

1. Download dulu aplikasinya di playstore atau appstore ya. Aplikasi ini seperti aplikasi AR lainnya juga, memiliki size yang lumayan besar sekitar 50 – 60 MB, jadi pastikan memori handphone kalian cukup ya.

2. Kemudian, warnai objek yang ada di buku gambar yang disediakan.

3. Buka aplikasinya lagi dan arahkan tegak lurus menghadap objek sejauh 30 cm, diamkan sampai layar berwarna hijau tanda kode scan sudah terdeteksi

4. Voilaaaa…. Objek 2D sekarang berubah menjadi 3D

5. Kalau mau foto-foto dengan objek yang kalina warnai, kalian bisa klik gambar fotonya

6. Kalau mau lanjut ke games nya juga bisa. Ada 5 games di sini yang bisa kalian pilih dan ternyata masing-masing games nya punya skill-goal sendiri.

Kalau ingin tutorial lebih jelasnya silakan lihat video how to play berdurasi 2 menit ini.

Sekilas tentang gamesnya

Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa produk ini mempunyai 5 fitur kekinian, salah satunya selfie dan games atau permainan. Dan untuk permainannya ada 5 jenis sesuai dengan karakter masing-masing.

5 karakter di buku mewarnai dan gamesnya



1. Giddy up atau memacu kuda
Permainan ini menjadikan pangeran berkuda sebagai tokoh utamanya. Cocok untuk melatih daya konsentrasi, motorik halus, refleks, dan koordinasi mata-tangan.

2. Poggo boy
Dengan tokoh anak laki-laki yang memainkan permainan bounce atau memantul ini juga melatih daya konsentrasi, motorik halus, refleks, dan koordinasi mata-tangan.

3. Dress-up challenge atau tantangan kostum
Permainan ini menantang daya ingat kita dengan menghadirkan busana si perempuan lengkap dari kepala sampai kaki selama 2 detik. Kemudian tugas kita menemukan semua perlengkapan kostumnya itu.

4. Balance your brain atau seimbangkan otakmu
Permainan ini mencocokan antara warna dan nama warnanya dalam waktu sesingkat-singkatnya.

5. Safe Flight atau menerbangkan pesawat dengan benar
Hampir mirip dengam Giddy up, permainan ini melatih ketangkasan dan daya konsentrasi. Pilot harus menghindari awan cumulonimbus agar tidak game-over

Faber-Castell dan Kebangkitan Antusiasme

Sejak hari itu mewarnai jadi kegiatan yang menyenangkan baginya. Yah, walaupun hanya 1 gambar yang bisa diselesaikannya tanpa bantuan mamanya, tapi saya bisa merasakan percikan-percikan antusiasme dalam setiap celetukannya saat menggambar ๐Ÿ’–.

Iya, anak saya memang tidak bisa diam mulutnya. Ada saja ocehannya saat melakukan pekerjaan apapun. Sepertinya salah satu yang membuatnya tidak awet mewarnai karena dia mudah terdistraksi dengan yang lain kemudian meninggalkan gambar yang masih belum lengkap warnanya.

Tapi, kali ini di Faber-Castell seri terbaru , Colour to Life, mampu membuatnya lebih semangat dan ingin terus menyelesaikan gambarannya dengan baik karena dia tahu akan ada eksekusi akhir yang lebih seru.


Gambar pertama yang ingin dia eksekusi adalah gambar pesawat. Untuk pertama kalinya dia menyelesaikan sendiri gambarnya. 
Memang gambarnya tidak secantik anak-anak yang lain tapi setidaknya dia sudah berusaha untuk itu. Cukup terharu untuk usahanya kali ini. Terima kasih ya nak! 
Setelah berhasil menyelesaikannya, akhirnya proses yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan tak sabarnya dia melihat saya men-scan gambar yang selalu failed akhirnya setelah scanning yang kesekian pesawat itu muncul di hadapan dan berputar-putar. 
“Waaah, pesawat Muthiaa tuh terbang!”, kata saya setengah berteriak, antara terkejut dan senang.

Voilaaaaa…. Pesawat 2D menjadi 3D!
Gambarnya bisa bergerak dan bersuara
Dan anaknya cuma bisa speechless sambil jejingkrakan saking bahagianya.
Besoknya? Dia bahkan sudah menjadwal akan mewarnai lagi di pagi dan sore hari. Ok, lah nak, terserah saja yang penting kamu senang….

Saat pesawat yang diwarnai menjadi “nyata” 
Tangkap, nak! 

Melihat anak semangat menggurat warna-warni saya koq envy ya, hehe. Setelah saya izin ke Muthia, akhirnya saya bisa juga merasakan sensasi mewarnai ini. Seru juga ternyata karena bisa relaks sejenak dari rutinitas harian, coretan warna yang beragam juga membuat mata menjadi lebih segar. Apalagi di akhir saya bisa “menghidupkan” hasil karya saya dan memainkannya. Melihat gambar yang saya warnai muncul dengan warna yang saya buat itu rasanya…… Keren! Hihihi….

Maafkan, mamak numpang eksis bentar

Kali ini saya mencoba mewarnai objek anak perempuan dan memainkan game-nya yang ternyata sebuah dress-up challenge “how good is your memory“, dimana kita harus mengingat out fit gadis itu dari kepala sampai kaki yang sebelumnya sudah diperlihatkan selama 2 detik. Aish, pas sekali bukan untuk mengasah otak emak yang sepertinya mulai ter-degradasi?!

Eh, ternyata mamak bisa mewarnai juga

Saat saya menyudahi kebersamaan kami dalam mewarnai, saya langsung mengecek kegiatan adek di ruangan lain (baca: mengacak-acak susunan buku), ternyata setelah saya tinggal eh si kaka sudah punya foto selfie dengan hasil karya terbarunya.

Gen Z is have just already detected….. 

Scan and selfie by herself. Bagoooess! 

Di mana Bisa Mendapatkannya? 

Mulai tadi bahas seputar produk dan cara pakainya, mungkin ada yang jadi ingin membelikan anak-anaknya Faber-Castell seri ini? Ok, baiklah… Produk ini sudah keluar dari pabrik dan mulai tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Jadi, kalian bisa mendapatkannya di;

1. Tokopedia

2. Gramedia

3. Toko buku terdekat

๐ŸŽˆ๐ŸŽˆ๐ŸŽˆ

Akhirnya saya bisa mereview produk terbaru dari brand internasional ini setelah sebelumnya saya hanya membaca review di blog orang lain.

Dan, saya sepakat dengan mba Nufazee bahwa ini benar-benar bikin “norak-norak bergembira”, karena curiosity and creativity yang dibalut oleh semangkuk surprized and amazed bercampur menjadi satu!

Kalian mau coba buktikan?

(Visited 7 times, 1 visits today)

0 thoughts on “Kala Anak yang Tidak Suka Mewarnai Bertemu dengan Faber-Castell Colour to Life”

  1. Kemarin anakku aku beliin ini, dan dia seneeeeng banget. Tp paling suka pas mainin gamesnya mba. Kalo utk selfi2 nya ga bgitu suka dia :D. Memang keren seh inovasi baru faber castle. Aku aja yg dewasa seneng :p

  2. What a brilliant product! Aku nggak bingunng sama sekali kenapa produk yang satu ini sampai bisa jadi pemancing antusiasme anak-anak yang kurang gemar mewarnai. Ini sejenis inovasi antara old way dan new way untuk bermain sekaligus belajar.

  3. Anakku juga yang pertama ga terlalu suka mewarnai, cepet banget bosan anaknya. Tapi sebenernya sih harus tetep dikasih aktivitas mewarnai begini, supaya melatih kesabaran sama ketekunan anak

  4. Tadinya anak kedua saya juga gak suka mewarnai. Pegang alat tulis aja gak mau. Memang harus cari berbagai cara supaya menarik perhatian anak. Mungkin kalau dulu udah ada yang kayak gini, bakal saya kasih juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *